
Hana sedang bersiap-siap untuk diajak pergi makan malam acara kantor suaminya. Ia memilih dress panjang tanpa lengan yang akan ia padukan dengan cardigan putih.
"Sudah siap nona?" Tanya Baekhyun yang baru masuk ke kamar.
Hana yang duduk di kursi meja riasnya, menatap Baekhyun dari cermin, "Sudah," jawab Hana. Ia pun berdiri, tapi saat mau berbalik, Baekhyun malah langsung memeluknya.
"Baek?" Hana bingung karena Baekhyun hanya diam memeluknya.
"Entah kenapa tapi kau bertambah cantik berkali-kali lipat di kehamilanmu yang sekarang," ucap Baekhyun. Hana terkekeh. Tingkah Baekhyun di kehamilannya sekarang memang agak berbeda, tidak ada lagi image cuek, atau dingin yang ditunjukan pria itu. Yang ada hanya pria soft yang akan mendusal pada Hana tiap kali ada kesempatan. Baekhyun benar-benar terlihat budak cinta-nya Hana.
"Masa?"
"Iya."
Baekhyun menurunkan cardigan yang Hana pakai untuk mencium ceruk leher Hana dari belakang lalu turun ke bahunya.
"Harum," ucap Baekhyun lagi lalu menghirup dalam-dalam udara di bahu Hana.
"Baekhyun, geli," tapi Baekhyun tidak berhenti melakukannya.
"Ayah? Ibu? Apa kita jadi pergi?" Terdengar suara Hyuna dari luar.
"Dengar? Kita membuat puteri kita menunggu."
Baekhyun menghela napasnya, "Baiklah, ayo pergi."
***
Kedatangan Baekhyun bersama keluarga kecilnya membuat semua karyawannya menatap kagum. Meskipun telat, karena makan malamnya sudah lebih dulu di mulai. Bagaimana tidak, orang-orang menatapnya kagum, keluarga kecil mereka terlihat sempurna. Baekhyun yang menggendong Hyuna dengan tangan sebelahnya menggandeng sang isteri. Jangan lupa visual mereka yang membuat siapapun iri, Baekhyun yang tampan, Hana dan Hyuna yang cantik.
"Ya! Kim Jongin! Itu mantan kekasihmu?" Jennie menyenggol lengan Jongin yang duduk di sampingnya.
"Iya."
"Hah? Cantik sekali!"
"Pantas sikapmu padaku selalu cetus, ternyata aku memang masih jauh dibawah mantan kekasihmu. Tapi oppa, aku memiliki rasa sayang yang---mphh."
Ucapan Jennie terpotong karena Jongin menyuapinya sepotong daging.
"Berisik! Jangan banyak bicara!" Jennie pun hanya bisa mendengus kesal, tapi tidak berlangsung lama karena ia langsung memasang wajah tegang saat keluarga kecil bosnya datang menghampirinya. Memang hanya mejanya yang masing kosong. Karena meja ini hanya ada dia, Jongin dan Chanyeol yang baru kembali setelah tadi ke toilet.
Jennie langsung berdiri dan membungkukan badannya 90 derajat, begitupun Kim Jongin. Sedangkan Chanyeol, mengambil alih Hyuna dari Baekhyu untuk ia pangku.
"Selamat datang," sapa Kim Jongin.
"Boleh kan kalau kita bergabung di sini? Tidak ada kursi kosong lagi," tanya Baekhyun.
"Tentu saja, silakan duduk," balas Jongin.
"Hai, oppa, apa kabar?" Hana dengan ramah menyapa Jongin.
"Baik, kau sendiri?"
"Sangat baik," balas Hana dengan senyum.
"Heum..." Hana melirik Jennie yang ada di samping Jongin, wanita itu hanya menunduk sedari tadi.
"Hana, kenalkan, dia Kim Jennie." Jennie langsung mengangkat kepalanya dan tersenyum pada Hana yang sudah lebih dulu tersenyum padanya.
Hana mengulurkan tangan pada Jennie dan langsung dibalas oleh Jennie.
"Dia... kekasihku." Jennie langsung menatap Jongin karena ia tidak menyangka kalau pria itu akan dengan senang hati memperkenalkan dirinya sebagai kekasih.
"Oh ya? Wah... senang bertemu denganmu, Kim Jennie," ucap Hana ramah.
"Aku juga senang bertemu denganmu. Kau... sangat cantik," puji Jennie jujur.
"Terimakasih, kau juga cantik," balas Hana.
"Anakmu juga lucu," puji Jennie lagi.
"Kau tidak mau memuji bosmu?" Jennie sempat mengerjapkan mata ketika mendapat pertanyaan dari Baekhyun yang membuat sisa orang lain di sana seperti Hana, Chanyeol dan Jongin terkekeh.
"Tentu saja, kau juga punya suami yang tampan," ucap Jennie lagi.
"Pacarmu juga tampan," balas Hana yang langsung mendapat tatapan tajam dari Baekhyun.
"Aku hanya membalas perkataan Jennie," balas Hana santai.
__ADS_1
"Aku harap tidak akan ada perang dunia kedua setelah ini," ucap Chanyeol bergumam.
"Hyuna, karena paman tidak membawa pasangan jadi biar kau yang jadi pasanganku ya?" Chanyeol berbicara pada Hyuna.
"Oke paman."
"Sera eonnie kemana?" Tanya Hana.
"Ada acara keluarga," jawab Chanyeol.
"Hm.. begitu."
"Sudah berapa lama kalian pacaran?" Kini Hana bertanya pada Jongin dan Jennie.
"Empat hari." Ini Jennie yang menjawab.
"Dua hari." Dan ini Jongin.
Dua-duanya salah, nyatanya mereka baru 3 hari jadian.
"Oh, jadi masih baru?" Balas Hana terkikik geli karena jawaban pasangan di depannya ini berbeda.
"Maaf, kami terlihat tidak kompak sekali bukan?" Balas Jongin.
"Wajar, kan masih baru."
"Aku dan Baekhyun juga sering tidak kompak."
"Soal apa?" Tanya Baekhyun.
"Suamiku maunya dia yang menyayangiku, dan aku mau aku yang menyayanginya."
"Itu memang kalian saling menyayangi bodoh!" Maki Chanyeol agak kesal.
"Mulutmu! Kau lupa sedang memangku siapa?" Balas Baekhyun melirik Chanyeol tajam.
"Oke. Sori." Untungnya Hyuna sedang sibuk makan jadi tidak sadar dengan apa yang diucapkan Chanyeol.
Setelah itu tidak ada lagi obrolan yang berarti karena mereka sibuk menikmati malam makan mereka di restoran barbeque ini.
Setelah makan siang, Baekhyun, Chanyeol dan Jongin sedang bergabung dengan karyawan yang lain, mereka sedang mengobrol bersama, sisa Jennie dan Hana juga Hyuna yang sudah tertidur di gendongan Hana.
"Jennie-ssi, boleh aku bertanya?" Hana membuka suara lebih dulu.
"Apa di kantor pernah ada gosip tentang aku dan Baekhyun?" Tanya Hana.
Jennie diam sejenak, ia jadi merasa bersalah pernah bergosip tentang wanita yang ada di hadapannya ini. Wanita yang ternyata selain cantik, juga sangat baik.
"Aku akan jawab jujur, pernah."
"Tapi berita itu sudah lama tenggelam, Jongin-oppa menyuruhku untuk mengatakan pada semua karyawan di kantor bahwa apapun kabar buruk tentang keluarga kalian, itu salah."
Hana tersenyum, "Kekasihmu untuk baik sekali bukan?"
Jennie hanya mengangguk kaku.
"Terimakasih juga untukmu karena sudah membantu menghapus semua berita gosip itu."
"Bukan jadi masalah."
"Kalau aku boleh cerita sedikit. Memang terjadi sesuatu di pernikahan kami. Bukan perselingkuhan, bukan pengkhianatan atau hal semacamnya. Aku tidak bisa menyebutnya. Pokoknya, ada 1 hal yang terjadi yang membuatku harus pergi dari suamiku. Dan kenapa sekarang aku kembali itu ada peran Jongin-oppa di dalamnya."
Jennie dengan serius menyimak cerita Hana, "Jongin-oppa yang kembali mempertemukan aku dan suamiku. Dia juga pernah membujukku untuk kembali pada keluarga kecilku ini."
Dalam hatinya, Jennie sangat salut dengan Kim Jongin. Pria itu tidak egois sama sekali, walaupun kemungkinannya saat itu ia masih menyimpan sedikit perasaan untuk Hana, dan ketika Hana berpisah dengan Baekhyun harusnya itu jadi kesempatan untuk Jongin meraih Hana, tapi nyatanya justru Jongin berperan untuk kembali menyatukan pasangan suami isteri ini.
"Kim Jongin selalu bilang kalau dia salut dengan kalian, dia melihat bagaimana kalian menyayangi satu sama lain dengan hebat, jadi mungkin itu yang membuatnya melakukan semuanya untuk kalian."
"Aku yang baru mengenalmu, dan tidak mengenal akrab suamimu juga bisa melihat itu. Aku jadi salah satu saksi dari banyaknya orang di kantor yang melihat seberantakan apa presdir kami saat isterinya pergi."
"Waktu itu dia sering membawa anak kalian, dan hanya saat bersama Hyuna-lah, suamimu bisa sedikit tersenyum."
Hana jadi merasa sesak membayangkan bagaimana Baekhyun dan Hyuna tanpa dirinya. Ia menyadari betapa egoisnya dia dulu.
"Aku masih merasa bersalah untuk itu."
"Cukup jangan pernah melakukannya lagi. Karena kalau bosku berantakan, dia jadi sangat menyeramkan, maaf ya, tapi ini hanya testimoniku sebagai pegawainya."
Mendengar itu Hana malah jadi tertawa, "Haha... memang iya. Awal mengenalnya juga dia sangat cetus dan galak."
"Oh iya? Berarti sama dengan Jongin-oppa."
__ADS_1
"Memang Kim Jongin cetus? Dulu dia itu pria paling soft loh."
"Hah? Oh, jadi apa hanya denganku dia cetus begitu?"
Hana terkekeh, "Apa kau yang lebih dulu mengejarnya?"
Tanpa ragu Jennie mengangguk.
"Mungkin akan beda sikapnya kalau dia duluan yang jatuh cinta denganmu. Bisa dikatakan Jongin-Oppa tidak suka dikejar, tapi yang pasti, Kim Jongin bukan pria yang mudah jatuh cinta dan ketika kau berhasil mendapatkannya, itu artinya kau hebat."
"Benar! Aku memang hebat bisa selalu sabar dengan sikap cueknya."
Hana dan Jennie pun asik mengobrol berdua, tidak jarang juga mereka tertawa bersama. Terlihat sangat akrab.
"Apa kira-kira sekarang mereka sedang membicarakan kita berdua?" Tanya Baekhyun pada Kim Jongin di sampingnya.
"Sepertinya begitu."
***
"Mantan kekasihmu itu seru sekali ya, kami mengobrol banyak tadi," cerita Jennie pada Jongin ketika mereka dalam perjalanan pulang dari makan malam.
"Berhenti menyebutnya mantan kekasihku."
"Akan lebih enak di dengar kalau kau menyebutnya isteri presdir."
"Ah iya, benar. Maaf."
"Tapi ya, dia itu cantik sekali, serius, aku kalau jadi pria juga akan jatuh cinta dengannya."
"Berlebihan!"
"Kau bicara begitu seperti tidak pernah jatuh cinta dengannya saja!"
"Dia bisa membuat presdir yang dingin jatuh cinta dengannya dan dia yang membuatmu sulit move-on. Sehebat itu seorang Park Hana kan?"
"Iya benar."
"Dan jauh lebih hebat lagi orang yang sudah membuatku move-on dari Hana."
"Siapa?"
"Menurutmu?"
"Apa itu aku?"
"Coba kau pikir sendiri, yang jadi kekasihku sekarang siapa?"
Jennie tersenyum ia sudah tau jawabannya.
"Kau bilang Hana cantik?" Jongin kembali bertanya.
"Iya."
"Lebih cantik mana dengan Yumi teman gosipmu?" Yumi adalah teman sekantor mereka yang sering jadi teman gosip Jennie.
"Park Hana lah."
"Kalau kau dengan Park Hana? Lebih cantik siapa?"
"Kau membandingkannya denganku? Ya jelas Park Hana."
"Kalau begitu kita beda pendapat."
"Hana tidak lebih cantik darimu, Jennie."
"Hah? Maksudmu?"
"Jangan pura-pura bodoh."
"Hana tidak lebih cantik dariku, jadi apa aku yang lebih cantik?"
"Hm."
Jennie menyunggingkan senyumny, "Hm, apa oppa?"
"Aku bilang jangan pura-pura bodoh!"
Jennie terkekeh, "Baiklah, aku mengerti. Dimatamu aku memang lebih cantik dari mantanmu."
"Eh, maksudku, isterinya presdir."
__ADS_1
#####
Bentar lagi ending gais hehe...