Asmirandah Hujan

Asmirandah Hujan
Chapter 16.


__ADS_3

~Happy Readingđź’ž~


"Hiks ... Reka ... hiks." Hujan menangis senggugukan, matanya tak henti-henti menatap wajah Auriga dengan raut wajah sedih.


"Reka?" beo mereka semua, lagi-lagi mereka dibuat kaget oleh Hujan. Apa maksudnya Reka? siapa Reka? apa REKA itu sebuah nama? itu lah yang berada dipikiran mereka masing-masing.


***


"Hujan lo sakit?" tanya Auriga, dia menempelkan tangannya pada dahi Hujan, bermaksud untuk mengecek suhu tubuh gadis itu. Tidak panas, tapi kenapa Hujan bertingkah aneh?.


Hujan hanya diam saat Auriga menempelkan tangan pada dahinya. Melihat Hujan yang tak bereaksi sama sekali, Auriga jadi semakin bingung, tak biasanya gadis itu bersikap begini. Biasanya saja, Hujan sangat jutek padanya dan jangan lupakan sikap cuek nan dinginnya yang menjengkelkan itu!.


Tapi, sekarang benar-benar berbeda, meskipun Auriga menyaksikannya sendiri, dia masih sungkan untuk percaya dengan apa yang ia lihat. Bagaimana tidak? sedari tadi Auriga perhatikan, Hujan terus saja menatap wajahnya dengan raut wajah yang sulit untuk diartikan.


Auriga mengheryitkan dahinya bingung, sungguh dirinya benar-benar tak mengerti, kenapa tak Hujan tak henti-henti menatap wajahnya?!


"Hujan lo kena—,"


Ucapan Auriga terpotong kala Hujan memeluknya dengan tiba-tiba. Auriga hanya diam tak bergeming membiarkan dirinya dipeluk oleh sang kekasih. Sesaat kemudian...!


Deg!


Deg!


Deg!


Kelang beberapa detik kemudian Auriga tersadar dari lamunannya. Apa-apaan ini? kenapa Hujan memeluknya? apa setelah ini Auriga akan ditonjok? yang benar saja Auriga tak melakukan apapun, Hujan lah yang memeluknya dengan tiba-tiba.


"K—kenapa Hujan meluk gua? jantung gue rasanya mau copot. Apa ini yang dinamakan dengan—ah sial!, gue mikir apa sih? gak! gue gak boleh baper! pokoknya gak boleh! gue harus bersikap biasa aja. Ayo Auriga, lo pasti bisa," batin Auriga"


"Kenapa?" Tanya Hujan tiba-tiba.


Auriga menelan salivanya susah payah, apa Hujan baru saja bicara dengannya?.


"KENAPA LO PERGI JUGA?!!!" bentak Hujan, tangannya masih setia memeluk Auriga dengan erat.


Keduanya hanya diam, tak ada yang berani bicara. Auriga hanya menatap Hujan dengan penuh tanda tanya.


"Pembunuh itu!!, hiks...jahat!!! semuanya pergi hiks." Hujan terus saja menangis, rasa sakit yang dia rasakan selama ini benar-benar membuat dadanya terasa sesak.


Auriga membalas pelukan Hujan, walaupun dia tak mengerti dengan apa yang dimaksud gadis itu, tapi tak ada salahnya kan jika Auriga berusaha menenangkannya.


"Gua gak ngerti maksud lo apa. Tapi yang gue tau, Hujan yang gue kenal bukan orang yang cengeng." Auriga melepaskan pelukannya lebih dulu, dia menghapus air mata Hujan dengan lembut, kemudian tersenyum pada gadis itu.


"Jadi, jangan nangis lagi ya." Auriga mengacak rambut Hujan dengan gemas. "Karena gua gak suka liat lo sedih dan lo tau? lo jelek kalau lagi nangis," lanjutnya lagi dengan terkekeh kecil.


Hujan menatap wajah Auriga sejenak, kemudian dia mengangguk setuju.


"Gitu dong," ucap Auriga sembari mengacak rambut gadis itu dengan gemas.


Hujan mengangkat tangan Auriga dari kepalanya dengan lembut dan kemudian menggenggamnya.


"Tapi Reka, kenapa lo juga pergi?" Hujan mendongak dan menatap Auriga dengan wajah sedih.


"Lo tau gak? gu-gue sendiri hiks ... semuanya pergi hiks ... hiks...Papa, Mama, kak Petir dan lo ju-juga hiks." Hujan menunduk, dia menangis senggugukan. "Gua mohon, jangan tinggalin gue lagi hiks ... hiks."


Auriga mengangkat dagu Hujan pelan, membuat gadis itu mendongak dan menatapnya dengan mata yang sembam akibat menangis.


"Gua gak ngerti, kenapa lo manggil gua dengan nama Reka dan gua juga gak ngerti dengan apa yang lo bilang barusan," ucap Auriga tersenyum tulus. "Tapi, lo harus tau, kalau gue gak bakalan pernah ninggalin lo. Lo juga gak bakalan sendiri, karna kita semua akan selalu ada buat lo."


"Lo emang selalu baik sama gua," ucap Hujan, dia mendekatkan wajahnya pada Auriga.

__ADS_1


Auriga menatap Hujan tak senang.


"Jangan bilang lo mau—,"


Cup.


"Makasi Reka." Hujan mencium pipi Auriga dengan santainya. Sedangkan yang dicium sudah kaku di tempat dengan wajah yang memerah.


CEKREK.


Auriga tersentak kaget, dia melirik Sagita dengan tajam, sedangkan yang ditatap hanya nyengir tak jelas.


***


Pagi telah datang menggantikan malam, sinar mentari masuk dari celah-celah jendela kamar dan menerpa wajah seorang gadis cantik. Siapa lagi kalau bukan Hujan.


Hujan membuka matanya dan menatap sekitarnya dengan dahi yang mengerut. Kamar ini benar-benar asing, ini bukan kamarnya. Di mana ini?


"Arghhh!!" Hujan meringgis, dia memegang kepalanya yang terasa pusing. Entah apa yang terjadi hingga dia berada di tempat yang asing baginya. Hujan benar-benar lupa.


Hujan berusaha untuk duduk tapi, tunggu dulu kenapa tangan kanannya terasa sangat berat untuk diangkat?


Hujan melirik tangannya, dia sempat jengkel dengan apa yang dilihatnya. Pantas saja! ternyata ada yang tidur di atas tangannya, dikira tangannya bantal kali ya?


"WOY!!" Bentak Hujan. Dia berusaha membangunkan orang itu, tapi tetap saja masih tidur. Tak ada cara lain selain!!


BRUK.


Hujan menendang orang itu dengan susah payah, tapi sialnya dia malah ikut jatuh bersama orang itu. Bahkan, Hujan jatuh tepat diatasnya.


"AWWW!!!" Auriga meringgis saat kepalanya terbentur lantai. "Apaan sih Jan? sakit tau kepala gue! tapi, yang paling penting lo gapapa kan? ada yang sakit gak?" tanyanya.


"Kenapa?"


"Kalau ngomong itu yang lengk—,"


"Mau sampai kapan kalian ngomong dengan posisi seperti itu?" potong Aurora.


Hujan tersentak kaget mendengarnya, ah iya dia lupa kalau dia berada di atas Auriga sekarang. Hujan langsung saja berdiri dan membiarkan Auriga yang masih tergeletak di lantai.


"Jan!!." Hujan menoleh menatap Auriga dengan dahi yang mengerut. "Gak mau bantuin gue gitu?" lanjutnya lagi.


"Lo punya kaki?" Hujan balik bertanya.


"Ck, dingin amat lo jadi orang."


"....."


Auriga berdecak sebal kala Hujan tak meresponnya. Akhirnya Auriga memutuskan untuk bangun sendiri.


"Btw, lo masi sakit gak Jan?" tanya Aurora, dia berjalan mendekati Hujan dan ingin menempelkan tangannya pada dahi Hujan, sebelum gadis itu menangkap tangannya dengan lembut.


"Gua gak sakit," jawab Hujan dingin, dia menyingkirkan tangan Aurora yang ingin menyentuh dahinya.


"Gitu ya? kalau gitu bagus dong." Aurora menatap Hujan sembari tersenyum tulus.


"Aurora!!."


"Iya, kenapa Jan?"


"Kenapa?"

__ADS_1


"Maksud lo?"


"Kenapa Auriga bisa di sini dan kenap—,"


"Iya, gua paham kok, gak usah dilanjutin, gua tau apa maksud lo," potong Aurora.


"Hmm."


"Lo mau nanya, kenapa lo bisa tidur di sini dan kenapa Auriga ada di samping lo saat lo tidur kan? ya, walaupun dia cuman di bawah kasur sih, tapi lo pasti bingungkan?"


"Hm."


"Oke, gua bakal ceritain semuanya." Aurora menarik napasnya bersiap untuk menceritakan semuanya. "Tadi malam, lo makan masakan Matahari, terus lo juga gak sengaja minum bir. Abis itu lo mabuk deh, lo ngomong ngelantur. Masa lo manggil Auriga dengan nama Reka, kan aneh."


Hujan bungkam, apa kata Aurora tadi? ia memanggil Auriga dengan panggilan Reka?! benar-benar menyebalkan!! bagaimana bisa dirinya melakukan itu semua!!. Padahal ia sudah bersusah payah untuk melupakan semuanya, tapi nyatanya ia tidak bisa dan tak akan pernah bisa.


"Terus?" Hujan menatap Aurora penuh selidik. "Apa ada lagi?" lanjutnya.


"Ah iya, lo juga bilang 'pembunuh itu jahat' dengan menangis dan juga lo bilang kalau lo ditingga—,"


"Cukup!!" wajah Hujan memerah, dia menggenggam tangannya dengan kuat sehingga kuku-kuku tangannya memutih.


"Cukup Aurora!! Gue...," Hujan memalingkan wajahnya. "Gak mau dengar lagi," lanjutnya dengan wajah dingin.


"Eh? o-oke," jawab Aurora gugup.


Hujan pergi dari kamar Aurora tanpa bicara sepatah kata pun lagi.


"Hujan lo mau kemana?" tanya Aurora


"Pulang." jawab Hujan tanpa menoleh.


"Biar gua yang nganter lo pulang." Auriga berjalan menyusul Hujan. "Lo gak bawa mobil kan? jadi, biar gua aja yang nganter." lanjutnya lagi dengan tersenyum tulus.


Hujan menoleh dan menatap Auriga dengan wajah datar.


"Terserah lo," jawabnya dingin.


Auriga tersenyum. Kali ini Hujan tidak menolaknya. Auriga senang sekali, akhirnya Hujan mau menerima tawarannya, walaupun dengan berbicara dingin sih. Tapi, untuk Auriga itu tak masalah.


"Baiklah, kalau begitu ayo." ajaknya dengan tersenyum.


"Oh iya Aurora." Hujan menoleh dan menatap Aurora dengan datar seperti biasanya.


"Iya?"


"Di mana dia?" Aurora tersenyum, kali ini dia mengerti dengan apa yang dimaksud Hujan.


"Itu," ucap Aurora sembari menunjuk ke arah sofa.


"Matahari masih tidur di sofa," lanjutnya lagi dengan tersenyum.


"Hm." gumam Hujan. "Ingetin dia!" lanjutnya lagi.


"Siap dilaksanakan tuan putri," ucap Aurora sembari menghormat. Kali ini, Aurora mengerti dengan apa yang dimaksud Hujan.


Hujan pergi, tanpa mengucapkan sepatah kata pun seperti biasanya.


Bersambung...


...TBC....

__ADS_1


__ADS_2