Asmirandah Hujan

Asmirandah Hujan
chapter 10


__ADS_3

...~ HAPPY READING ~...


***


Cekrek.


Auriga tersenyum puas kala berhasil mengambil foto Hujan diam-diam, ah tidak dia lupa mematikan lampunya. Hujan bangun, dia menatap Auriga penuh selidik.


"Tadi Lampu pa?"


Deg!


"I—itu anu, t—tadi itu," jawab Auriga gelagapan.


Hujan mengerutkan dahinya bingung.


"Anu apa?"


"Ta—tadi itu ada, ada sinar matahari ya sinar matahari!" jawab Auriga berbohong.


Hujan menatap Auriga penuh selidik, sedangkan Auriga yang ditatap menjadi lebih gugup.


"Oh," ucap Hujan dingin.


Auriga terlihat lega sekali, untung saja Hujan percaya, jika tidak, ah pasti sangat memalukan.


"Ck, lo kira gue gak tau, kalau lo ngambil foto gua diam-diam!" batin Hujan.


"Hujan"


"Hmm."


"Btw, gimana caranya kita turun?" tanya Auriga mengalihkan pembicaraan. "Anjingnya kan masih tidur di bawah," lanjutnya lagi.


Hujan bungkam, jujur saja dia juga tidak tau cara melarikan diri dari anjing ini.


"Hey, lo denger gue gak sih?!" kesal Auriga.


"Woy, Kalau pacaran jangan di pohon juga kali! udah kayak monyet aja lo berdua!"


Hujan dan Auriga sontak melihat ke arah sumber suara. Di sana tampak Benua yang sedang berjalan ke arah mereka.


Auriga yang melihat hal itu, langsung saja membelalakkan matanya tak senang. Apa Benua tak tau kalau ada seekor anjing yang sedang tidur di bawah pohon? makanya mereka belum bisa turun sampai sekarang.


"Woi, Nu! jangan ke sini, ada anj—" ucap Auriga terpotong kala Hujan dengan cepat menutup mulutnya.


Deg!


Deg!


Deg!


"Ya Allah, tolong selamatkan jantung hamba," batin Daffa.


"Shutt" ucap Hujan sembari meletakkan jari telunjuknya di mulutnya. Hujan melepaskan tangannya yang menutup mulut Auriga.


"K—kenapa?" tanya Aurigabingung.


Hujan tampak membisikkan sesuatu di telinga Auriga. Auriga hanya manggut-manggut mendengarnya. Benua yang melihat hal itu seketika menjadi was-was dan berhenti melangkah.


"Gak papa nih, kita ngelakuin itu?" tanya Auriga


"Hmm. Lo mau turun kan?" Hujan balik bertanya.


"Iya sih, tapi kesannya kita jahat banget kalau ngelakuin itu."


"Serah!" ucap Hujan dingin.


"Iya deh iya, gue ikutin kemauan lo," jawab Auriga akhirnya.

__ADS_1


"Kalian ngomongin apa sih?" Benua yang tadinya diam kini bersuara.


"Eh, gak ada kok," ucap Auriga berbohong.


Benua menatap Auriga penuh selidik, bukan apa-apa, hanya saja dia merasa tak yakin dengan jawaban Auriga. Jelas-jelas mereka baru saja bisik-bisik, tapi kenapa Auriga bilang gak ada? kan mencurigakan!!.


"Nu, sini deh, ada yang mau gua omongin sama lo," ucap Auriga sembari melambaikan tangannya.


"Gua gak mau, kayaknya ada bau-bau mencurigakan," jawab Benua dramatis.


"Ya elah gitu amat lo Nu, cuma sebentar doang juga."


"Gak ah, kayaknya emang ada yang mencurigakan, mendingan gua pergi aja dah," jawab Benua dan hendak pergi meninggalkan tempat itu.


"Lo mau nomor wa Aurora?" Hujan yang tadinya diam kini ikut bicara.


Benua berbalik, dia menatap Hujan tak percaya.


"Tumben si Hujan baik, biasanya aja cuek banget, tapi bodoh ah, rejeki mana boleh di tolak" batin Benua


"Beneran Jan?" tanya Benua semangat.


"Hmm."


"Gue mau dong."


"Ya udah bego, makanya ke sini. Udah gue bilang dari tadi juga." sambung Auriga dengan wajah kesal.


"Oh, itu yang mau lo omongin? bilang dong. Kenapa gak bilang dari tadi sih?, kalau itu mah gua mau banget," ucap Benua sembari berjalan mendekati Hujan dan Auriga yang ada di atas pohon. Matanya hanya terfokus pada dua orang itu.


"Lima langkah lagi," batin Hujan


Satu langkah.


Dua langkah.


Tiga langkah.


Dan ....


"Sekarang!" ucap Hujanl. Auriga mengangguk, dia melemparkan sepatunya pada anjing yang sedang tidur itu.


"Yes, tepat sasaran," ucap Auriga senang.


Benua berhenti melangkah, dia menatap anjing yang sudah bangun karena di lempar oleh Auriga. Anjing itu menatapnya dengan nyalang, Benua menelan salivanya susah payah.


Satu detik.


Dua detik.


Tiga detik.


"GUK ... GUK ... GUK."


"KA—KABURR ...,"


Benua berlari sekuat tenaga, anjing itu ikut mengejarnya.


"SIALAN, GUE DITIPU. DASAR PASANGAN GAK ADA OTAK, AWAS LO GA GUE BAKALAN BALAS LO BERDUA" teriak Benua masih dengan berlari.


"BUHAHAHA, maaf Nu gue gak sengaja," ucap Auriga terkekeh.


Auriga turun dari pohon, akhirnya dia bisa bebas juga dari anjing tadi, fyuhh Auriga lega sekali.


"Hujan lo gak turun?" tanya Auriga karena dia melihat Hujan yang masih berada di atas pohon.


Hujan bungkam, bagaimana ini? Hujan tidak bisa turun, dari dulu dia memang tidak tau cara memanjat. Hujan juga heran kenapa dia bisa manjat tadi, saat dikejar oleh anjing itu. Mungkin karena sangkinkan takutnya, dia jadi bisa memanjat dengan gesitnya.


"G—gue," ucapnya gelagapan.

__ADS_1


"Lo kenapa?" tanya Auriga dari bawah.


"Gak ada."


"Serius?"


"Hmm."


"Lo?" Auriga menatap Hujan penuh selidik. "Gak bisa turun kan?" lanjutnya lagi. Tepat sasaran.


"Bisa!" jawab Hujan berbohong.


"Masak?" goda Auriga.


"Di dapur," ucap Hujan dingin.


"Ck, coba lo turun kalau bisa, gak yakin gua."


"O—oke."


Jujur saja Hujan sangat takut, dia baru sadar kalau pohon ini ternyata tinggi juga. Hujan memejamkan matanya dan dengan kaki yang gemetar dia melompat ke bawah.


"AAAHHHH" teriak Hujan.


"Aneh, kok gak sakit ya? jelas-jelas gua jatuh tadi!" batin Hujan


Hujan membuka matanya, pantas saja dia tak merasa sakit, ternyata Auriga menangkapnya.


"Lo apa-apaan sih?, kenapa lo harus bohong kalau gak bisa turun. Malah loncat segala lagi, untung aja gua tangkap, kalau enggak bisa bahaya tau gak" bentak Auriga, dia masih saja menggendong Hujan.


"Udah kan? sekarang lo bisa turunin gue" ucap Hujan dingin.


"Ck, kalau gue gak mau? lo mau apa?!"


"Gigit lo."


***


Pagi ini rasanya badan Hujan terasa sakit semua, ini pasti kerena kemarin dia dikejar-kejar anjing.


"Semua ini karena cewek jadi-jadian itu, awas aja kalau gue ketemu lo lagi, gua bakal balas dua kali lipat dari ini" batin Hujan kesal.


"Pagi anak-anak," ucap Bu Mentari seraya memasuki kelas. Ya, sekarang Hujan memang sedang berada di kelas.


"PAGI BU," jawab mereka kompak.


"Anak-anak pagi ini kita kedatangan murid baru lagi," ucap Bu Mentari dengan tersenyum manis.


Seisi kelas tampak riuh dengan kabar yang dikatakan Bu Mentari barusan.


"Murid baru?"


"Cewek atau cowok ya?"


"Gua sih berharap cewek."


"Cantik gak ya?"


Kira-kira seperti itulah yang dibahas oleh para siswa-siswi itu. Berbeda dengan yang lain, Adel tampak tidak peduli sama sekali, sedari tadi dia hanya menelungkup kan wajahnya pada tangan yang ia lipat. Hari ini, dia benar-benar lelah sekali.


"Anak baru kali ini ada dua loh, sebenarnya sih ... yang satunya bukan anak baru, tapi dia pindahan dari kelas lain," ucap bu Ayu yang dapat membuat kelas semakin riuh.


Adel yang tadinya tidak tertarik, kini mendongak dan mencerna kata-kata bu Ayu barusan.


'Murid baru? dua orang? yang satunya pindahan dari kelas lain? jangan bilang ....


"Silahkan masuk Fani dan Siska."


Deg!

__ADS_1


'Pembalasan dimulai.' batin Adel dengan tersenyum miring.


TBC....


__ADS_2