
"Kak?"
"Hm."
"Gua mau nanya sesuatu sama lo."
"Tentang apa?" tanya Petir dengan mata yang terfokus pada ponselnya.
"Tentang Orion."
Deg!
Petir meletakkan ponselnya pada meja dan langsung saja menatap Auriga dengan wajah yang serius.
"Lo kenal Fajar?" tanya Petir.
"Fajar?" Auriga menyerngit bingung, dia bertanya tentang Orion kan? Tapi kenapa Indra malah menyebut nama Fajar?! "Maksud gua Orion kak, bukan Fajar!" tegas Auriga.
"Iya, gua tau."
"Terus? Kenapa Kak Petir nyebut nama Fajar?"
"Lah? Namanya kan 'Orion Al Fajar' nama panggilannya Fajar, tau?! Bukan Orion!!" ucap Petir menjelaskan. "Kecuali ..." Petir tampak berfikir, setelah itu dia tersenyum kecil.
"Kecuali apa kak?" tanya Auriga penasaran.
"Kecuali jika Hujan yang memanggilnya," jawab Petir terkekeh. "Itu panggilan spesial buat Fajar dari Hujan," lanjutnya lagi.
Entah kenapa saat mendengar perkataan Petir barusan, dapat membuat hati Auriga sakit. Spesial katanya? Wah ... kelihatannya Hujan dan Orion memang sangat dekat, sampai-sampai Hujan memanggil Orion dengan berbeda. Apa mungkin Orion juga memanggil Hujan dengan panggilan berbeda? Yah, memangnya apa hubungannya dengan Auriga?!.
"Tapi gua heran, kenapa lo nanya tentang Fajar? Dan kenapa lo manggil Fajar dengan panggilan Orion, sama kayak Hujan?" tanya Petir panjang lebar.
Auriga bungkam, dia bahkan tak menjawab satu pun dari pertanyaan Petir barusan.
"Ah gua tau, pasti Hujan yang cerita sama lo kan?" tebak Petir.
"Bukan."
"Jadi?"
"Emang bener kalau gua tau dari Hujan, tapi Hujan gak pernah cerita sama gua."
"Lah ... maksud lo gimana sih?! Gua jadi bingung."
"Maksud gua, gua emang tau dari Hujan, tapi Hujan gak pernah cerita sama gua karena dia ngomongnya dalam keadaan gak sadar."
Bruk!
Petir memukul meja di depannya dengan wajah yang merah padam karena emosi, dia berdiri dan mencengkram kerah Auriga dengan kuat.
"Maksud lo apa ha?!" Petir menatap garang Auriga. "Lo bilang adek gua gak sadar? apa yang lo lakuin sama dia?! Sampai dia gak sadar!!" Auriga menelan Salivanya susah payah. Tidak, Auriga tidak takut, hanya saja dia benar-benar kaget saat Petir menggebrak meja dan mencengkram bajunya dengan tiba-tiba.
"Gua ingetin sama lo! Jangan pernah macam-macam sama adek gua!! Kalau enggak, gua akan--"
"Dengerin dulu kali! Gua belum selesai ngomong!!" Auriga melepas cengkraman Indra dengan kasar. Lama-lama Auriga juga bisa emosi! Tapi sebisa mungkin Auriga menahannya.
"Adel emang gak sadar, tapi itu karena dia gak sengaja minum bir!!" ucap Auriga jengkel. "Dan lo tau kak? Gua gak bakal pernah nyakitin cewek! Apa lagi Hujan!!" lanjut Auriga menerangkan.
Petir bungkam, dia tadi benar-benar terbawa emosi. Jika terjadi sesuatu pada adiknya itu, Petir tak akan pernah bisa memaafkan dirinya sendiri.
Petir sangat mencemaskan keadaan Petir. Gadis itu selalu saja menyimpan banyak rahasia tentang dirinya. Hujan sangat pandai menutupi rasa sakit dan penderitaannya dengan berpura-pura bersikap tenang di depan orang lain, seolah dia tak pernah memiliki masalah apapun.
Tapi Hujan tak akan pernah bisa menipu Indra. Indra tau, jika gadis itu tengah menyembunyikan sesuatu yang sangat besar darinya.
Beberapa hari sebelum Petir menemui Hujan, sebenarnya dia telah menyuruh orang untuk mengawasi adiknya itu sejak lama. Dan berdasarkan informasi yang Petir dapat, Hujan kerap kali menemui seorang dokter, yang setelah Petir cari tau dokter itu bernama Dokter Sherin.
Petir sangat kaget dan setengah tak percaya, setelah mengetahui bahwa Dokter Sherin itu adalah dokter yang menangani penyakit ...
"Kak? Kok bengong?!" Auriga melambaikan tangannya di depan wajah Petir, saat dia melihat lelaki itu hanya diam saja dengan mata yang menatap kosong ke depan.
Indra tersentak kaget lantas menatap Auriga dengan wajah bersalah. Dia sudah membentak lelaki itu tadi, bahkan dengan tidak sopannya, Indra juga telah mencengkram dan berkata kasar pada Auriga.
"Sorry ... tadi gua emosi," ujar Petir dan kembali duduk.
Auriga mengangguk. "Gua ngerti, lo kan kakaknya. Pasti lo khawatir sama Hujan," ucap Auriga sembari duduk kembali.
"Hm." Petir mengangguk setuju. "Dari cerita lo, gua jadi bisa nyimpulin, pasti Hujan nyebut nama 'Orion' pas lagi mabuk kan?"
__ADS_1
"Iya, lo benar. Bukan cuma 'Orion' tapi, dia juga nyebut nama lo sambil nangis."
"Serius?" tanya Indra tak percaya. Ternyata Hujan masih mengingatnya dengan baik.
"Iya, tapi yang paling gua gak ngerti itu ... Hujan juga nyebut 'pembunuh'.
Deg!
"Gua khawatir jika terjadi sesuatu pada Hujan di masa lalunya yang ngebuat dia trauma," lanjut Auriga.
Indra diam, yang dikatakan oleh Auriga memang benar. Jangankan Hujan! Petir pun trauma jika mengingat kejadian itu.
"Kak?" panggil Auriga karena sedari tadi Petir hanya bengong.
"Eh ... Sorry, tadi gua ngelamun," jawab Indra.
"Hm." Auriga mengangguk paham. "Kak, apa lo bisa ceritain sama gua tentang masa lalunya Hujan dan Orion? Eh ... maksud gua Petir."
"Sorry ... gua gak bisa cerita tentang masa lalu Hujan. Kalau gua cerita, bisa-bisa Hujan bakal benci sama gua karena udah ikut campur urusannya." Petir tersenyum masam.
"Tapi menurut gua, gak adil buat lo kalau gua gak cerita tentang Fajar," lanjut Petir.
Auriga tersenyum senang, meskipun Indra tak mau cerita tentang masa lalu Hujan, setidaknya lelaki itu mau memberitahu tentang apa hubungannya Orion dan Hujan.
"Jadi, Orion itu siapanya Hujan?" tanya Auriga tak sabaran.
"Fajar itu sepupu sekaligus sahabat baik gua sama Hujan. Hujan dekat banget sama Fajar, sama kayak dia dekat sama gua. Waktu kecil, kita bertiga selalu berangkat sekolah bareng, main bareng dan becanda bareng. Yah ... walaupun gua lebih tua dua taun dari mereka sih," ucap Petir terkekeh.
"Fajar itu ... orangnya baik, dia selalu ada buat Hujan. Kalau Hujan sakit, dia selalu datang ke rumah buat mastiin Hujan minum obat. Hujan emang susah banget kalau minum obat, makanya Fajar selalu datang buat maksa Hujan meminum obatnya. Yah ... walaupun Hujan sering ngejailin Fajar sih," lanjut Petir terkekeh, dia masih ingat sekali waktu Hujan menolak untuk minum obat dan membuat Fajar yang malah meminum obatnya.
Auriga sedikit tenang mendengar penjelasan dari Petir ternyata Fajar atau yang dipanggil Hujan dengan sebutan Orion itu cuman teman sekaligus sepupunya Hujan. Tapi, ada sedikit yang mengganjal di hati Auriga. Petir bilang kalau Hujan suka jahil pada Fajar? Wah ... sulit untuk dipercaya! Setau Auriga, Hujan itu adalah orang yang sangat dingin bukan? Lalu kenapa, dari cerita Petir, sepertinya gadis itu sangat dekat sama Fajar? Sampai-sampai dia memanggilnya dengan berbeda. Auriga jadi penasaran, kejahilan apa yang dilakukan Hujan pada Fajar?
"Kak," panggil Auriga.
"Hm."
"Lo bilang, Hujan suka jail sama Fajar kan?"
"Iya, terus?"
"Emangnya jail gimana? Setau gua, Hujan itu kan dingin banget."
"Maksud lo?"
Petir menghela nafas berat, orang ini, pertanyaannya benar-benar banyak!.
"Dulu sikap Hujan gak sedingin yang sekarang." Petir tersenyum saat mengingat sikap Hujan yang dulu benar-benar berbeda seratus delapan puluh derajat dari yang sekarang. "Hujan itu dulunya anak yang periang, suka jail, anaknya juga ramah, banyak yang suka sama dia. Tapi, semua berubah setelah kejadian itu."
Mimik wajah Petir tiba-tiba berubah menjadi lesu saat mengingatnya.
"Kejadian?" beo Auriga. "Kejadian apa?!" tanyanya penasaran.
"Kejadian dimana Hujan dicu--"
"Kak Petir!!" potong Hujan dengan nada yang tinggi. Dia baru saja sampai dan tanpa sengaja mendengar percakapan Petir dan Auriga. Untung saja Hujan datang tepat waktu, jika tidak ... Petir pasti menceritakan semuanya pada Auriga Kakaknya ini benar-benar! Mulut Petir benar-benar seperti ember bocor!!.
"Eh Hujan? Kapan lo nyampek? Kok cepat banget," ucap Auriga.
Hujan menatap tajam Petir, sedangkan yang ditatap hanya tersenyum manis padanya, seolah tak melakukan kesalahan apapun.
'Senyumnya itu benar-benar menjengkelkan!!' batin Hujan kesal.
Hujan berjalan menghampiri kedua makhluk yang benar-benar menyebalkan baginya itu. Dia membawa sebuah kantong kresek yang berisi obat-obatan yang baru saja ia beli di apotek terdekat tadi.
"Nih." Hujan meletakkan kantong kresek yang berisi obat-obatan itu di sebuah meja yang tepat di depan Petir dan Auriga.
Keduanya melongo, menatap obat-obatan itu penuh tanda tanya.
"Buat apaan?" tanya Petir dengan nada yang mengejek. Sebenarnya dia tau, jika adiknya itu berniat untuk mengobati lukanya dan Auriga, hanya saja dia ingin menggoda adiknya sedikit.
"Obatin luka kalian!" jawab Hujan dengan wajah yang memerah menahan malu. Entah kenapa dari dulu, Hujan tak tahan jika melihat orang yang terluka karena dirinya.
"Kok merah gitu mukanya?" goda Petir terkekeh.
Hujan menatap Petir datar, kakaknya ini benar-benar membuatnya sebal setengah mati!!.
"Dih .. jangan datar-datar amat mukanya Jan." Petir terkekeh geli melihat adiknya yang benar-benar terlihat kesal sekarang. "Kamu jelek, kalau mukanya digituin," lanjut Petir dengan mengacak rambut Hujan dengan gemas.
__ADS_1
Hujan hanya diam saat Petir mengacak rambutnya dengan lembut. Baginya itu sudah biasa, lelaki itu dari dulu memang bersikap hangat pada Hujan layaknya seorang kakak.
"Lo tetap cantik kok," sahut Auriga.
Hujan melirik kedua makhluk itu bergantian. Kedua orang ini benar-benar senang sekali menggodanya!!.
"Bodoh amat!!" ketus Hujan.
Auriga dan Petir hanya tertawa melihat reaksi Hujan yang sama seperti biasanya.
"Btw kamu gak mau ngobatin luka kita Jan?" tanya Petir. "Kan kamu yang bikin kita luka, jadi harus kamu juga dong yang ngobatin kita," lanjutnya lagi.
"Najis!!"
"Hahah ... gua kira lo mau ngobatin kita."
"Cepat obatin luka kalian!!" ucap Hujan dengan nada yang dingin.
"Iya, iya!! Entar kita obatin di rumah aja deh, kalau kamu gak mau ngobatin," jawab Petir tak tertarik.
"Serah!"
"Ah ... gua lupa, gua harus cepat pulang nih," ucap Auriga dengan tiba-tiba.
"Kenapa?" tanya Petir.
"Ada urusan kak," jawab Auriga sopan.
Petir mengangguk paham.
"Jan." Hujan menoleh dan menatap Auriga dengan wajah datar.
"Besok gua jemput ke sekolah," ucap Auriga tersenyum, lalu keluar dari apartemen Hujan.
"Cye ... cye dijemput pacar." goda Petir terkekeh.
Hujan melirik kakaknya itu dengan jengkel lantas melemparkan bantal sofa pada Petir.
"Makan tuh pacar!!" kesalnya.
"Dasar adek durhaka!!" ucap Petir dramatis.
"Bodoh!!"
Hening.
"Kak Petir?"
"Hm."
"Ngapain lagi ke sini?!"
"Bukannya udah kakak bilang Jan? Kamu itu adiknya kakak! Kamu gak boleh main rahasiaan sama kakak!! Kamu fikir itu permainan ha?!" Petir menatap Hujan dengan garang.
"Rahasia?"
"Jangan pura-pura bego!! Kamu fikir kakak gak tau?"
Hujan menyerngit, apa jangan-jangan Petir sudah tau? Masalah itu.
"Kenapa bengong? Kamu sering ketemu Dokter kan?! Siapa ya nama dokter itu? Ah iya! namanya dokter Sherin."
Deg!
Hujan menatap Petir dengan wajah yang memerah menahan marah.
"Kau memata-matai ku?!" tanya Hujan dingin.
"Kenapa? Kamu mau marah? Harusnya kakak yang marah sama kamu!! Bisa-bisanya kamu gak ngasi tau kakak, masalah itu!! Bahkan kamu gak ngasi tau kakek juga kan?!"
Hujan tertegun.
"Maaf," jawabnya kemudian.
Petir menatap adiknya itu sekilas dan kemudian membawa gadis itu kedalam dekapannya.
"Jangan pernah nyimpan semuanya sendiri lagi. Oke?"
__ADS_1
"Iya."
TBC ...