
...HAPPY READING...
***
"Woy Ga, buruan dong. Entar keburu rame kantinnya!" kesal Awan.
Sedari tadi dia menunggu Auriga yang sedang memberesi barang-barangnya.
"Iya, sabar, bentar lagi nih," ucap Auriga sembari memasukkan buku terakhir ke dalam tasnya dan mengunci tas itu rapat-rapat.
"Lama banget sih lo? cuman beresin tas doang juga. Teman-temen udah pada nungguin nih."
"Ngapain sih buru-buru? orang gurunya rapat juga? sampe pulang malahan rapatnya," balas Auriga santai.
"Ngapain-ngapain," ledek Awan "Kalau kena baru tau rasa lo!" sambungnya lagi. Auriga mengernyitkan dahi bingung.
"Kena apa?" tanya Auriga pada Awan, yang tidak digubris oleh Awan sama sekali.
"KENA APA WOY?" tanyanya lagi kini dengan nada tinggi.
"Kena musibah!" jawab Awan kesal. Auriga menatapnya terkekeh kecil.
"Musibah apaan? ngaco lo ah" balas Auriga, kemudian pergi keluar kelas yang disusul oleh Awan di belakangnya.
"Nanti lo juga tahu," jawab Awan acuh. Auriga mengedih kan bahunya acuh.
***
"Lama banget sih Awan," ucap Benua kesal.
"Tunggu aja kali! bentar lagi juga datang," sahut Sagita dengan menyeruput jus jeruknya yang tinggal setengah.
"Tau tuh! gua yang punya pacar malah elo yang rindu," sambung Matahari .
"Dih, najis bat gua rindu sama pacar lo yang mukanya pas-pasan itu," balas Benua menatap sinis Matahari.
"Ya elah, gantengan juga pacar gua dari pada lo. Muka lo mah mirip sama makhluk yang gelantungan di pohon," cibir Matahari tak mau kalah.
"Enak banget, lo nyamain gua sama monyet. Muka ganteng gini juga, masa dibilang monyet"
"Hello? Gua gak bilang monyet ya. Lo aja yang nyadar muka lo mirip monyet."
__ADS_1
"Mintak di tampol tuh ya mulut? gua tampol juga lama-lama nih."
"Enak aja lo mau—"
"Udah-udah, kok jadi pada ribut sih?" ucap Surya memotong ucapan Matahari yang bakal panjang nanti bacotannya kalau tidak dihentikan.
Matahari hanya mendengus saat Surya memotong ucapannya.
"Lama banget sih pacar gue, gak rindu apa sama Biancara Matahari," omel Matahari sibuk celingak-celinguk mencari keberadaan Awan
"Nah tu si Awan" ucap Sagita yang dapat menarik perhatian semuanya.
"Hai Bro!" sapa Awan dan segera duduk disamping Matahari.
"Lama banget sih lo" ketus Sagita.
"Tau tuh, gara gara nungguin elo, Matahari sama Benua berantem tuh. Katanya mereka rindu," sambung Bintang terkekeh kecil.
Awan cukup kaget mendengarnya, tetapi dia tidak terlalu peduli. Sudah biasa jika Matahari dan Benua bertengkar.
"Oh iya, gua hampir lupa! Gua bawa temen nih, namanya Auriga. Kenalan gih!"
"Kenalin nama gua Auriga Alpha, Panggil aja Auriga, Aga, Riga, atau Alpha pun terserah" ucapnya yang disambut ramah oleh mereka.
"Akasha Benua" Benua menyambut uluran tangan Auriga. "Panggil aja Benua," sambungnya lagi.
"Gue Pandega Surya. Panggil aja Surya," ucap Surya menggantikan tangan Benua.
"Sagita Elara" terserah mau panggil apa"
"Biancara Matahari. Lo boleh panggil Matahari" ucap Matahari hendak menjabat tangan Auriga, tetapi ditepis oleh Awan.
"Eh-eh, gak boleh pegang-pegang. Dia cewek gue" Awan menarik Matahari ke dalam dekapannya.
Auriga memutar bola matanya malas. Tak hanya Auriga, tetapi semuanya juga sama. Mereka muak melihat tingkah Awan yang terlalu posesif.
"Eh btw, kalian baik-baik aja kan?" tanya Sagita pada Awan.
"Untung aja belom rame. Kalau enggak? aduh gak tau deh gue" jawab Awan dramatis.
Auriga tampak bingung, ia tidak mengerti dengan apa yang dibicarakan oleh teman-teman barunya ini.
__ADS_1
"Kalian ngomongin apa sih?" karena penasaran Auriga akhirnya memutuskan untuk bertanya.
"Entar juga lo tau" jawab Awan yang dibalas anggukan kepala oleh semuanya. Auriga mengedihkan bahunya acuh, percuma ditanya toh Awan tidak akan menjawabnya.
"Aduh gue laper nih, gua pesen makanan dulu ya," ucap Auriga dan berdiri dari duduknya. Belum sempat dia berjalan, seseorang sudah menabraknya lebih dulu. Air yang dibawa orang itu tumpah mengenai baju Auriga.
"Ma—Maaf kak, aku gak sengaja." ucap siswi itu menunduk. Ternyata orang yang menabraknya adalah adik kelas mereka.
"Hati-hati dong kalau jalan. Punya mata gak sih?" Bukan, orang itu bukan Auriga melainkan Benua. Benua kesal dengan siswi itu karena tidak hati-hati.
Siswi itu hanya menunduk. Tidak berani menatap mata kakak kelasnya.
"Udah gak papa! lain kali hati-hati ya," kata Auriga tersenyum ramah pada siswi itu.
Siswi itu mendongak. Ia menatap Auriga tidak percaya. Sesaat kemudian senyumnya mengembang.
"Makasih kak ganteng. Udah ganteng, baik, sopan, keren lagi. Gak kayak kak Benua, jutek, songong, ganteng sih, tapi galak—cepet tua mampus," ucapnya kemudian berlari meninggalkan mereka.
Semuanya tertawa saat mendengar perkataan siswi itu, kecuali Benua yang tampak sangat kesal.
"Woy, jangan lari lo!" teriaknya membuat tawa semuanya semakin pecah.
"Yah, baju gua jadi kotor nih. Gue ke toilet dulu ya," ujar Auriga sembari pergi meninggalkan kantin.
"Woy Ga—Hati-hati. Udah mulai rame loh," teriak Awan
Auriga hanya mengacungkan jempolnya walaupun ia tidak mengerti apa yang maksud dari perkataan Awan.
***
Seorang gadis cantik berjalan menelusuri koridor kelas dengan beberapa buku di tangannya. Sepertinya ia baru saja dari perpustakaan sekolah.
Suasana di sini sangat sunyi. Tak ada seorang pun yang terlihat. Koridor ini memang sangat jarang dikunjungi siswa. Karena koridor itu hanya menuju ke perpustakaan saja. Hanya siswa teladan saja yang sering melalui jalan itu.
Angin sepoi-sepoi menerpa wajah cantiknya. Dia memajamkan matanya menikmati kedamaian yang ada. Hingga tubuhnya menabrak seseorang dan terjatuh. Begitu juga dengan buku-buku yang ia bawa.
BRUK!
Bersambung...
...TBC....
__ADS_1