Asmirandah Hujan

Asmirandah Hujan
Chapter 31


__ADS_3

~Happy Reading💞~


Hari ini adalah hari di mana sekolah SMA Purnama Bangsa akan melakukan acara kemah di hutan.


Para siswa-siswi datang lebih awal dari biasanya. Mereka tampak antusias menyambut liburan itu.


Auriga dan yang lainnya juga sudah sampai dari tadi. Hanya Hujan yang tidak ada di sana. Membuat Auriga, Benua, Awan, Aurora dan juga Matahari harus menunggu gadis itu di luar bus.


Mereka berlima bahkan belum sempat memasukkan barang bawaannya ke bagasi.


"Si Es batu kemana sih?! Lama banget!" kesal Matahari melihat Hujan yang tak kunjung datang.


"Tau, nih! Bentar lagi kan busnya mau berangkat," sahut Aurora memainkan ujung sepatunya di aspal.


"Coba lo hubungin Ga, siapa tau diangkat."


Auriga menatap Benua yang baru saja bicara itu, kemudian ia mengangguk menyetujui saran dari Benua. Auriga merogoh saku celana, mengambil ponselnya di sana.


"Gimana?" tanya Awan melihat Auriga yang sudah selesai menelpon.


"Gak diangkat," jawab Auriga dengan wajah lesu.


"Ck." Awan berdecak kesal.


"Kasi gua nomornya!" lanjutnya merampas kasar ponsel Auriga lalu menyalin nomor Hujan ke ponsel miliknya.


Awan tampak mengetikkan sesuatu di sana. Lalu mengirim pesan itu ke WhatsApp Hujan dengan raut wajah serius.


"Gua juga!" Matahari ikut merampas ponsel Auriga yang ada di tangan Awan. Kemudian gadis itu menyalin dan menelpon Hujan berkali-kali. Namun, tetap saja Hujan tak mengangkat. Padahal, nomornya aktif! Hujan benar-benar menyebalkan!


Aurora yang paling dekat dengan Hujan, tentu saja sudah mempunyai nomor gadis itu. Ia juga tak henti-henti menelpon dan mengirimi Hujan pesan dari tadi. Tapi tak ada satu balasan pun dari Hujan.


"Kalian ngapain? Kenapa belum masuk ke bus?"


Riski yang baru saja ingin memasuki bus menatap aneh teman-temannya. Mereka tampak panik dan tak henti-henti melekatkan ponsel di telinga masing-masing. Entah siapa yang mereka telpon sampai segitunya, Riski juga tak tahu.


"Kita lagi nungguin si Es batu."


"Es batu?"


"Maksudnya Hujan," jawab Benua membenarkan perkataan Matahari.


Riski menyerngit. Bukannya, Hujan tidak ikut kemah? Lantas, kenapa orang-orang ini menunggu Hujan? Apa mungkin, gadis itu tidak memberi tahunya.


Tapi, yang lebih mengejutkan lagi. Riski tak menyangka jika Hujan mempunyai teman sebanyak ini. Sejak kapan Awan dan Benua berteman dengan gadis itu, ya? Entahlah, ia jadi sangat bingung sekarang.


"Hujan gak ikut," jawab Riski yang dapat menarik perhatian semuanya.


"Apa?!" kaget Matahari.


"Gak mungkin!" bantah Aurora.


"Adel bilang, kemarin dia ikut!" sanggah Auriga.


"Hah?!"

__ADS_1


"Gak masuk akal!" kata Awan tak percaya.


Riski terkekeh, merasa geli dengan reaksi orang-orang di depannya. Ia kemudian berjalan masuk ke dalam bus. Tak ingin berdebat lebih lama lagi, itu hanya akan membuang waktunya saja. Toh, mereka tak akan percaya dengan kata-kata Riski.


***


"Kenapa gak diangkat?"


Petir melirik sekilas adiknya yang menatap hampa jalanan. Kini ia dan Hujan sedang berada di dalam mobil ingin menuju ke bandara.


Kemarin, Hujan sempat menelponnya. Mengatakan jika ia ingin pulang ke bandung menemui sang kakek selama tiga hari.


Awalnya Petir kaget, tumben gadis itu mengajaknya pergi bersama. Walau Petir sibuk, namun demi Hujan ia rela melakukan apa saja. Indra tak akan menyia-nyiakan kesempatan untuk dekat dengan adiknya itu lagi.


Lagi dan lagi, ponsel Hujan tak henti-henti berdering dengan berbagai notifikasi masuk. Gadis itu masih setia menatap jalanan dengan wajah dinginnya. Tanpa peduli dengan ponsel yang berdering tanpa henti.


"Mau kakak yang ngangkat?"


Mendengar kata-kata itu, dengan cepat Hujan menyambar ponsel di sampingnya. Membuat Petir terkekeh kecil melihatnya.


"Ini ponselku." Hujan menjauhkan ponselnya yang masi berdering dari Petir.


"Jangan menyentuhnya!" lanjutnya lagi mulai melihat semua notifikasi yang masuk.


Hujan menatap ponselnya datar. Ia tahu ini nomor siapa. Sekalipun itu nomor baru, tapi Hujan langsung mengenali nya. Bagaimana, tidak? Lihatlah foto profilnya. Di sana terpampang jelas foto milik Matahari.


Dengan wajah jengah, Hujan menekan hendak membuka pesan suara dari Matahari. Kira-kira pesan apa yang dikirimnya? Sampai-sampai harus mengirimkan pesan suara.


"Woi, es batu bangsat! Brengsek! Kampret! Sialan! Kenapa lo belum datang juga, setan?!! Kaki gua keram nih, nungguin lo dari tadi! Lo dimana brengsek!!"


"I–itu siapa? Kasar sekali!" kata Petir yang diangguki setuju oleh Hujan.


Matahari, gadis itu benar-benar menyebalkan! Membuat Hujan naik darah saja.


Hujan kembali menatap ponselnya dan membaca pesan-pesan yang dikirim oleh teman-temannya itu.


[Hujan? Ini gua Awan! Lo niat dateng gak sih? Seharusnya dari awal lo bilang! Kita udah pada nungguin elo dari tadi. mikir, dong!]


[Lo dateng kan? Ini gua Benua, dapet nomor lo dari Aurora. Buruan! Busnya udah mau berangkat.]


[Hujan? Kapan datangnya? Kita udah nungguin lo dari tadi.]


[Gua percaya sama lo! Tapi, kalau lo gak dateng. JANGAN HARAP GUA MAU NGOMONG SAMA LO LAGI:)!!]


Hujan menelan salivanya membaca pesan terakhir yang dikirim oleh Auriga. Kemudian gadis itu membuang ponselnya asal. Ia kembali menatap hampa jalanan dengan tangan yang mengepal seperti menahan kesedihan.


Petir yang melihatnya, mengambil ponsel adiknya diam-diam. Ia tersenyum saat membaca pesan-pesan yang dikirim oleh teman Hujan.


'Rupanya begitu. Acara kemah di hutan, ya?' batin Indra menatap adiknya yang masi setia menatap jalanan melalui jendela.


Hujan menoleh kala tangan Petir mengelus pelan kepalanya.


"Kenapa?" tanya Hujan.


"Kakak dukung, apapun pilihan kamu," kata Petir memberi semangat pada adiknya. Pasti hal yang sulit bagi Hujan, jika harus memilih antara teman dan trauma. Petir lebih suka saat gadis itu lebih mementingkan kesehatannya dari pada ikut acara kemah.

__ADS_1


Jika Hujan ikut, hal itu bisa berdampak pada kesehatannya. Karena itu, Petir sangat senang saat Hujan lebih memilih untuk tidak pergi seperti sekarang.


Drett ... Drett ...!


Ponselnya terus berdering. Di sana tampak Auriga yang tak henti-henti menelpon. Membuat Hujan mematikan ponselnya hingga nomor gadis itu tak bisa dihubungi lagi karena tak aktif.


"Kenapa gak bilang yang sejujurnya?" tanya Petir heran melihat Hujan yang terus-terusan menghindar dari masalah.


"Aku takut."


"Takut?"


"Kak Petir 'kan tau."


Petir menghela nafas lelah. Ya, ia tahu! Dia tahu jika adiknya itu sangat tidak suka membuat orang-orang di sekitarnya kerepotan.


"Kak."


"Hm?"


"Fajar balik," jawab Hujan dengan suara dingin.


"Hah?"


"Aku ... berubah pikiran."


"Kau ingin ikut berkemah?"


Hujan mengangguk serius. Sebenarnya, ia cukup bingung. Dari mana Petir tau? Padahal ia tak pernah bilang jika sekolah mereka mengadakan kemah di hutan.


"Gak boleh!" tegas Petir, sekalipun ia menyuruh adiknya jujur. Tapi bukan berarti ia akan mengizinkan Hujan pergi ke hutan. Bagaimana mungkin? Petir mengizinkan Hujan pergi ke tempat yang berbahaya begitu.


"Aku gak peduli!" tolak Hujan dengan suara dingin.


"Pak, putar balik ke sekolah SMA Purnama Bangsa. Sekarang juga!" lanjutnya lagi dengan wajah datar seperti biasa.


"Baik Non, saya akan—"


"Jangan!" potong Petir.


Hujan menoleh menatapnya tajam. Kemudian gadis itu menggeleng tak percaya menatap Petir. Katanya tadi, Petir akan mengikuti apapun pilihan Hujan! Apa-apaan kakaknya ini?! Menyebalkan sekali!


"Baiklah, kalau kakak gak mau putar balik. Aku bakal lompat," kata Hujan membuka pintu mobil yang masi jalan itu dengan nekat.


Petir yang melihat itu jadi kaget. Ia melirik tajam supir yang tak mengunci pintu mobil dengan benar.


"Oke! Tapi tolong jangan lompat! Kakak bakal anter kamu ke sekolah."


Mendengar itu, Hujan menutup kembali pintu mobil yang sempat ia buka sebelumnya. Sang supir langsung saja mengunci pintunya agar tak bisa dibuka lagi oleh Hujan.


"Pak, putar balik sekarang! Kita ke sekolahnya Hujan. Cepatan! Jangan sampai, dia ketinggalan bus."


"Baik, tuan Muda."


TBC ...

__ADS_1


#Next?


__ADS_2