
~Happy Readingđź’ž~
"Guys!"
Ketiga lelaki itu sontak menoleh ke asal suara. Tampak Matahari yang tengah berlari riang dengan Aurora di belakangnya.
"Eh?" Heran Matahari begitu dirinya sudah sampai di depan mereka.
"Lo gak ikut tanding, Wan?" tanyanya lagi saat mendapati Awan yang mengenakan seragam sekolah sepertinya.
Awan menggeleng.
"Gue bukan anggota club basket," jawabnya jujur.
Matahari dan Aurora mengangguk paham.
"Kalian datang buat nonton kita?" tanya Mika.
"Iya, dong! Gue datang buat semangatin elo biar menang!" Siska berseru antusias.
"Nyemangatin gue?" Benua berkata dengan nada menggoda. Sontak gadis itu menggeleng kuat.
"Ma–maksud gue kalian berdua!" hardiknya gelagapan.
"Lo dan si Auriga!!" tegasnya lagi.
Ketiganya tertawa kecil melihat tingkah Matahari. Berbeda dengan Auriga yang hanya diam membisu. Lelaki itu mengedarkan pandangannya ke seluruh arah. Tampak sedang mencari sosok seseorang.
Namun nihil, Auriga tak menemukannya sama sekali. Padahal dia sudah berjanji akan datang! Sebentar lagikan pertandingannya akan dimulai!
"Hujan mana?" tanya Auriga memutuskan untuk bertanya pada kedua gadis di depannya.
Aurora dan Matahari mengedikkan bahu.
"Gak tau, dari tadi kita gak ketemu dia."
"Tau tuh! Es batu kemana sih?"
Auriga mengangguk kecil. Sedetik kemudian berbalik badan tanpa berkata apapun lagi. Lelaki itu tampak sangat kecewa.
Tap!
Awan memegang pundaknya membuat langkah kaki Auriga terhenti. Ia menoleh menatap Awan dengan datar.
"Lo mau ke mana?" tanya Awan.
Auriga diam sama sekali tak berniat menjawab pertanyaan Raihan.
"Benua, Auriga! Buruan! Katanya ada yang mau diomongin sama pelatih."
Teriakan salah satu anggota tim dapat menarik perhatian semuanya. Perlahan Auriga menyingkirkan tangan Awan dari pundaknya. Lalu berlalu pergi tanpa berkata apapun.
Benua menghela napas kasar. Ia sangat mengerti kenapa Auriga bersikap begitu. Pasti karena tidak melihat Hujan. Padahal gadis itu sudah berjanji akan datang tadi.
"Kalian duduk di sana aja!" Benua menunjuk salah satu kursi penonton barisan depan.
"Gue pergi, ya? Dah ditungguin soalnya," lanjutnya lagi berlalu pergi menyusul Auriga.
****
"Hujan tunggu!" teriak Orion sembari berlari mengejar Hujan.
Gadis itu tampak terburu-buru berlari menuju lapangan basket. Ah, tidak! Sepertinya Hujan akan terlambat. Bagaimana ini? Semoga saja pertandingannya belum dimulai.
"Hosh ... hah!"
Ia berhenti dengan napas ngos-ngosan. Akhirnya sampai juga! Syukurlah, sepertinya pertandingannya belum dimulai.
Hujan mengedarkan pandangan guna mencari Auriga. Tanpa sengaja manik mata gadis itu menangkap sosok Benua yang tengah berbaris bersama dengan anggota lainnya sembari mendengarkan pengarahan dari Pelatih.
Entah bagaimana bisa Benua menoleh seperti menyadari tatapan darinya. Mata mereka bertemu!
Benua tersenyum tipis menyadari keberadaan Hujan. Ia senggol bahu Auriga pelan.
"Apa?"
"Liat ke belakang."
"Hah?"
"Ck, liat b*go!"
Auriga menyerngit, meski begitu ia tetap berbalik. Sedikit penasaran dengan maksud Benua.
Sontak ia tertegun mendapati sosok Hujan yang kini tengah menatapnya. Gadis itu melambaikan tangan menyapa Auriga dari kejauhan. Ternyata dia datang! Hujan menepati janjinya.
"Samperin gih!" bisik Benua.
__ADS_1
"Tapi, tanding—"
"Masih ada sepuluh menit lagi."
Perkataan Benua dapat membuat Auriga mengulum senyum senang. Lelaki itu menangguk kecil lantas meminta izin pada Sang Pelatih.
"Coach!"
Pelatih itu menoleh menatap Auriga penuh tanya.
"Saya izin pergi sebentar, ada yang ketinggalan."
Pelatih itu menghela napas lelah. Padahal sebentar lagi pertandingannya akan dimulai.
"Lima menit!" tegasnya.
Auriga menganguk setuju. Kemudian berlari pergi meninggalkan barisan.
Ia tak henti-henti menampilkan senyuman saat menuju ke tempat Hujan.
"Hujan!"
Pergerakan Auriga terhenti kala menyadari keberadaan Orion yang baru saja sampai. Ia menggeram kesal saat melihat tangan lelaki itu menyentuh pundak Hujan.
Pats!
Dengan kasar Auriga menepis tangan Orion. Lalu berkata dengan dinginnya.
"Jangan sentuh pacar gue."
Meski jengkel, tetapi Orion lebih memilih untuk diam. Ia tak mau jika Hujan membencinya hanya gara-gara menonjok wajah pria menyebalkan itu nanti!
"Maaf. Gue telat," kata Hujan memecahkan suasana.
"Gapapa, yang penting kamu dateng," balas Auriga tersenyum hangat.
Ia acak rambut Hujan dengan lembut. Membuat Orion bergidik geli, lebay sekali! Pikirnya kala itu.
"Sana pergi, entar lo telat."
Auriga tersenyum masam.
"Kamu ngusir aku?" lirihnya membuat Hujan terkekeh kecil. Ada apa dengan Auriga? Kenapa pria ini jadi bersikap kekanak-kanakan? Yah, meski itu sedikit menggemaskan.
"Menggelikan," cibir Orion menampilkan wajah suram.
******
Awan, Matahari dan Aurora memandang Orion secara terang-terangan. Meski begitu, lelaki itu sama sekali tak terusik karenanya.
"Kamu suka basket?"
Pertanyaan dari Orion dapat memecahkan keheningan yang ada. Dengan mata yang masi terfokus menonton Hujan menjawab.
"Tidak."
"Terus kenap—"
"Lo sebenernya siapa sih?" potong Matahari tak tahan lagi.
"Kenapa lo selalu nempel ke Hujan? Dari awal ketemu, lo bahkan meluk dia," timpal Aurora tampak tak suka.
"Apa?!" kaget Awan.
"Meluk? Ganjen banget lo jadi cowok!" lanjutnya tak habis pikir.
Ketiganya menatap Orion tajam. Entah kenapa wajah lelaki itu terlihat menjengkelkan di mata mereka. Terlebih lagi ekspresi tenang di wajahnya, Orion bahkan tak melirik sama sekali. Ia bersikap seolah tak melihat mereka di sana.
"Orion."
Ucapan Hujan menarik perhatian semuanya. Gadis itu kemudian menoleh menatap mereka datar.
"Itu namanya," lanjut Hujan.
Deg!
Sontak wajah ketiga orang itu tampak syok. Orion? Tidak salah lagi! Bukankah dia teman masa kecil Hujan yang diceritakan oleh Petir beberapa waktu yang lalu? Benar! Kenapa dia ada di sini? Yang mereka tahu Orion sudah pergi meninggalkan Hujan.
Persetan dengan itu! Yang lebih penting sekarang adalah ....
"Hei, Es batu!" panggil Matahari.
"Gue tau kalian temen kecil tapi ... jaga jarak dong! Kasian si Auriga."
Hujan menyerngit bingung. Sama sekali tak paham dengan maksud Matahari.
"Hahaha!" Orion tertawa renyah memecahkan suasana suram di antara mereka.
__ADS_1
"Wajah kalian serius banget. Gak usah dipikirin. Btw, salam kenal, ya! Panggil gue Orion!" ucapnya tersenyum hangat.
'Dih, sok akrab bet nih bocah," batin Matahari tak suka mengingat dirinya yang diabaikan oleh Putra beberapa jam yang lalu.
'Menyebalkan.' Aurora menatap datar.
Sementara Awan lebih memilih untuk diam. Kembali berfokus pada pertandingan di depannya.
Suasana kembali hening. Sesekali mereka melirik Orion yang tampak asik berbincang dengan Hujan. Meski gadis itu hanya diam, tetapi Orion tak menyerah untuk mengajaknya mengobrol. Sikap lelaki itu benar-benar menyebalkan.
*****
•Awan POV
Pertandingannya sudah berakhir. Auriga dan Benua juga segera datang ke tempat kami begitu urusan mereka selesai.
Gue lihat ekspresi Benua tampak bingung melihat sosok lelaki yang duduk di samping Hujan. Yah, gue paham sih, soalnya gue juga bingung tadi.
"Minum?"
Hujan, gadis itu menawarkan sebotol air pada Auriga. Katanya mereka pacaran kemarin tapi ... suasananya biasa saja ya? Dasar! Pacaran kok gak ada romantis romantisnya.
"Wan."
Panggilan Benua dapat menarik perhatian gue. Lelaki itu berbisik tepat di telinga gue. Ini sedikit menggelikan.
"Dia siapa?" bisik nya menunjuk ke arah orang yang bernama Fajar atau Orion sih? Bingung gue.
"Entar gue jelasin deh."
Benua mengangguk setuju. Sedetik kemudian gue langsung nendang dia buat jauh-jauh.
"Apaansih? Sakit bego!"
Nih orang kalau gak maki gak Benua namanya.
"Lu bau, jangan dekat-dekat gue, deh. Gak kuat sumpah!"
"Elah, lebay!" cibirnya.
Padahal mah memang beneran bau. Lihat noh keringatnya aja banyak bener.
"Selamat," ucap Hujan pada Auriga yang baru saja memenangkan pertandingan.
"Makasih."
Mereka pacaran bukan sih? Kok datar amat yak? Gak ada kesan pacarannya gitu. Parah sih, Auriga juga gak ada romantis romantisnya. Mana muka Hujan datar bener kek tripleks. Sekarang gue paham kenapa si Matahari sering manggil dia Es batu.
"Udah 'kan? Ayok pulang, Kak Indra ada urusan jadi gak bisa jemput kamu. Pulangnya bareng aku aja."
Nih bocah satu kenapa sih? Nyebelin banget dah! Dari tadi mepet Hujan mulu. Padahal dia udah tau tuh anak udah punya pacar!
"Dia pulang bareng gue."
Sudah gue duga! Auriga gak bakal tinggal diam. Siapa sih yang rela pacarnya digebet orang? Makan noh!
*****
•Author POV
Suasana hati Auriga benar-benar tidak bagus. Tak ada sepatah katapun yang keluar dari mulutnya. Ia lirik Hujan dari kaca spion, gadis itu tampak diam seperti biasa.
Beberapa menit yang lalu , cukup bertengkar kecil dengan Orion. Meskipun pada akhirnya dia yang menang karna Hujan lebih memilih untuk pulang dengannya.
Tes!
Entah sejak kapan hujan mulai turun mengguyur jalanan. Sontak Auriga menepi kala melihat halte bus yang tak jauh dari sana. Setidaknya mereka bisa berteduh di sana.
Hening.
Itulah kata yang menggambarkan suasana sekarang. Kedua orang itu diam membisu memandang jalanan yang diguyur hujan lebat.
Manik mata Auriga melirik Hujan sekilas. Gadis itu tampak kedinginan.
Auriga melepas jaketnya lalu mendekapkannya di pundak gadis itu. Hujan menoleh menatap mata Auriga dalam.
Namun segera mungkin Auriga memutuskan kontak mata lebih dulu. Lelaki itu hanya diam tak berkata apapun.
"Kenapa?" tanya Hujan.
"....."
"Kenapa lo cuma diam?"
"Gue rasa lo juga tau alasannya," jawab Auriga tak tertarik.
"Gue gak—"
__ADS_1
"JAUHI Orion!!"
Tbc ....