
"Hay," sapa Benua sembari melambaikan tangannya.
Hujan dan Aurora yang tadinya sibuk dengan ponsel mereka masing-masing dengan kompak mendongak dan menatap Benua dengan kaget.
Hujan cukup kaget dengan kedatangan Benua, Auriga, Awan dan juga Matahari. Tetapi dengan sebisa mungkin dia bersikap biasa saja.
Berbeda dengan Hujan yang tampak tenang, Aurora terlihat gugup, baru kali ini ada orang yang menyapanya dan mereka cukup banyak.
"Oh, h—hay juga," jawab Aurora gugup, entahlah saat berhadapan dengan orang banyak seperti ini dapat membuat dirinya jadi semakin gugup.
Hujan hanya diam. Dia tak membalas sapaan Benua sama sekali, Hujan kembali berkutat pada ponselnya. Entah apa yang dilakukan hanya Hujan dengan ponselnya, mungkin dia bermain game, ya mungkin saja.
"Kita boleh gabung gak?" tanya Benua sembari tersenyum ramah pada Aurora.
"Bo—"
"Gak!" potong Hujan dingin.
Benua dan yang lainnya menelan Saliva mereka susah payah. Berhadapan dengan Hujan memanglah butuh hati yang kuat. Ya, alasannya supaya tidak sakit hati dengan apapun yang dikatakan oleh Hujan.
"Ke—kenapa gak boleh? Plisss. Hujan jangan dingin dong. Kita kan cuma mau gabung doang, gak ada niatan yang lain kok. Iya gak Ga?" kata Benua sembari menyenggol bahu Auriga
"Eh? Iya! Kita gak punya maksud apa-apa. Kita cuma mau temanan kok," sambung Auriga.
Hujan diam seolah tak mendengar apa-apa. Sedari tadi dia hanya asik dengan ponselnya saja.
"Ya elah ... gak usah gitu juga kali Jan," ucap Matahari ikutan kesal.
"Tau tuh! Cuman mau gabung aja masa gak boleh sih," timpal Awan.
"Iya Jan, bolehin aja lah. Kasian mereka dari tadi berdiri loh, pasti capek." Aurora yang tadinya diam kini bersuara.
"Nah ... betul tuh kata teman lo," sambung Auriga.
Hujan yang tadinya berkutat pada ponselnya tanpa merespon apa pun. Kini melihat ke arah Aurora yang juga menatapnya dengan senyuman.
"Boleh ya Jan? Itung-itung nambah teman," ujar Aurora memohon dan tak lupa dengan senyuman manisnya.
Senyuman itu, mata itu terlihat tulus sekali. Jika sudah begini, Hujan bisa apa? Dia memang tak pernah menang jika berhadapan dengan Aurora. Apa lagi saat melihat senyumannya yang begitu tulus.
Hujan mendengus pasrah, mau tak mau dia harus mengijinkannya.
"Hm..kali ini aja," jawab Hujan pasrah.
Aurora tampak senang, dia langsung saja memeluk Hujan dengan semangat. Sementara Hujan, gadis itu hanya diam saat dipeluk oleh Aurora.
"Jadi kita boleh gabung nih?" tanya Auriga dan Benua kompak.
"Boleh kok, iya kan Jan?"
"Hm."
Benua dan Auriga bertos ria dan duduk di bangku yang berhadapan dengan Hujan dan Aurora. Begitu juga dengan Matahari dan Awan, mereka duduk berhadapan.
"Kenalin gua Auriga Alfa, panggil Auriga aja," ucap Auriga sembari mengulurkan tangannya pada Aurora.
"Gua Aurora Belinda, kakak boleh panggil Aurora," ucapnya sopan.
"Haha, di panggil kakak dong. Ngakak gua," Benua terkekeh.
"Kok manggil kakak sih? Gua kan masih muda? kita seumuran tahu."
"Eh ma--maaf kak eh maksud gua Auriga."
"Ya udah deh gak papa," ucap Auriga sembari tersenyum dan memperlihatkan lesung pipinya.
"I--iya,"
Hujan hanya diam, dia sama sekali tak ikut dalam obrolan mereka.
"Btw, tadi lo bilang nama lo Aurora? Bukannya lo gadis cupu yang ketemu sama Hujan pas di sekolah ya?" tanya Benua.
"I--iya gua gadis cupu itu," jawab Aurora gugup.
"Wah ... lo berubah jadi cantik banget ya. Gak keliatan cupu lagi."
"Hm, berkat Hujan," jawab Aurora tersenyum, dia melirik gadis itu yang masih saja sibuk dengan ponsel.
"Wow ... Hujan lo baik banget mau ngubah penampilan Aurora," puji Auriga semangat. Auriga menatap gadis itu kesal, tapi dia tak meresponnya. Auriga berdecak kesal, kenapa Hujan begitu dingin padanya?
"Sabar Ga." Benua terkekeh, dia terus saja mengusap punggung laki-laki itu.
"Iya, gua selalu sabar kok," jawab Auriga lesu.
"Dasar penguntit."
__ADS_1
Mereka yang tadinya tertawa karena Auriga kini berhenti dan dengan kompak menatap Hujan. Ya, yang bicara adalah Hujan.
"Maksud lo a--apa?" tanya Auriga gugup.
"Lo ngikutin gua kan?"
Auriga menelan salivanya susah payah, bagaimana dia bisa tau? Ah Auriga malu sekali.
"E--enggak kok, lo tau dari mana?"
"Bukannya udah jelas ya?" Hujan balik bertanya.
"Jelas gimana sih Jan? Gua gak ngerti." kini Aurora yang bicara.
"Ya jelas lah, soalnya waktu gua ketemu lo kita cuman berdua doang," kata Hujan.
"Terus?" Hujan berdecak sebal, ternyata mereka belum paham juga.
"Gak ada siapa-siapa di tempat itu, tapi kenapa lo bisa tau? Berarti lo ngikutin gua kan?!" ucap Hujan dan menatap Auriga penuh selidik.
"A--anu g--gua." Auriga tampak gelagapan.
"Bener Ga?" tanya Awan.
"I--itu se--sebenarnya---"
"Pesanan datang," ucap seorang pelayan sembari memberikan pesanan Hujan dan Aurora.
Auriga bersyukur sekali, untung saja pelayan itu datang. Jika tidak ... ah dia pasti malu karena ketauan mengikuti Hujan.
Hujan melirik Auriga sekilas, sesaat kemudian dia mulai memakan makanannya dengan hening, tak perduli orang di depannya yang masih asik mengobrol.
***
"Huaaa ...Jan gua takut," ucap Aurora histeris.
"gak usah teriak!" jawab Hujan dingin.
"Lo sih Jan, malah nolak tawaran Auriga lagi! Padahal kan kita emang gak bawa mobil, malah udah larut malam begini. Gimana kalau gak ada taksi yang lewat?! Huaa ... gua takut." Aurora berteriak histeris.
"....."
"Kalau tadi kita nerima tawarannya si Auriga, kan gak jadi gini! Malah Auriga baik lagi, dia mau nganterin kita pulang. Tapi malah lo tolak! Malah pakek acara bohong segala lagi! Kan emang bener kita gak bawa mobil! Huaa ... Hujan lo kok diam aja sih?!" omel Aurora.
"Huaaa ...Hujan kok gua ditinggal sih?! Kan di sini serem." Aurora duduk di kursi yang ada di pinggir jalan sembari menunggu Hujan pulang.
***
"Aurora gua udah da---" ucap Hujan terpotong kala dia tak melihat Aurora di tempat sebelumnya.
"Aurora ... Aurora lo dimana?!" Hujan terus saja berteriak, dia mencari ke sana ke mari namun nihil, dia tak menemukan apa pun.
Hujan duduk di kursi tempat dia dan Aurora duduk tadi, dia melamun, air matanya menetes.
'Ini salahku! Mama benar aku emang pembawa sial! Jika saja aku gak ninggalin Aurora, dia gak bakalan ilang. Gua memang pembawa sial!!!!' batin Hujan.
Hujan terus saja merutuki dirinya, dia merasa bersalah karena menolak tawaran Auriga yang ingin mengantarkan mereka pulang tadi dan rasa bersalah karena meninggalkan Aurora sendirian.
"Maaf Aurora, gua emang pembawa sial!!!" Hujan menyeka air matanya yang hampir saja jatuh.
"Jan lo n-nangis?"
Hujan menoleh dan menatap Aurora datar, ternyata Aurora baik-baik saja. Hujan jadi malu sempat menangis, dia lemah sekali!!.
"Lo dari mana aja?!" bentak Hujan.
"Tadi gua diganggu preman. Tapi, premannya udah kabur kok," ucapnya tersenyum.
"Kabur?" tanya Hujan.
"Hahaha ... ya, mereka kabur karena dia," ucap Aurora sembari menunjuk seorang gadis berambut pendek yang ada di sampingnya.
"Dia siapa?"
"Ouh, dia yang bantuin gua dari preman tadi. Dia jago banget loh Jan," ucap Aurora semangat.
"Dia nendang premannya sampek jatuh. Wihh ... keren lah pokoknya. lo sih gak liat! Makanya jangan main tinggal aja," sambung Aurora lagi. Gadis berambut pendek itu hanya tertawa saat di puji oleh Aurora.
"Jangan dekat-dekat sama orang asing!"
"Enggak kok Jan, dia orangnya baik. Namanya Senja, iya kan Ja," ucap Aurora sembari menyenggol lengan Senja.
"Iya gua gak jahat kok, tenang aja," ucap Senja santai.
Hujan menatap Senja penuh selidik. Senja yang ditatap oleh Hujan spontan jadi gugup.
__ADS_1
"Mana ada perempuan kayak dia!" ucap Hujan dingin.
"Maksud lo apa?!" ketus Senja.
"Perempuan jadi-jadian!" sindir Hujan
"Ck, dasar es batu lo!" ketus Senja.
"Dari pada lo! Setengah perempuan, setengah laki-laki."
"Lo beruang kutub!"
"Lo--"
"Udah-udah kok jadi pada ribut sih?! Kan kita baru ketemu." ucap Aurora menengahi.
"Teman lo tuh Ra! Dingin banget kaya es batu!" ucap Senja sembari menatap Hujan sinis.
"Dia tuh! Dasar perempuan jadi-jadian!"
Ya, Senja memang tomboy, tapi seperti Hujan dan Aurora, Senja juga cantik hanya saja kelakuannya seperti laki-laki. Senja suka bertarung bahkan walau lawannya sekuat apa pun dia tak akan ciut.
"Padahal gua ada niatan biar kita jadi sahabat," ucap Aurora menunduk.
"Hah?!" tanya Hujan dan Senja kompak.
"Cieee kompakan," ucap Aurora terkekeh.
Hujan dan Senja kompak buang muka, tak mau saling menatap. Aurora berdecak sebal.
"Ck, pliss ... demi gua, kita temenan ya," ucap Aurora memohon.
Hujan menatap Aurora, lagi-lagi dia tak bisa menolak kalau Aurora yang mengatakannya.
"Ck, demi lo," ucap Hujan kesal.
Aurora beralih menatap Senja dengan wajah sok imut.
"Mau ya Senja?" Aurora memohon tak lupa dengan wajah sok imutnya. Senja berdecak, entah kenapa saat bertemu dengan Aurora dia merasa tidak canggung sama sekali dengan gadis itu.
"Ck, demi lo gua mau deh, kalau enggak ogah banget gua mau temanan sama gadis es batu!" ucap Senja sinis sembari melihat ke arah Hujan.
Hujan yang merasa tersindir langsung saja menatap Senja dengan nyalang.
"Gua juga ogah mau temanan sama gadis jadi-jadian!!!" ketus Hujan.
"Dasar es batu!"
"Cewek jadi-jadian!!"
"Beruang kutub!!"
"Diam lo!"
"Gua gak mau!!!"
"Serah!!"
"Ih ... kok jadi ribut lagi sih?!" ucap Aurora kesal.
"....."
"Jadi, sekarang kita temenan nih ya?" sambungnya lagi.
"....."
"Ih ... kalian dengar gua gak sih!!" ucap Aurora kesal.
"Iya!!" ucap Hujan dan Senja kompak.
"Nah gitu dong kompakan," ucap Aurora terkekeh.
Hujan dan Senja saling menatap sinis dan dengan kompak membuang muka kembali.
"Awas lo!!" ancam Senja.
"Lo yang awas!!" balas Hujan.
"Hadeh ... mulai lagi." Aurora memutar bola matanya malas.
TBC ...
Komen bawelnya lah sekali-sekali👀
#Next?
__ADS_1