
Special
Baekhyun PoV
Menikah. Satu hal yang aku hapus dalam kamus hidupku. Tidak pernah terbayangkan sebelumnya kalau aku akan berada dalam 1 komitment seserius itu. Masa laluku penyebabnya. Terluka karena melihat ibuku sendiri berselingkuh di depan mataku, membuat aku tidak percaya wanita. Wanita yang aku sebut ibu itu sudah mengancurkan hati aku, apalagi ayahku. Berselingkuh bahkan sampai memiliki anak dari hubungan terlarangnya membuatku sempat membencinya. Membenci pasangan selingkuhannya juga tentu saja meski aku tidak kenal. Dan... anak mereka juga.
Untukku. Jaemin adalah luka. Kehadirannya merusak keluargaku. Kelahiran dia membuat pernikahan ayah dan ibu berantakan dan bahkan membuat ibu memutuskan untuk mengakhiri hidupnya. Iya. Itu pemikiranku sebelum bertemu Hana.
Park Hana. Wanita yang dulu selalu ku sebut dalam hati sebagai wanita kurang ajar yang sudah masuk ke dalam hidupku seenaknya. Aku pikir, aku bisa jahat seperi pria brengsek yang dengan mudah meninggalkan dan tidak bertanggung jawab atas wanita yang mengandung anaknya persis seperti ayah kandung Jaemin. Apalagi aku dan dia melakukan itu di luar unsur sengaja. Kami tidak saling mengenal. Dan itu hanya kecelakaan. Tapi nyatanya tidak, aku tidak sebrengsek itu.
Mungkin yang semua orang tau, hal yang membuatku akhirnya mau menikah dengan Hana adalah warisan ayah. Nyatanya tidak sebatas itu. Hey, aku tidak segila itu dengan harta kok.
Waktu itu, aku melihat bagaimana ayah bercengkrama baik dengan Jaemin. Aku tidak tau apa yang mereka bicarakan, tapi mereka tampak akrab. Ayah terlihat sangat tulus saat menatap Jaemin, padahal Jaemin bukanlah darah dagingnya. Jaemin bukan anak kandungnya. Jaemin adalah anak dari orang-orang yang sudah menyakitinya. Lalu aku merasa tertampar. Ayahku, meski aku kesal padanya saat itu karena selalu mendesakku menikah, ayah tetap seorang idola untukku. Ayah adalah orang paling tulus yang ada di hidupku saat itu sebelum Hana ikut masuk ke dalam kategori tersebut. Jadi saat melihat ketulusan ia menyayangi Jaemin, aku teringat Hana, aku teringat kandungannya, iya aku teringat anakku.
Anakku. Ia memilikiku sebagai ayah kandungnya, dan aku malah lari begitu saja dan memilih untuk melenyapkannya sedangkan ayahku sendiri dengan tulus membesarkan anak yang bukan anak kandungnya. Aku sangat malu untuk itu.
Lalu begitulah akhirnya aku mendatangi Hana untuk melamarnya. Iya. Aku memutuskan untuk menikah dengan Hana, hanya demi anakku.
"Kau benar-benar ayah yang baik," kata Hana ketika aku akhirnya menceritakan tentang hal tadi padanya setelah sekian lama ini aku simpan. Entah, tapi dianggap brengsek karena memilih menikah dengan Hana demi warisan membuatku lebih nyaman karena aku merasa bersalah sudah sempat berpikir untuk melenyapkan anakku sendiri.
"Kau pria baik Baekhyun," puji Hana lagi.
Hana. Isteriku itu sangat pandai kalau sudah memuji orang. Tapi kalau melakukannya untuk dirinya sendiri, ia sangat sulit. Tidak setelah ia bertemu Su-Ji, temanku yang menjadi psikolognya. Sekarang Hana sudah lebih bisa untuk menghargai dirinya sendiri.
"Aku tidak tau kalau bukan dengankau, apa aku akan sejatuh cinta ini?" Aku bertanya pada diriku sendiri di hadapan Hana.
Sedangkan Hana hanya terkekeh, "Bisa. Kau punya hati dan cinta yang luar biasa dalam dirimu Baekhyun. Aku hanya wanita beruntung yang mendapatkan hati dan cinta itu."
"Tapi aku pikir justru kau lah yang membuat aku memiliki hati dan cinta yang luar biasa."
"Tidak. Aku tidak melakukan apapun untukmu."
Padahal banyak yang ia lakukan, jangan lupa kalau Hana lah yang mengambil peran besar untuk membuatku akhirnya memaafkan masalalu, dan berdamai dengan keadaan.
"Tidak, kau banyak melakukan hal untukku, bahkan tanpa alasan itu pun aku bisa mencintamu hanya karena itu kau. Park Hana, bukan yang lain."
"Tapi---," kalau sudah berdebat begini aku akan langsung mengunci bibirnya dengan bibirku agar dia berhenti bicara.
__ADS_1
"Apapun itu. Aku bersyukur kalau kau lah orangnya. Orang yang dipilih Tuhan untuk memiliki hatiku."
"Seperti kau yang merasa beruntung untuk memiliki hatiku, aku juga beruntung bisa memiliki hatimu."
Hana hanya diam sambil tersenyum, ia mengalungkan tangannya di leherku lalu mempertemukan bibir kami kembali dengan singkat.
"Berhentilah bicara Byun Baekhyun. Suaramu, kata-katamu selalu membuat jantungku tidak karuan. Jadi berhentilah karena aku bisa pinsan."
Aku tertawa, Hana-ku selalu lucu ya?
Aku pikir pernikahanku tidak akan berlangsung lama dengannya. Mengingat tidak ada cinta di pernikahan kami. Aku hanya memikirkan tentang bagaimana aku harus bertanggung jawab untuk anakku. Itu saja.
Tapi ternyata dengan semua apa adanya Hana. Ia bisa membuatku jatuh sedalam ini. Hana yang cantik, baik, lucu dan sempurna dengan caranya sendiri.
"Tetap di sini ya Hana. Aku minta tolong, tetap bersamaku sampai kapanpun."
Kalau dulu ketakutanku adalah pernikahan. Hubungan. Komitmen. Sekarang ketakutanku hanyalah kehilangan Hana, kehilangan Hyuna dan Han. Kehilangan keluargaku. Kehilangan semua cintaku.
"Iya Baekhyun. Aku akan di sini terus. Bersamamu. Bersama Hyuna dan Han."
"Tidak dulu. Han masih belum genap 1 tahun dan Hyuna juga masih kecil."
"Memang kau mau punya anak berapa?" Tanyaku.
"Sebenarnya 2 sudah cukup. Perempuan 1 dan laki-laki 1, dan aku sudah memilikinya. Tapi kalau kau masih ingin punya lagi, aku akan senang juga."
"Kalau kau? Mau punya berapa?"
Aku hanya tersenyum menatapnya, sebelum akhirnya bersuara juga, "Dua juga sudah cukup. Aku yang akan mengikutimu Hana. Kau yang hamil dan melahirkan. Jadi semua ada ditanganmu ya?"
"Kau yakin tidak mau lagi?"
"Aku bilang terserahmu sayang, aku benar-benar tidak masalah kalau hanya ada Hyuna dan Han. Mereka juga cukup. Dan boleh juga bertambah kalau itu keinginanmu."
"Tapi yang pasti...."
Aku menggantung ucapanku, dia mengangkat alisnya penasaran.
__ADS_1
"Apa?"
"Yang pasti praktek membuat anaknya tidak berhenti."
"Baek!!!" Dia mencubit pinggangku salah tingkah.
"Tidak kan? Kita akan terus melakukannya kan?"
"As you wish, sayang."
Aku tersenyum. Hana jarang memanggil kata terakhir. Jadi ketika sekali ia melakukannya, jantungku berdebar tidak karuan. Haha. Lebay ya tapi itulah faktanya.
"Mau sekarang?"
"Kau belum mandi Baekhyun!"
"Kau juga!"
Iya. Karena dari tadi kami hanya duduk berdua di kasur. Sementara Hyuna dan Han yang kini sudah 3 bulan sedang diajak main oleh kakek dan neneknya.
"Kalau begitu, mandi bersama?"
"Kita melakukannya di kamar mandi?"
"Apa aku bisa menolak kalau kau yang meminta?"
Aku tersenyum puas, "Tentu saja tidak honey. Aku tau kau ingin memilikiku juga sebesar aku ingin memilikimu."
"That's the answer."
"Oke. Ayo kita mandi!"
Dengan begitu saja aku membopong tubuhnya untuk aku bawa ke kamar mandi mandi dan....
Sudah ya.
Ini privasi kami. Hehe.
__ADS_1