
...~HAPPY READING~...
****
Aurora berjalan dengan wajah lesu memasuki rumah. Belum sampai ke kamar, ia sudah disuguhi pemandangan menjengkelkan dari Ayah dan Ibu tirinya.
Hendri dan Tiara terlihat sangat mesra menontong Televisi. Tiara berbaring, menjadikan paha Hendri sebagai bantal.
Aurora memalingkan wajah jengah dan kembali melanjutkan langkahnya yang terhenti.
Gadis itu berjalan menaiki tangga menuju ke kamar. Ia rebahkan tubuh pada kasur empuk lantas menatap langit-langit dengan hampa.
"Ah, aku merindukannya."
Dengan cepat Aurora berdiri, membuka baju seragamnya dan pergi ke kamar mandi. Selasai mandi, gadis itu berhias seadanya.
Celana panjang berwarna hitam dengan baju putih lengan pendek membalut tubuh langsing Aurora dengan Indah. Ia gunakan topi hitam dan masker menutupi wajah, lantas berjalan turun ke bawah.
"Kau mau kemana?" tanya Hendri begitu Aurora berdiri di depannya.
"Aku sudah melakukan tugasku, jadi ayah juga harus menepati janji."
"Oh, begitukah? Jadi, kau ingin meminta izin untuk bertemu ibu mu?"
Aurora mengangguk, kemudian menadahkan tangannya seperti meminta sesuatu.
Hendri yang paham, langsung saja merogoh sakunya. Memberikan kartu berwarna hitam pada Aurora.
"Kembalikan padaku setelah selesai, ingat! Waktumu hanya satu jam, tidak lebih dari itu!"
"Aku mengerti. Kalau begitu, aku pamit pergi," kata Aurora berjalan cepat memasuki mobil. Ia tancap gas perlahan meninggalkan perkarangan rumah.
*****
"Menyingkir dari hadapanku," ujar Aurora dingin menatap dua orang penjaga di depannya sengit.
"Hei, Dik! Sedang apa kau ditempat seperti ini? Pulanglah ke rumahmu."
Aurora mendengus, ia buka maskernya memperlihatkan wajah dengan jelas. Sontak kedua pengawal itu kaget dan kemudian membungkuk memberi hormat.
"Maaf, kami tidak mengenali anda Nona."
"Sungguh! Maafkan kesalahan kami."
"Sudahlah, menyingkir sekarang!"
__ADS_1
Keduanya menurut, lalu membuka jalan membiarkan Fani masuk ke dalam gedung itu.
Aurora berjalan dengan santai. Langkahnya berhenti tepat pada sebuah pintu. Sebelum masuk, gadis itu menarik nafas dalam-dalam.
Ia keluarkan kartu hitam yang diberikan Hendri tadi. Lantas membuka pintu menggunakan kartu itu.
"Ibu ...," panggil Aurora lirih.
Wanita yang berpenampilan kacau itu menoleh ke arahnya. Wajahnya tampak syok, ia menjerit ketakutan melihat kedatangan Fani.
"Pergi! Pergi dari sini! Jangan pukul aku."
Aurora menutup pintu lantas berjalan masuk. Air matanya menetes melihat keadaan wanita itu.
Aurora POV
Penampilan ibu sangat kacau dan berantakan. Tubuhnya sangat kurus, rambut acak-acakan dengan mata yang terus saja memancarkan aura ketakutan.
Padahal dulu Ibuku ini sangat cantik, Ayah benar-benar tega! Dia selingkuh dibelakang ibu dan meninggalkan kami begitu saja. Karena terpukul, Ibu selalu saja berteriak-teriak tidak jelas. Aku takut, aku kasian pada ibu yang terlihat banyak pikiran kala itu.
Dengan tak berperasaanya Ayah pulang setelah sekian lama dengan membawa kabar yang begitu mengejutkan. Dia menikah dengan wanita muda yang bahkan hampir seumuran denganku! Tentu saja ibu menangis dan menggila. Pada akhirnya, ibu jadi seperti ini.
Ayah mengurung dan menyiksa ibu di sebuah gedung tua yang hanya aku dan ayah saja yang tahu tempatnya. Ibu jadi setres dan trauma dengan kejadian yang dialaminya.
Ibu membrontak, menendangku dengan kuat. Tak apa Bu, lakukan sepuasmu, jika kau mau, aku juga akan memberikan nyawa bila perlu. Akan kulakukan semua yang ku bisa untukmu.
"Menjauh, jangan pukul aku!"
"Aurora gak akan mukul ibu. Tenanglah Bu, apa Ibu sudah makan? Aurora bawa kue loh."
"Tidak mau! Menjauh, jangan sakiti aku. Pergi."
Ibu menangis terisak, menjambak rambutnya dengan kuat. Dia juga menendang makanan yang kubawa hingga hancur.
"Ibu ... Aurora mohon, jangan begini. Aurora gak akan nyakiti Ibu. Aurora sayang sama Ibu."
Air mataku tak henti mengalir dengan derasnya. Dadaku terasa amat sakit melihat penderitaan ibu. Dia pasti sudah sangat ketakutan di sini.
"Sebentar lagi Ibu bakal bebas. Aurora janji Bu! Aurora juga bakal bawa Ibu berobat."
"Ibu tunggu saja, sebentar lagi tugas Aurora bakal selesai kok. Karena itu, Ibu harus tetap sehat, ya?"
Kulihat Ibu mulai tenang mendengar kata-kataku. Meski ia tetap menjaga jarak tapi, ini lebih baik.
"Bu, apa Ibu tau? Aurora jadi jahat, Aurora ini munafik! Ayah nyuruh Fani buat dekat dengan seorang gadis."
__ADS_1
"Ayah ngancem Aurora, katanya kalau Aurora gak nurut. Ayah bakal bunuh I–ibu. Aurora takut Bu ... Aurora gak mau Ibu kenapa-napa."
"....."
"Ibu tau? Hujan, gadis yang Aurora dekatin atas perintah ayah. Dia anak yang baik, dia selalu nolongin Aurora, padahal Aurora cuma Manfaatin Adel doang."
Aku tersenyum miris, wajah Hujan langsung saja terbesit di kepalaku. Rasanya aku benar-benar ingin gila!
"Awalnya Aurora cuma pura-pura, tapi lama-lama hati Aurora terasa sakit. Fani ngerasa bersalah sama Hujan. Tapi ... Aurora gak boleh mundur, Bu. Karena kalau Aurora mundur, Ibu bisa dalam bahaya."
"...."
"Aurora tau ini salah, tapi Ayah janji sama Aurora. Katanya kalau Aurora berhasil nyelesain tugas Aurora, Ayah bakal bebasin Ibu."
Aku menarik nafas yang terasa berat. Mata ini menatap kosong ke depan. Napasku tak beraturan. Kuhapus air mata dengan kasar.
"Karena itu, meski harus menghancurkan hidup seseorang. Kalau itu demi Ibu, Aurora bakal lakuin!"
Aku tersenyum miris. Maaf Jan, mungkin lo bakal benci sama gue seumur hidup. Bukan cuma lo, mungkin Matahari, Sagita, Hujan dan Benua juga bakal benci dan kecewa sama gue.
Gue siap nanggung resiko itu. Jika kalian ada di posisi yang sama dengan gue, pasti kalian juga melakukan hal yang sama kan Jan? Maaf ... nyawa Ibu gue lebih penting.
"Ja—jangan."
Aku menoleh, ibu baru saja bicara. Apa dia tak takut lagi padaku?
"Jangan lakukan itu, kasian temanmu."
Nyutt!
Kukira ibu hanya diam saja, ternyata dia juga menyimak ucapan ku, ya. Aku tersenyum hangat lalu memeluk Ibu dengan tulus.
"Gak apa Bu, jangan dipikirkan," kataku mengelus pundak Ibu.
Ku ambil kue cadangan yang sengaja ku bawa dua untuk jaga-jaga, lalu menyodorkannya pada Ibu dan berkata.
"Ibu makan, ya? Aurora suapin."
Dia mengangguk lemah. Untunglah, Ibu terlihat lebih tenang sekarang.
"Iya."
Bersambung....
...TBC....
__ADS_1