Atas Nama Dendam

Atas Nama Dendam
Terusir


__ADS_3

Airmata menetes di wajah Evelyn saat ini ketika Dark memegang tubuhnya...ingatannya terbawa pada malam penuh tekanan, yang merenggut kehormatannya..


''Aku adalah......''


''Aku tau maksudmu nona, aku bahkan tau bagaimana kau pasti akan meminta harga yang mahal karna untuk kencan semalam..''


Tak ada yang lebih menyedihkan dari pada mendengar kata-kata yang merendahkan dari seorang pria yang telah merenggut kehormatannya semalam...


jadi dia di anggap sengaja menyerahkan dirinya semalam, bukannya pria ini yang memaksanya...?


Evelyn tertawa karnba dia sudah tak bisa lagi menangis....keduanya bertatapan, tak ada gunanya menjelaskan pada orang kaya tentang kemiskinannya karna percuma,mereka tidak akan tersentuh...karna itu Evelyn mengeraskan wajahnya...


''Aku harus pulang...''


''Tunggu sebentar nona...''ucap Dark lalu bangkit dan menuju laci mejanya dan mengeluarkan sebuah cek kosong dan pandangannya jatuh pada sebuah cincin berlian yang pernah di beli Dark di suatu tempat di luar negri, ia suka cincin itu jadi Dark membelinya tanpa tau ingin memberinya pada siapa...lagi pula dia sudah memutuskan untuk tidak menikah..


Pria itu mengambil cincin itu lalu membawanya pada Evelyn yang masih duduk di ranjang dengan selimut yang menutup tubuh polosnya....Dark tersenyum, karna dia memang menikmati penyatuan mereka semalam jadi Dark memutuskan memberi cincin itu sebagai hadiah, atas hilangnya kesucian Evelyn semalam..


Pria itu lalu mengambil jemari Evelyn dan memakaikan cincin itu padanya..


''Jangan sampai cincin ini hilang...'' tatapnya tajam..


Evelyn hanya membiarkannya...


Sementara....


Itu Dark lalu menunjukan sebuah cek kosong yang sudah berisi tanda tangannya..


''Kau boleh menulis berapapun yang kau mau....nona..''


Evelyn gemetar ketika memegang sebuah cek yang telah memberi harga dirinya, hatinya sungguh sakit sekali, seperti di jatuhkan di dasar jurang yang gelap, dia tak punya kekuatan lagi...


Evelyn mengangkat wajahnya dia tersenyum, walau airmatanya menetes...


''Jadi apakah kau tidak akan rugi kalau mungkin saja aku menulis beberapa puluh M....''


Dark mengeraskan wajahnya..


''Aku kaya....aku punya segalanya aku bisa memberimu lebih dari yang kau mau, jika kau mau menjadi wanitaku..''


Deg!!!


Evelyn melonggarkan tenggorokannya ia menguatkan hatinya..


''Aku akan berpikir tuan...besok kau bisa menjemputku di tempatku bekerja aku akan memberi jawaban disana,..''


Dark mengangguk....


''Baiklah....aku akan menjemputmu besok..''


''Jadi...bisakah aku pergi sekarang....''tanya Evelyn mencoba menahan hatinya yang hancur labur,..


''Baik....pergilah apa perlu aku.......''

__ADS_1


''Tidak......aku baik-baik saja, dan aku bisa sendiri...''


Dark mengangguk..


Membiarkan Evelyn bangkit meski tertatih menuju toilet dan membersihkan dirinya, tak lupa pandangan Dark jatuh pada noda darah di ranjang...


Itu sangat menganggu...


Dark lalu bangkit dari sana dan ia menuju balkon...


*********


Evelyn sudah membersihkan dirinya dan memakai pakaian baru yang baru di beli oleh Dark untuknya, itu adalah pakaian mahal....


''Kau cantik sekali...''


Evelyn hanya membeku....


''Aku harus pergi...''


Evelyn menunduk lalu melangkah namun seketika, langkahnya terhenti ketika Dark kembali menariknya dan menekannya di pintu..keduanya saling menatap..


Hening........


''Ada apa....''


''Sial........kau sangat cantik dan mampu membakarku....''


''Aku akan membayar lebih..bisakah kita melakukannya lagi...''


''Hah.........''wajah Evelyn pucat pasi..


*********


Evelyn berdiri di pinggir jembatan, tubuh dan hatinya seakan remuk redam....


airmatanya turun sepanjang jalan...bagaimana bisa dia mendapatkan semua hal yang menyakitkan..mengapa...


Mengapa harus dirinya yang mengalami ini semua...mengapa bukan Sania...mengapa bukan keluarga baru ayahnya...


''Mengapa.............'' jerit Evelyn begitu hancur,..


Ia sudah kehilangan segalanya, saat ini benar-benar tak ada yang tersisa darinya...tidak ada...


''Mengapa kau tidak menjemputku saja..terlalu menyakitkan bagiku bu....sangat menyakitkan...''tangis Evelyn menundukan kepalanya....


Kini tak ada kebanggaan lagi pada dirinya, sementara orang-orang yang menyakitinya baik-baik saja,...mereka bahkan bahagia.


Bukankah ini tidak adil...?


Evelyn mengepalkan tangannya, mereka harus merasakan hal yang lebih parah darinya bukan..dan untuk itulah Evelyn hidup...


*************

__ADS_1


Mobil berhenti di halaman rumahnya, dari jauh..Evelyn sudah bisa melihat bahkan ada mobil Elard disana.dan pria itu sedang duduk bersama Sania dan juga adiknya..tak jauh dari sana ada Paula dan juga Robert ayahnya..


Evelyn menyipitkan matanya dengan tajam....keluarga bahagia sedang berkumpul...


mereka bahkan melihat ke arahnya ketika Evelyn keluar dari mobil, mereka menatapnya seperti seorang pendosa...


Sania yang melihat kedatangan Evelyn lalu melirik sang ibu dan juga ayahnya..


''Lihatlah ibu...pelacur ini sudah pulang...''


Evelyn berusaha tidak terpengaruh dengan kata-kata Sania yang menggores hatinya...Evelyn mendekati mereka sampai Paula berdiri dan menghampirinya..


''Benarkah kata-kata Sania kalau kau sudah menjadi pelacur semalam...''


Betapa malunya Evelyn ketika Elard menatapnya dengan tajam, dia sadar mereka sedang mempermalukannya di depan Elard, bahkan ayahnya hanya diam...


''Paula....''


''Yah...kau tak bisa menjawab itu artinya semua itu benar...''


Kali ini Sania tak mau kalah ia ingin sekali mempermalukan Evelyn dan membuat ELard membuka matanya lebar-lebar siapa wanita yang dia cintai..


Bukan tanpa sebab, Sania pikir kedatangan Elard untuk menemuinya namun pria itu malah mengatakan padanya kalau dia menyukai Evelyn.....


''Semalam temanku melihatmu turun di sebuah apartemen mewah di tengah malam dan kau tidak keluar dari sana sampai pagi,....jadi jangan menyangkal jika kau memang menjual dirimu Evelyn atau aku akan.......''


''Yah.....aku memang melakukannya..''


Kali ini Evelyn mengangkat wajahnya, ia menatang Paula dan juga Sania dengan tajam...


''Hoh jadi itu benar...''jerit Paula tampak jijik..


Seketika ia menoleh pada Robert yang tampak syok....


''Lihatlah putrimu yang selalu kau bela dia ternyata adalah pelacur astaga...berapa kau di bayar hah...''


Paula mendorong tubuh Evelyn hingga dia jatuh ke rerumputan...dan masih kesal Paula kembali menarik Evelyn berdiri...


''Yah...kau sudah mendapat karmanya, kau menyebutku pelakor apa bedanya denganmu...apakah pria yang membayarmu sudah punya istri...katakan...bukankah kau sangat menjijikan dengan menunjuk tanganmu padaku....''teriak Paula dengan murka..


Airmata Evelyn menetes..


Plak......


Evelyn terkejut ketika sang Ayah menampar wajahnya dengan kuat hingga sudut bibirnya berdarah...tubuh Evelyn goyah...dia menatap mata Robert dengan tajam..


''Kau...berani-beraninya mempermalukan aku....bukankah itu keterlaluan..yah...dengarkan aku Evelyn...aku memutuskan hubungan di antara kita...apa kau dengar itu...''


Evelyn sudah tak bisa bicara, sudah terlalu sakit hati dan perasaannya..sekarang...bagaimana seorang ayah yang dulu pernah mencintainya dan membujuknya ketika dia menangis...kini malah menjatuhkan vonis bersalah tanpa mendengar pernyataan anaknya lebih dahulu...bukankah itu tak adil..


''Pergi kau dari sini karna bagiku kau tak lebih dari kotoran yang harus di bersihkan..''desis Robert dengan senyuman dingin..


Pria itu menarik Paula dan memeluk Sania untuk masuk ke dalam rumah dan meninggalkannya..menyisakan Evelyn berdiri dengan airmata yang menetes di wajahnya...

__ADS_1


__ADS_2