Asmirandah Hujan

Asmirandah Hujan
Chapter 75.


__ADS_3

...HAPPY READING...


***


"JAUHI ORION" teriak Auriga penuh emosi.


"Bisa gak sih? Sekali aja, lo jaga jarak sama dia." Ia tatap Hujan tak habis pikir.


"Bukannya gue udah pernah bilang, ya? Kalau gue gak suka liat lo deket sama cowok lain!"


Lagi dan lagi Auriga berkata dengan kesal. Lelaki itu tampak sangat marah. Ia terus berteriak membentak Hujan diselingi derasnya air hujan.


"KENAPA DIEM? JAWAB GUE" bentak Auriga


DEG!


Hujan, gadis itu terdiam dengan wajah pucat. Tampak sangat syok dengan sikap Auriga. Sedetik kemudian, air matanya jatuh tanpa ia sadari.


Sontak Auriga melotot kaget. Astaga! Apa yang sudah Auriga lakukan? Ia membuat gadis itu menangis! Tidak, bagaimana ini? Auriga tak bisa mengontrol emosinya tadi.


"Arghhh" Ringis Hujan mencoba untuk terlihat kuat dan menghapus air matanya.


Gadis itu mulai menangis. Membuang wajah ke samping. Tak ingin menatap Auriga dengan wajah cengengnya. Ini sangat memalukan. Kenapa ia jadi begini?


Tap


Tiba-tiba saja Auriga memegang tangannya. Membuat Hujan refleks menoleh.


"Maaf," lirih Auriga. "Aku yang salah," katanya dengan nada lembut.


Bahu Hujan bergetar menahan tangis. Gadis itu menunduk masih tak ingin menatap wajah Auriga.


Ia usap air mata Hujan dengan lembut. Lalu mengangkat wajah gadis itu hingga menatap tepat ke wajahnya.


"Aku gak sengaja bentak kamu, maaf!"


"...."


"Aku cemburu Jan, aku gak suka liat kamu deket sama Orion sekalipun aku tau kalau kalian cuma sepupu sekaligus temen kecil."


"...."


Auriga menghela napas kasar.


"Gue takut," ucapnya. "Gue takut lo masi punya ras—"


"Orion sepupu gue!" sergah Hujan menepis kasar tangan Auriga .


"Gue gak pernah suka atau bahkan punya perasaan spesial buat dia. Orion gak lebih dari sekedar sepupu dan sahabat buat gue!!"


Baru kali ini Hujan berkata panjang lebar dengan emosi. Terlebih gadis itu juga menangis dan sesekali menyeka air matanya.


"Lo gak percaya sama gue?" tanya Hujan menggeleng kuat. "Seharusnya dari awal lo gak nembak gue. Kalau gini caranya lebih baik kita


put—"


Ucapan Hujan terhenti kala Auriga langsung menempelkan jari pada bibirnya.


"Shut! Jangan pernah ngucapin kata itu," terang Auriga tak suka.


Sedetik kemudian ia menarik hujan kedalam dekapannya. Hujan mematung, membiarkan dirinya dipeluk oleh Auriga.


"Pokoknya jangan pernah bilang begitu lagi. Maaf, semuanya salahku."


****


Orion menatap datar keempat orang di depannya. Sama sekali tidak tertarik dengan apa yang mereka ucapkan.


"Jangan rusak hubungan mereka!" ujar Sagita dingin.


"Hah!" Orion tertawa remeh. "Kalau gue gak mau, lo mau apa?" tantang nya dengan wajah songong.


Sagita mengeram kesal. Tangannya mengepal sempurna hingga membuat kuku-kuku itu memutih. Ia menatap Orion nyalang lantas melangkah maju hendak memukul lelaki itu namun segera mungkin Benua menahannya.


Benua menggeleng mengkode Sagita seolah sedang mengatakan jangan kotori tangan lo untuk bajingan ini. Sagita yang mengerti langsung saja memundurkan langkahnya kembali.


"Setelah ngilang dan ninggalin Es batu sekian lama."

__ADS_1


Matahari membuka suara dengan tatapan dingin yang tertuju pada Orion. Sisi yang baru pertama kali ia tunjukkan di depan teman-temannya kecuali Hujan. Yap, Sebelumnya juga Matahari pernah bersikap begini saat Hujan dalam bahaya karena Pelangi di perkemahan.


"Sekarang lo dateng lagi dan ngusik kehidupannya seenak jidat lo. Lo tau gak? Semenjak kepergian lo, dia bener-bener menderita!" teriak Matahari dengan wajah serius.


"Dia jadi korban bullying satu sekolahan! Sampai-sampai dia pindah dari Bandung ke sini. Lo dimana disaat-saat itu, ha? Di mana lo? Gue tanya!"


Orion menatap Matahari tak suka. Dari mana gadis itu bisa tahu kisahnya dan Hujan?


"Hei, Semesta " panggil Matahari tersenyum semirk melihat reaksi kaget Orion.


"Kenapa? Nama lo Semesta kan?" lanjutnya lagi.


"Jangan pernah panggil gue dengan nama itu!" kesal Orion.


Sontak mereka semua terkekeh geli. Sesaat kemudian mengubah ekspresi datar dan menatap Orion dingin lalu berkata dengan kompaknya.


"Dengan begitu panggilannya gak akan spesial lagi."


Lagi dan lagi mereka tertawa renyah membuat Orion mengeram tertahan. Kenapa teman-teman Hujan sangat menyebalkan? Lihat saja! Orion akan membalasnya.


"Tertawa saja sepuasnya," kata Orion yang dapat membuat tawa mereka terhenti.


"Jangan macam-macam dengan. Jika tak ingin rahasia kalian terbongkar!"


"Rahasia?" ulang Aurora terkekeh geli. "Kita gak punya rahasia, tuh!" lanjutnya lagi.


Orion tersenyum miris mendengarnya.


"Lo yakin?" tanyanya berjalan mendekat pada Aurora.


"Gadis bermuka dua," bisik Orion tepat di telinga Aurora. Membuat gadis itu mematung seketika.


Sesaat kemudian Orion berjalan ke arah Matahari yang ada di samping Aurora.


"Gue pikir, berteman dengan anak mafia itu sedikit nyeremin deh," bisiknya terkekeh lucu.


Matahari mematung sama seperti reaksi Aurora, gadis itu tampak syok seketika.


Selanjutnya Orion beralih pada Benua dan lanjut berbisik pada lelaki itu.


"Dasar lemah, nembak cewek aja gak becus!"


"Berpikirlah dua kali untuk mendekatinya."


Usai berkata begitu, Orion tersenyum miring melihat orang-orang di depannya yang jadi sangat syok. Kemudian ia pergi tanpa berkata apapun lagi.


Matahari tampak mengeram kesal.


"Cowok brengsek!!" umpatnya.


******


"Aku tau aku egois karena gak ngerti posisi kamu, jadi ...." Auriga sengaja menggantung ucapannya.


Ia hela napas pasrah lantas kembali berkata.


"Aku gak bakal larang kalian buat ketemu," lanjutnya lagi menampilkan senyum hangat.


"....."


"Maaf, karena aku gak ngertiin kamu dan seenak—"


"Cukup!" potong Hujan. "Lupain semuanya."


Auriga tersenyum tipis lalu mengangguk kecil. Ia usap kepala Hujan dengan lembut.


"Maaf, ya."


"Udah gue bi—"


"Iya, iya! Lupain kan? Bawel banget," kata Auriga terkekeh kecil.


Hujan menampilkan senyum tipis. Kemudian menatap lurus ke depan, memperhatikan rintikan air hujan yang tak kunjung reda.


"Dingin?" tanya Auriga membuyarkan lamunan Hujan.


"Sedikit."

__ADS_1


"Kamu ngode nih?" godanya tersenyum penuh arti.


"Hah?" Hujan menghernyit tampak bingung dengan maksud Auriga.


Semenit kemudian ia melotot kaget ketika tangan Auriga membentang hendak memeluknya. Sontak Hujan menepis kasar tangan lelaki itu.


"Mau mati?" ketusnya.


Auriga tertawa kekeh mendengarnya. Sudah ia duga, menggoda Hujan itu sangat menyenangkan. Lihat saja ekspresi jengkel itu!


"Becanda," balas Auriga. "Galak bener," lanjutnya lagi bergumam kecil.


Dret dret!


Perhatian kedua orang itu teralihkan pada panggilan masuk dari ponsel Hujan.


Orion Is Calling ...


Deg!


Hujan langsung menoleh pada Auriga. Pria itu tersenyum kecil.


"Angkat aja, gapapa!" ujarnya.


Setelah mendapat izin dari lelaki itu akhirnya Hujan memutuskan untuk menerima panggilan dari Orion. Tak lupa ia juga menghidupkan speaker agar Auriga dapat mendengarnya.


[Ha–halo? Hujan, apa ini kau?]


"Hm."


[Kau ada di mana? Kenapa baru jawab panggilanku?]


"....."


[Jan, sekarang hujan. Kenapa kau gak ada di rumah? Aku sudah cek, ke rumahmu. Kata Orion, kau belum Pulang]


"Ah, it—"


[Kau pasti kehujanan 'kan? Pacarmu itu gak bawa mobil jadi kau pasti kedinginan sekarang! Apa kau baik-baik saja? Katakan kau di mana, aku akan menjemput mu sekarang!]


"Gue bareng Auriga. Halte bis dekat sekolah. Lo gak—"


[Oke! Aku ke sana sekarang.]


Dengan seenaknya Orion menutup telepon secara sepihak. Hujan menggenggam ponsel itu tak habis pikir dengan jalan pikiran Orion.


Kenapa pria itu memutuskan semuanya sendiri? Dia selalu bertingkah seolah Hujan adalah tahanan yang harus dijaga ketat. Ia tak suka itu! Ini menyebalkan.


"Jadi, dia bakal dateng?"


Pertanyaan Auriga dapat mengalihkan perhatian Hujan. Gadis itu kemudian mengangguk kecil.


"Hm," jawabnya jujur.


Auriga kemudian mengangguk paham.


"Reka bener, seharusnya aku bawa mobil tadi. Dengan begitu kita gak bakal kehujanan gini," ungkap Auriga tertawa kecil.


"Tapi—"


"Ikut saja dengannya. Hujannya juga gak reda-reda entar kamu bisa sakit kalau—"


Ucapan Auriga terhenti kala melihat Hujan yang sudah basah diguyur hujan. Ia melotot kaget.


"Dasar bodoh! Kenapa malah hujan-hujanan?" teriak Auriga berdiri dari duduknya.


Lelaki itu menarik tangan Hujan hendak kembali berteduh, tetapi ditepis oleh gadis itu.


"Ayo pulang," ajak nya membuat Auriga menyerngit bingung.


"Ap–apa?"


"Udah basah 'kan?" ketus Hujan.


Semenit kemudian Auriga tersadar lantas mengulum senyum. Sekarang ia mengerti maksud gadis itu.


"Baiklah. Ayo, Sayang."

__ADS_1


TBC ....


#Next?


__ADS_2