
...HAPPY READING...
****
"Aku pulang," seru Auriga sembari berjalan masuk ke dalam rumah.
"Kak Auriga!"
Bocah lelaki itu berlari mengejarnya. Auriga merentangkan tangan, membawa Alfian ke dalam gendongannya. Ia acak rambut adiknya dengan gemas.
"Mama mana?" tanya Auriga sembari menaiki tangga yang menuju ke kamarnya.
"Ada di kamar," jawab Alfian memainkan robot-robotan yang ia pegang.
Auriga membuka pintu kamarnya dan melangkah masuk. Ia duduk kan Alfian di atas kasur. Lalu membuka seragam sekolah nya.
"Alfi juga!" seru Alfian antusias sembari menunjuk ke perut Daffa.
"Hm?"
"Alfi juga mau kaya gitu! Mau punya perut kotak-kotak kaya Kak Auriga!" lanjutnya lagi dengan mata yang berbinar.
Auriga tertawa kecil melihat tingkah adiknya. Ia baru saja selesai ganti baju. Lalu membawa Alfian kembali dalam gendongannya.
"Kamu harus rajin olahraga kalau gitu."
Ia cubit hidung Alfian dengan gemas. Membuat adiknya itu mengangguk antusias dan berkata.
"Tentu saja! Alfi bakal rajin! Biar tampan kaya Kakak."
"Hahaha."
Auriga hanya tertawa mendengarnya. Ia keluar dari kamar dan pergi menuju ke kamar orang tuanya.
Ceklek!
Ia buka pintu itu perlahan. Betapa kaget nya Auriga saat melihat ibu dan ayahnya sedang berpelukan mesra di dalam. Sontak ia tutup mata Alfian dengan cepat.
"Ingat umur Pa, kalian bukan anak muda lagi," cibir Auriga tak suka.
"Makanya cari pacar sono. Jomblo mulu dari lahir, heran deh Papa sama kamu. Muka kamu ganteng tuh, tapi kok gak ada yang mau, ya?"
Auriga berjalan masuk. Memberikan Alfian pada Linda—ibunya.
"Dia gak kaya kamu yang pecicilan mulu cari perhatian sana sini sama cewek! Auriga gak kaya gitu! Putraku ini beda." Linda menatap sinis Rio—suaminya.
"Elah, beda apanya. Sama aja tuh."
"Gak tuh, Auriga memang beda," kekeh Auriga tertawa geli melihat pertengkaran mereka.
"Kamu udah makan Auriga?" tanya Linda mengalihkan pembicaraan.
Auriga menggaru tengkuknya yang tak gatal. Lalu menjawab dengan cengengesan.
"Belum, Ma. Nanti Auriga makan di luar aja."
"Hoh ... pantes! Dia mau makan sama cewek tuh! Apanya yang beda? Anak kamu juga pecicilan 'kan?!" Rio tertawa geli penuh kemenangan.
"Liat aja bajunya rapi," lanjutnya lagi menatap Daffa dari atas sampai bawah dengan teliti.
"Kak Auriga mau pergi ketemu cewek?"
Alfian, bocah berumur enam tahun itu terlihat antusias. Ia tatap Auriga dengan mata berbinar. Membuat lelaki itu merasa was-was.
"Iya, aku mau jenguk temen di rumah sakit. Boleh 'kan? Ma, Pa?"
__ADS_1
"Temen apa demen?" goda Linda menatap Auriga penuh selidik.
"Masih temen, Ma! Apaan sih?" kesalnya.
"Dih, 'masih' ya? Ada kata kuncinya tuh."
Perkataan Rio dapat mengundang gelak tawa semuanya, termasuk Alfian. Bocah itu bertingkah seolah paham dengan maksud sang Ayah.
"Udahlah, jangan ngejekin mulu! Aku pamit pergi, ya?"
Daffa berdiri hendak meninggalkan mereka. Namun pergerakannya terhenti kala Alfian memeluk kaki nya tiba-tiba.
"Alfi ikut! Alfi mau ketemu sama Kakak cantik itu."
Auriga tercengang. Sesaat kemudian menggeleng dengan kuat. Membuat orang tuanya tertawa kekeh melihat ekspresi Auriga.
"Gak boleh! Kamu gak boleh ikut Al, tetep di sini bareng Mama dan Papa! Entar kakak beliin coklat deh," pujukmya mengelus tangan bocah itu.
"Enggak mau! Alfi mau ikut, mau ketemu sama kakak cantik itu. Pokoknya Alfi ikut!!"
Alfian terus merengek layaknya anak kecil. Ia bahkan sudah siap siaga dengan memegang erat kaki Auriga. Bersiap-siap jika kakaknya itu kabur nanti.
Auriga menatapnya jengkel. Sudah ia duga, Alfian akan bertingkah! Lantas ia menoleh meminta pertolongan pada Ayah dan Ibunya.
Rio bersiul mengalihkan pandangannya pura-pura tak melihat Auriga. Ayahnya ini benar-benar menyebalkan!
"Alfi sayang, jangan gitu nak gak boleh. Kakaknya 'kan mau jenguk temen."
Satu sudut bibir Auriga terangkat. Merasa puas dengan Linda. Hanya ibunya saja yang selalu mengerti Auriga!
"Gak mau, Alfi mau ikut. Huaa ... pokonya Alfi mau ikut, Alfi gak mau tau."
Bocah itu menangis terisak membuat Rio menutup telinga bising.
"Tapi Pa, aku—"
"Bawa atau kamu gak usah pergi sekalian! Pilih yang mana?"
Auriga berdecak sebal. Lalu menjawab dengan pasrah.
"Iya! Aku bawa," jelasnya dengan wajah kesal.
Alfian, bocah itu langsung saja menghapus air matanya dan tersenyum riang. Membuat Auriga hanya geleng-geleng kepala. Sungguh! Adiknya ini pandai sekali dalam akting!
****
Sepanjang perjalanan menuju rumah sakit. Alfian tak henti-henti menghunjami Kakaknya dengan pertanyaan. Membuat Auriga memijit pelipisnya pusing.
Ia parkir kan mobil kala sudah sampai di tempat tujuan. Lantas keluar dari mobil dan membantu Alfian turun.
"Ingat ya, jangan nakal! Kalau kamu nakal, Kakak bakal sumbangin kamu ke panti asuhan!!" ancam Auriga mengingatkan Alfian dengan tegas.
Alfian mengangguk patuh. Mengikuti kata-kata sang kakak. Ini adalah yang ke sepuluh kalinya Auriga berkata begitu. Membuat Alfian merasa sangat bosan mendengarnya.
Setelah memastikan Alfian patuh padanya, Auriga membawa bocah itu dalam gendongannya. Lantas memasuki area Rumah sakit.
"Kak."
"Hm?"
"Kakak udah punya pacar?"
"Anak kecil gak berhak tau."
"Oh, jadi kakak belum punya pacar? Kasian."
__ADS_1
"Diam bocah!"
Alfi terkekeh geli melihat amarah Auriga. Ia sangat senang menjahili pria itu.
"Auriga!"
Auriga dan Alfi menoleh, menatap orang yang baru saja memanggil namanya.
"Ah, Tante!" sapa Auriga tersenyum hangat.
Rena mengangguk ramah. Matanya melirik Alfian yang ada di gendongan Auriga dengan kagum.
"Oh, ini adik saya, Tan. Namanya Alfian. Alfi, beri salam!"
"Halo Tante."
Alfi membungkuk hormat. Membuat ia terlihat sangat menggemaskan di mata Rena.
"Astaga! Kau imut sekali, aku ingin mencubit pipimu."
Sontak Alfi menutup kedua pipinya dengan tangan. Merasa was-was dengan orang di depannya. Hal itu membuat Rena tertawa geli.
"Kamu mau jenguk Hujan kan?"
Auriga menganguk mejawab pertanyaan Rena. Kemudian wanita itu berkata padanya.
"Oh, kalau gitu langsung aja. Hujan lagi di dalam kok! Baca buku, Tante mau keluar dulu beli barang," kata Rena berlalu pergi meninggalkan Daffa.
"Hati-hati, Tante!" teriak Auriga yang hanya dianjungi jempol oleh Rena.
"Kak," panggil Alfi.
"Hm?"
"Turunin Alfi dong, Alfi mau jalan aja."
Auriga mengangguk, menurunkan bocah itu dan kemudian membuka pintu kamar rawat Hujan.
Tanpa aba-aba, Alfi masuk lebih dulu. Meninggalkan Auriga yang menatapnya kaget. Ternyata itu alasan Alfi meminta padanya untuk turun.
"Dasar bocah tengik!" gerutu Auriga menyusul adiknya masuk.
Hujan tersentak kaget dengan kedatangan bocah kecil yang ia kira tuyul tadinya. Ia letakkan buku yang dipegangnya di atas nakas. Lantas turun dari kasur dan berjalan mendekati Alfi.
"Boneka," ucap Hujan dengan wajah datar. Ia berjongkok tepat di depan Alfian dan mencubit pipi bocah itu lembut.
"Itu adek gua."
Hujan mendongak, memandang Auriga yang baru saja tiba. Dahinya berkerut seolah memikirkan sesuatu.
"Adik?"
Mata Hujan menatap lekat wajah Alfian. Lalu membandingkannya dengan Auriga.
"Ada apa?" tanya Auriga bingung.
Hujan diam. Sesaat kemudian ia menjawab dengan enteng.
"Dia lebih tampan daripada lo."
Jlep!
Bersambung....
...TBC....
__ADS_1