
Eve membeku ketika tubuh Robert sang ayah jatuh ke lantai penuh dengan darah, tubuh pria paruh baya itu bergetar disana...sedikit lama sampai akhirnya getaran itu terhenti dan pria itu tak bergerak sedikitpun.
Eve menggeleng....
Apakah ini yang dia inginkan, airmatanya menetes....langkahnya menjadi gontai melihat pria yang telah memberinya kehidupan itu menutup mata, tak bergerak sedikitpun semuanya terjadi dengan cepat hingga Eve bahkan belum sampai mendekat, Robert sang ayah juga belum menyadari kehadirannya..
Pria itu telah pergi...?
''Ayah........''suara Eve terdengar serak, hingga ia bergetar sendiri...
Sementara Paula menjerit histeris karna menyesal telah menembak Robert, disana ada suara tangis Sania dan Tiara yang bergantian menangis..
Bukankah ini yang dia inginkan...? Keluarga baru ayahnya hancur berantakan,....bahkan ayah belum sempat merasakan penderitaan...mengapa hati Eve seperti tercabik-cabik...?
''Ayah...bangun...''bisik Eve dengan suara terputus..
Tiba-tiba dari arah belakang, seseorang menariknya dengan keras dan menghempaskan tubuhnya membentur meja...
Sania berdiri dengan tatapan dingin..
''Apa kau sudah puas sekarang, apa kau puas menghancurkan keluarga ini...apakah dendammu tlah terbalas...''jerit Sania menggila..
Eve tertawa kesal...
''Apa kau sedang bercanda,....ibumu, wanita gila itu yang menembak ayahku...dan sekarang kau malah menyalahkan aku...? Aku tak menyangka kau dan Paula sangat mengerikan...''
Sania bersedekap.....
''Kau pikir aku tak tau semua hal aneh yang terjadi di rumah ini karna ulahmu...yah memang ibuku yang menembak ayah tapi apa kau tau mengapa dia melakukannya...''
__ADS_1
''Jangan mencoba menyalahkan aku Sania...''
''Hari ini pabrik ayah mengalami kebakaran hebat, tak ada yang tersisa...dan menurut orang dalam, ada seseorang yang membakar dan itu adalah orang suruhanmu Eve..lalu Ibuku mencoba mengakatakan fakta itu pada ayah tapi...kau tau apa yang ayah lakukan,....? Dia memukul ibuku dan bilang kalau putrinya tak akan pernah sekejam itu....yah....airmata Sania menetes....meski kau lah pelakunya, ayah tetap membelamu dan mengatakan kalau bukan kau pelakunya, mereka bertengkar dan terjadilah penembakan itu...''
Deg!!!!!
''Apa.....''
Eve begitu syok....pandangannya turun pada sosok sang ayah yang sudah tak bernyawa..rasa sakit di dalam dadanya mulai menjalar dan menyakitinya, Eve merasa hancur tak terlihat...yah..dulu dia adalah gadis yang manis, bahkan menyakiti binatang kesayangannya saja dia tak sanggup....
namun kini Eve merasa dia sudah berubah,...ia berubah menjadi seorang gadis yang kejam dan mengerikan hanya karna dendam di dalam hatinya...
Evelyn menangis....hal yang sama juga di alami Sania..gadis itu menangis histeris...
''Semua sudah hancur...kak Andro di penjara..aku tau itu adalah ulahmu, ibuku sebentar lagi akan di penjara, karna menembak ayah...hidupku juga sudah hancur, lalu hanya tersisa Tiara...jika kau belum puas maka bunuh dia saja Eve....bunuh dia..'' teriak Sania lantang..
Evelyn menoleh ketika bertatapan dengan mata polos dan takut milik Tiara, Tiara adalah anak kesayangan ayahnya, wajahnya dan Eve sedikit mirip di banding Sania atau Andro...
Sementara Sania memejamkan matanya dalam-dalam ketika bunyi sirine polisi mendekat, ia tau benar ibu akan di tangkap sebentar lagi dan hidup mereka akan hancur...Sania menundukan kepalanya, dia harus bagaimana sekarang, bagaimana menanggung hidupnya dengan hidup Tiara...bahkan Sania tidak tau harus meminta tolong pada siapapun..
*********
Ayahnya meninggal...dan di makamkan di sisi makam sang ibu, ironisnya Paula sudah di tangkap sementara pemakaman hanya di hadiri oleh anak-anak dan keluarga dekat..
Hati Evelyn sedikit lega, karna sang ayah di kembalikan di samping ibunya, Paula tak bisa berkata apapun karna dia berada di dalam penjara...menyisakan Sania dan Tiara yang tidak punya kekuatan apapun, Eve mengatur segalanya..ketika selesai penguburan mereka berpapasan, Sania dan Evelyn masih saling menatap tajam..
''Ayo Tiara kita pulang..''ucap Sania acuh, sementara itu Evelyn tersenyum..
''Jangan lupa Sania kalau sekarang, kau lah yang menumpang di dalam rumahku..''desis Evelyn tajam..
__ADS_1
Sania menoleh..
''Baiklah...aku akan segera pergi dari sini..''ucapnya dengan senyuman tegas..
Namun ketika Sania hendak melangkah tangannya di cekal oleh Evelyn, hingga keduanya kembali bertatapan, untuk sesaat pandangan Eve berpindah pada Tiara yang sedikit cemas melihat mereka berdua...
''Kau tak boleh pergi dari rumah itu....kau harus berada di dalam rumah itu untuk mengenang bahwa aku adalah gadis yang baik, aku tidak tega mengusirmu...aku tau kau tidak punya pekerjaan, Tiara juga masih sekolah..jadi kau tak bisa pergi...''
Sania menghempas pegangan Evelyn kepadanya dia tersenyum mengejek..
''Mulai dari sekarang, kau hanya akan hidup dalam rasa sakit dan bersalah Eve, aku tau kau terluka karna orangtuaku tapi apa yang kau lakukan ini tidak benar....dan aku tetap akan pergi dari rumah itu meski aku harus tinggal di jalanan Eve....mulai sekarang kita tidak punya hubungan apapun....''
Sania melangkah meninggalkan Evelyn sendirian sementara Tiara mendekatinya...keduanya saling menatap...
''Hal yang paling menyakitkan adalah menyakiti keluarga sendiri, aku minta maaf atas apa yang di lakukan ibuku, ayah dan kakak-kakakku..tapi sesungguhnya tak ada yang menang setelah ini..gelap dan hampa juga sendirian..kita hancur bersama kak Eve....tapi aku tak akan membencimu, kau tetap kakakku..aku tak suka mendendam..karna aku tau sekarang, mendendam itu sangat mengerikan....semoga kakak bahagia..dan baik-baik saja...''
Tiara tersenyum, lalu melangkah meninggalkan Evelyn yang berdiri mematung disana,..airmatanya menetes, hatinya seperti di remas dengan kuat ketika kata-kata Tiara seakan seperti pedang yang menusuk hatinya..
Menyakitkan.......
Evelyn menghapus airmatanya, dan membalikan tubuhnya bersiap melangkah, namun langkahnya terhenti melihat sosok Elard berdiri di hadapannya dengan tatapan tajam...
''Elard.......''
Pria itu tersenyum dan mendekatinya...
''Apa kabar Evelyn...apakah semua baik-baik saja...''
Di hadapan Elard, Eve sungguh tak mampu menahan perasaannya, tangisannya pecah saat itu juga hingga Elard menariknya ke dalam pelukannya dan mendekapnyan dengan erat..
__ADS_1
''Oh...Evelynku aku merindukanmu...''bisik Elard mengecup puncak kepala Evelyn...