Asmirandah Hujan

Asmirandah Hujan
Chapter 25.


__ADS_3

~Happy readingđź’ž~


"Matahari?" Awan menatap bengong gadis di depannya. Apa dia salah orang?


Dress biru navy di atas lutut itu terlihat cocok di tubuh langsingnya. Sepatu high heels yang ia kenakan dapat menampilkan kaki jenjang nan mulusnya dengan sangat indah. Rambut pendek hitamnya digerai bergelombang. Polesan make up tipis di wajah nya benar-benar cantik.


Semuanya dikombinasikan secara sempurna. Membuat penampilan Matahari terlihat seperti boneka hidup yang menggemaskan.


"Cantik." tiba-tiba saja kata itu terucap keluar dari mulut Awan tanpa ia sadari.


Matahari yang mendengarnya seketika berlagak sombong. Sudah ia duga, pria di depannya ini pasti akan terpesona melihat penampilannya yang cantik.


"Hah! Kan udah gua bilang, gua itu cantik! Terpesona kan lo?!" sindir Matahari tertawa geli. Ia jadi merasa bersalah karena terlalu cantik hingga membuat Awan tak bisa mengedipkan mata.


"Huek ...!" Awan berpura-pura muntah mendengar perkataan yang menurutnya menjijikan itu.


"Siapa yang terpesona sama elo? Yang gua bilang 'cantik' itu gaun yang lo pakai! Bukannya lo!!" elak Awan beralasan.


"Kalau elo nya mah, mirip topeng monyet!! Noh, yang dipinggir jalan!" lanjutnya lagi sembari menunjuk ke arah jalan.


"Dih ... ya udah! Kalau gitu, lo mintak aja sama nih gaun buat jadi pacar boongan lo! Gua gak sudi!!"


"Mana bisa gitu, kan lo udah janji!!"


"Hufftt ...!" Matahari menggembungkan pipinya kesal dengan fakta itu. Hal itu membuat dirinya terlihat sangat imut saat ini.


Awan memalingkan wajah tak tahan melihat ekspresi imut Matahari. Sesaat kemudian, ia kembali menatap gadis itu dengan wajah datar.


"Wajah lo biasa aja! Gak usah digitu-gituin!!"


"Lah? Kenapa?! Ada masalah sama lo? Wajah-wajah gua! Pipi-pipi gua! Ya, suka-suka gua, dong? Kenapa malah elonya yang sewot?!"


"Ya, iyalah gua sewot! Mana mau gua punya pacar yang kelakuannya mirip kodok! Sekalipun kita cuma pacar boongan. Gua malu, tau?!"


Matahari menampilkan senyum jengkel mendengar hinaan Awan. Ia melangkahkan kaki berjalan ke arah pria itu. Berniaat untuk menonjok wajah menyebalkan Awan.


"Kyaaa ...!"


Baru saja Matahari berjalan beberapa langkah. Kakinya sudah terkilir karna tak biasa memakai sepatu dengan hak tinggi.


Tap!


Beruntung Awan dengan sigap menangkap tubuh gadis itu.


"Apaan sih?! Kalau jalan hati-hati dong!" sungut Awan segera mendudukkan gadis itu di kursi tempatnya duduk tadi.


"Ck, ini juga karna elo!" protes Matahari tak terima disalahkan.


"Awwsss ... Akhh! Sakit kampret! Ngapain lo pegang!!" Matahari memukul tangan Awan yang membolak-balik kakinya itu dengan tak berperasaannya.

__ADS_1


"Gua cuma mau ngecek kaki lo doang! Gak usah ngegas!"


"Siapa yang gak ngegas kalau—"


"Aaaaa ...!!!" jerit Matahari kala Awan membengkokkan kakinya tiba-tiba.


"Elah! Lebay banget! Seberapa sakit sih?!" ledek Awan dengan mata yang terfokus pada kaki gadis itu. Tangannya terus saja memijat lembut pergelangan kaki Matahari.


"...."


'Tumben gak recok lagi nih cewek,' batin Awan heran kala tak mendengar suara Matahari lagi.


Ia kemudian mendongak menatap Matahari yang duduk di kursi atas. Gadis itu tengah menunduk dengan bahu yang bergetar. Awan menyerngit bingung dan memutuskan untuk bertanya.


"Lo gak—"


"Hiks ... sakit tau! hiks ... kaki gua sakit banget! Gua gak selebay yang lo bayangin! Hiks ... kenapa juga gua harus pakai yang begituan! Gua gak biasa! Kaki gua sakit! Awas aja kalau gua ... hiks, gak bisa jalan! Hiks, lo bakal gua abisin!!" bentak Matahari dengan derai air mata.


Sungguh, dia juga tak ingin menangis. Entah, kenapa air matanya tiba-tiba keluar begitu saja. Matahari juga tak mau dibilang lemah!! Dia tak selemah itu! Tapi pria di depannya ini benar-benar ....


"Lo na–nangis?"


"Gak! Gua ketawa! Puas lo?! Hiks, lo buta ya?!"


"Maaf deh, gua emang keterlaluan."


'Sabar,' batin Awan.


"Iya, gua brengsek."


"Bajingan juga!"


"Iya, gua bajingan."


"Jutek! Nyebelin! Gak tau diri! Jahat! Gak punya perasaan! Sukanya ngejek orang! Kalau diejek balik malah marah!"


'Lah? Kok jadi ngelantur.'


"Maki aja sepuas lo, gua ikhlas. Nabung pahala dari lo emang gampang," kekehnya.


"Brengsek!"


Awan tertawa geli melihat sisi lain dari Matahari. Ia pikir gadis itu kuat. Ternyata dia juga perempuan yang bisa menangis kapan saja.


"Udah jangan nangis lagi, entar make up lo luntur."


"Gua gak nangis!"


"Lah? Yang tadi apa?"

__ADS_1


"Gua cuma ngeluarin air mata doang! Bukan nangis!"


"Pftt .... Hahaha! Apa-apaan itu?!"


Matahari menghapus air matanya kemudian ikut tertawa dengan Awan. Berpikir dirinya sedikit konyol.


"Yaudah, ayo ke rumah gua. Ortu gua dari tadi nelpon mulu."


"Iya," jawab Matahari berdiri dari duduknya namun beberapa saat kemudian ia terjatuh dan duduk kembali.


"Lo bodoh atau gimana sih?! Udah tau kaki keseleo, masi aja dipaksa jalan!" kesal Awan melihat kebodohan Matahari.


"Lo yang bodoh! Kalau gak jalan, gua mau naik apa lagi sampek ke mobil ha?! Gak mungkin kan elo bawa mobilnya masuk ke dalam salon!"


"Bodoh."


"Gua gak bod—"


"Kyaaa ...!" jerit Matahari kala Awan mengendong tubuh nya dengan tiba-tiba.


"Biar gua yang gendong sampai mobil. Lo diem! Jangan teriak-teriak! Sempet lo berontak, langsung gua lepasin! Biar lo jatuh. Mau lo?" Matahari menggelengkan kepalanya tak mau dijatuhkan oleh Awan.


"Bagus."


Setelah mengatakan itu Awan berjalan keluar dengan menggendong Matahari ala bridal stayle. Membuat kedua orang itu menjadi perhatian orang-orang yang ada di salon.


***


"Gua ingetin sekali lagi. Lo harus akting pura-pura akur sama gua. Biar kita keliatan kaya pacar beneran," kata Awan mengingatkan sembari menunduk menatap Matahari yang masih ada di gendongannya.


Kedua orang itu baru saja sampai di depan rumah Awan. dia kembali menggendong gadis itu keluar dari mobilnya. Hingga kini sampai di depan pintu rumahnya. Sebelum menekan bel, Awan tak lupa untuk mengingatkan tugas gadis itu lagi.


"Kamu gak usah panik sayang, aku jago akting kok!"


Mika mengerutkan dahinya merasa ambigu dengan perkataan gadis itu.


"Sayang?"


"Iya, sayang. Kata lo, kita harus pura-pura akrab kan? Nah, gua liat di film-film kalau orang pacaran biasanya manggil sayang gitu. Gimana, bagus kan ide gua? Biar kita keliatan mesra gitu," jelas Matahari menatap wajah Awan dengan mendongak.


"Hmmm ... bener sih, bagus juga ide lo!" Awan menundukkan wajahnya menatap Matahari dengan senyum manisnya.


"Aku pintar kan sayang? Muach ...!" Matahari mengecupkan bibirnya di udara berusaha mendalami karakter gadis centil.


Seketika Awan menatapnya dengan wajah datar tanpa minat.


"Gua jatuhin juga lo lama-lama!" geramnya hendak melepaskan Siska supaya jatuh dan membuat otak gadis itu kembali berfungsi.


TBC ....

__ADS_1


__ADS_2