Asmirandah Hujan

Asmirandah Hujan
Chapter 1.


__ADS_3

Di dalam kelas, tepatnya di kelas XI IPA 1 siswa-siswi sibuk dengan aktivitas mereka masing-masing. Ada yang bermain ponsel, ngerumpi, bahkan tiduran di atas meja. Tapi tidak dengan gadis yang satu ini. Tidak seperti teman-temannya, ia sibuk berkutat dengan buku-buku di mejanya. Sepertinya ia sedang belajar.


Seharusnya ini memang sudah masuk jam pelajaran. Karena bel sudah berbunyi 20 menit yang lalu. Namun tak ada satu guru pun yang masuk ke kelas mereka.


"WOY BU MENTARI DATANG WOY" teriak salah satu siswa yang dapat menarik perhatian semuanya. Dengan kecepatan kilat, semua penghuni kelas sudah tertib dan rapi.


"Pagi anak-anak" ucap bu Mentari ketika memasuki kelas, tak lupa dengan senyumnya.


"PAGI BU!" jawab mereka kompak.


"Ibu ada berita gembira buat kalian. Hari ini kita kedatangan murid baru. Silahkan masuk dan perkenalkan dirimu!" kata bu Mentari yang kini melihat ke arah pintu kelas. Di sana tampak seorang cowok yang berpakaian sama seperti mereka.


Cowok itu memasuki kelas dengan senyum ramah yang menghiasi wajahnya. Semua cewek yang melihatnya berteriak histeris.


"Selamat pagi" Sapa nya.


"PAGI GANTENG!!" jawab para siswi dengan semangat empat lima. Cowok itu terkekeh kecil melihat tingkah orang-orang yang akan jadi teman sekelasnya ini.


"Perkenalkan nama gue Auriga Alpha , kalian boleh panggil gue Auriga, Riga, atau Alpha pun juga boleh. Gue pindahan dari Sma Purnama. Salam kenal, semoga kita bisa berteman baik" ucap Auriga memperkenalkan diri.


Para siswi tetap saja berteriak histeris. Entah apa yang dihebohkan oleh mereka. Mungkin karena wajah tampan teman barunya ini.


"Baiklah, Auriga. Silahkan duduk di samping Angkara Awan" Bu Mentari menunjuk kursi Awan. Auriga mengangguk dan duduk di samping Awan. Awan tersenyum ramah ke arahnya yang ia balas dengan senyuman juga.

__ADS_1


***


Pelajaran telah usai lima menit yang lalu. Semua siswa-siswi berhamburan pergi ke kantin—ralat, tidak semua yang pergi ke kantin, asih ada tiga orang lagi yang berada di kelas.


"Ga, kuy kantin" ajak Awan sembari memukul bahu Auriga.


Auriga yang melamun seketika kaget karena laki-laki itu


"Eh? i—Iya!"


"Lo kenapa? Lo naksir Hujan?" tanya Awan tiba-tiba.


Sedari tadi, dia melihat Auriga yang memerhatikan Hujan dengan tatapan mata yang sulit diartikan.


"Iya. Namanya Hujan, Asmirandah Hujan. Lo kenapa? Dari tadi gua perhatiin lo liatin Hujan terus. Lo naksir ya sama dia?" Tanya Awan menatap Auriga penuh selidik.


Auriga yang melihat ekspresi wajah laki-laki itu langsung saja memukulnya dengan buku yang baru saja ingin ia masukkan ke dalam tasnya.


"Ngaco lo kalau ngomong. Gue cuma penasaran aja, dari tadi gue liatin dia diam aja gak mau ngomong. Bahkan nih ya, pas gue perkenalan diri di depan juga dia gak ngeliat ke arah gue. Dia cuma sibuk sama bukunya doang," kata Auriga panjang lebar. Matanya kini menatap gadis itu yang tengah sibuk membereskan buku-bukunya.


"Oh, Hujan emang kayak gitu orangnya" jawab Awan santai.


"Kayak gitu gimana maksud lo?" tanya Auriga dengan wajah serius.

__ADS_1


"Serius amat muka lo," kekeh Awan. "Maksud gue Hujan itu orangnya cuek. Kalau ngomong irit banget. Yang paling parahnya lagi--" jeda Awan yang semakin membuat Auriga penasaran. "Gue gak pernah liat dia senyum."


Auriga mengangguk paham, sedari tadi ia hanya menyimak perkataan Awan.


"Sifat cuek dan dinginnya berlebihan tau gak" Bantah Awan. "Disini juga banyak orang cuek. Tapi gak secuek dan sedingin dia. Emang sih dia cantik, tapikan—" Awan spontan berhenti berbicara saat melihat orang yang tengah ia bicarakan sudah berdiri dihadapannya.


"Gue denger!" Potong seorang gadis di depan sana. Ya, dia adalah Asmirandah Hujan.


Dengan wajah datarnya Hujan pergi meninggalkan kelas tanpa menoleh ke arah Awan dan Auriga yang menatapnya kaget. Terlebih lagi Awan.


"BUAHAHAHA!!! Mampus lo, ngomongnya kuat banget kayak toa, jadi kedengaran kan sama orangnya" ucap Auriga terkekeh.


Awan menatap Auriga datar. Ini juga salah Auriga, kalau dia tidak bertanya Awan juga tidak akan mengatakan kalimat tersebut.


"Ketularan Hujan lo? muka lo serem banget njir kayak orang kesurupan" lanjutnya terkekeh.


"Enak aja, orang ganteng gini lo bilang kesurupan. Mintak di mutilasi emang otak lo" kesal Awan.


Auriga terus saja tertawa mendengarnya, membuat Awan tambah kesal.


Bersambung....


...TBC...

__ADS_1


__ADS_2