Asmirandah Hujan

Asmirandah Hujan
chapter 13.


__ADS_3

...~HAPPY READING~...


*****


"Oke, kalau gitu, gua dah tau apa permainan yang cocok," ucap Auriga tersenyum penuh arti.


"Apa?" tanya mereka kompak.


"Memasak," jawab Auriga semangat.


Semuanya kompak menatap Auriga dengan tatapan membunuh.


"Pletak." satu jitakan dari Hujan mendarat mulus di kepala Auriga. Tak hanya Hujan, Raihan, Siska Sagita dan juga Aurora ikut memukul Auriga, mereka kesal dengan Auriga karena bicara seenak jidatnya saja. Dikirain masak itu permainan kali ya?!.


"Aduh ... kok kalian pada mukul gua sih?! salah gua apa woy?!" ucap Auriga kesal dan dengan tangan yang tak henti-henti mengusapi kepalanya yang terasa sakit.


"Gua salah percaya sama lo, ternyata lo orangnya bego!" kesal Matahari.


"Tau tuh! emang lo kira masak itu permainan hah?!" sambung Benua.


"Bikin kesel gua lo Ga!" balas Sagita.


"Iya, masa permainannya masak sih?! kan gak nyambung!" sahut Aurora.


Hujan? gadis itu hanya diam saja, tetapi tidak dapat dipungkiri dia sangat senang melihat Auriga sekarang.


'Hii ... hii ... hii rasain lo Auriga! gantiankan lo yang kalah suara, mompos! syukurin! sebenarnya gua tau maksud lo apa, tapi gak tau kenapa, gua seneng aja liat lo menderita hii ... hii ... hii,' batin Hujan tertawa jahat.


"Kalian ini kebiasaan ya! dengerin dulu dong! gua belom selesai ngomong tau!!" kesal Auriga. Auriga tebak, pasti Hujan tau maksud Auriga, tapi gadis itu ternyata menyebalkan juga, dia hanya diam saat Auriga dianiaya. Huh dasar gadis licik!.


"Yaudah selesain dong! ngomong kok separuh-separuh, kalau ngomong itu yang jelas!!" ketus Siska.


"Gak usah ngegas juga kale!" sahut Sagita.


"Lah? lah? lah? yang diomongin siapa? yang nyahut siapa?!"


"Serah gua lah!!"


"Dasar cowok jutek lo!!"


"Lo tu yang--"


"Udah-udah kok jadi pada ribut sih?! dengerin tuh si Daffa mau ngomong apa," ucap Benua menengahi.


"Udah? bisa diam gak? biar gua lanjut nih!" ucap Auriga.


"Lanjut," jawab mereka kompak terkecuali Hujan, gadis itu sepertinya sudah tau, apa yang dimaksud Auriga


"Oke. Gua milih memasak karna cewek kan pada umumnya harus mahir dalam memasak, nah lo dua kan cewek nih, jadi--"


"Gak, yang cewek cuman gua doang," potong Hujan.


"Wah ... ngajakin brantem nih si es batu, lo kira gua apa hah? cowok gitu?!" kesal Matahari.


"Hahaha ... bener banget Jan, gua setuju sama lo," sahut Sagita dengan terkekeh.


"Ini lagi, si cowok jutek, sama aja lo bedua!!" ucap Matahari kesal. Bisa-bisanya mereka bilang, kalau dia bukan cewek! kalau bukan cewek apalagi? cowok gitu?! ck, mereka buta kali ya?!.


"Kalian ini suka banget ya motong orang bicara!!" ketus Auriga.


"Lanjut deh lanjut," balas Benua.


"Hm. Jadi maksud gua, kalau lomba masak kan lebih adil, karena cewek itu harus mahir dalam memasak, kalian kan cewek, pasti bisa masak dong? kalau gak bisa ya, mana gua tau lah."


"Bisa," jawab Hujan singkat dan padat.


"Bi--bisa kok, gu--gua kan cewek," jawab Matahari gugup.

__ADS_1


"Waduh, kok gua rada curiga ya? kayaknya ada yang bohong nih," sindir Sagita.


"Maksud lo apa hah?! gua emang bisa masak kok," jawab Matahari.


"Gua gak bilang elo kok ... tapi, lo nya aja tuh yang bilang kayak gitu, makin curiga gua."


"Cowok ini kok nyebelin ya? woy Ga, boleh gua gebukin gak nih, teman lo?"


"Gebukin aja."


"Wah ... selain aneh, nih cewek bar-bar juga ya," ucap Sagita terkekeh.


Siska menatap Sagita dengan tajam, sedangkan yang ditatap tampak biasa saja.


"Sabar Ta ... sabar," ucap Aurora sembari mengelus punggung Matahari pelan.


"Udah?"


Semuanya menoleh pada Hujan, ya Hujan lah yang bicara, gadis itu ternyata muak juga melihat perkelahian antara Sagita dan Matahari.


"U--udah," jawab mereka kompak. Entah kenapa, saat Hujan yang bicara rasanya seperti berbicara pada seseorang yang benar-benar harus dihormati.


"Tempatnya?" tanya Hujan singkat dan padat.


"Bisa gak Jan, kalau ngomong tuh dipanjangin dikit, gak usah terlalu irit lah ngomongnya. Gua sih ngerti maksud lo, tapi takutnya kecurut-kecurut ini yang gak ngerti," ucap Auriga dengan senyum paksa. Entahlah ternyata berbicara dengan Hujan harus punya mental dan hati yang kuat.


"Apa maksud lo kecurut-kecurut?!" ketus Matahari.


"Bukan apa-apa." jawabnya acuh, malas sekali jika harus berdebat dengan Matahari.


"Jadi, yang dimaksud Hujan tempat apa sih?!" Benua yang tadinya diam kini bicara.


"Bodoh!" ucap Hujan dingin.


Auriga menghela napas, susah sekali bicara dengan orang yang otaknya tidak sampai.


"Oh gitu toh, mana kita ngerti orang dia ngomongnya gak jelas sih!!"


"Kalian aja yang bodoh!" sahut Hujan.


"Ck, serah lo deh."


"Jadi, kalian bingung masalah tempat ya?" tanya Aurora


'Dah tau, masi aja dianya' batin Hujan.


"Iya Ra, lo tau tempat yang bagus?" tanya Auriga.


"Gimana kalau di rumah gua aja?"


"Orang tua lo gimana?"


"Tenang aja, mereka lagi kerja di luar negri,"


"Gapapa nih?"


"Gapapa kok," jawabnya dengan tersenyum ramah.


"Oke. Kalau gitu, tempatnya di rumah Aurora ya."


"Sip," jawab mereka kompak terkecuali Hujan.


"Eh tunggu dulu," ucap Hujan.


"Kenapa Jan?" tanya Auriga.


"Kalian kan cuma bantuin milih lombanya!"

__ADS_1


"Trus?"


Hujan menggema napas, berbicara dengan orang bodoh memang susah.


"Kenapa kalian juga ikut ke rumah Aurora?!"


"Oh itu, biar kita jadi juri nya lah," jawab Auriga santai.


"Gua gak sudi!"


"Siapa yang minta pendapat lo?"


"Serah!"


"Oke, kalau semuanya udah setuju, gimana kalau lombanya malam minggu aja?" tanya Auriga semangat.


'Ck, siapa yang setuju?! lagian mau masak aja, kenapa harus malam minggu?!' batin Hujan kesal.


"A--anu Ga," ucap Aurora gugup.


"Iya Ra? lo keberatan?"


"Ma--maksud gua, apa baik kalau malam? kan gak enak bawa anak cowok malam-malam ke rumah."


"Lo tinggal sendiri?"


"Enggak kok, gua tinggal sama pembantu, sama supir gua juga."


"Nah, terus supir lo itu, cowok apa cewek?"


"Cowok lah.


"Trus ngapain gak enak, lagian kita kan cuma sebentar doang, gak sampek nginep kok."


"Oh gitu ya?" tanya Aurora polos.


"Ya ampun Ra, lo polos banget sih ... gua suka," ucap Benua dan tanpa sadar tangannya kini mengusap kepala Aurora dengan lembut.


Aurora berkedip, wajahnya memerah menahan malu. Tanpa sadar, Aurora menonjok wajah Benua karna takut.


"Kyaaaa ... ja--jangan sentuh gua!" ucap


Aurora gugup.


"Pffff ... bwahahaha ...," tawa semuanya pecah terkecuali Hujan saat melihat reaksi Aurora.


"Syukurin!"


"Makanya Nu, jangan main nyosor aja!"


"Tau tuh! emang enak kenak tonjok?!"


Benua mengusap pipinya yang terasa panas, sungguh dia tak berniat melakukannya, tapi tangannya ini sungguh lucknat! main usap kepala orang seenaknya.


"Ma--maaf Ra, gu--gua gak sengaja," ucap Benua gugup.


"Gak sengaja apanya? mana ada orang yang gak sengaja ngusap kepala orang lain," balas Matahari terkekeh.


"Sampai ada kata suka lagi," sahut Sagita terkekeh.


"Kasian, malah ditonjok tuh mukanya," balas Auriga.


Mereka bertiga dengan kompak menertawakan Benua dengan semangat. Sungguh teman lucknat!!


Bersambung....


...TBC....

__ADS_1


__ADS_2