Asmirandah Hujan

Asmirandah Hujan
Chapter 39.


__ADS_3

~Happy Readingđź’ž~


"Jangan keterlaluan!!"


Hujan tersentak kaget melihat Benua yang jatuh tersunggur di tanah. Ia lalu mendongak menatap pelaku yang baru saja memukul pria itu.


"Auriga?"


Wajah Auriga memerah menahan marah. Ia tatap Benua yang jatuh di tanah dengan wajah datar. Ia bahkan tak peduli dengan Hujan yang memanggilnya.


Benua berdiri. Ia menyeka darah yang keluar dari sudut bibirnya. Auriga terlihat tak peduli dengan luka kecil itu. Dirinya kini sedang kesal. Benar-benar kesal! Rasanya, Auriga ingin menonjok wajah itu sekali lagi.


Keduanya jadi pusat perhatian seluruh kelas yang ada di sana. Aurora, Matahari dan Awan berlari tergesa-gesa ke tempat mereka berada.


"Kenapa?" tanya Aurora pada Hujan yang hanya menatap datar dirinya tanpa bicara apapun.


Jujur, Hujan pun bingung dengan apa yang terjadi sekarang. Gadis itu memandang kedua wajah pria di depannya secara bergantian. Mata keduanya saling bersitatap tajam. Membuat Hujan bergidik ngeri melihatnya.


"Darah?! Cojut, bibir lo berdarah!!" Heboh Matahari menatap bibir dan pipi Benua yang lembam akibat Auriga.


"Woi! Kalian berdua kenapa? Gak malu? Semuanya pada ngeliatin kalian. Jadi pusat perhatian, bodoh!!" maki Awan kesal melihat kelakuan kedua orang di depannya itu.


Benua menunduk dengan wajah suram. Kemudian berkata dengan dinginnya.


"Sebelumnya gua bakal tanya secara baik-baik," kata Benua masih dengan menunduk. Tangannya memegang sudut bibir yang terasa perih. Hah ...! Ini benar-benar merepotkan.


Semua orang menatap Benua yang sedang bicara itu. Entah kenapa, tiba-tiba suasananya jadi suram. Tak ada seorang pun yang berani angkat bicara.


"Kenapa?" Ia mendongak menatap Auriga berusaha menampilkan senyum terbaik miliknya.


"Kenapa lo mukul, gua?" lanjut Benua mengubah nada bicaranya jadi dingin dan menatap datar Auriga.


Tangan Auriga mengkepal kuat hingga membuat kuku-kuku di jarinya memutih. Matanya menatap kesal Benua yang bicara itu.


"Lo masih nanya?!" teriak Auriga murka. Semua orang yang menyaksikan menelan salivanya gusar. Baru kali ini mereka melihat Auriga marah dengan seramnya.


"Lo udah keterlaluan!!"


Kedua alis Benua bertaut heran mendengar perkataan Auriga. Keterlaluan katanya? Keterlaluan apa? Sebenarnya apa yang ia lakukan sampai Auriga berkata begitu dan memukul wajahnya tanpa alasan?


Seingat Benua, tadi ia hanya memegang bibir Hujan yang terluka dan tiba-tiba saja Auriga datang dan memu ....


"Ah, begitu rupanya!" gumam Benua menyadari kesalahannya. Ia akhirnya tahu alasan pria itu tiba-tiba menyerangnya. Jadi karena itu? Wah ... Benua pikir, selama ini Auriga hanya main-main bilang suka pada Hujan. Dia salah besar!


"Keterlaluan, ya?" tanya Benua mengulang perkataan Auriga tadi sembari terkekeh kecil. Lalu tanpa aba-aba ia berlari dan melayangkan tinju membalas apa yang telah Auriga perbuat dengan wajah tampan nya.


"Ck, emang lo siapa?!" seru Benua menatap remeh Auriga yang sudah tersungkur di tanah akibat pukulan darinya.


Semua orang yang melihat kejadian itu seketika syok tanpa bisa berkata apapun. Tak ada yang berani melerai. Mereka bahkan tak tahu, apa yang membuat kedua pria tampan itu berkelahi.


Tubuh Hujan mematung. Ia juga kaget melihat Benua yang tiba-tiba memukul Auriga dengan kuatnya. Sesaat kemudian, Hujan tersadar. Diliriknya Auriga yang sedang jatuh di tanah itu.


Luka yang didapat Auriga lebih parah daripada Benua. Kepalanya bocor mengeluarkan darah. Sepertinya saat Auriga terjatuh tadi, kepalanya mengenai batu dan akhirnya jadi begini. Tak hanya itu, sudut bibir pria itu robek dengan pipi kanan yang lembam. Ukh ... benar-benar kacau!


"Ga–Auriga ...."


Lelaki itu berdiri dan kemudian menoleh menatap gadis yang baru saja memanggil namanya itu. Hujan menelan salivanya gugup. Ia bingung, apa yang harus Hujan lakukan? Siapa saja tolong hentikan perkelahian ini!


"Hah ... dasar lemah!!"


Kalimat menyebalkan itu dapat membuat emosi Auriga tersulut. Ditatapnya sinis Benua yang menatapnya santai.


"Apa?"


Bugh!


Satu bonggeman milik Auriga mendarat mulus di perut Benua. Membuat lelaki itu membungkuk memegang perutnya merasa sakit.

__ADS_1


"Brengsek!!" umpat nya balas memukul Auriga.


Bugh!


Keduanya saling pukul satu sama lain tanpa mau berhenti. Hujan memandang khawatir Auriga. Sepertinya Benua lebih unggul daripada lelaki itu. Sehingga Auriga lebih banyak mendapatkan luka.


"Hentikan!" teriak Hujan yang tak didengarkan oleh keduanya. Wajah gadis itu sudah terlihat pucat pasi.


Bugh!


Bugh!


Bugh!


Benua tak henti-henti memukul Auriga dengan membabi buta. Membuat lelaki itu meringis kesakitan.


"Lo gak punya hak! Emang lo siapa nya, hah?"


Semua orang hanya bisa menonton tak berani melerai. Mereka dibuat bingung dengan perkataan ambigu yang terucap dari mulut Benua itu.


Dada Hujan terasa sesak melihat perkelahian keduanya. Kenapa tak ada yang berani memisahkan dua cecunguk ini? Ia tatap Awan yang mematung.


Sepertinya, lelaki itu juga syok dengan perkelahian antara Benua dan Auriga sekarang. Jujur, baru kali ini Awan melihat Benua semarah itu. Selama ini, walaupun terkenal jutek dan kasar. Benua belum pernah terlibat kasus perkelahian di sekolah. Awan tak habis pikir, Benua yang ia kenal sejak SMP ternyata jago berkelahi.


"Iya, gua gak punya! Lantas, apa lo punya hak?"


Auriga membalikkan posisi dan menghajar Benua dengan gila nya. Ia bahkan tak peduli dengan tatapan orang-orang yang kini sedang tertuju padanya.


"Hentikan!!"


Suara Hujan terdengar bergetar seperti menahan tangis. Membuat pergerakan Auriga dapat terhenti. Lelaki itu menoleh hendak melihat keadaan Hujan sekarang.


Bug!


"Akhh ...!"


Benua berdiri sempoyongan. Lukanya juga cukup parah. Tapi ia masih bisa menahannya. Dengan wajah dingin Benua menatap Auriga yang baru saja berdiri itu.


"Jangan lengah!" ucap Benua tersenyum remeh. Ia bersiap untuk memukul Auriga lagi.


"Kali ini gua gak bakal lengah!" balas Auriga tanpa ekspresi. Dirinya juga siap untuk memberikan pukulan pada wajah lelaki itu.


Hujan menatap syok keduanya. Mereka sudah gila? Mau adu pukul? Dasar bodoh!


"Berhenti!!" teriak Hujan dengan mata yang terpejam. Ia tahu ini tindakan yang nekat. Tapi, mau bagaimana lagi?! Ia harus menghentikan perkelahian ini.


Tinju keduanya terhenti di udara. Pukulan mereka hampir saja mengenai Hujan yang tiba-tiba berdiri di tengah-tengah sembari berteriak. Untung saja mereka bisa menahan pergerakannya. Jika tidak, entahlah! Entah apa yang akan terjadi pada gadis itu.


Perlahan Hujan membuka matanya. Tinju kedua orang itu masi tertahan di udara. Hampir mengenai wajahnya. Ia lirik Auriga dan Benua secara bergantian. Lalu dengan gusar menelan salivanya dan menurunkan kedua tangan mereka perlahan.


Auriga dan Benua yang melihat reaksi gadis itu. Dengan kompak membuang wajah ke samping. Keduanya tersenyum geli. Lalu secara besamaan berdehem kecil.


****


Tok, tok, tok.


Petir yang tadinya sedang terfokus pada layar komputer. Kini menoleh menatap pintu kamar.


"Masuk," titahnya.


Terdengar suara pintu yang dibuka. Menampilkan seorang pria paruh baya. Namanya adalah Irwin. Irwin merupakan orang kepercayaan Petir. Ia sudah bekerja pada Indra cukup lama.


"Saya sudah menjalankan semuanya. Sesuai perintah yang anda berikan, tuan."


Petir mengganguk.


"Bagus. Di mana wanita itu sekarang?" tanya Indra meminum kopi nya yang sudah dingin.

__ADS_1


"Ada di kamar tamu. Awalnya kami sudah membujuknya secara baik-baik, tapi ia menolak dan tak mau ikut. Jadi, sesuai perintah anda, kami membawanya secara paksa. Lalu mengurungnya di dalam kamar tamu."


"Kamar tamu?"


"Tenang saja, di depan pintu kamar itu sudah saya tempatkan dua bodyguard penjaga. Jadi, dia tak akan bisa kabur dengan mudah," jelas Irwin menatap tegas Petir. Inilah yang Indra suka darinya. Irwin sangat teliti dan tegas.


"Hmmm, baiklah! Bawa dia ke sini."


"A–apa?"


"Kau tuli?"


"Ba–baiklah, tuan Muda." Irwin melangkah kan kakinya pergi dari sana. Meninggalkan Indra yang menatap kosong layar komputer di depannya.


Pikirannya mulai kalut. Mengingat sang adik yang sedang berkemah di hutan. Apa dia baik-baik saja?


"Jika aku mati, tak akan ada yang peduli."


"Kenapa kau mencariku, kak?"


"Menjauhlah, aku tak butuh hiburan."


"Aku ini monster."


Kalimat-kalimat kejam yang diucapkan Hujan beberapa waktu lalu, masi terngiang-ngiang di pikiran Indra.


"Hah ...!" Ia menghela nafas lelah.


"Monster apanya? Kau bahkan lebih baik daripada malaikat," gumam Petir tersenyum miris.


"Tuan, saya sudah membawanya."


Suara lantang milik Irwin dapat membuyarkan lamunan Indra. Cepat juga dia sampainya.


"Masuk."


Irwin menurut masuk dengan dua orang bodyguard dan satu wanita dengan mulut dilakban di belakangnya.


"Lepas lakban nya," titah Petir sembari menatap wanita yang tengah menatap tajam dirinya itu. Bodyguard itu mengangguk lantas membuka lakban pada mulut si wanita.


"Dasar anak kurang ajar! Brengsek! Keparat! Mati saja kau sialan!!"


Kata-kata kasar itu langsung saja keluar dari mulutnya kala lakban itu dibuka. Irwin yang mendengarnya hanya bisa memejamkan mata dalam diam. Itulah sebabnya ia menutup mulut wanita ini. Dia sangat berisik.


"Rupanya Dokter juga bisa berkata kasar, ya?"


"Aku kan sudah bilang, jadwalku penuh hari ini! Kenapa kau terus memaksaku, bocah tengik?!"


"Saya hanya ingin mendengar cerita tentang penyakit Adik saya. Bukankah, anda adalah dokter yang bertanggung jawab atas adik saya? Dokter Sherin."


"Sebelum itu, lepaskan aku dulu brengsek!!" umpat Sherin meronta mencoba melepaskan dirinya dari pegangan salah satu bodyguard itu.


"Wah ...! Anda benar-benar tidak sopan, ya? Dari tadi bicara kasar terus," kekeh Petir.


"Lepaskan tangannya," lanjutnya lagi memberi perintah pada bodyguard. Bodyguard itu mengangguk dan akhirnya melepaskan tangan Sherin.


"Kau lah yang tidak sopan! Menculik orang di depan rumahnya sendiri. Dasar bocah! Hah ... anak dan suamiku pasti sedang khawatir."


"Tenang saja, orangku sudah menghubungi suamimu. Lalu mengatakan kalau kau punya jadwal mendadak hari ini dan akan pulang besok," jawab Petir enteng.


"Sekarang, kau bisa mengatakan segalanya dengan tenang 'kan, Dok?" lanjutnya menampilkan senyum manis.


Sherin menatapnya kesal, ingin sekali ia menampar wajah menyebalkan itu. Rupanya anak ini sudah mengatur semuanya.


"Dasar bocah tengik!!"


TBC ...

__ADS_1


__ADS_2