
~Happy Reading💞~
"Apa ini gak berlebihan?"
Auriga mengangkat kedua tangannya yang sudah penuh dengan kantung belanjaan Hujan dan Aurora.
Dia menoleh ke samping, menatap Awan yang juga dalam keadaan sama. Auriga, Benua dan Awan, ketiga pria itu jadi korban pembawa barang. Tangan mereka sudah sangat penuh, tapi bagaimana bisa Matahari dan Aurora masih tak henti-henti belanja.
"Ini nih, yang gua gak suka dari cewek!" cibir Awan.
"Tau tuh! Boros amat, mana tangan gua udah pegel semua," sambung Benua mengeluh.
Ketiganya menatap Matahari dan Aurora dalam diam. Kedua gadis itu tampak sangat asik berbelanja. Berlari ke sana ke mari seperti anak kecil. Mengambil semua barang yang mereka bilang bagus dan membelinya begitu saja.
"Gila! Sepatunya bagus banget!" seru Matahari antusias.
"Ra, coba liat ini. Cocok gak buat si Es batu?" lanjutnya lagi menunjukkan sepatu itu pada Aurora .
Aurora mengangguk, lalu mengacungkan jempolnya dengan semangat.
"Cocok banget!"
"Bener 'kan? Fiks! Bungkus."
"Oy, Cojut! Cepet sini, bawa sepatu ini juga."
Awan tersenyum jengkel. Lihatlah gadis di depannya ini, sudah memakai kartu kredit Awan seenaknya! Menjadikannya sebagai tukang bawa barang dan sekarang? Memerintah orang seolah dia adalah ratu! Menyebalkan sekali.
Brak!
Dengan kesal Awan menjatuhkan semua barang bawaan yang ia pegang. Membuat Matahari menatapnya kaget.
"Apa yang—"
"Berhenti belanja, kampret! Kita juga capek, lo berdua mah enak. Tinggal pilih-pilih doang, ngertiin kita yang bawa dong!"
Awan tak tahan lagi. Dia sudah sangat lelah karena sedari tadi harus membawa barang dan berjalan ke sana ke mari mengikuti Matahari dan Aurora.
"Bener! Kita juga manusia. Bukan troly pembawa barang kalian," sambung Benua membela Awan sepenuhnya.
"Mana belanjanya banyak bener. Semua ini udah lebih dari kata cukup!" Auriga ikut mengomel.
Matahari menutup mulut syok melihat barang bawaan ketiga pria itu. Sungguh! Dia tak sadar jika sudah sebanyak ini.
Seketika Matahari menggaruk tengkuknya yang tak gatal. Menatap ketiga cowok itu sembari tersenyum kikuk.
"Hehe, gua gak sadar kalau barang belanjaannya udah numpuk begitu."
"Maaf, kita bener-bener gak tau. Kalian pasti capek, ya?" Aurora menunduk terlihat seperti sangat merasa bersalah.
"Ck, manis sekali kata-katanya, sampek gak bisa marah lagi," sindir Awan dengan jutek.
"Apaan sih?! Lebay lo! Masa gitu aja di permasalahin, kalian cowok bukan sih?"
Matahari tampak kesal karena omongan Awan. Padahal dirinya sudah minta maaf dengan tulus tadi. Menjengkelkan sekali!
"Udahlah, malas gua dengar bising-bising," kata Auriga pergi berlalu dari sana.
__ADS_1
"Ayo, bawa barang kalian, kita ke kasir dan bayar. Habis ini harus cari bolu lagi 'kan?" lanjutnya lagi.
Awan mendengus, dengan wajah suram kembali menganggkut barang bawaannya. Lalu pergi mengikuti langkah Auriga.
****
"Kue ulang tahun, pita, balon, camilan, hadiah udah semua. Tinggal tempat buat ngerayaiin."
"Tempat? Gimana kalau di apartemennya Hujan," saran Aurora.
"Gimana ceritanya? Pasti ketahuan lah beg*!" kesal Matahari.
"Gua udah minta tolong sama Kak Indra kok, tenang aja. Hujan gak ada di apartemen sekarang!"
"Emang lo punya kunci rumahnya?"
"Punya!"
"Hah? Apa? Kok bisa?"
"Ouh, Hujan pernah ngasi kunci cadangan buat gua. Katanya biar kalau gua dateng ke apartemennya, pas Hujan gak ada gua bisa nunggu di dalam."
"Idih, jahat banget si Es batu! Masa lo aja yang di kasi. Lah gua? Kagak! Apa gua kurang bisa dipercaya?"
Aurora langsung terdiam mendengar ucapan Matahari. Kalau di pikir-pikir, Hujan sudah sangat percaya dengan Aurora, ya. Apa ia harus mengatakan hal ini juga pada Petir? Entahlah, mungkin nanti.
"Ah, kalian bertiga pulang aja, biar gua dan Matahari yang dekor tempatnya." Aurora tersenyum, menatap ketiga pria di depannya dengan hangat.
"Serius?"
"Gapapa nih, kita pulang?"
"Tentu aja! Oh iya, makasi udah nemenin belanja seharian," ucap Aurora.
Ketiganya mengangguk paham, lantas pergi meninggalkan Aurora dan Matahari usai berpamitan lebih dulu.
****
Begitu banyak kehebohan yang terjadi sebelum pada akhirnya tugas mereka selesai. Semua sudah ditata rapi dan seindah mungkin.
Matahari mengusap keringatnya dengan tangan, sembari menghela nafas lega. Matanya menatap hasil dekorasi dengan puas.
"Akhirnya, selesai juga!"
"Bener, gua gak sabar liat ekspresi Hujan besok."
"Ya, si Es Batu palingan kaget dan terharu? Gimana kalau dia senyum, ya? Gua masi gak terbiasa dengan senyumnya, sih"
"Hahaha, udah larut nih. Mau nginep di sini aja gak?"
"Entar kalau si Es batu pulang? Ketahuan dong!"
"Gak, dia gak pulang malem ini. Katanya Hujan nginap di rumah Kakaknya."
"Oh, gitu. Ayo kita ke kamarnya!"
"Hahaha."
__ADS_1
*****
Langkahnya berhenti tepat pada pintu sebuah ruangan. Sebelum masuk, Hujan mengetuk pintu lebih dulu.
Tok, tok, tok.
"Masuk!"
Terdengar jawaban dari dalam sana. Hujan langsung saja membuka pintu perlahan dan akhirnya melangkah masuk.
"Hujan? Kenapa kamu belum tidur?" tanya Petir menghernyit bingung.
Pria itu tengah sibuk di depan layar komputernya. Petir berpikir, jika yang masuk adalah Mamanya, ternyata dia salah.
"Kak Petir, lembur?"
"Ah, emm ... i–itu."
Hujan berjalan ke tempat Petir dengan ekspresi datar. Matanya melirik layar monitor sekilas. Ia menghernyit membaca pencarian di sana.
Tumor Otak.
Seketika hatinya terasa sakit membaca kalimat itu. Apakah Petir sering mencari tahu tentang penyakit yang di derita dirinya? Ternyata, kakaknya ini tak pernah diam ya.
"Percuma!" kata Hujan dingin, menatap datar Petir yang juga kini juga tengah menatapnya.
Petir tersenyum tipis, mengusap rambut sang adik dengan lembut.
"sudah minum obat?" tanyanya.
"....."
"Aku tau, kau gak bisa tidur malam ini. Jangan minum obat tidur lagi, ya? Bahaya Jan!"
"Aku merindukannya."
"Fajar?"
Hujan menggeleng.
"Terus, siapa?"
Lagi dan lagi Petir bertanya.
"Papa," jawab Hujan akhirnya. Mendudukkan diri pada sofa yang ada di sana.
Petir diam tak berkutik. Tersenyum miris dengan dada yang terasa sesak. Tentu saja, Petir juga merindukan Bumi. Sayangnya, mereka tak akan bisa bertemu lagi. Bumi sudah tenang di alam sana.
"Kak ...," panggil Hujan lirih.
Petir menoleh, memandang wajah cantik Hujan sembari tersenyum hangat. Gadis itu tampak menunduk, sesaat kemudian dia mendongak dan berkata.
"Aku akan segera menemui Papa."
Tes!
Seketika air mata itu jatuh tanpa diminta. Senyum Petir berubah jadi suram. Ia mencoba untuk tak menangis sebisanya. Semua pasti ada jalannya. Petir percaya itu!
__ADS_1
TBC .....
#Next?