
~Happy Reading💞~
"Gak punya hati, lo!!"
Matahari berteriak tepat di depan wajah Hujan. Hatinya terasa sakit, bisa-bisanya Hujan menghancurkan semuanya. Padahal mereka sudah sangat bersusah payah menyiapkan semua itu.
Air matanya menetes membayangkan beberapa saat lalu, dimana ia berkata sangat menantikan reaksi gadis itu. Ternyata, begini reaksi yang mereka dapatkan, ya? Hujan benar-benar tega!
"Lo ... lo bahkan gak tau, selama apa kita nyiapin semua ini buat lo!"
"Lo gak tau, gua sama Aurora sampai-sampai bergadang!"
"Lo gak tau, secapek apa kita semua mondar-mandir belanja buat nyari hadiah untuk lo!"
"Lo gak tau Es Batu! Padahal kita semua udah semangat, padahal ... gua udah seneng banget."
"Kalau lo gak suka, seharusnya lo diam, jangan hancurin semuanya! Jaga perasaan kita!"
Hujan diam, membiarkan dirinya diteriaki oleh Matahari. Dia bahkan tak membalas tamparan gadis itu. Hanya menatap wajah Matahari datar dengan air mata.
"Kenapa diam? Jawab gua berengsek!"
Ketika pada saat Matahari ingin melayangkan tamparan yang kedua kalinya. Indra dengan cepat menahan tangan gadis itu. Melihat sendu Hujan yang hanya berdiri diam.
"Hentikan," titah Petir dingin dengan wajah datar pada Matahari.
Hujan mengusap kasar air matanya. Berbalik sekilas, tanpa sengaja matanya bersitatap dengan Auriga.
Pria itu menatap Hujan dengan tatapan nanar. Auriga masih tak mengerti dengan sikap Hujan Yang pasti ia dapat melihat bahwa gadis itu sedang tak baik-baik saja sekarang.
Hujan memutuskan kontak mata lebih dulu. Lantas gadis itu berbalik badan dan pergi meninggalkan kekacauan begitu saja dengan tangisan. Auriga refleks ingin mengejar. Ia sudah melangkahkan kaki ingin pergi namun Petir mencegahnya.
"Jangan mengejarnya. Hujan butuh waktu untuk sendiri," kata Petir yang dapat membuat langkah Auriga terhenti.
"Tapi, Hujan lagi nangis—"
"Dia baik-baik aja," sela Petir, menatap ke luar pintu. "Palingan juga ngurung diri di kamar," lanjutnya tersenyum miris.
Tak!
"Lepasin tangan gua, Kak." Matahari menarik kasar tangannya yang di cekal oleh Petir.
"Semuanya hancur," lirih Matahari memandang sekeliling yang sudah kacau balau.
"Es Batu benar-benar jahat."
Ia menangis terisak, mengusap air matanya kasar dengan bahu yang bergetar.
Awan yang tadinya hanya diam, kini tersentak kecil dengan tangisan pacarnya itu. Ia lirik gadis itu sekilas, yang tampak sedang menunduk dengan derai air mata.
"Hujan udah keterlaluan!" seru Awan menatap tajam Petir.
"Bener, dia bahkan buang kue yang Aurora kasih!" sambung Benua yang sudah menenangkan Aurora lebih dulu.
Kedua orang itu tampak emosi, sedangkan Auriga hanya diam tak berkutik. Entah kenapa melihat mata Hujan yang menangis dapat membuat hatinya tak tenang.
"Maaf, ini salah gua bukan Hujan," ucap Petir meminta maaf dengan tulus. Semua menatapnya seolah meminta penjelasan.
"Seharusnya gua ngelarang kalian tapi, gua pikir Hujan bakal seneng dan akhirnya biarin kalian gitu aja. Gua udah ceroboh. Sekali lagi, gua minta maaf."
Semuanya menghernyit, masi tak paham dengan maksud Petir. Ternyata adik dan kakak sama saja, sama-sama sulit dimengerti.
Petir tersenyum, menghela napasnya jengah.
"Baiklah, gua bakal cerita tentang Masa lalu Hujan. Apa kalian ingin mendengarnya?"
Dengan kompak mereka mengangguk, selama ini Hujan sangat tertutup pada mereka. Tentu saja mereka penasaran dengan kisah gadis itu.
Petir mulai membuka mulut dan menceritakan semua tentang adiknya—Hujan.
•Flahback on!
Periang, baik, tulus, lugu dan ramah itulah defenisi dari Hujan yang sebenarnya. Gadis kecil yang baru duduk di bangku kelas satu SD itu terlihat sangat ceria.
Hujan punya banyak teman karena sifatnya yang gemar bergaul. Semua orang suka Hujan dan berteman dengannya.
"Fajar! Kamu ngapain di sini? Ayo ke kantin bareng aku."
"Seharusnya aku yang tanya. Kamu ngapaiin di kelas aku, Jan?"
"Aku kesel sih, masa kita beda kelas. Gak adil! Aku gak suka, makanya aku mampir ke kelas kamu."
Hujan memanyunkan bibir, membuat dia terlihat sangat menggemaskan. Fajar tersenyum tipis, lalu menutup buku pelajarannya. Tangan kecilnya menggenggam tangan mungil Hujan. Kedua bocah itu berjalan ke luar kelas.
__ADS_1
"Baiklah, ayo ke kantin. Aku yang traktir!" ucap Fajar tersenyum hangat.
Hujan tersenyum senang lantas menjawab dengan antusias.
"Fajar yang terbaik!"
****
"Wah ... putri kecil Mama udah pulang," ujar Tata kala melihat Hujan yang berjalan memasuki rumah.
"Ck, aku jadi tembus pandang, ya."
Petir mencibir lantas berlalu melewati Tata begitu saja. Padahal ia juga pulang bersama Hujan, tapi hanya nama Hujan saja yang disebut.
"Kak Petir ngambek, Ma!" ucap Hujan polos.
"Hahah, biarin aja! Entar juga baik kalau mau minta uang jajan."
"Papa mana, Ma?"
"Di kantor, Papa lagi ada meeting penting sama klien, jadi pulang telat dan bakal lembur seharian."
"Yah ... padahal Hujan pengen cerita."
Wajah Hujan tampak kecewa dan kemudian berjalan murung menaiki tangga menuju ke kamarnya.
Tata tertawa kecil, merasa lucu dengan ekspresi Hujan. Wanita itu kemudian mengeluarkan ponselnya dari dalam saku.
[Halo sayang, ada apa? Kok nelpon.]
"Putri kamu ngambek, tuh."
[Hujan? Ngambek kenapa? Brantem dengan Petir kah?]
"Bukan, tapi karna kamu."
[Hah? A–apa? Kok aku sih, emang salahku apa? Duh, masa sih karena aku.]
"Iya, dia kecewa karena kamu lembur dan pulang telat. Padahal Adel pengen cerita tentang sekolahnya sama kamu."
[Astaga! Putriku pengen cerita? Sial, aku ada meeting hari ini. Apa kubatalin aja, ya? Meetingnya.]
"Eh? Tapi katanya penting."
[Adel lebih penting, Dah ... Sayang! Bilang sama Hujan, aku pulang sekarang!]
Tut ....
Bahkan Bumi—ayahnya Hujan pun jatuh cinta pada putrinya sendiri. Semuanya menyayangi Hujan, mulai dari keluarga, teman, saudara bahkan sepupunya Fajar!
Gadis itu tumbuh dengan cinta. Hingga pada saat orang itu hadir dan menghancurkan segala yang Hujan punya.
****
"Halo, namaku Hujan!"
Karena sifatnya yang ramah, melihat anak itu menyendiri di sudut ruangan membuat hati Hujan tergerak dan menghampirinya.
"Nama kamu siapa?" tanya Hujan tersenyum hangat sembari mengulurkan tangan pada gadis kecil di depannya.
Gadis itu menunduk takut. Sesaat kemudian ia balas menjabat tangan Hujan dan menjawab dengan gugup.
"Sa–sari."
"Hm? Nama kamu Sari?"
"I–iya."
"Oh, apa kamu mau jadi temanku?" tanya Hujan blak-blakan.
Sari tampak kaget dengan ajakan Hujan. Beberapa menit kemudian, gadis itu mengangguk dengan mata yang berbinar.
"Aku mau!"
Hujan tersenyum tipis, akhirnya dia dapat teman baru lagi hari ini.
Sejak saat itu, Hujan mulai berteman baik dengan Sari. Mengenalkan gadis itu pada Petir dan Fajar. Lalu bermain dan pergi ke kantin bersama.
Awalnya semua terlihat baik-baik saja, namun tepat pada saat hari ulang tahun Hujan. Penderitaan gadis kecil itu pun dimulai.
Siapa sangka? Gadis yang sudah Hujan anggap sebagai temannya sendiri ternyata menjabaknya? Sari—dialah orangnya.
****
__ADS_1
"Maaf, Jan. Hari ini aku ada les," Fajar menunduk murung.
"Jadi, gak bisa pulang bareng kamu. Aku harus ke tempat les dulu. Kalau enggak, Ayah gak ngijinin aku datang ke ultah kamu nanti malam."
"Yah ... gapapa kok Jar! Semangat ya, Lesnya. Aku nunggu Kak Petir pulang aja. Bentar lagi juga kelas Kak Petir selesai, kok."
Fajar tersenyum, membukakan sebuah permen dan memberikannya pada Hujan.
"Kalau gitu aku pergi dulu. Dah ... Hujan! Sampai nanti malam!" seru Fajar melambaikan tangannya dan pergi meninggalkan Hujan.
Hujan hanya tersenyum dan membalas lambaian tangan Fajar. Ia duduk kan diri pada kursi taman sekolah sembari menunggu kepulangan Petir.
"Hujan," panggil seseorang dari belakang Hujan.
Ia berbalik, menolehkan kepala dan langsung saja ceria melihat kedatangan Sari.
"Hai, Sari! Kamu gak pulang?"
Sari menggeleng membuat Hujan menyerngit bingung.
"Kenapa?"
"Aku takut," jawabnya lirih.
"Karena bekalku belum habis, aku takut Ibu marah nanti."
"Bekal?"
"Iya, kalau aku buang kata Ibu makanannya nangis. Jadi, Hujan apa kamu mau makan bekal aku? Kumohon ...."
"Hah? Ak–aku?" Hujan menunjuk dirinya sendiri masi tak habis pikir dengan jalan pikiran Sari.
Sari mengangguk, mendudukan diri di samping Hujan.
"Ayo, kita makan di ujung sana!" katanya menunjuk ke arah yang sepi.
Hujan menyerngit.
"Kenapa harus di sana?"
"Emm ... i–itu, di sini panas."
Seketika Hujan melihat teriknya matahari, yah Sari memang benar. Di sini lumayan panas.
"Baiklah, ayo ke sana!" Dengan polosnya Hujan menerima tawaran Sari begitu saja.
****
"Em, anu Sari. Apa gapapa aku yang makan bekal kamu? Kenapa gak kamu aja yang makan?" tanya Hujan saat mereka sudah sampai di tempat yang Sari katakan.
"Aku udah kenyang."
"Kalau gitu, aku juga keny—"
"Shut!" Sari menutup mulut Hujan dengan jarinya.
"Kumohon ... makan 'ya? Itu enak loh!"
Hujan diam, menatap bekal yang Sari berikan dalam diam. Sesaat kemudian gadis itu menjawab.
"Baiklah, aku makan."
Hujan memasukkan roti lapis itu ke dalam mulutnya. Mengunyah dengan mata yang tertutup, jujur Hujan tak suka tomat mentah dan selada. Dia bahkan menahan napas untuk memakannya.
Sari tersenyum puas melihat Hujan yang sudah menghabiskan bekal miliknya. Ia ajak gadis itu mengobrol beberapa saat dan akhirnya Hujan tertidur karna efek obat yang diberikan di dalam roti lapis tadi.
"Kerja bagus!"
Usai ketiduran Hujan, tiga orang lelaki datang menghampiri Sari. Salah satunya mengelus pucuk kepala gadis itu.
"Ayah, kenapa menyuruhku melakukan ini?" tanyanya dengan wajah polos.
Pria itu tersenyum smirk lantas menjawab.
"Untuk urusan bisnisku dan Bumi. Memang apa lagi?"
Sari memerengkan kepala, masih bingung dengan kata-kata sang Ayah.
"Bisnis?" ulangnya dengan wajah lugu.
"Sudahlah, kau tak akan mengerti."
"Kalian, cepat bawa putri Bumi ke dalam mobil!"
__ADS_1
"Baik, Tuan Hendri."
TBC ....