Asmirandah Hujan

Asmirandah Hujan
Chapter 62


__ADS_3

...HAPPY READING...


****


Putra benar-benar merasa bersalah pada Hujan. Di saat gadis itu membutuhkan dirinya, Putra malah sibuk dengan Les dan semacamnya yang dituntut oleh sang Ayah.


Karena itu, dia memutuskan untuk berhenti Les agar mempunyai lebih banyak waktu dengan Hujan.


"Hujan, ayo keluar."


"...."


"Kita harus sekolah 'kan?"


"...."


"Hujan, buka pintunya."


"...."


"Kalau kamu gak sekolah, aku juga gak mau sekolah."


Ceklek!


Akhir nya pintu kamar itu terbuka. Menampilkan Hujan dengan wajah muram mengenakan seragam sekolah dasar.


Putra tersenyum lebar, menggandeng tangan gadis itu dengan semangat lantas berkata.


"Ayo, berangkat Lina!"


Hujan hanya mengangguk pasrah. Sebelum pergi, gadis itu pamit lebih dulu dengan Kakeknya.


****


"Reka."


"Ya?"


"Aku bisa sendiri, kamu gak perlu nganterin aku sampai kelas."


"Tapi Hujan, aku—"


"Gak perlu."


"Ck, iya deh iya! Tapi nanti pas jam istirahat aku ke kelas kamu 'ya?"


"Hm. Makasih Reka."


*****


Sebelum masuk ke dalan kelas, Hujan menghela napas lebih dulu. Menguatkan hati jika saja nanti ada yang mengucapkan rasa prihatin padanya.


Kakinya melangkah masuk perlahan. Berusaha untuk tersenyum sebisa mungkin.


"Shut! Dia datang."


"Gila, masa dia bisa senyum gitu 'sih?"


"Kudengar dia ditinggal sama Ibu dan Kakaknya."


"Benar, pasti karena dia pembawa sial."


"Ck, dasar monster!"


Seketika senyum di wajah Hujan memudar mendengar bisikan-bisikan jahat yang dilontarkan teman sekelasnya.


Gadis itu berjalan tunduk menuju mejanya. Tak berani melihat mata-mata yang menatapnya dengan sinis nan tajam.


Hujan membeku kala sampai di meja tempat ia duduk. Di sana penuh dengan corat-coretan dan kata-kata kasar seperti:


[Dasar Monster]


[Parasit dalam keluarga]


[Pantes aku selalu sial, rupanya karena kamu!]


[Jangan dekat-dekat dengan kami]


[Menjijikkan]


Tes!


Hujan mengusap kasar air matanya. Ia keluarkan sapu tangan dari dalam saku dan menghapus semua kata-kata kasar itu.


Mata Adel beralih memandang kursinya yang penuh dengan tepung. Seketika ia berbalik ingin protes pada teman-temannya tapi ....


"Selamat pagi anak-anak."


"Pagi, bu!" jawab semuanya kecuali Hujan.


"Silahkan duduk!" titah Guru.


Semua Siswa duduk di bangku masing-masing. Hanya Hujan yang tinggal berdiri. Masih berpikir dengan tepung yang ada di kursinya.

__ADS_1


"Hujan, kenapa tidak duduk?" tanya Bu Guru padanya yang hanya diam tak dapat berkata-kata.


"Cepat duduk!"


Dengan hati yang berat, Hujan mengangguk pasrah. Memilih untuk diam dan duduk di bangku yang penuh tepung itu.


"Hahah, gila! Dia duduk beneran."


"Huek ... pasti habis ini roknya bakal kotor."


Sebisa mungkin Hujan mencoba untuk tidak memperdulikan bisikan-bisikan dari mereka.


****


"Hujan, kenapa rok kamu kotor?"


"Gapapa Reka, cuma jatuh aja kok!" jawab Hujan berbohong.


Kini kedua orang itu tengah berada di kantin sekolah. Putra mengangguk paham dengan maksud Hujan. Pria itu kemudian mengajak Hujan untuk duduk di meja kosong.


"Kamu tunggu di sini, aku pesan makanannya dulu," kata Putra menampilkan senyum simpul.


Hujan mengangguk patuh.


Usai mendapat jawaban dari Hujan. Putra melangkah pergi untuk memesan makanan.


"Oh, jadi kamu monster itu?"


Seorang anak laki-laki tiba-tiba saja muncul dan berkata begitu pada Hujan. Hujan hanya diam, tak menggubrisnya sama sekali. Jari jemarinya sibuk memainkan tusuk gigi yang ada di meja.


"Ck, kau nyuekin aku, ya?!" kesalnya.


"...."


Curr!


Karena kesal dengan tingkah Hujan yang hanya diam. Bocah itu mengambil segelas susu coklat dan menumpahkannya di kepala Hujan. Membuat gadis itu jadi basah dan kotor.


Hujan menunduk melihat air yang berjatuhan dari atas kepalanya, benar-benar terasa lengket. Sesaat kemudian ia berdiri dan mengambil air putih di dekatnya lantas membalas perbuatan anak itu.


Byurr!


Kena telak! Anak lelaki itu basah kuyup karenanya. Karena emosi dengan Hujan, lelaki itu mencengkram kuat kerah baju Hujan.


"Kau ...!"


Ia hendak menamparnya, hanya saja Putra datang lebih dulu dan dengan cepat menendang anak lelaki itu hingga jatuh.


"Kamu gapapa, Lina?" bodohnya Putra yang bertanya demikian setelah melihat keadaan Adel.


Kemudian mata Putra menatap tajam anak lelaki tadi dan berjalan ke sana. Mencengkram kerah nya lalu menonjol wajahnya dengan keras.


Bugh!


Usai memukul anak itu, Putra berjalan ke salah satu meja siswa yang lagi menyantap makanannya. Dengan tidak sopan nya, Putra mengambil minuman mereka tanpa izin.


Menumpahkannya di kepala anak lelaki itu sama seperti yang dia lakukan pada Adel tadi. Tak cukup sampai di situ, Putra juga menghunjami bocah itu dengan pukulan. Membuat mereka jadi perhatian seisi kantin.


Hujan berteriak histeris mencoba untuk menghentikan Putra.


"REKA, UDAH! BERHENTI!"


"Gak mau," tolak Putra penuh emosi.


BUGH! BUGH! BUGH!


"Areka!!"


*****


"Areka Syahputra, Bapak benar-benar tidak sangka kamu bakal nakal begini!"


"...."


"Kamu juga Niel, kenapa kamu siram Hujan?"


"Habisnya dia—"


"Diam kau! Hujan gak salah apa-apa. Aku melihat semuanya!!"


Guru itu menghela napas kasar melihat kelakuan siswa di depannya.


"Hah, sudahlah! Kalian berdua. Areka Syahputra dan Daniellan, bawa orang tua kalian besok ke sini!"


"Ta—tapi pak—"


"Gak ada tapi-tapi!"


"Hah, baik."


Begitulah, pada akhirnya kedua orang itu dipanggil orangtuanya ke sekolah. Putra, dimarahi habis-habisan oleh sang Ayah karena telah berkelahi.


Namun, Putra sama sekali tidak peduli. Dirinya masi ingin melindungi Hujan selagi dia bisa. Tak akan dia biarkan seorangpun menyentuh gadis itu.

__ADS_1


*****


"Jangan memandangku begitu, aku gak papa!" kesal Hujan kala Putra terus memandangi dirinya.


"Bohong!" timpal Putra.


Melihat penampilan Hujan yang sangat kacau pasti gadis ini habis diganggu lagi oleh anak-anak si*lan itu! Rambut bahkan bajunya basah dan kotor. Seperti habis disiram dengan air pel lantai.


"Ck!" Putra bedecak, ia gertakan giginya menahan amarah.


"Katakan Hujan, siapa pelakunya?"


"Aku hanya ja—"


"Cukup! Jangan berbohong. Kenapa kamu terus nyembunyiin ini dari aku, Hujan? Katakan! Siapa anak-anak yang terus menggangu mu?"


"Akan kuhajar mereka! Akan kuberi pelajaran supaya mereka sadar."


Hujan tersenyum tipis. Lalu menunduk menahan tangis, sungguh Hujan juga tidak tahan diganggu terus. Saat di toilet, dia akan disiram air dari atas entah siapa pelakunya. Saat membuka loker, selalu saja ada tulisan kasar dan makian. Hingga di dalam laci meja Hujan juga diberi bangkai tikus yang dapat membuat dia kaget dan ketakutan. Kemana pun Hujan pergi, semua orang selalu saja mencemohnya.


Grep!


Putra memeluk Hujan yang menangis dengan hangat. Tak peduli mau bajunya ikut kotor sekalipun.


"Lilian," lirih Hujan diselingi tangisnya.


"Kelas 5 C, dia pelakunya!" lanjutnya lagi.


Putra melepas pelukannya. Menenangkan Hujan lebih dulu lantas berkata.


"Tunggu di sini, akan kubalas perbuatannya padamu."


Hujan mengangguk patuh.


****


Sejak saat itu, Arena Syahputra selalu saja terlibat perkelahian. Jika itu berhubungan dengan Hujan, maka dia akan turun tangan untuk menyelesaikannya.


Akan tetapi, semuanya tak bertahan lama. Karena sering berkelahi membuat Steven—ayah Putra marah padanya.


Dia meminta pada Putra untuk pindah sekolah saja. Jangan dekat dengan Hujan karena itu hanya akan menyeret Putra ke dalam masalah. Tentu, Putra menolaknya namun, sang ayah terus bersikeras memaksa Putra. Hingga pada akhirnya dia berkata.


"Aku akan ikuti kemauan Ayah tapi, tolong tunggu sampai aku tamat SD saja. Aku masi mau melindungi Hujan begitu tamat nanti, Ayah boleh memasukkan aku ke SMP mana pun."


"Kau benar-benar keras kepala Putra! Anak itu pembawa sial di hidupmu!"


"Jangan bilang begitu, Hujan sama sekali gak salah!" Putra balas berteriak karena kesal.


"Dia lebih menderita dari yang kalian bayangkan!"


Usai berkata begitu, Putra masuk ke kamarnya meninggalkan sang Ayah.


****


"Hujan, Maaf ... aku harus pergi. Kita sudah tamat SD, kurasa aku akan kesepian tanpamu."


"Hiks, kenapa? Kenapa kamu juga ninggalin aku, Reka?! Jangan pergi!"


"Aku juga gak mau. Aku juga gak mau ninggalin kamu! Semua ini karena Ayah, Maaf."


"Jahat! Kenapa semuanya begini padaku? Hiks ... aku gak benci!"


"Maaf, Hujan."


*****


Setelah kepergian Putra, Hujan terus mengurung diri di kamar berhari-hari dan tidak makan apapun.


Hal itu membuat Dani cemas. Lantas pria tua itu menaiki tangga ke kamar cucunya dengan tergesa-gesa.


TOK, TOK, TOK!


"Hujan sayang, ini Kakek. Ayo bangun, kita jalan-jalan, ya?"


"....."


"Hujan?"


"....."


Karena tidak ada jawaban membuat Dani lebih cemas lagi. Pria itu mengeluarkan kunci kamar Hujan dan membukanya dengan panik.


CEKLEK!


Sontak mata Dani membola sempurna melihat keadaan gadis itu sekarang.


Hujan terbaring lemah di atas kasur dengan darah yang tak henti keluar dari pergelangan tangannya. Gadis itu mencoba untuk mengakhiri hidupnya sendiri!


"Hujan!!" jerit Dani frustasi.


"Siapkan mobil! Kita ke Rumah Sakit sekarang!!"


Bersambung...

__ADS_1


...TBC....


__ADS_2