Back To Me (Byun Baekhyun)

Back To Me (Byun Baekhyun)
12


__ADS_3

Kini Hana dan Baekhyun sudah di rumah, mereka masih saling diam. Si pria duduk di sofa ruang tamu sedang sibuk mengerjakan sesuatu di laptopnya, sedangkan Hana hanya menatapnya dari meja makan sambil memangku Hyuna.


Makan malam yang ia bayangkan akan menyenangkan untuk merayakan ulangtahun Hyuna yang jatuh tepat esok hari sepertinya tidak akan terjadi. Lihat! Pria itu bahkan belaga melupakannya.


Tiba-tiba Hyuna menangis, membuat atensi Hana kini kembali pada sang puteri.


"Hyuna, kau mengantuk ya?" Hana menggendong puterinya itu dan ia usap-usap punggungnya untuk menenangkannya.


"Ayo kita tidur ya," Hana lalu membawa Hyuna ke dalam kamar si anak. Menidurkan di kasur kecilnya, sedangkan ia terduduk di lantai dengan kepala yang ia tidurkan di sisi kasur Hyuna.


Sepertinya Hyuna memang mengantuk, si kecil itu langsung tertidur tidak lama setelah Hana menidurkannya di atas kasur.


Hana kini menatap Hyuna, memegang tangan mungilnya, lalu air mata kembali jatuh membasahi pipinya.


"Maafkan ibu ya?"


"Ibu belum bisa jadi ibu yang baik untukmu."


"Begitu juga jadi isteri yang baik untuk ayahmu."


"Hyuna..."


"Bagaimana ini? Dada ibu sesak sekali, ayahmu pasti sulit untuk memaafkan ibu kan?"


Hana berusaha keras agar tangisannya tidak menimbulkan suara berisik yang akan membangunkan Hyuna, ia menangis dalam diamnya sampai tidak terasa ia tertidur dengan posisi seperti yang dijelaskan tadi.


***


Baekhyun akhirnya menutup laptopnya setelah beberapa jam mengalihkan pikirannya dengan mengerjakan sesuatu untuk perusahaannya.


Ini sudah jam 10 malam, dan saat Baekhyun masuk kamar, Hana tidak ada di sana. Pria itu akhirnya keluar dan pergi ke kamar Hyuna, bisa ia dapati wanita yang ia cintai itu tertidur dengan posisi duduk di lantai. Baekhyun menghela napasnya, ia akhirnya melangkah untuk membopong Hana ke kamar.

__ADS_1


Ia sangat hati-hati untuk mengangkat tubuh Hana, agar wanita itu tidak terbangun. Tapi tiba-tiba saja, tangan Hana melingkar di lehernya, membuat Baekhyun tau kalau Hana memang terbangun. Meski begitu, Baekhyun tetap membawa Hana ke kamarnya.


Hana dibaringkan oleh Baekhyun di atas kasur milik mereka, lalu tanpa bicara apapun lagi, ia hendak melangkah pergi lagi tapi segera ditahan oleh Hana.


"Mau kemana?" Tanya Hana yang pada akhirnya membuka matanya.


"Hanya keluar kamar," jawab Baekhyun masih datar.


"Kau tidak mau membicarakan hal tadi denganku? Aku tau aku salah, aku minta maaf, dan meskipun terasa tidak masuk akal, aku tetap punya alasan."


Baekhyun kini melepaskan tangannya dari tangan Hana tapi tetap menoleh ke arah isterinya yang kini sudah duduk di atas kasur.


"Memang jelas tidak masuk akal. Aku tidak pernah melarang apapun yang ingin kau lakukan. Terlebih yang membuatmu senang. Selama masih dalam batas wajar, aku tidak pernah melarangnya."


"Jadi  alasan apalagi yang membuatmu berbohong padaku? Aku bukan suami pengekang yang akhirnya membuatmu berbohong padaku kan?"


"Kau ini terlalu sempurna untukku, kau tau? Seperti yang kau bilang, kau bukan suami pengekang, kau tidak pernah egois, kau tidak pernah menuntut apapun dariku. Justru itu yang membuatku akhirnya sungkan untuk jujur denganmu, aku merasa tidak tahu diri kalau harus jujur aku ingin main, aku ingin bersenang-senang, sedangkan ada anak dan suami yang menjadi tanggungjawabku."


"Dan akibat dari kebohonganmu aku jadi merasa kecil. Aku merasa tidak bisa membuat isteriku sendiri nyaman untuk jujur denganku."


Hana menggeleng, lagi-lagi air matanya sudah kembali terjun bebas.


Wanita itu meraih tangan Baekhyun, "Tidak. Bukan salahmu. Kau suami baik. Aku bilang kan kalau kau itu suami sempurna, Baek. Ini kesalahanku. Kesalahan besarku, aku tau. Aku minta maaf."


"Apa kau juga tau Hana, bagaimana perasaanku saat tau kau sudah bisa berbohong padaku? Kau tau apa yang sangat aku takuti? Kalau kau saja sudah bisa membohongiku, mungkin kau juga bisa saja mengkhianatiku kemudian hari, kau bisa saja melakukan apa yang ibuku lakukan pada ayahku dulu, berselingkuh, karena semua itu juga berawal dari kebohongan, Hana."


Hana bisa mendengar getaran dari suaranya. Kenapa Hana tidak berpikir sampai sana? Kenapa Hana bisa-bisanya melupakan trauma Baekhyun. Susah payah ia membangun kepercayaan Baekhyun untuk dirinya, untuk bisa mencintainya, dan sekarang Hana sudah menghancurkan itu.


Seperti kata Chanyeol.


"Baekhyun benci kebohongan."

__ADS_1


"Baekhyun benci pengkhianatan."


Karena terakhir kali ia mengalami itu semua, ia kehilangan sang ibu.


"Aku harus melakukan apa agar kau bisa memaafkanku?" Hana melirih, ia sudah kembali meraih tangan suaminya.


"Itu soal gampang, memaafkanmu tidak sulit Hana. Tapi...." Baekhyun menjeda ucapannya, ia menarik napas dalam-dalam karena sungguh dadanya luar biasa sakit karena memori masa lalunya kembali terekam diotaknya.


"Ketakutan ini, aku takut Hana. Kau tau kan apa yang pernah membuatku tidak mau menikah? Ketakutan ini. Aku takut sesuatu yang aku khawatirkan akan benar-benar terjadi. Jangan buat aku menyesal untuk bisa mencintaimu, Hana."


Hana menggeleng, ia langsung bangkit lalu memeluk Baekhyun erat. Hana sendiri tidak akan memaafkan dirinya sendiri kalau trauma Baekhyun kembali karenannya. Hana bodoh. Ia tahu itu.


"Aku tidak akan melakukannya."


"Aku di sini terus, bersamamu."


"Maafkan aku Baekhyun. Maaf."


"Jangan menyesal karena mencintaiku, Baekhyun."


"Aku membutuhkan cinta itu."


"Jangan takut, aku tidak akan melakukan kebohongan lagi. Sekecil apapun. Aku bersumpah."


"Tolong percaya kembali, padaku."


Baekhyun pada akhirnya membalas pelukan isterinya, wajahnya tenggelam diceruk leher Hana dan menangis di sana.


"Kau--- tidak akan pergi seperti ibu kan?" Lirih Baekhyun.


Hana menggeleng, "Tidak akan pernah. Aku di sini. Bersamamu, ya?"

__ADS_1


__ADS_2