Asmirandah Hujan

Asmirandah Hujan
Chapter 59.


__ADS_3

~Happy Readingđź’ž~


"Ugh ...," lenguhnya membuka mata yang terasa amat berat.


Adel mengerjab beberapa kali, menatap sekelilingnya dengan tatapan asing.


"Kau sudah bangun?"


Sontak ia menoleh ke arah pintu. Tampak Hendri yang tengah bersandar sembari menatap Adel dengan senyuman iblis.


Lelaki itu berjalan mendekat padanya setelah menutup pintu seutuhnya lebih dulu.


"A–anu, anda siapa? Ke–kenapa saya bisa ada di sini?" tanya Adel gelagapan, menampilkan wajah yang polos.


Hendri tersenyum smirk, melihat Adel yang masi bisa bicara begitu. Sepertinya gadis ini masi belum mengerti akan situasi ya? Pikir Hendri kala itu.


Kaki lebarnya berjalan ke arah Adel. Ia cengkram dagu gadis itu itu kasar lantas berkata.


"Hei, bocah! jangan banyak bicara. Diam dan tenanglah, dengan begitu aku tak akan menyentuh mu."


Seketika tubuh Adel gemetar, rahangnya terasa sakit akibat cengkraman Hendri. Mata kecil itu mulai berlinang air mata kala Hendri melepas cengkeramannya secara kasar.


"Le–lepaskan! Kenapa aku bisa ada di sini?" lirih Adel menangis terisak.


Hendri menutup telinganya merasa bising dengan tangisan anak Kecil itu. Dengan cepat, ia langkahkan kaki keluar ruangan dan menutup pintu secara kasar.


Brak!


Adel termangu menatap pintu dengan mata sembam. Ia menangis ketakutan di sudut ruangan sembari memanggil Faisal dengan lirih.


"Papa, Adel takut. Kenapa bisa begini?" gumam Adel lirih.


****


Plak!


Satu tamparan mendarat mulus di pipi putihnya. Bocah lelaki berseragam sekolah itu tertoleh ke samping. Darah segar keluar dari sudut bibirnya.


"Kenapa kau lengah, Indra?!" tanya Faisal penuh emosi.


Indra menunduk, bocah itu sama sekali tak menangis karena tamparan dari Sang Ayah. Ia hanya merasa tak tenang sekarang.


"Maaf, Pa ... gara-gara aku, Adel jadi—"


Plak!


Lagi dan lagi Faisal menampar pipinya. Membuat Rena berteriak histeris dan menahan Faisal dengan tangisan.


"Cukup, Mas! Mau sebanyak apapun kamu nampar Indra, Adel gak bakal ketemu!"


"....."

__ADS_1


"Adel ... dia pasti baik-baik saja 'kan?" tanya Rena lirih dengan derai air mata.


Faisal dan Indra diam. Sesaat kemudian Faisal tersadar dan memeluk Rena, berusaha untuk menenangkan nya lebih dulu.


"Dia pasti baik-baik aja. Tenanglah, aku akan mencari putriku dan membawanya pulang," ucap Faisal sembari menepuk pelan pundak Rena.


Ruang tengah yang hening diisi dengan tangisan Rena. Membuat seisi rumah ikut murung. Memikirkan keadaan gadis kecil yang entah di mana keberadaannya sekarang.


"Indra."


Indra mendongak menatap Rena yang baru saja memanggilnya.


"Pergilah ke kamarmu."


"Baik, Ma."


Usai berkata begitu, dengan langkah yang berat Indra menaiki tangga. Pipinya memang terasa perih tapi, hatinya lebih perih lagi memikirkan adiknya Adel. Di mana gadis itu sebenarnya?


Begitu pulang sekolah, Indra tak dapat menemukan Adel di manapun. Sekeras apapun dia berteriak dan mencari, namun tetap saja Adel tidak ketemu.


Hal itu membuat Indra frustasi dan akhirnya menelpon Ayahnya dengan panik. Lalu semuanya seperti yang terjadi sekarang. Mereka tetap tak menemukan keberadaan Adel. Dia seperti hilang tanpa jejak.


Indra menghembuskan napas kasar. Mengganti seragam sekolahnya dengan baju kaos dan kemudian berjalan ke arah balkon.


Indra menatap sekeliling dengan hampa. Tanpa sengaja, manik matanya mendapati Faisal yang tengah bicara di ponsel dengan berteriak penuh emosi di bawah sana.


"Katakan, di mana Putriku sekarang? Dasar kau kep*r*t si*lan!"


[Hei, ayolah santai saja. Hahaha.]


[Ho? Jadi kau masi belum percaya? Hahah! Mau ku buktikan?]


"....."


[Baiklah, baiklah. Mari kita bicara dengan putri kesayanganmu lebih dulu]


"....."


[Oy, bocah! Nih, Ayahmu ingin bicara.]


Tangan Faisal masi senantiasa menggenggam ponselnya dan mendekatkannya pada telinga. Dia harap, semoga saja Hendri hanya mengancamnya dengan kebohongan. Jangan sampai, Adel bersama iblis menyeramkan itu.


[Pa–papa ... hiks,]


Deg!


Hati Faisal terasa bergetar mendengar tangisan putrinya dari dalam sana. Seketika ia membeku, lalu menjawab dengan suara berat.


"A–Adel? Apa kau baik-baik saja, nak?"


[Huaa ... Papa, Adel ta–takut.]

__ADS_1


"Tenanglah, jangan menangis. Papa akan menjemputmu."


[Hiks, Papa ... Adel—]


[Ah, sudahlah jangan dramatis. Itu menjijikkan.]


Tangan Faisal menggenggam kuat, rahangnya mengeras dengan wajah yang memerah menahan marah. Ia dapat mendengar teriakan Adel dari sana.


"Br*ngs*k! Jangan menyentuh putriku!" serunya penuh kebencian.


[Hahah begitukah? Jadi, kau pasti sudah percaya 'kan Faisal. Nyawa Putrimu ada di tanganku.]


"Ck, apa yang kau inginkan?"


Hendri tersenyum smirk di balik telpon, lalu menjawab dengan lantang.


[Aku ingin xxxx]


Zeder!


Mata Faisal melotot sempurna mendengar perkataan Hendri. Gigi nya menggertak marah.


"Kau ...! Apa yang—"


Tutt.


Panggilan dimatikan secara sepihak. Dengan kesal, Faisal membanting ponselnya dan langsung berlari menuju mobil.


Indra yang mendengar semuanya, celingak-celinguk. Dia sedang berada di lantai dua, jika turun ke bawah dengan tangga, itu akan memakan waktu. Bisa saja dia terlambat dan kehilangan Faisal.


Tanpa pikir panjang, bocah itu meloncat turun ke bawah. Untung saja, ia tak terluka dan mendarat dengan selamat. Indra sudah biasa melakukan ini sebelumnya.


Indra mengendap-endap masuk ke dalam bagasi mobil tanpa diketahui oleh Faisal. Tentu saja jika ia ketahuan, Faisal akan mengusirnya.


Faisal mulai menancap gas dan mengendarai mobil dengan kecepatan tinggi.


"Adel, bertahanlah Sayang."


****


Hari sudah sangat malam. Adel masi tetap menangis dalam diam. Mata gadis itu sudah sangat bengkak. Luka di tubuhnya ada di mana-mana. Hendri selalu menyiksa Adel. Menampar, menyeretnya dan bahkan menggores wajah Adel dengan pisau. Pria itu benar-benar seperti iblis. Dasar, psychopath si*lan!!


Krett.


Pintu berdecit menandakan ada yang masuk. Adel yang tadinya menunduk kini mendongak menatap orang itu dengan mata sembam. Tampak seseorang tengah berjalan mendekat pada Adel. Ia berdiri tepat di depan gadis itu dan kemudian tersenyum tipis. Di tangannya terdapat keranjang yang penuh dengan makanan.


Bahu Adel bergetar kala orang itu mengulurkan sebuah roti padanya. Dengan kasar, Adel menepis tangan itu dan membuang roti. Ia lantas bertanya dengan sedih.


"Kenapa kamu lakukan ini, Sari?"


TBC ....

__ADS_1


Maaf, maaf, maaf🤧 guys! Gak sempet next selama ini. Suer, aku gak pinter bagi waktu:')


#Next?


__ADS_2