Asmirandah Hujan

Asmirandah Hujan
Chapter 50.


__ADS_3

...~HAPPY READING~...


****


Hujan mengerjab beberapa kali. Membuka matanya yang terasa berat. Menatap langit-langit dengan dahi yang berkedut.


Apa yang terjadi? Ada di mana ia sekarang? Karena penasaran, Hujan mencoba untuk bangun. Namun pergerakannya terhenti, kala manik mata Hujan tak sengaja menatap Petir yang tengah tertidur dengan posisi duduk di sampingnya.


Petir tampak sangat lelah. Lelaki itu tertidur dengan seragam kantornya. Bisa Hujan tebak, pasti kakaknya ini menemani Hujan tidur semalaman.


Hujan mengangkat tangannya lemah. Ia bisa melihat selang impus yang terpasang di sana. Ternyata ia sedang berada di Rumah sakit, ya?! Tapi, bagaimana dengan acara kemahnya?


"Eugh ... Emm."


Suara tidur Petir dapat menyinggung senyum kecil di wajah Hujan. Ternyata Petir belum berubah, sejak kecil Kakaknya ini selalu saja punya kebiasaan buruk saat tidur.


"Hujan!!"


Tiba-tiba saja Petir terbangun dan menyebut nama Hujan. Membuat gadis itu sedikit kaget melihatnya. Kemudian Petir mengusap matanya beberapa kali sembari menguap menahan kantuk.


"Sial! Aku ketiduran," gumamnya. Lalu menoleh ke samping, hendak melihat keadaan Hujan.


"Eh? Kamu udah sadar?"


Hujan hanya mengangguk.


"Ada yang sakit?"


Hujan menjawab dengan gelengan lemah.


Petir tersenyum hangat. Tangannya mengusap lembut rambut Hujan, lalu berkata.


"Syukurlah! Kakak sangat panik waktu tau kamu dibawa ke rumah sakit."


"Siapa?"


"Yang bawa kamu?"


"Hm."


"Oh, itu ... Mam— Ah tidak! Maksudnya Auriga yang bantu bawa."


"Di mana mereka?"


"Siapa? Teman-temanmu?"


"Hm."


"Mereka ada di sekolah. Kamu udah pingsan selama tiga hari di sini. Tenang aja, Kakak udah—"


"Apa?!" Kaget Hujan langsung beringsut duduk dengan paksa.


"Astaga, Jan! Kamu masih lemah, baring aja dulu!"


"Gak."


"Hah ... terserah kamu aja deh," jawab Petir pasrah, mengacak rambut adiknya dengan gemas. Kemudian lelaki itu berdiri dan berkata.


"Kakak ke toilet bentar, ya? Kamu gapapa 'kan, Kakak tinggal?"

__ADS_1


"Ck, aku bukan anak kecil!!"


Petir hanya tertawa kecil mendengar Hujan yang marah. Kemudian pergi meninggalkan gadis itu dengan tenang.


Selepas kepergian Petir, Hujan menatap kosong ke depan. Mengingat-ingat kejadian beberapa hari yang lalu.


"Menyebalkan!" gumam Hujan tak suka kala bayangan kegelapan itu kembali berputar di kepalanya.


Ah! Sudahlah Hujan. Jangan dipikirkan! Ayo berfikir yang lain saja! Petir bilang, ia pingsan selama tiga hari 'kan? Bukankah itu berarti, sebentar lagi sekolah mereka akan ujian kenaikan kelas? Benar! Hujan belum belajar sama sekali. Padahal empat hari lagi ujian. Miris sekali!


Kreet.


Suara decitan pintu dapat menarik perhatian Hujan. Bukankah Petir baru saja keluar? Cepat sekali Kakaknya itu kembali. Apa mungkin ada yang ketinggalan? Hujan menoleh ke pintu menunggu Indra masuk.


"Petir, Mama bawa buah untuk Hujan sadar nan—"


Deg!


Ucapan Rena terhenti saat menyadari Petir tak ada di sana dan Hujan yang sudah sadarkan diri. Mata keduanya bersitatap selama beberapa menit. Wajah Hujan tampak syok, begitu juga dengan Rena.


Hening!


Tak ada yang angkat bicara. Kedua orang itu masih bersitatap dalam diam. Sedetik kemudian Hujan tersadar lantas memutuskan kontak mata lebih dulu.


Gadis itu kembali berbaring dengan posisi membelakangi Rena. Ia tarik selimutnya hingga menutupi seluruh tubuh. Hujan bertingkah seakan tak melihat keberadaan Rena.


Rena tersenyum miris melihat perilaku Putrinnya. Ia tarik nafasnya dalam-dalam mencoba untuk menahan air mata.


Drap! Drap! Drap!


Hujan dapat mendengar langkah kaki wanita itu mendekat padanya. Tepat pada saat Rena ingin menyentuhnya, Hujan berkata tanpa menoleh.


Hati Hujan terasa sesak membayangkan kenangan bersama Rena di masalalu. Sebisa mungkin gadis itu menahan suaranya agar tak bergetar.


Rena kembali menarik tangannya yang terhenti di udara. Wanita itu kemudian menangis terisak.


"Hujan, Mama—"


"Apa kau marah padaku karena Kakak? Karena Kak Petir yang terus menemui ku? Percayalah, aku sama sekali tak membujuknya. Dia yang datang sendiri padaku."


"Bukan begi—"


"Tenang saja. Aku tak akan mengganggu kehidupan kalian lagi. Aku tahu, aku hanya beban bagimu."


"Bahkan kau pernah mengatakan jika 'seharusnya kau tak melahirkan monster sepertiku 'kan?' Maaf, karena aku kalian jadi menderita. Mereka benar, seharusnya aku saja yang mati."


Suara Hujan terdengar bergetar. Sudah ia duga, sangat sulit untuk mengatakan semuanya. Meski begitu, gadis itu masi belum menangis.


"Hujan, maaf ... Mama yang salah. Maafkan Mama, sungguh itu bukan salahmu. Aku tak tahu jika Putriku akan semenderita ini."


"...."


"Aku egois, benar-benar egois! Aku gak pernah ngerti perasaanmu. Padahal jelas itu hanya kecelakaan. Tapi, tetap saja aku menyalahkanmu. Aku memang tak pantas untuk disebut seorang Ibu."


"...."


"Meski ini sudah sangat terlambat, Hujan ... apa kamu mau memaafkanku?"


"...."

__ADS_1


"Sudah kuduga," Rena menghapus air matanya kasar dan tersenyum sedih.


"Kesalahanku benar-benar tak bisa dimaafkan. Aku benar-benar Ibu yang gak tau malu."


"...."


"Maaf karena sudah mengganggumu. Aku akan pergi sejauh mungkin dari pandanganmu. Kau tak akan melihat wajah menjijikan ini lagi. Aku tahu kau membenciku, tapi ... apakah kau bisa memanggilku 'Mama' untuk yang terakhir kalinya?"


"...."


Nyutt.


Hati Rena terasa sakit. Wanita itu terkekeh kecil dengan air mata. Menatap putrinya yang masi dengan posisi membelakangi Rena. Lihatlah, bahkan Hujan tak sudi memandangnya. Apa gadis itu benar-benar membenci dirinya?


"Aku pergi," pamit Rena meletakkan buah yang ia bawa di atas nakas. Dengan langkah berat ia berjalan keluar. Air matanya tak henti menetes.


Grep!


Langkah kaki Rena terhenti. Diliriknya tangan yang meligkari pinggangnya. Lalu menangis terharu.


"Mama," panggil Hujan lirih.


Hujan memeluknya! Gadis itu memeluk Rena dengan menangis terisak.


"Maafkan aku, tolong ... jangan pergi lagi," kata Hujan masih dengan posisi memeluk Rena. Ia menangis sengugukan. Membiarkan air mata yang terus menetes tanpa seizinnya.


Rena memejamkan mata. Bahunya bergetar karena tangisan. Lalu ia berbalik dan balas memeluk Hujan. Ia usap rambut gadis itu dengan lembut dan berkata.


"Mama pulang."


Keduanya menangis terisak dalam pelukan. Mengingat masa-masa sulit yang mereka lewati selama ini.


Kriett.


Petir yang baru saja kembali dari toilet, langsung saja tersenyum senang melihat pemandangan damai itu. Ia berlari kecil ke arah keduanya dan ikut memeluk Hujan.


"Ada apa nih? Kok main peluk-pelukan? Gak ngajak-ngajak lagi!" kekeh Petir masi dengan posisi memeluk Hujan dan Rena.


"Ukh ... lepaskan, aku kejepit!" kata Hujan yang dapat mengundang gelak tawa Ibu dan Kakaknya.


"Kak Petir."


"Hm?"


"Kau bau kambing."


Jlep!


"Hahaha ... jauh-jauh sana!" Rena menolak tubuh Petir pelan. Lalu memeluk Hujan dengan agresif.


"Dia udah gak mandi tiga hari tuh, sayang."


"Pantes."


"Ck! Aku juga begini karena begadang Hujan. Yang bener aja pingsan tiga hari."


Rena lagi-lagi tertawa melihat perilaku Petir. Sedangkan Hujan, gadis itu hanya tersenyum tipis. Hari ini, benar-benar hari kebahagian untuknya.


BERSAMBUNG....

__ADS_1


...TBC....


__ADS_2