Asmirandah Hujan

Asmirandah Hujan
Chapter 57.


__ADS_3

...~HAPPY READING~...


***


Aurora terbangun dari tidurnya dan langsung beringsut duduk. Mengusap mata beberapa kali sembari mengumpulkan nyawa sepenuhnya.


Ia menguap lalu menoleh ke samping, mendapati Matahari yang masi tidur nyenyak. Ah! Aurora baru ingat, kalau mereka menginap di Apartemennya Hujan tadi malam.


DREET DRET!!!


Suara getaran ponsel Aurora dapat mengalihkan perhatiannya. Tangannya meraih ponsel itu dan kemudian berdiri, melihat panggilan masuk.


Ayah is calling ....


Seketika Aurora menelan Saliva nya gusar. Berbalik, melihat Matahari yang masih tertidur nyenyak. Ia berjalan ke luar dan pergi ke kamar mandi.


Sesampainya di kamar mandi, Aurora menggeser tombol hijau. Menjawab panggilan masuk dengan suara pelan.


"Halo, Ayah. Ada apa?"


[Kau! Dasar, kemana saja kau seharian? Kenapa gak pulang?]


Suara Hendri terdengar marah. Jika orang mendengarnya, mereka akan mengira bahwa Hendri khawatir dengan Aurora yang tak pulang. Padahal, Aurora tahu jelas, Ayahnya itu pasti takut kalau Aurora bermain-main dan tak melakukan tugas yang ia minta.


"Maaf, aku menginap di tempat Hujan. Hari ini adalah hari ulang tahunnya, jadi kami akan merayakannya nanti."


[Ho ... jadi, gadis itu ulang tahun hari ini, ya? Baguslah, laksanakan saja tugasmu dengan baik.]


"...."


[Melihatmu sudah menginap di rumahnya. Sepertinya dia sudah sangat percaya dengan putriku ini ya]


"...."


[Hahah! Bagaimana kalau kau mulai menggali informasi tentangnya? Seperti, di mana Ibunya Hujan sekarang? Apa bisnis keluarga mereka lancar?]


"....."


[Kenapa kau hanya diam? Cepat jawab aku!]


Aurora menghela nafas berat, sepertinya mulai sekarang Hendri akan memberinya tugas-tugas aneh dan merepotkan.


"Baik, akan kulakukan seperti kata Ayah," jawab Aurora memutuskan panggilan secara sepihak.


"Aurora, lo dimana?"


Deg!


Teriakan Matahari dapat di dengar olehnya. Rupanya gadis itu sudah bangun. Untunglah, Siska tak sempat mendengar pembicaraan Aurora di telpon tadi. Ia lantas keluar dari kamar mandi dan balas berteriak menjawab pertanyaan Matahari.


"Gua di sini!"


****


Tok, tok, tok!


Suara ketukan pintu dapat membuyarkan lamunan Hujan. Gadis yang tadinya menengok ke luar jendela, kini menoleh ke arah pintu kamar.


"Nona, apa saya boleh masuk? Ini saya Irwin, saya membawakan Susu hangat untuk Anda."


"Pergilah."


"Hah?"


"Aku tak butuh susu," jawab Hujan dingin, kembali menatap ke luar jendela dengan wajah sendu. Entah kenapa, hari ini dia sangat tak bersemangat.


Kriett ....


Suara pintu dibuka. Padahal Hujan sudah bilang kalau ia tak butuh, kenapa orang ini keras kepala sekali? Dengan wajah kesal, Hujan berbalik dan berkata.


"Sudah kubilang akuโ€”"


"Aku apa, hm?"


"Kak Petir."


Yap! Indra lah yang masuk. Ditangannya ada sebuah nampan dengan segelas susu. Petir berjalan ke tempat Hujan, memberikan susu pada gadis itu dengan tersenyum hangat.


"Ayo, minum!"


Hujan menggeleng, mengalihkan pandangannya ke samping. Tak memperdulikan kedatangan Petir sama sekali.


"Tidak perlu," jawabnya dengan mata yang terfokus menatap burung-burung beterbangan di langit.


Hujan berpikir, burung itu makhluk yang bebas, ya. Mereka bisa terbang ke mana saja mereka mau, tanpa harus merepotkan orang lain.


"Ayo minum, kapan lagi ada cowo ganteng yang bawaiin susu buat kamu yang seperti Putri."


Hujan tersenyum tipis mendengar lelucon garing Petir. Pada akhirnya, dia mengambil susu itu dan meminumnya hingga setengah.


"Makasih, Kak."


Petir tersenyum.


"Cepat mandi sana ini udah siang banget, loh."


"Hm."


***


Tak terasa waktu berlalu begitu cepat. Sesuai rencana mereka kemarin, malam ini mereka akan membuat pesta kejutan untuk Hujan.

__ADS_1


Semunya sudah berkumpul di Apartemen gadis itu. Persiapan mereka benar-benar sempurna. Hanya tinggal menyuruh Hujan datang dan boom! Pasti menyenangkan.


"Ayo, buruan! Panggil Hujan ke sini," kata Sagita tampak antusias.


"Eleh, segitu gak sabarnya lo makan kue, Ta?" timpal Benua terkekeh geli melihat Sagita yang tak henti-henti memandang kue tart itu sedari tadi.


"Dasar bocah! Doyan kok sama kue," sahut Auriga bertos ria dengan Benua.


Kedua orang itu tampak semangat menertawakannya. Sagita berdehem kecil lantas berkata dengan santai.


"Gapapa doyan kue, dari pada lo berdua, doyan cewek tapi gak berani ngungkapin hahahah! Dasar pecundang!"


Jlep!


Satu kalimat dari Sagita dapat membuat keduanya terdiam. Benua melirik Aurora sekilas, gadis itu tampak sibuk menata meja. Untung saja Aurora tak dengar. Mulut Sagita kalau bicara memang suka pedas.


Tak!


"Apaansih? Sakit bodoh!" kesal Sagita mengusap pelan kepalanya yang baru saja dijitak oleh Auriga.


"Makan tuh, kue!" balas Auriga tersenyum jengkel.


Matahari melirik ketiga pria itu dengan tatapan malas. Entah apa yang mereka obrolkan sampai-sampai tampak sedang cekcok. Entahlah, Matahari juga tak ingin tahu.


Tangannya merogoh saku, membuka aplikasi WahtsApp dan menuliskan pesan di sana.


๐—”๐—ป๐—ฑ๐—ฎ


๐˜Œ๐˜ด ๐˜‰๐˜ข๐˜ต๐˜ถ, ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ณ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜จ๐˜ธ


๐˜‹๐˜ช ๐˜ˆ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ณ๐˜ต๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ ๐˜ญ๐˜ฐ


๐˜‰๐˜ถ๐˜ณ๐˜ถ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฑ๐˜ถ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜บ๐˜ข๐˜ฌ!


19.35โ€ข


๐— ๐˜‚๐—ธ๐—ฎ ๐—ง๐—ฟ๐—ถ๐—ฝ๐—น๐—ฒ๐—ธ๐˜€


๐˜”๐˜ญ๐˜ด


โ€ข19.40


๐—”๐—ป๐—ฑ๐—ฎ


๐˜‰๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ๐˜ด๐˜ต:)


19.40โ€ข


๐— ๐˜‚๐—ธ๐—ฎ ๐—ง๐—ฟ๐—ถ๐—ฝ๐—น๐—ฒ๐—ธ๐˜€


Read


Seketika Matahari meremas ponselnya dengan kesal karena pesan Hujan yang singkat bahkan menolaknya. Sudah membalas lama dan sekarang? Pesannya di baca begitu saja! Gadis itu benar-benar menyebalkan!


Aurora menghentikan aktivitasnya. Kemudian menoleh, menatap Matahari dengan satu alis terangkat.


"Hm?"


"Si Es batu gak mau dateng, gimana dong?! Mana balas pesan gua singkat amat lagi! Ck, udah kaya seleb tuh bocah!"


Matahari terkekeh kecil mendengar omelan Matahari.


"Bentar, biar gua yang coba."


"Terserah, palingan juga hasilnya sama."


๐—”๐—ป๐—ฑ๐—ฎ


Jan, ๐˜จ๐˜ธ ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฏ Matahari ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ข


๐˜ฅ๐˜ช ๐˜ˆ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ณ๐˜ต๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ ๐˜ญ๐˜ฐ ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ณ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ


๐˜“๐˜ฐ ๐˜‹๐˜ช ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ข? ๐˜ˆ๐˜บ๐˜ฐ, ๐˜ฅ๐˜ฐ๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฑ๐˜ถ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ


๐˜’๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ๐˜ฆ๐˜ฏ ๐˜ฏ๐˜ช๐˜ฉ:'(


19.47โ€ข


Hujan


๐˜š๐˜ฌ๐˜ณ๐˜ฏ๐˜จ?


โ€ข19.47


Matahari melotot kaget membaca pesan gadis itu. Ia langsung saja berseru tak terima.


"Ck! Pilih kasih, giliran gua aja balasnya lama! Eh, elo langsung dibalas! Jahat banget si Es Batu."


"Hahaha, sans dong Ta. Mungkin tadi Hujan lagi sibuk." Lagi dan lagi Aurora terkekeh, dia kembali terfokus pada layar ponselnya dan membalas pesan Hujan.


๐—”๐—ป๐—ฑ๐—ฎ


๐˜๐˜บ๐˜ข Jan, ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ณ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ:)


๐˜‰๐˜ฐ๐˜ญ๐˜ฆ๐˜ฉ ๐˜จ๐˜ข๐˜ฌ?^^


19.49โ€ข


Hujan


๐˜ 

__ADS_1


๐˜–๐˜ต๐˜ธ


โ€ข19.50


๐—”๐—ป๐—ฑ๐—ฎ


๐˜๐˜ข๐˜ต๐˜ช-๐˜ฉ๐˜ข๐˜ต๐˜ชโ™ก(โ—โ€ขแด—โ€ขโ—)โ™ก


19.50โ€ข


Hujan


Read


Aurora tersenyum puas dengan jawaban Hujan. Sedangkan Matahari, gadis itu tampak sangat jengkel. Mulutnya terus saja menggerutu tak jelas.


****


Hujan tampak celingak-celinguk mencari sosok Aurora dan Matahari. Kini dia sudah sampai di depan Apartemennya. Namun, sedari tadi Hujan tak melihat batang hidung kedua orang itu. Padahal ini sudah pukul 20.25 wib. Apa mungkin mereka sudah pulang?


"Cek ke dalam aja. Mana tau ada."


Petir tersenyum manis, merangkul bahu Hujan dengan akrab. Karena malam hari, Petir meminta ikut dengan Hujan. Meski ia sudah menolaknya, Kakanya itu tetap bersikeras ingin ikut. Sebenarnya, Hujan merasa sedikit aneh dengan hari ini. Yang benar saja, apa yang Aurora dan Matahari lakukan malam-malam meminta menemuinya, bukankah itu mencurigakan?


"Ngapain bengong? Ayo, kita masuk!" ajak Petir. Hujan mengangguk setuju, berjalan mendekati pintu dan membuka kenopnya.


KRIEET.


Gelap, apa Hujan lupa menghidupkan lampu rumahnya saat pergi semalam? Setahu Hujan, dia tak pernah lupa, karena benci akan kegelapan, gadis itu selalu menyalakan lampu.


Hujan menelan salivanya gusar, ia berbalik hendak meminta Indra menemaninya masuk. Namun, langsung saja gadis itu terperanjat kecil saat menyadari Petir yang tiba-tiba menghilang.


"Kak Petir?"


Tak ada jawaban. Jantung Hujan berdetak kencang, ini sangat gelap, ayolah Hujan! Jangan menyusahkan orang! Kau bisa, ayo nyalakan lampunya!


Perlahan kakinya melangkah masuk. Meraba raba tembok dan akhirnya menemukan tombol untuk menyalakan lampu.


Langsung saja Hujan menekan tombol itu dan .....


"Kejutan!"


Aurora dan Matahari berseru antusias. Hujan berbalik, menatap sekelilingnya dengan lekat.


Tampak pita-pita yang melekat pada tembok dan tertera tulisan 'HAPPY BRITHDAY HUJANโ™กโ™ก' dengan indah di sana.


Auriga, Sagita, Benua dan bahkan Kakak nya Petir juga ikut menyanyikan lagu untuknya. Matahari, memainkan piano dengan mahir menghasilkan irama yang merdu. Sedangkan Aurora gadis itu memegang kue bolu coklat nan cantik dan kelihatan enak dengan lilin berbentuk angka 17.


Happy brithday to you


Happy brithday, to you ....


Happy brithday .... Happy brithday


Happy brithday, to you


Suara nyanyian itu selesai seiring berakhirnya musik piano. Semuanya tersenyum hangat pada Hujan. Aurora melangkah maju, menyodorkan kue pada Hujan yang masi mematung. Meminta agar Hujan mengembus lilin yang ia pasang.


"Happy brithday Hujan." Aurora tersenyum manis dengan kue yang berada di tangannya.


Hujan masi tak berkutik. Matanya menatap lekat kue ulang tahun itu. Tangan Hujan mengepal kuat, wajahnya merah padam dengan nafas yang tak berturan.


"Jan, ayo tiup liโ€”,"


PRANG!


Perkataan Aurora terpotong, kala Hujan tiba-tiba melempar kue itu ke lantai hingga tak berbentuk. Ia tutup mulut syok dengan sikap Hujan.


Semua perhatian mereka langsung saja tertuju pada sosok Hujan dengan wajah kaget.


Hujan menggeleng kuat, menatap semua dekorasi yang ada dengan amarah. Bibirnya tampak pucat. Dia berjalan ke arah tembok, mencabut pita-pita dan balon dengan membabi buta.


"GAK!!!" seru Hujan histeris, menarik semua pita hingga putus.


Kemudian dia beralih pada meja yang penuh dengan hidangan. Dengan kesal, Hujan membalikkan meja itu hingga membuat semua barang jatuh dan pecah.


"Singkirkan!"


Prang.


Gdebuk.


Buakh.


Suara barang dilempar terdengar di mana-mana. Mengisi suasana hening yang ada. Hujan, gadis itu menghancurkan semuanya.


Dengan napas yang tampak ngos-ngosan, Hujan berjalan ke tempat Aurora. Ia gertakan gigi karena marah lantas berteriak pada gadis itu.


"Gua benci! Gua benci hari lahir! Gua benci lo!!" teriak Hujan dengan air mata yang sudah menetes sepenuhnya.


Aurora tampak sangat ketakutan, tubuhnya gemetaran. Hatinya sakit. Baru kali ini ia melihat Hujan semarah dan segila itu.


Hujan berbalik, menatap satu persatu orang yang ada di sana dengan tajam. Aurora, Auriga, Sagita dan Benua. Semuanya masi tampak sangat syok, mereka masi bingung.


"GUE BENCI LO SEMUA!!" teriak Hujan penuh emosi.


PLAK!


Seseorang menampar pipi Hujan dengan kuat hingga membuat gadis itu tertoleh ke samping. Memegang pipinya yang terasa perih. Lalu mendengarkan teriakan dari orang yang baru saja menamparnya.


"Gak punya hati, lo!!"

__ADS_1


Bersambung....


...TBC....


__ADS_2