
...~HAPPY READING~...
***
"Lepaskan! Lepasin gua!"
Aurora terus memberontak kala dua orang dengan penampilan tertutup mencoba membawanya secara paksa.
"Siapa kalian? Apa yang kalian inginkan?!"
Mau sekeras apapun dia berteriak, keduanya hanya diam membisu tanpa menggubris perkataan Aurora.
Dengan kasar, Aurora masuk ke dalam mobil. Membuat gadis itu panik dan memukul mukul jendela sekuat nya.
"Keadaan aman terkendali pak, sekarang anda bisa berangkat dengan tenang."
Salah satunya berbicara pada pria yang duduk di kursi depan. Aurora tidak dapat melihat wajah pria itu dengan jelas karena terhalang kursi mobil.
"Jalan sekarang."
"Baik, Pak!"
Mobil mulai berjalan perlahan meninggalkan area yang cukup sunyi. Aurora sangat Aurora ketakutan, gadis itu berteriak minta tolong sembari menggedor gedor kaca jendela.
"Tolong! Siapa saja, tolongin gua!"
"Ck, kau berisik sekali," ucap pria itu dengan decakan kesalnya.
Aurora menatap punggungnya tak suka. Gadis itu tampak marah.
"Siapa anda sebenarnya? Kenapa menculik saya? Lepaskan saya! Saya harus pergi! Lepaskan!" pekik Aurora
"Hei, kau."
Pria itu berbicara pada Supir. Dia bahkan tidak peduli dengan omelan Aurora
"Ya, Pak?"
"Dia sangat berisik, kau tau maksudku 'kan?"
"Ah, saya paham. Akan saya lakukan seperti kata anda."
Beberapa detik kemudian, sebuah penghalang muncul di depan Aurora. Hingga kini ia tak bisa melihat pria dan supir itu lagi.
Tak cukup sampai di situ, entah bagaimana bisa tiba-tiba saja muncul gas tidur. Dasar orang-orang licik! Aurora jadi sangat mengantuk, sedetik kemudian gadis itu tertidur lelap.
"Bagus," puji Irwin pada sang Supir kala tak mendengar teriakan Aurora lagi dari belakang sana.
"Terima kasih, Pak."
Supir itu terlihat senang lantaran mendapat pujian dari Irwin.
****
"Tuan, Semuanya berjalan lancar sesuai rencana."
Petir mengangguk kecil. Menatap wajah Aurora yang tertidur dengan intens.
"Kalau diperhatikan lagi, dia memang sangat mirip dengan Sari. Kenapa Hujan gak sadar, ya?" Ia bergumam heran.
"Tentu saja, Nona tidak seperti anda yang suka memata-matai segala hal yang menurut anda mencurigakan."
"Ah itu ...."
"Terkadang tak mencurigakan pun jika itu berkaitan dengan Nona, anda akan tetap menyelidikinya. Anda bahkan mencari tau identitas teman-teman Nona 'kan?"
"...."
__ADS_1
"Wah, saya pikir jika Nona tau hal ini dia akan membenci anda dan tidak ingin bertemu lagi dengan anda."
"Ck, jika itu terjadi aku akan memotong gajimu."
"Loh? Kenap—"
"Karena hanya kau yang mengetahui semuanya. Jika kau jadi ember yang bocor maka semuanya akan terbongkar."
Irwin tersenyum remeh lantas menjawab perkataan Indra dengan percaya diri.
"Tenang saja, saya tidak akan pernah bocor. Percayalah, semua rahasia anda akan aman bersama saya."
"Begitu kah? Lantas, siapa yang memberitahu lokasi Hujan pada Mama hari itu? Apa kau ingat, Irwin? sepertinya aku lupa."
Jedar!!!
Satu kalimat dari Petir dapat membuat Irwin terdiam. Pria paruh baya itu menunduk. Perkataan Petir benar-benar menusuk.
"Sudahlah, sana keluar. Sepertinya sebentar lagi dia akan sadar," kata Petir memperhatikan gerak-gerik Aurora.
Irwin mengangguk.
"Saya pamit, Tuan."
"Hm."
Usai kepergian Irwin, sesuai perkiraan Indra, Aurora langsung sadar. Lelaki itu tersenyum semirk melihat wajah bingung Aurora.
"Kak P-Petir? Ke–kenapa kakak bisa ada di sini?" tanya Fani takut.
Ekspresi Aurora membuat Indra muak. Bodoh sekali dia pernah tertipu dengan bocah ini.
"Aurora ... Aurora."
Petir berjalan mendekat. Mendudukkan diri pada tepi ranjang. Lalu tersenyum manis ke arah gadis itu.
****
"Hujan," panggil Auriga usai keluar dari Bandara.
Akhirnya mereka sampai juga di Jakarta setelah perjalanan yang cukup panjang.
Hujan menoleh memandang Auriga yang baru saja memanggilnya.
"Tunggu bentar," pintanya berjalan mendekat pada Hujan.
Auriga tampak mencari sesuatu di dalam tasnya. Dengan Hujan yang masih setia menunggu.
"Ketemu," ujarnya mengeluarkan sebuah kotak kecil dari dalam sana.
Hujan mengerutkan dahi.
"Itu apa?" tanyanya yang hanya ditanggapi senyuman kecil oleh Auriga.
Pria itu mengeluarkan sebuah kalung liontin berbentuk bulan sabit dari dalam kotak. Kemudian memakaikannya pada leher Hujan tanpa permisi.
Hujan diam membeku, membiarkan Auriga memasang kalung itu. Jika saja ada Matahari di sini, pasti gadis itu sudah mengejeknya. Syukurlah, mereka sudah pulang lebih dulu tadi.
"Sangat cantik," kata Auriga setelah selesai memasangnya di leher Hujan Entah apa yang ia bilang cantik, daripada liontinnya, Auriga lebih salah fokus ke wajah Hujan.
"Lo suka?"
"Buat gue?"
"Ya, hadiah ulang tahun lo."
"...."
__ADS_1
"Ah, kalau lo gak suka simpan aja di rumah. Gua gak maksa lo buat—"
"Makasih Auriga, liontinnya indah, gua suka."
Satu kalimat pujian dari Hujan dapat membuat Auriga terdiam beku. Dia sangat senang, rasanya jantung Auriga seperti konser di dalam sana. Ah, ini sedikit memalukan.
"Nona Hujan."
Hujan dan Auriga langsung saja menoleh ke asal suara. Tampak sekelompok pria berbaju hitam datang menghampiri Hujan.
"Maaf menyela Nona, kami diperintahkan oleh Tuan Muda untuk menjemput anda pulang."
'Kak Petir terlalu berlebihan,' batin Hujan melihat banyaknya orang yang menjemput. Ia merasa seperti tahanan yang harus dikawal.
****
PLAK!
Satu tamparan mendarat di pipi putih milik pria tampan itu. Membuat ia tertoleh ke samping tanpa ekspresi.
"Kau mau pulang ke Indonesia katamu? Orion, sadarlah! Jangan temui gadis itu lagi."
"Tidak bisa," gumamnya.
"Kenapa aku harus menurutimu?" Ia berkata dingin pada sang ayah.
"Dasar kau anak kurang ajar!"
Orion tidak memperdulikan kemarahan dari ayahnya. Tangannya masi senantiasa memasukkan baju-baju pada koper.
Srek.
Ia kunci resleting koper dengan rapat lantas bergegas turun dari kamar dengan Steven yang mengekor.
"Orion! Berhenti di sana!" teriak Steven yang tak dihiraukan Orion.
"....."
"Orion."
Panggilan lirih itu dapat menghentikan langkahnya. Orion menoleh melihat sang Ibu yang tengah berdiri dengan derai air mata.
"Maaf Bunda, Orion harus pergi."
Berbeda dengan Steven, Nessa—ibunya sangatlah lembut. Selalu mendukung Orion dalam hal apapun itu jika menurutnya bagus.
Nessa mengangguk lemah. Menarik Orion hingga membuatnya menunduk dan kemudian mengecup pelan kening pria itu.
"Hati-hati di jalan," ujarnya mencoba untuk tersenyum.
"Makasih Bunda, Orion pamit pergi."
Orion balas memeluk sang ibu, lalu menyalimnya sebelum pergi lebih dulu.
"Nessa, kenapa kamu biarin Orion pergi?!"
"Sudahlah Mas, biarkan dia kali ini aja. Kamu udah terlalu sering mengekangnya. Kasian Orion, dia pasti merindukan Hujan."
"Tapi anak itu—"
"Kenapa kamu harus buruk sangka dengan keponakan kamu sendiri? Bukankah Rena adalah Kakak kandungmu?"
"Hah ... terserah saja!"
Steven memilih untuk pergi dengan wajah muram.
Bersambung...
__ADS_1
...TBC....