Asmirandah Hujan

Asmirandah Hujan
Chapter 3.


__ADS_3

...HAPPY READING...


***


BRUK!


"Sorry-sorry, gue gak sengaja" ucap Auriga


Ya, orang itu adalah Auriga. Auriga tampak buru-buru. Terlihat sekali dari ekspresinya yang seperti habis dikejar hantu.


Gadis itu mendongak. Menatap Auriga datar. Sesaat kemudian dia mulai menyusun buku-bukunya yang berserakan. Auriga juga ikut membantu dan memberikan bukunya setelah selesai pada gadis itu.


"Nih, sekali lagi sorry ya, tadi gua gak sengaja." Auriga tersenyum sembari memberikan buku yang telah ia susun rapi. Gadis itu menerimanya tanpa mengucapkan sepatah kata pun.


"AURIGA...AURIGA!"


Terdengar teriakan histeris gadis-gadis yang sedang berlari ke arah mereka. Keduanya kompak menoleh ke asal suara.


DEG!


Auriga tampak kaku di tempat. Keringat dingin mulai membasahi tubuhnya. Wajahnya pucat pasi.


Gadis itu melirik Auriga sejenak. Sesaat kemudian ia memutuskan untuk pergi dan meninggalkan Auriga. Baru saja ia ingin melangkahkan kaki, tangannya sudah dicekal oleh Auriga.


Dengan berat hati, gadis itu menoleh dan menatap Auriga yang juga menatapnya dengan penuh harap.


"Bantuin gua pliss!" ujarnya memohon.


Hujan menghela napas pasrah. Ya, gadis itu adalah Asmirandah Hujan si gadis yang tadi Auriga tabrak.


Tak butuh waktu lama, gadis-gadis yang meneriaki nama Auriga kini sudah berada di depan mereka.


"AURIGA FOTO BARENG YUK!"


"MINTA NOMER WA-NYA DONG GANTENG."


"AURIGA GANTENG DEH, BOLEH PELUK GAK?"


Inilah yang dibenci Auriga, Ia tidak suka menjadi populer. Ucapan para gadis ini dapat membuat kepalanya pusing. Apalagi ketika mereka bicara dengan nada sok manja—centil sekali. Auriga tidak menyukainya, Ia merasa jijik dengan gadis seperti itu.


"Sorry, tapi kayaknya kalian jangan deketin gue deh. Entar cewek gue marah" ucapnya sopan.

__ADS_1


"Cewek?"


"Iya, gue udah punya pacar."


"WHAT?" Pekik gadis-gadis tersebut.


"Kenapa? Kalian gak percaya? Perlu gua buktiin?" tanya Auriga, mereka kompak mengangguk.


"Kebetulan pacar gua lagi ada di sini, iya kan sayang," ucap Auriga sembari memegang tangan Hujan erat dan menatapnya penuh harap.


Hujan dapat merasakan tangan Auriga yang sangat dingin. Tetapi ia tidak meresponnya. Hujan hanya menatap para gadis itu dengan wajah datar tanpa bicara sedikit pun.


Melihat Hujan yang tidak bereaksi sama sekali. Auriga mulai gugup dan khawatir. Berbeda dengan gadis-gadis itu, mereka tampak senang sekali.


"Hm"


Raut wajah mereka seketika berubah jadi masam. Tapi tidak dengan Auriga. Walaupun hanya kata 'Hm' itu sudah lebih dari cukup baginya. Setidaknya Hujan masih mau menolongnya.


"Kita gak percaya kalau kalian pacaran" ucap salah satunya. "Ya gak?" lanjutnya lagi. Semuanya mengangguk setuju.


"Lo gak denger Hujan ngomong Apa?" tanya Auriga kesal. "Gue kan udah bilang, kalau gue udah punya pacar dan pacar gua itu Hujan. Ngerti gak lo pada?" lanjutnya lagi, kini dengan nada tinggi.


Jangan salahkan Auriga jika ia kasar, dia sudah bicara sesopan mungkin, tetapi mereka benar-benar keras kepala.


Mereka menatap Auriga kesal. Sifat Auriga benar-benar berubah drastis pada Hujan. Pikir mereka saat itu.


Auriga muak meladeni para gadis ini. Jadi dia lebih memilih pergi dan meninggalkan mereka saja. Bodoh amat mereka mau bilang apa, Auriga tidak peduli.


"Ayo sayang kita pergi, kamu pasti laper?." Auriga memegang tangan Hujan. Lalu membawa gadis itu pergi dari sana.


****


"Makas—" ucap Auriga terpotong kala ia melihat Hujan yang pergi tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Auriga tersenyum, ia melihat punggung Hujan yang semakin menjauh.


"Awan sialan" geram Auriga. Ia baru ingat ini semua karena Awan. Andai saja Awan mengatakannya lebih awal. Auriga tidak akan mengalami hal ini.


***


"Akhirnya kelar juga. Basah sih, tapi gak papa lah, entar juga kering nih baju," ucap Auriga. Kini dia sedang berada di toilet, setelah menuntaskan urusannya, Auriga memutuskan untuk keluar dari toilet dan pergi ke kantin lagi.


Betapa kagetnya Auriga, saat dia keluar toilet. Banyak sekali gadis-gadis yang mengerumuninya. Sepertinya mereka sudah menunggu lama.

__ADS_1


Auriga tampak kaku. Ia tidak suka berada pada situasi seperti ini. Gadis-gadis itu mulai bergelayut manja ditangan Auriga. Beberapa dari mereka juga mengambil foto bersamanya. Mereka merengek layaknya anak kecil.


Auriga risih, Ia benci ini, tapi dia tidak bisa kabur sangat sulit kabur di situasi seperti ini.


"Auriga, Auriga kamu ganteng deh. Arghhh—imut banget jadi pengen nyium."


"Follow ig aku dong ganteng,"


"Ihhh—Kamu kok ganteng banget sih."


Auriga berkedip, dia mulai berpikir keras. Bagaimana caranya agar bisa kabur dari sini?


"Woy, kalian semua ngapain disini? Ini kan toilet cowok? Hush..hush...gue mau lewat" ucap seorang cowok. Bukan apa-apa, hanya saja mereka menghalangi jalannya karena berada di depan pintu toilet.


"Santai aja kali, gak usah pake acara ngegas juga " ucap salah satu gadis tersebut.


"Tau tuh," sambung yang lainnya.


"Muka burik aja belagu."


Kesempatan. Selagi para gadis itu sibuk adu bacot, lebih baik Auriga melarikan diri.


"Enak aja lo ngatain gua burik! Gua ganteng tau!" ketusnya.


"Cih, gantengan juga Auriga. Iya gak Auri—" ucap gadis itu terpotong kala dia melihat Auriga yang kabur melarikan diri.


"Guys kejar, jangan biarin pangeran kita kabur" ucapnya dan berlari mengejar Auriga dan diikuti siswi lainnya.


Auriga terus saja berlari, sesekali dia menoleh ke belakang dan ....


BRUK.


Dia terjerembab di lantai koridor yang ternyata habis dipel.


Flashback off


Jadi itu yang dimaksud Awan musibah? Awan benar, itu benar-benar musibah. Tapi, kenapa dia tidak memberi tau dirinya lebih awal. Jika saja dia memberi taunya lebih awal, Auriga kan bisa lebih hati-hati.


"Awan sialan, keparat. Awas aja lo Awan" omel Auriga. Dia benar-benar kesal, sekarang moodnya benar-benar buruk.


Bersambung...

__ADS_1


...TBC....


__ADS_2