
...HAPPY READING...
****
Cuaca pagi ini sangat cerah, mentari bersinar begitu terang, kicauan burung-burung begitu merdu didengar, ditambah lagi embun pagi yang membuat suasana menjadi sejuk dan damai.
Hujan sudah terlihat rapi dengan seragam sekolahnya. Lalu keluar dari apartemennya dan tak lupa mengunci pintu. Hujan berjalan mendekati mobilnya. Hari ini kondisinya sudah membaik, sebab itu dia memutuskan untuk membawa mobil ke sekolah.
Hujan mengendarai mobilnya dengan kecepatan normal. Tak butuh waktu lama, kini Hujan sudah tiba di sekolah. Dia memarkirkan mobilnya di tempat biasanya.
Dengan wajah datar nan dinginnya, Hujan keluar dari mobil dan mulai memasuki kawasan sekolah.
***
Auriga sudah sampai ke sekolah sejak 15 menit yang lalu, kini dia sedang duduk santai di kelas sembari mengobrol dengan Awan dan temannya yang lain.
"Ga, pr matematika lo udah siap belom?" tanya Awan.
"Iya nih, gue coba ngerjain tadi malem. Susah banget njir" ujar Benua.
"Sejak kapan lo jadi rajin?" tanya Surya terkekeh.
"Tau tuh, sejak kapan Nu?" sambung Sagita. Surya dan Sagita bertos ria dan dengan kompaknya menertawakan Benua.
"Ya elah, gitu amat lo berdua. Gini-gini gue juga rajin tau" ucap Benua kesal.
"Sabar Nu sabar," ucap Auriga terkekeh.
"Tapi gua serius nih, lo udah siap belom Ga?" tanya Awan lagi.
"Iya nih Ga, udah matematika jam pertama lagi," sambung Benua yang dibalas anggukan kepala oleh Sagita.
"Siap dong, gua mah anak teladan," jawab Auriga sombong.
"Ya elah, sombong banget lu Ga. Tapi gua boleh liat gak?" Ucap Awan senyam-senyum seperti orang kerasukan.
"Gua juga ya Ga plisss" ucap Benua dengan wajah yang memelas. Auriga tertawa, teman-temannya ini benar-benar tahu bikin hatinya luluh.
"Santai aja kali. Nih bukunya buruan catet" ucap Auriga sembari melempar buku pada Awan. Awan menangkap buku itu dengan sigap. Rejeki mana boleh ditolak.
"Makasih Aga, Lo emang teman terbaik gua," ucap Awan terkekeh.
"Kita boleh liat juga gak Ga?" tanya Sagita.
Sementara Surya, cowok itu hanya memerhatikan teman-temannya dalam diam. Alasannya karena ia tidak sekelas dengan teman-temannya ini.
"Boleh dong, kalau gitu gue pergi dulu ya," jawab Auriga dan berdiri dari kursinya.
"Hmm. Hati-hati Aga, entar dikejar cewek-cewek kayak yang kemaren-kemaren," ucap Awan terkekeh.
"Itu juga karena elu!" ketus Auriga dan pergi meninggalkan kelas. Awan hanya terkekeh kecil mendengarnya.
***
Hujan berjalan menelusuri koridor kelas. Banyak mata yang melihat ke arahnya. Tetapi Hujan hanya cuek saja.
"To—tolong!"
Langkah Hujan terhenti, dia menoleh kanan kiri untuk mencari asal suara. Namun nihil, dia tidak menemukan apa pun, mungkin dia salah dengar. Hujan memutuskan untuk berjalan kembali.
"Tolong!"
Lagi-lagi langkahnya terhenti. Hujan tidak salah dengar, ada suara orang yang minta tolong. Hujan mengedarkan pandangannya ke segala arah.
"Ampun."
Suaranya sangat jelas, sepertinya suara itu berasal dari toilet sekolah. Hujan berjalan mendekati toilet dan benar saja ada orang di sana.
"Dasar gadis cupu, ngapain lo sekolah di sini ha?. Enek gua liat lo tau gak!" ucap siswi itu, dia terus saja menjambak rambut gadis yang ia bilang cupu.
"Hajar aja Pel, gua juga enek liatnya," ucap siswi lainnya.
__ADS_1
Kedua siswi itu terus saja menyiksa si gadis cupu. Mereka menendangnya dan saat hendak menginjak kepala si gadis cupu, tiba-tiba saja ada yang menarik kerah baju mereka dari belakang.
Kedua gadis itu menoleh dan melihat Hujan tak suka.
"Maksud lo apa?" tanya siswi itu sembari mendorong Hujan dengan kasar. Hujan mengusap bajunya yang baru saja terkena tangan siswi itu dengan jijik.
"Lo kira tangan gua apaan hah?, Sampai dibersihin gitu" ketusnya.
"Sabar Pel, sabar," ucap siswi satunya, dia terus saja mengusap punggung temannya.
"Apa kalian semua tidak malu?" tanya Hujan dengan nada dingin.
"Ck, sikap lo bener-bener nyebelin."
"Tadi lo bilang gadis itu cupu?" Hujan menunjuk gadis tersebut lalu menatap si pelaku dengan senyum mengejek. Pelangi gadis yang tadinya mendorong Hujan itu, tampak geram.
"Bisa-bisanya dia ngomong tenang begitu" batin Pelangi
"Kalian cuma takut kan?"
"Hah, takut? Takut apa maksud lo?" tanya Pelangi emosi. Bicara dengan orang seperti Hujan dapat membuat emosinya semakin meningkat.
"Hmm, lo takut disaingi sama cewek itu. Karena dia lebih cantik dari elo," jawab Hujan santai.
Pelangi mengeram kesal saat mendengar perkataan Hujan. Tangan Pelangi tergerak ingin menampar Hujan, namun dengan sigap Hujan menahannya.
"Pergi atau gua laporin kepsek," ucap Hujan dingin. Pelangi menarik tangannya dengan kasar.
"Lo ngancem gua?, Lu kira gua takut apa. Apa buktinya kalau gua udah ngebully tuh cewek?"
Hujan diam, dia tak menjawab pertanyaan Pelangi. Melihat Hujan yang diam tak berkutik, Pelangi dan temannya tersenyum menang.
"Lo gak punya bukti kan?, Halah beraninya ngancem doang!" ketusnya.
Hujan tersenyum miring, dia merogoh sakunya dan menunjukkan hasil video yang ia rekam. Ya, saat Hujan masuk ke dalam toilet tadi. Ia langsung merekam semuanya, sampai pada saat kedua siswi itu hendak menginjak kepala gadis cupu yang mereka bully.
"Apa bukti ini cukup?" tanya Hujan. Pelangi bungkam, dia mencoba merampas ponsel Hujan, tetapi dengan sigap Hujan langsung menjauhkan ponselnya.
"Mau lo apa sih?"
"Gampang, kalian tinggal pergi dan jangan pernah ganggu gadis ini lagi. Kalau enggak, gua bakalan nyebarin nih video."
"Dasar licik" ketus Pelangi dan pergi meninggalkan toilet, diikuti dengan temannya.
Hujan menghampiri gadis cupu yang dibully siswi itu tadi.
"Lo gak papa?" tanya Hujan. Gadis itu mendongak, dia menatap Hujan sambil tersenyum kecil.
"Makasih kak, udah nolongin aku," ucapnya. Gadis itu berdiri dan membereskan bajunya yang tampak kusut.
"Hmm," jawab Hujan lalu pergi dari toilet.
Gadis itu mengejar Hujan, dia mengikuti Hujan dengan senyuman manis.
"Nama kakak siapa?"
"...."
"Kakak cantik deh, baik lagi."
"...."
"Kak, kita temenan yuk."
Langkah Hujan terhenti, dia berbalik dan menatap gadis itu dingin.
"Kenapa lo ngikutin gua?" tanyanya dingin.
"Karena kakak baik," jawab gadis itu antusias.
"Gua gak sebaik yang lo kira," jawabnya masih dengan nada dingin.
__ADS_1
Gadis itu tersenyum, dia menatap Hujan penuh harap.
"Kita temenan yuk kak," ucapnya dengan senyuman yang lebar.
"Ck, gua gak mau temenan sama gadis cupu."
Gadis itu menunduk, sepertinya dia salah, sekali cupu tetaplah cupu, mana mungkin ada yang mau berteman dengannya.
Hujan menatap gadis itu lamat-lamat, sepertinya dia sudah menyinggung perasaan gadis itu. Hujan merasa bersalah, dia sama saja dengan mereka, benar-benar jahat!.
Flashback on
Hujan memasuki kelasnya dengan murung, dia baru saja ditinggal mamanya dan kakaknya pergi.
"Eh, liat deh, itu Hujan kan?"
"Iya, dia ditinggal sama mamanya, kasian banget kan."
"Buat apa kasian, dia kan pembawa sial!"
"Aku denger, mamanya ninggalin dia karena dia pembawa sial ya?"
"Hmm, bener tuh kata mamanya. Hujan emang biang masalah."
"Makanya kita gak boleh dekat-dekat dia, nanti kita kena sial."
Hujan menunduk, rasanya sangat menyakitkan, tidak cukup kah dirinya hanya ditinggal papa, mama dan kakaknya? Sekarang teman-temannya juga menjauhinya, bahkan mereka sering kali melontarkan kata-kata pedas yang menusuk hatinya.
Flashback off
Hujan tersadar dari lamunannya, dia menatap gadis di depannya dengan rasa bersalah.
"Hey, gua minta maaf," ucap Hujan tulus, kini suaranya tidak lagi dingin.
Gadis itu mendongak, dia tersenyum ramah pada Hujan.
"Gak papa kok, Kak" jawabnya tersenyum ramah.
Hujan jadi makin merasa bersalah, senyum itu benar-benar tulus.
"Hey, lo bilang teman kan? Mari kita berteman."
Wajah gadis itu berseri, dia menatap Hujan tidak percaya. Hujan mau jadi temannya? Wah dia senang sekali.
"Beneran kak?" tanyanya dengan senyum yang merekah.
"Hmm."
"Wah, makasih kak."
"Iya, lo harus datang ke apartemen gua pas pulang sekolah."
"Apartemen kakak dimana?"
Hujan mengambil pulpen dan satu lembar kertas, dia tampak menulis sesuatu di sana.
"Nih," ucap Hujan sembari memberi kertas itu. Di kertas itu tertulis alamat apartemennya.
Gadis itu menerimanya dengan senang, dia menyimpan kertas itu di dalam tasnya.
"Makas—" ucap gadis itu terpotong kala dia melihat Hujan yang pergi tanpa pamit.
"Hari ini gua terlalu banyak ngomong" batin Hujan lelah.
***
Auriga sedari tadi memerhatikan, mulai dari aksi di dalam toilet, sampai dengan sekarang. Bukan bermaksud mengintip, hanya saja dia melihat Hujan masuk ke dalam toilet dan tanpa sengaja dia mendengar suara ribut-ribut. Sebenarnya Auriga ingin membantu, hanya saja saat melihat Hujan malah merekam dan bukannya menolong. Auriga jadi penasaran apa yang akan dilakukan Hujan dengan rekaman itu. Jadi, Auriga memutuskan untuk jadi penonton saja.
Auriga tersenyum dari kejauhan, dia menatap punggung Hujan yang kian menjauh.
"Ternyata kita tidak boleh menilai orang dari luarnya aja" batin Auriga
__ADS_1
...TBC....