Asmirandah Hujan

Asmirandah Hujan
Chapter 64


__ADS_3

...~HAPPY READING~...


*****


Hujan berlari seperti dikejar hantu. Menelusuri setiap lorong rumah yang besar nan megah dengan banyak keringat. Langkahnya berhenti tepat di depan pintu salah satu kamar tamu. Gadis itu berbalik ke belakang untuk memeriksa situasi.


Aman! Sepertinya mereka tertinggal di belakang. Dengan cepat Hujan membuka kenop pintu dan masuk ke dalam sana, lalu menutupnya rapat.


"Hujan!"


Teriakan Auriga dapat terdengar olehnya. Hujan mengintip dari balik pintu. Di sana Auriga tengah berdiri dengan wajah merah padam. Entah dia marah atau tidak, Hujan juga tak tahu.


Gadis itu menekuk kedua lutut dengan tangan menutupi wajah frustasi. Menunggu kepergian Auriga dari luar sana.


"Kenapa lo harus menghindar?" tanya Auriga berteriak.


Hujan mendengarkan dalam diam. Dia memang pengecut, yah ... Hujan tau itu. Matanya menatap kosong ke depan sembari melamun hampa.


"Kita udah tau semuanya!"


Hujan tersentak dari dalam kamar.


"Tentang lo yang trauma dengan hari lahir," seru Auriga dengan lantang.


Entah kenapa Auriga ingin mengatakan semuanya sekarang, meski dia tak dapat melihat wajah Hujan. Auriga yakin, gadis itu pasti bisa mendengarnya.


"Tentang hutan."


Deg!


"Bullying, penderitaan lo! Bahkan Orion! Kita tau semuanya!!"


Dada Hujan terasa sesak saat Auriga mengatakan satu persatu masa kelamnya. Gadis itu menangis tertahan, hatinya sakit seperti di hujami ribuan jarum.


"Karena itu, gua dan yang lainnya mau minta maaf sama lo. Kita gak tau penderitaan lo dan seenaknya buat lo marah."


"....."


"Lo bener-bener kuat, Jan. Gua salut sama diri lo yang begitu. Kit— ah tidak! Gua mohon ... tolong jangan menghindar, jangan pergi seenaknya."


"....."


"Ayo pulang bareng gua, jangan begini. Kita semua nungguin lo."


"....."


"ASMIRANDAH HUJAN!" Auriga memanggil namanya dengan lantang.


"LO BENER-BENER BERHARGA! BUAT GUA, MATAHARI, DAN YANG LAINNYA."


Tes.


Hujan tidak kuat lagi, pertahanannya runtuh. Hati gadis itu tersentuh. Untuk pertama kalinya ada orang yang mengatakan dirinya 'berharga' setelah sekian lama.


Auriga menunduk dengan tangan yang mengepal kuat hingga kuku-kuku itu memutih. Pria itu terlihat sangat marah sekaligus kecewa karena belum menemukan Hujan sedari tadi.


Tepat pada saat Auriga hendak melangkah pergi, ada tangan yang memeluknya dari belakang. Terdengar suara tangisan yang sangat familiar baginya.


Auriga tersenyum kecil, mengusap tangan itu dengan lembut lantas berbalik dan balas memeluk Hujan.


"Maaf. maafin gua," lirih Hujan menangis terisak dalam pelukan Auriga.


Ia tau ini sangat memalukan tapi Hujan tak peduli. Dia sungguh ingin menangis dalam dekapan Auriga. Mencurahkan semua keluh kesah yang selama ini ia pendam.


Auriga mengusap lembut rambut gadis itu. Mencoba untuk menenangkannya.


"Nangis sepuasnya, gua gak bakal nyuruh lo buat diam," kata Auriga.


"Hiks, sakit! ukh ... gua capek."


Hujan memukul dada bidang lelaki itu dengan kuat. Melampiaskan semua kemarahannya. Auriga hanya diam membiarkan Hujan, ini sedikit sakit tapi dia masi bisa menahannya.


Matahari, Sagita dan Benua baru saja sampai menyusul Auriga. Mereka bertiga dapat melihat Hujan yang tengah menangis dengan Auriga yang memenangkannya.


"Es ba. Hamph ...!"

__ADS_1


Matahari membrontak, mencoba untuk melepaskan tangan yang membungkam mulutnya. Ia mendongak ke atas, melihat pelaku.


Tampak Sagita yang tengah menatapnya datar. Lelaki itu kemudian mengangkat jari telunjuk dan meletakkannya pada bibir.


"Shut! Diem," bisik Sagita.


"Hmpahin hmhu hanghan hm! Lepasin dulu tangan lo!"


Sagita mengangguk lantas melepaskan tangannya yang membungkam mulut Matahari tadi. Membuat gadis itu menghela napas kesal.


Benua memandang adegan di depannya dengan wajah suram. Melihat Hujan dan Auriga yang berpelukan entah kenapa membuat dirinya jengkel. Apalagi ketika Benua melirik Sagita dan Matahari yang tengah asik berbisik sendiri. Mereka terlihat mesra. Ah, ini benar-benar menyebalkan!


"Gua mau pergi aja," kata Benua lesu dan kemudian berlalu pergi dari sana.


"Ayo kita juga pergi!" ajak Sagita menggenggam tangan Matahari paksa.


"Gua gak ma—"


"Jangan jadi nyamuk, bodoh!"


"Ck."


Ketiganya memilih untuk pergi meninggalkan Auriga dan Hujan. Mereka tidak ingin mengganggu kedua orang itu.


Sementara Dani yang sedari tadi mengawasi dari kejauhan terlihat tidak suka. Matanya sedari tadi tidak lepas pada tangan Auriga yang mengusap rambut cucunya.


"Ck, singkirkan tanganmu dari sana."


Ia bergumam kesal.


*****


Malam berganti pagi, kicauan burung-burung terdengar di sana-sini. Embun pagi membasahi dedaunan dan udara segar terhirup dengan nyaman.


Auriga membuka jendela kamar, membiarkan cahaya masuk menerpa wajah kedua pria yang masi nyenyak dengan tidurnya.


"Ugh ...," lenguh Benua, melindungi wajah dengan tangan.


"Ga, tutup jendelanya. Silau," lanjutnya lagi sembari menguap, masi dengan mata yang terpejam.


Diliriknya Benua yang asik menutupi seluruh tubuh dengan selimut. Pria itu bahkan tak terusik dengan cahaya yang masuk.


"Bangun lo berdua!" sungutnya.


"Lima menit lagi," jawab Benua mendengkur.


Auriga berdecak.


"Udah gak Sholat subuh."


Jlep!


"Gak mandi seharian."


Jlep!


"Pemalas."


Jlep!


"Num—"


"Iya, iya! Kita bangun, puas lo?" kesal Benua tak tahan lagi mendengar hinaan dari Auriga.


Kedua orang itu bangun dari kasur dengan wajah khas bangun tidur. Berjalan seperti zombie menuju kamar mandi.


"Lama-lama lo kaya Emak gua," cibir Benua berlalu pergi.


Auriga terkekeh, merapikan tempat tidur yang berantakan. Ini sudah menjadi kebiasaan baginya sejak kecil.


Tok, tok, tok.


Suara pintu kamar diketuk dapat membuat perhatian Auriga teralihkan. Dia berjalan ke arah pintu lalu membukanya perlahan.


"Hujan?"

__ADS_1


Yap, mereka menginap di rumah kakek Hujan kemarin. Rencananya mereka akan pulang ke Jakarta hari ini bersama Hujan.


"Ada apa?" tanya Auriga melihat Hujan yang hanya diam membeku.


"Gua ... mau ...."


Auriga menyerngit.


"Mau?"


Gleg.


Hujan menelan salivanya kasar. Meremas ujung roknya karena gugup, ia menghindari kontak mata Auriga sebisa mungkin.


"Kenapa, hm?"


Lagi dan lagi Auriga bertanya. Ingin sekali rasanya dia tertawa melihat reaksi Hujan. Sangat lucu menurutnya, gadis itu pasti merasa canggung dengannya karena kejadian kemarin.


"Gak jadi," ujar Hujan lantas melangkah pergi begitu saja.


'Aneh banget,' batin Auriga menatap kepergian Hujan.


"Woy, Aurigi!!"


Matahari yang baru saja datang cukup mengagetkannya.


"Auriga bukan Aurigi !" balas Auriga membenarkan ucapan Siska.


"Es batu mana?"


"Udah pergi."


"Oh. Dia udah bilang?"


"Hah?"


Matahari berdecak. Sudah dia duga, Hujan tak akan bisa mengatakannya. Dasar!


"Bener-bener tuh Es batu! Oke, kalau dia gak mau bilang, gua yang bakal bilang!"


"Bilang apa?"


"Oy, Ga. Lo tau gak? Tadi tuh si Es batu mau ngajakin nonton bareng!"


"Se–serius?"


Matahari mengangguk.


"Bentar, lo jangan gr dulu!" lanjutnya mengingatkan.


"Bukan cuma lo yang diajakin tapi, Cojut, Benua dan gua juga! Wkwkw mampus gak jadi pdkt."


Matahari tertawa geli melihat reaksi datar Auriga. Gadis itu sangat senang mengejek orang. Lihatlah, bahkan dia tak berhenti tertawa sekarang.


"Hahah! Kocak banget, lo kaya berharap banget pfthaha!"


"...."


"Ga, lo liat baju gua gak?"


Auriga berbalik saat Benua memanggilnya. Tak hanya Auriga, Matahari juga kini tengah memandang Benua dengan syok.


Pria itu hanya mengenakan handuk sepinggang. Memperlihatkan tubuh dan otot perutnya dengan sempurna.


Wajah Matahari merah padam karena malu. Gadis itu berteriak sembari berkata.


"Dasar, Cojut mesum!!"


"Pthahahah mampus! Matanya ternodai!" ketus Auriga lantas berlalu pergi.


Sedangkan Benua tampak sangat kaget. Dia benar-benar tidak sadar jika Matahari ada di sini. Segera mungkin pria itu mencoba menutup pintu.


"Auriga sialan!!"


Bersambung...

__ADS_1


...TBC....


__ADS_2