Asmirandah Hujan

Asmirandah Hujan
Chapter 71.


__ADS_3

...~HAPPY READING~...


***


"Uwah ...!" Lintang kagum dengan pemandangan di depannya.


Suasananya sangat berisik karena keramaian. Sekarang mereka sedang berada di pasar malam. Lintang, bocah itu tak mau melepas tangan Hujan sama sekali.


Auriga berdecih, jika saja Lintang tak ikut. Auriga tak akan pergi ke sini! Pasalnya, dia sedikit tak suka keramaian.


"Lintang mau naik itu!" teriaknya menunjuk ke salah satu wahana permainan.


Auriga menoleh, mengikuti arah pandangan Lintang. Tampak wahana kereta api kecil khusus anak-anak, tetapi bukan itu masalahnya! Melainkan, lihatlah antriannya sangat panjang. Malas sekali bila harus menunggu lama.


"Jangan Tang, gak seru," jawab Auriga.


Lintang menggeleng tak suka. Mata bocah itu mulai berkaca-kaca. Membuat Auriga melototkan mata mengkodenya agar tak menangis.


"Lintang mau naik! Pokoknya mau naik itu! Gak mau yang lain!"


"Al, jangan ce—"


"Ayo!" Hujan menarik Lintang begitu saja meninggalkan Auriga sendiri.


Sontak bocah itu tersenyum senang. Ia berbalik ke belakang lantas memeletkan lidah mengejek sang Kakak.


'Bocah tengil,' batin Auriga kesal.


"Tunggu Jan! Gue juga ikut!" teriaknya.


Sudah lima belas menit lamanya mereka mengantri untuk Lintang. Akhirnya sekarang giliran bocah itu.


Dengan wajah jengkel, Auriga menaikkan Lintang ke dalam kereta. Kemudian menutup pintunya setelah memastikan keamanan sang adik lebih dulu.


"Jangan bertingkah. Awas aja kalau sampe jatuh, Kakak sumbangin kamu ke panti asuhan!!"


Lintang mendelik, sama sekali tak peduli dengan ucapan Sang Kakak. Matanya menatap Hujan dengan senyuman lebar.


"Kakak sini deh," panggil Lintang.


Hujan menyerngit. Meski begitu ia tetap menurut menghampiri Lintang lalu menunduk.


"Kena—"


Cup!


Belum sempat Hujan bertanya, Lintang sudah menciumnya lebih dulu. Hujan dan Auriga mematung seketika. Sedetik kemudian mereka tersadar.


"Lintang!" kesal Auriga hendak menggendong Lintang namun kereta itu sudah jalan lebih dulu.


Anak itu tersenyum jahil pada Auriga


"Aku menang!" ujarnya.


'Anjir, gini banget punya adek.'


"Manis."


Auriga menoleh menatap Hujan yang baru saja bicara.


"Apanya yang manis?"


"Lintang."


"Yah, tapi masih manisan gue kan?" godanya.


Hujan bergidik ngeri mendengarnya. Gadis itu hanya diam tak berniat membalas ucapan Auriga. Hingga kereta yang dinaiki Lintang berhenti sempurna. Ketiga orang itu pergi dari sana.


"Kak cantik!" panggil Lintang.


"Hm?"


"Itu apa Kak?"


Ia menunjuk makanan yang dijual oleh salah satu pedagang. Warnanya sangat cantik mirip seperti awan.


"Permen kapas," jawab Hujan.


"Lintang ma—"


"Gak boleh!" tegas Auriga.


"Lintang gak minta sama Kak Auriga. tuh! Lintang kan minta sama Kakak cantik."


"Ya, pokoknya gak boleh!"


"Kenapa?"


Bukan Lintang yang bertanya melainkan Hujan. Tampaknya gadis itu sedikit penasaran.


"Entar dia sakit gigi lagi," jawab Auriga


"Lo gak tau aja. Nih bocah kebanyakan makan coklat, suka yang manis-manis! Jadinya gini nih, rusak kan gigi kamu?!" Auriga mencubit pipi Lintang dengan gemas.


"Kak Auriga pelit! Lintang pengen coba, dikit aja."


"Gak bo—"

__ADS_1


"Nih."


Entah sejak kapan Hujan sudah membeli permen kapas nya dan memberikannya pada Lintang. Membuat anak lelaki itu tersenyum senang dan mengambilnya dari Hujan.


"Kenapa lo kasi Jan? Entar giginya makin rusak."


"Sekali saja."


"Terserah deh."


****


Hendri memasuki perkarangan rumah dengan mobilnya. Ia baru saja pulang makan malam dengan Sang Istri.


Keduanya keluar dari mobil sembari menampilkan wajah bingung. Kenapa pagarnya terbuka lebar? Tak hanya itu, kenapa rumah ini sangat gelap?


"Aurora, buka pintunya!" teriak Petir.


Ceklek!


Pintu itu terbuka sempurna menampilkan Aurora dengan baju piyamanya.


"Ada apa dengan lampunya?"


"Listrik mati."


"Kau bercanda? Hei, di sini kan ada—"


Bugh!


Belum sempat Petir melanjutkan ucapannya, seseorang sudah memukulnya dari belakang hingga ia jatuh pingsan.


Tiara menutup mulut syok, sesaat kemudian berteriak histeris.


"Mas Petir!" pekiknya.


"Si–siapa kalian?" tanya Tiara takut terhadap orang-orang di depannya.


Ia lirik Aurora sekilas, gadis itu tampak santai. Sama sekali tidak peduli dengan Petir, ia bahkan berjalan masuk ke dalam.


"Aurora tunggu! Kenapa kamu ... hmph! Emm ...!"


Bruk!


Tiara jatuh pingsan usai menghirup sapu tangan yang sudah dibius itu.


"Ikat mereka sebelum sadar." Petir membuka hodie dan masker yang tadi sempat menutupi wajahnya.


"Baik, Tuan!"


"Aurora," panggil Petir membuat langkah Aurora terhenti.


"Apa ini?"


"Semua harta dan perusahaan Ayahmu sekarang sudah menjadi atas nama Ibumu."


Aurora melotot kaget.


"A–apa? Ba–bagaimana cara Kakak melakukannya?"


"Kau tak perlu tau."


"Ba–baiklah, makasih banyak."


"Masalah Ibumu ...." Petir menoleh menatap ke arah Irwin yang berdiri di sampingnya.


Irwin yang paham lantas mengangguk kecil.


"Bawa dia masuk," ujar Irwin.


Dua orang pria berpakaian hitam masuk dengan mendorong kursi roda yang diduduki oleh seorang wanita paruh baya. Dia terlihat tak sadarkan diri.


"Ibu!" teriak Aurora langsung berlari dan memeluknya.


Ia tatap Petir dengan sengit.


"Dia hanya pingsan," kata Petir.


"Senang bekerja sama denganmu. Sekarang kami harus pergi."


"Tunggu!" teriak Aurora mengejar Petir dengan napas ngos-ngosan.


"Kenapa?"


"A–anu, Kak ... apa lo bakal membunuh Ayah?"


Petir tersenyum semirk.


"Menurutmu?"


"Ternyata benar, ya? Lo mau membunuhnya," lirih Aurora.


"Tidak, aku tak sebejat dia. Aku hanya ingin melindungi Hujan. Karena itu, dia hanya akan ku kirim ke tempat yang jauh."


Aurora tersenyum senang. Ia usap air matanya terharu dengan kata-kata Petir


"Terima kasih! Dan ma–maafin gue juga Kak."

__ADS_1


"Sejahat apapun kamu, sayangnya kita tetap sepupu," kata Petir lantas pergi berlalu.


*****


Alfi tertidur lelap dalam gendongan Auriga. Anak kecil itu terlihat kelelahan. Bagaimana tidak? Ia sangat bersemangat tadi hingga mencoba berbagai wahana permainan. Mulai dari lempar bola, kuda-kudaan dan bahkan alfi meminta untuk masuk ke dalam rumah hantu. Auriga benar-benar tak habis pikir dengan adik satu-satunya ini.


"Kenapa berhenti?" tanya Auriga kala melihat Hujan yang tiba-tiba menghentikan langkahnya.


Gadis itu tak menjawab. Masih senantiasa menatap bianglala di depannya dengan ekspresi yang sulit dimengerti oleh Auriga.


"Mau coba naik?" tawar Auriga ragu.


Hujan menoleh, sedetik kemudian menjawab.


"Alfi?"


"Kita bawa aja naik bareng."


"Oke."


Wah! Ada apa dengan Hujan? Auriga pikir dia akan menolaknya tadi. Baiklah, ayo naik itu sebelum pulang! Setidaknya Alfi sudah tidur kan.


"Pak, tiga tiket ya," ujar Auriga.


"Wah ... bawa anak jalan-jalan ya, Mas?"


Auriga dan Hujan melotot kaget.


"Mas sama Mbaknya orang tua yang baik ya. Meski masih muda tapi peduli banget sama anaknya."


"A–anu Pak—"


"Ngomong-ngomong kalian nikah umur berapa sih? Kok anaknya bisa segede ini?"


"Apaansih Pak! orang ini adek saya!!"


"Loh? Terus Mbaknya?"


"Teman."


"Masa sih? Bukannya Istri?"


'Anjir, pacaran aja belum dah dikiraiin Istri,' batin Auriga.


"Bukanlah!"


"Sayang banget, padahal seras—"


"Ah, udahlah! Ayo Jan buruan naik keburu Alfi bangun."


"Hm."


Auriga menidurkan Alfi di sampingnya. Kemudian menutup pintu bianglala. Tai lama kemudian bianglala itu mulai berputar perlahan.


Mata Hujan menatap pemandangan dengan indah dari atas sini. Gadis itu tampak melamun menikmati suasana hening. Dulu sewaktu kecil, ia juga sering naik bianglala dengan Faisal—Ayahnya. Masa-masa itu benar-benar menyenangkan. Hujan merindukannya.


"Adel."


Hujan tersentak kecil.


"Gue mau ngomong sesuatu sama lo."


Auriga berkata dengan gugup.


"Apa?" tanya Hujan.


Entah kenapa ia sedikit berdebar. Situasi macam apa ini sebenarnya?


"Sebenarnya gue ...." Ia telan saliva kasar.


"Entah sejak kapan, setiap ketemu lo gue jadi merasa aneh."


"Hah?"


"Em it–itu maksudnya gue jadi sering gugup. Terus gue gak suka liat lo dekat sama cowo lain sekalipun itu sahabat gue Sagita! Apalagi Areka! Gue benar-benar gak suka."


Jantung Hujan berdebar kencang. Seketika wajahnya merah dengan sendirinya. Perasaan apa ini?


"Gue gak tau gimana reaksi lo tapi intinya gue mau ngungkapin semua isi hati gue."


"....."


"Jadi, gue mau bilang kalau gue ...."


Lagi dan lagi Auriga menelan saliva. Masa bodohlah, ini sudah terlanjur! Ayo katakan saja.


"GUA CINTA SAMA LO!" ucapnya lantang.


Deg!


Hujan terkesiap tak tahu harus berkata apa.


"Lo mau gak jadi pacar gue?"


"...."


Bersambung...

__ADS_1


...TBC....


__ADS_2