Asmirandah Hujan

Asmirandah Hujan
Chapter 79.


__ADS_3

...HAPPY READING...


****


"Kenapa lo terus menghindar dari gue?"


Perkataan Benua dapat menghentikan aksi Aurora. Tadinya gadis itu tengah asik memilah beberapa karya para siswa yang akan ia tempelkan di mading.


Bisikan-bisikan halus terdengar dari sekitarnya. Aurora menghembuskan napas kasar lalu menatap tajam Benua.


"Lo gak liat gue lagi sibuk? Lagian malu Nu, diliatin adik kelas."


"Lo malu karena gue?" tanya Benua dengan wajah masam.


"Bukan begitu maksud gue."


"Padahal waktu itu lo balas ciuman gue."


Aurora terbelalak kaget. Tak hanya dia tetapi orang-orang di sekitarnya juga dibuat terkejut. Anggota ekskul mading itu menatap Aurora dengan kepo.


"Wah, Beneran Kak?"


"Kalian pacaran?"


"Cieee kak Benua romantis nih ye."


"Arggghh..gue juga mau. Kapan gue ketemu cogan ya Allah."


PLAK!


Aurora memukulnya dengan buku tebal sangking kesalnya. Wajah gadis itu merona menahan malu. Bisa-bisanya Benua mengatakan hal itu di tempat umum.


"Hahaha, di geplak dong."


"Kasian bet kak Benua. Sini kak sama gue aja."


Aurora menatap tajam para juniornya membuat mereka terdiam seketika. Bahkan tatapan itu membuat Benua sedikit takut.


"Ck, sana keluar. Ada yang mau gue omongin sama Benua."


Semuanya tersenyum kikuk, meski begitu mereka juga menurut dan menghormati ketua mereka.


"Pepet terus kak, jan kasi kendor."


Salah satu junior berbisik di telinga Benua sembari cekikikan. Aurora menatapnya datar.


"VIA"


"Iy—iya kak, Via keluar," hardiknya.


Kini suaranya berubah hening, hanya ada Aurora dan Benua di sana. Aurora mendongak menatap Benua yang kini juga tengah menatapnya.


"Bukannya gue udah nolak ya? Lo kok tetep bersikeras gitu sih Nu?"


"Ya, gue gak bakal nyerah sebelum lo nerima perasaan gue" tegas Benua menatap Aurora dengan raut wajah serius.


"Lo kok egois Banget sih?"

__ADS_1


"Setidaknya, kasi gue kesempatan Ra. Gue bener-bener sayang sama lo," ucap Benua penuh keyakinan.


Aurora menggigit bibir bawahnya tak tahan dengan serangan mata Benua. Bahkan lelaki itu terlihat seperti kucing yang tengah merajuk karena tak dibelai oleh tuannya.


"Huft." Helaan napas Aurora terdengar cukup panjang.


"Ok, gue terima perasaan lo tapi janji sama gue kalau lo gak bakal pernah ninggalin gue apapun yang terjadi. Gue paling gak suka yang namanya sakit hati apalagi sama orang yang gue cintai."


Senyuman Benua mengembang seketika mendengar kata terakhir itu.


"Ok, Gue janji!" jawabnya antusias.


"Gue gak butuh janji, gue butuh bukti".


***.


Orion mengetuk pelan pintu kamar Hujan. Di tangannya terdapat nampan berisi air dan beberapa obat.


"Hujan" panggilnya.


"Masuk aja gak dikunci," sahut Hujan dari dalam sana.


Orion membuka pelan pintu itu lalu berjalan ke arah balkon ketika mendapati Hujan yang tengah duduk sembari menatap awan di atas sana.


"Lo harus meminum obat," kata Orion sembari menuangkan segelas air putih ke dalam gelas.


"Buat apa?" tanya Hujan dingin. "Toh gue juga bakal mati."


Orion menggeleng tak suka mendengarnya.


"Gak boleh ngomong gitu," bantahnya. "Lo ha—"


"Apa?"


"Cewek yang bareng Auriga, dia cantik kan?"


"Cantik sih, tapi kecantikannya gak ada apa-apanya kalau dibandingin sama lo," jawab Orion jujur.


Hujan tak merespon lebih memilih untuk diam.


"Kenapa lo nanyain tuh cewek? lo cemburu?"


"Cemburu?" beo Hujan kemudian dia menatap burung-burung yang terbang bebas di langit.


Wajah Auriga tiba-tiba terbesit di kepalanya. Hati Hujan berdenyut nyeri seketika.


"Orion, apa lo bisa bantuin gue?"


******


Lintang berjalan ragu ke arah Auriga yang tak henti bermain basket di halaman belakang. Meski masih kecil, Lintang cukup tahu kalau suasana hati Sang Kakak sedang tidak baik.


Terlihat dari caranya memantulkan bola dan terkadang meleset saat memasukkan bola ke ring. Sesekali Auriga juga mengeram kesal. Lelaki itu tengah melampiaskan kemarahannya dengan cara berolahraga setidaknya Auriga bisa melupakan Hujan walau sejenak. Meskipun pada akhirnya wajah gadis itu terus tergambar di kepala Auriga.


"Kak"


Panggilan lirih dari Lintang dapat menghentikan pergerakan Auriga. Lelaki itu membuang bolanya asal, lalu berjalan dan menggendong Lintang sembari menampilkan senyum hangat.

__ADS_1


"Kenapa, Tang? Mau coklat?"


Lintang menggeleng. Bahkan mata bocah itu terlihat berkaca-kaca sekarang.


"Kak Aga jangan marah, apa Intang buat salah?" rengeknya.


"Kakak gak marah tuh, kenapa kamu mikir gitu?" heran Auriga.


"Habisnya, dari tadi kakak gak mau makan. Gak mau main sama Intang juga. Papa bilang Kakak lagi ada masalah."


"Papa?"


"Iya, katanya kakak berantem sama kakak cantik."


Seketika wajah Auriga berbuah datar. Bisa-bisa papanya mengatakan hal seperti ini pada anak kecil. Terlebih lagi, dari mana papanya tahu? Auriga rasa dia tak pernah cerita.


"Udah Tang, jangan nangis. Ok" Auriga mengusap pelan rambut adiknya. "Tang, kamu mau ke taman? Kakak temenin deh."


Lintang langsung tersenyum senang. Bocah itu mengangguk antusias.


"Mau!"


***


"Lo Keyra kan?"


Keyra mengangguk kecil. Sedikit heran dengan perilaku Orion yang memintanya untuk ketemuan. Bukanlah itu sedikit mencurigakan? Mereka bahkan tak saling mengenal!


"Apa yang mau Kakak omongin?" tanya Keyra to the point.


Orion tersenyum smrik. Meminum kopi miliknya kamudian menjawab.


"Lo suka Auriga kan? Tapi gimana dong? Dia udah punya pacar. Lo tau sendiri pacarnya adalah Hujan sepupu gue."


"Terus?"


"Lo lelet juga rupanya," timpal Orion berdecih kesal.


"Gue cinta Hujan, udah lama bahkan sejak gue dan dia masih SD. Gue tau itu sedikit konyol tapi yah, dia cinta pertama gue dan akan jadi yang terakhir!"


"Maksud lo?" bingung Keyra masi tak mengerti arah pembicaraan Orion.


"Gimana kalau kita kerja sama?" Orion menawarkan dengan wajah coolnya.


"Lo deketin Auriga dan gue bakal deketin Hujan terus dengan begitu hubungan keduanya bakal hancur. Lo bisa dapetin Auriga sementara gue dapetin Hujan. Gimana? Lo setuju? Imbangkan? Kita berdua sama-sama untung"


BYUR


Orion membeku seketika kala Keyra menyiram wajahnya dengan coklat dingin milik gadis itu.


"Gue kira lo sepupu kak Hujan, taunya lo malah nusuk dia dari belakang. Parah lo Kak, di mana otak lo? Gue jadi kasian sama Kak Hujan"


Keyra benar-benar tak habis pikir dibuatnya. Apa Orion sudah gila? Yah, mengingat dirinya yang terus mepet Hujan, mungkin lelaki ini sudah tak punya hati.


"Gue mungkin suka sama Kak Auriga tapi bukan berarti gue mau ngehancurin hubungan mereka," kata Keyra langsung berdiri dari duduknya.


"Jangan pernah samaain gue sama orang brengsek kayak lo" umpat Keyra sebelum akhirnya berlalu pergi meninggalkan Orion.

__ADS_1


...TBC ....


__ADS_2