
"Kau tidak mau ikut ke Busan untuk menengok proyek di sana?" Tanya Chanyeol pada Baekhyun.
Pria yang ditanya pun menggeleng, "Aku sudah mengutus beberapa karyawan untuk ke sana."
"Termasuk Kim Jongin," jawab Baekhyun.
"Aku juga tidak bisa ke sana, orangtua Sora menungguku," sahut Chanyeol lagi.
"Tidak apa-apa, aku mempercayakan Kim Jongin," balas Baekhyun lagi.
"Aku tidak mau meninggalkan Hyuna."
Sang sahabat langsung menepuk pundak Baekhyun. Chanyeol sendiri ikut sakit dengan semua yang di hadapi sahabatnya. Isterinya dilecehkan, lalu pergi meninggalkannya dan sekarang puteri satu-satunya bahkan sakit parah. Apa Tuhan setidak-adil itu dengan sahabatnya?
"Soal Hana...," Baekhyun menoleh pada Chanyeol.
"Aku bilang, jangan mengatakan apapun kalau belum ada kepastian."
"Kau... merindukannya kan?"
Chanyeol ini bodoh atau apa? Kenapa harus ditanya? Tentu saja Baekhyun sangat merindukan wanita itu. Rindu sekali sampai rasanya ingin mati.
"Apa perlu aku jawab?"
"Aku juga, aku juga merindukan adikku."
"Dia satu-satunya keluarga yang aku punya."
"Baek, kau masih punya harapan untuk menemukan Hana kan?"
Baekhyun menghela napasnya berat, "Aku tidak tau. Rasanya aku sudah sangat lelah."
"Maka Hana tidak akan ketemu kalau kau sudah menyerah begini."
"Kau sudah berhasil menjebloskan Hera dan Sin Ho ke penjara, orang-orang yang menghancurkan Hana, kau juga harus kembali meraih Hana Baek. Hyuna membutuhkannya. Atau kau mau menikah dengan wanita lain?"
Baekhyun melirik sinis pada Chanyeol, "Kenapa selalu bawa-bawa menikah dengan wanita lain!"
"Kau tau? Dalam hati kecilku, aku bahkan masih benci pernikahan. Menikah denganku hanya membuat Hana menderita kan pada nyatanya? Apa aku harus membawa wanita lain untuk aku buat menderita juga hidupnya?"
"Pikiranmu terlalu jauh!" Tegas Chanyeol tidak suka dengan ucapan Baekhyun.
"Semua luka yang Hana dapatkan bukan karena pernikahan kalian, justru kau... kau obat untuknya."
Baekhyun tertawa keras, "Obat?"
"Lalu apa sekarang dia sedang membunuh dirinya sendiri karena meninggalkan obatnya?"
"Iya!!!"
"Dan itu keputusan terbodoh yang pernah Hana lakukan!"
Baekhyun diam.
"Baekhyun! Ayo! Ayo sama-sama saling menguatkan itu terus melangkah."
"Mencari Hana, wanita kesayangan kita. Isterimu dan adikku."
__ADS_1
***
"Jadi kau akan pergi ke Busan?" Sehun bertanya pada pria di hadapannya. Kim Jongin. Mereka sedang mengopi bersama di Cafe dekat perusahaan.
Semenjak kepergian Hana, Sehun dan Jongin kembali dekat. Jongin yang awalnya mencari Sehun untuk memintanya menceritakan apa yang sebenarnya terjadi. Kenapa bosnya itu jadi berubah kembali jadi tidak ramah dan ketus, Jongin sempat berpikir kalau bosnya itu hanya ada masalah biasa dengan Hana. Namanya rumah tangga pasti tidak selalu berjalan mulus. Tapi suatu hari Jongin yang ingin masuk ke ruangan bosnya untuk melaporkan satu pekerjaan, ia tidak sengaja menangkap bosnya yang menangis sambil melihat foto Hana.
"Hana, kau pergi kemana?" Lirih pria itu yang Jongin sempat dengar. Dari situlah ia tau bahwa Baekhyun berubah karena ditinggal Hana, kemudian ia mencari Sehun dan sahabat lamanya itu akhirnya mau menjelaskan tentang apa yang terjadi pada Hana. Tidak semua memang. Hanya di bagian di mana Hana meninggalkan Baekhyun karena suatu hal. Selebihnya Sehun tidak memberi tahu Jongin.
"Iya. Presdir mengutusku ke sana," jawab Jongin atas pertanyaan Sehun di awal tadi.
"Aku kasihan dengan Baekhyun-hyung. Keponakan-ku, Hyuna, ia sakit parah," ucap Sehun menunduk. Ia sudah tau keadaan Hyuna. Bagaimanapun Sehun sangat menyayangi anak sahabat wanitanya yang sudah ia anggap seperti keponakannya sendiri juga.
"Anak itu pasti merindukan ibunya," balas Jongin sama murungnya. Ia juga tidak bisa membayangkan ada di posisi presdirnya. Semuanya terlalu berat bukan?
Sehun mengangguk lalu menghela napasnya berat, "Semua merindukan Park Hana, aku juga, aku juga merindukan sahabatku!"
Kim Jongin menepuk bahu Sehun menguatkan, "Entah keyakinan dari mana, tapi aku yakin Hana pasti kembali."
"Tolong bantu doakan yang terbaik ya?"
Jongin mengangguk, "Tentu saja!"
"Kau dan Hana adalah teman-temanku."
"Eh iya, kau tidak mau ikut ke Busan? Untuk refreshing begitu?"
Sehun menggeleng, "Kau lupa aku ada di semester tua sekarang?"
Jongin terkekeh, "Baiklah."
"Cih!"
"Bawa saja wanita untukmu sendiri!"
Jongin memukul lengan Sehun, "Sial! Aku tidak sekesipian itu!"
"Di sana aku juga akan bertemu Luhan."
Sehun menoleh, "Oh? Kapten basket di SMA dulu?"
Jongin mengangguk.
"Sampaikan salamku saja padanya."
"Oke."
***
Kim Jongin pun akhirnya berada di Busan untuk urusan pekerjaan. Tapi karena ia memiliki teman juga di sini, jadi malam pertamanya di Busan Jongin pilih untuk menemui sahabat lamanya.
Ia sudah menunggu di dalam apartement sahabatnya, tapi si tuan rumah justru belum datang, ia hanya memberitahu Jongin passcode unit apartementnya. Si tuan rumah sedang ada di club katanya, mau jajan wanita tapi yang ia dengar di telepon sih tidak jadi entah karena apa.
Hampir setengah jam ia menunggu, akhirnya pintu pun terbuka. Menunjukan wajah lesu sang sahabat yang akhirnya datang.
Jongin terkekeh melihat wajah sahabat lamanya yang sudah lama tidak ia temui itu tampak suram.
"Wajahmu itu kenapa? Gagal melampiaskan hasrat?" Gurau Jongin.
__ADS_1
Orang yang diajak omong masih diam, ia membuka jaket, lalu langsung menyambar beer yang Jongin bawa dari Seoul, titipannya.
"Luhan! Luhan! Tabiatmu masih sama rupanya? Jajan wanita dan minum-minum?"
Sahabat Jongin yang dipanggil Luhan pun menoleh setelah meneguk beer dari botolnya langsung.
"Memang kenapa? Itu cara menikmati hidup!"
Jongin hanya menggelengkan kepalanya, "Aku bisa keluar negeri dengan prestasiku pun termasuk nikmat hidup kau tau?"
Luhan tertawa remeh, "Tidak usah sombong begitu!"
"Aku juga pernah ke luar negeri, aku ini punya perusahaan, memang tidak sebesar itu, tapi setidaknya aku masih bos. Lalu kau? Masih jadi budak korporat kan?"
Jongin terkekeh, apa yang diucapkan Luhan memang benar, dan ia tidak membawa serius obrolannya ini.
"Jadi gimana? Kenapa tidak jadi jajan wanitanya? Butuh main solo? Silakan di kamar mandi, biar aku di sini!"
Luhan melayangkan pukulan di lengan Jongin, "Sial!"
"Tadi aku sudah memesan 1 wanita, dia cantik, wajahnya agak pasaran memang karena seperti tidak asing di mataku, tapi serius, dia cantik."
"Dan aku ditolak! Dia kabur begitu saja bahkan ketika semuanya belum dimulai!"
Jongin tertawa keras mendengar cerita temannya.
"Kau tau? Itu kali pertama aku ditolak oleh wanita, padahal aku yang membayarnya."
"Ah sialan," lanjut Luhan lagi.
"Sepertinya dia anak baru dan bukan wanita penghibur yang berpengalaman."
"Aku melihatnya menangis," tawa Jongin berhenti ketika raut wajah Luhan berubah agak serius.
"Ya! Bagus kau membiarkannya pergi, kalau kau tetap lanjutkan mungkin kau bukan akan main suka sama suka tapi malah akan memperkosanya, karena sepertinya ia tidak mau," jawab Jongin.
"Dia terlihat ketakutan."
"Kalau memang tidak bisa kenapa harus jadi wanita penghibur?"
"Kita tidak tau alasan apa dibalik orang memutuskan sesuatu."
Luhan mengangguk-angguk setuju, "Aku tidak akan komplain, aku akan membiarkannya bebas kali ini, itung-itung sedekah."
Jongin tertawa lagi, "Sial!"
"Nanti besok malam temani aku ke klub."
"Aku harus jajan lagi."
"Kau tidak mau mencoba?"
"Tidak terimakasih."
"Aku akan ke sana tapi hanya untuk minum."
"Pusing juga mengurus pekerjaan terus."
__ADS_1