Asmirandah Hujan

Asmirandah Hujan
Chapter 73.


__ADS_3

...~HAPPY READING~...


****


Teriakan histeris para gadis sama sekali tak digubris olehnya. Ia tetap santai menatap ke pintu gerbang seolah tidak menjadi pusat perhatian.


"Woy!"


Orion berbalik memandang orang yang baru saja memanggil dirinya.


"Ngapaiin lo di sini?" tanya Matahari blak-blakan.


Orion, hanya diam, sama sekali tak berniat menjawab pertanyaan Matahari. Lagian, kenapa dia harus menjawabnya? Toh dia tak kenal!


Melihat Orion yang hanya mengacuhkannya. Membuat Matahari sedikit jengkel.


"Sombong banget lo jadi orang!" ketusnya.


"...."


"Woy! Lo budeg ya?!"


"...."


"Lo ben—"


"Hei! Kenapa kau mengganggunya! Sana pergi!"


Matahari menoleh menatap datar para gadis yang sedari tadi berbisik-bisik memuji dan mengagumi Orion. Sial, anak baru ini populer juga, ya?!


"Otak kalian di mana sih? Masa orang kek beginian ditaksir!" cibir Matahari memancing emosi para gadis di depannya.


"Matahari! Udah dong, jangan berantem. Ayo pergi dari sini," ajak Aurora terus menarik paksa Matahari.


Orion yang mendengar pertengkaran di dekatnya sama sekali tak peduli. Lelaki itu tampak tak acuh. Sedetik kemudian matanya menangkap sosok Hujan yang keluar dari mobil. Sontak bibir Putra mengukir senyum senang.


Ia berjalan menghampiri Hujan dengan cepat.


"Hujan!" panggil Orion.


Gadis itu menoleh.


"Orion?" ujarnya. "Lo ngapaiin?"


"Aku lagi nungguin kamu!"


Hujan diam membisu tak tahu harus berkata apa.


"Apa kau punya waktu? Dari kemarin, kau bahkan gak bicara denganku. Ada banyak hal yang ingin ku bicarakan denganmu, Hujan."


Lagi dan lagi Hujan hanya diam memikirkan ucapan Orion. Yang dikatakan lelaki itu memang benar. Hujan benar-benar tak sopan karena sudah mengabaikannya dari kemarin.


Kalau dipikir-pikir kenapa Hujan terus menghindar? Entahlah dia juga tak tahu itu. Saat melihat wajah Orion entah kenapa semua ingatan buruk itu terus menghantuinya. Namun, tentu Hujan tak bisa bohong, dia juga merindukan sosok Orion sebagai sepupu dan sahabat masa kecilnya.


"Baiklah."


Hujan mengangguk kecil yang dapat mengukir senyuman senang di wajah Orion. Lelaki itu terlihat bahagia.


Ia genggam tangan Hujan kuat, membawanya pergi dari sana tanpa sepengetahuan Matahari dan Aurora yang masih sibuk dengan pertengkaran.


*****


Hanya ada keheningan di antara keduanya. Di kantin yang cukup ramai, Hujan mengaduk jusnya perlahan lalu meminum dalam keadaan hening.


"Maaf."


Satu kata yang keluar dari mulut Orion dapat membuat pergerakan Hujan terhenti.


"Gak perlu minta maaf," ujarnya.


"Tidak, aku harus!" bantah Orion. "Aku benar-benar bodoh. Seharusnya waktu itu aku membantah ayah supaya kita masi bisa bersama dan—"


"Sudahlah," potong Hujan. "Itu hanya masa lalu."


Orion tersenyum miris.


"Mungkin bagimu aku hanya masa lalu tapi bagiku Kau sangat berarti Hujan! Benar-benar berarti dalam hidupku."


Hujan terkekeh kecil merasa lucu dengan perkataan Orion.

__ADS_1


"Jika berarti kau tak akan meninggalkanku," ucapnya dingin.


"Maaf," lirih Orion berkata sedih.


"Sebenarnya waktu itu Ayah mengancam ku. Dia bilang jika aku tak mengikuti kemauannya, dia akan mencelakai mu," terangnya. "Kau tahu sendiri ayah orang nya seperti itu."


Hujan melotot kaget jadi itu alasan Orion meninggalkannya dulu. Dia pikir lelaki itu juga membuangnya karena menganggap Hujan adalah beban sama seperti yang dilakukan keluarganya dulu.


"Hujan."


Hujan mendongak menatapnya dalam diam.


"Aku ingin dekat lagi denganmu."


Deg!


"Apa boleh?"


Hujan diam tampak sedang berpikir. Semenit kemudian menjawab tanpa ragu.


"Kenapa tidak?"


Orion tersenyum lebar.


"Kau benar-benar gak berubah!" katanya terkekeh geli. "Sangat cepat memaafkan kesalahan orang!"


Hujan mengangguk paham.


"Jadi, seharusnya aku gak memaafkan mu ya?"


"Haha! Dasar Hujan, bukan begitu juga!"


Keduanya tertawa senang. Entah kenapa rasanya hati Hujan sedikit membaik. Sepertinya kehadiran Orion benar-benar berpengaruh di hidup nya.


"Ngomong-ngomong, apa aku boleh menanyakan sesuatu?" tanya Orion penuh harap.


"Kau sudah bertanya."


"Ck! Aku serius! Becanda mulu."


Hujan tersenyum tipis. Sikap Orion memang tidak berubah sama sekali. Dia tetap saja Kekanak-kanakan.


"Auriga bukan Aurigi."


"Oh? I–iya itu maksud ku!" ucapnya.


"Dia ...." Hujan menggantung ucapannya. Tiba-tiba saja pipinya terasa panas. Apa dia harus mengatakannya? Ah ini sedikit memalukan.


Orion menyerngit melihat tingkah aneh Hujan. Sedetik kemudian ia terkekeh kecil.


"Dia apa, hm?" tanyanya masih dengan kekehan kecil.


"Pacar."


Sontak mimik wajah Orion berubah jadi suram. Senyuman itu kian menghilang.


"Kau sudah punya pacar?" tanyanya mencoba untuk memastikan. Siapa tahu dia salah dengar.


"Hm," dehem Hujan. "Kemarin kita pacaran," lanjutnya lagi dengan wajah bersemu merah.


Jlep!


Fakta macam apa ini? Kenapa dada Orion terasa sesak? Sial sepertinya ada jarum yang terus menerus menusuk jantung dan hatinya.


"Dia sangat baik."


Perkataan Hujan dapat menambah rasa sesak di dada. Namun sebisa mungkin Orion menampilkan senyum. Dia baru saja berbaikan dengan gadis itu, Orion tak ingin bila hubungan mereka akan renggang lagi nantinya hanya karena sesuatu yang bernama 'rasa'. Biarlah Orion memendam lagi rasa itu sendiri.


Hujan terlihat menyukai pria itu. Orion juga merasa bahagia jika Hujan bahagia. Kebahagiaan gadis itu adalah nomor satu baginya.


"Langgeng, ya!" ujar Orion mengusap lembut rambut Hujan. "Aku selalu di pihakmu," lanjutnya lagi.


*****


Auriga tak henti-henti menghapus kembali pesan yang baru saja ia tulis. Membuat Benua dan Sagita geleng-geleng kepala tak habis pikir.


Set!


Dengan kasar Sagita mengambil alih ponsel miliknya.

__ADS_1


"Parah lo! Masa ngirim pesan ke Hujan aja lamanya sampe setahun!" ketus Sagita.


"Apaan sih Sag?! Sini balikin ponsel gue!"


Sagita menepis tangan Auriga yang mencoba untuk merebut kembali ponselnya.


"Diem! Biar gue bantu. Lagian kemaren juga lo bisa kencan karena bantuan gue kan?" cibirnya.


Auriga berdecih kesal mengingat fakta itu. Ia tatap Sagita tak suka ketika lelaki itu mulai mengetikkan pesan. Awas saja kalau isi pesannya macam-macam!


^^^Anda^^^


^^^Nanti sore aku ada^^^


^^^tanding basket.^^^


^^^•12.05^^^


Hujan


Udh tau


•12.05


^^^Anda^^^


^^^Kamu nonton ya!^^^


^^^Aku tunggu♡^^^


^^^•12.06^^^


Hujan


Ya


•12.07


^^^Anda^^^


^^^Makasih^^^


^^^Aku sayang kamu♡^^^


^^^Heheh:)^^^


^^^•12.07^^^


Hujan


Read


"Pfthahah! Diread dong!" kekeh Benua rupanya sedari tadi pria itu mengintip pesan yang diketik kan Benua.


"Emang lo ketik apaan?" tanya Auriga penasaran. Ia toleh kan kepala ke samping mencoba untuk mengintip isi pesannya.


"Brengsek!" umpat Auriga ketika membaca pesan yang baginya cukup menggelikan itu.


Dasar Sagita! Ini sangat memalukan. Oh, tidak! Harga diri Auriga benar-benar jatuh.


"Lo bener-bener ya! Lo minta gue gebuk dulu biar paham, ha?" kesal Auriga mencegal leher Sagita dengan sikutnya.


"Ampun Ga, gue mana tau kalau diread. Gue pikir orang pacaran harus roman—"


"Tutup mulut busuk lo Sag! Gue gak mau denger. Nyebelin banget jadi orang!" Auriga makin menguatkan cekalannya.


Kalian tahu apa yang dilakukan oleh Benua? Lihatlah pria itu tengah mengabadikan momen di depannya dengan riang.


"Hahaha! Ini dia guys, dua cecunguk berantem wkwk. Mohon jangan ditiru ini tindakan kekerasan! Pthahaha!"


Benua tak henti mengambil video dari segala arah. Dasar teman sialan! Bukannya membantu Sagita dia malah bersenang-senang di atas penderitaan orang.


"Eukk ... Auriga kampret gue bisa mati!" pekik Sagita yang tak digubris oleh Auriga.


"Kalau gue mati, otw lo gue gentayangin. Mampus!"


BERSAMBUNG....


...TBC....

__ADS_1


__ADS_2