
Pukul 2 siang, rapat pun selesai. Baik Chanyeol ataupun Baekhyun sama-sama sedang menikmati makan siang mereka yang sebenarnya sudah cukup telat.
"Coba kau cek jadwal untuk besok," ucap Baekhyun di tengah-tengah makan siangnya.
Chanyeol memicingkan matanya, "Apa kau tidak bisa menyelesaikan makan siang kita dulu sebelum bertanya soal pekerjaan lagi?"
"Lakukan saja!" Ucap Baekhyun membuat Chanyeol mendengus.
Dengan kasar Chanyeol pun meraih ponselnya untuk mengecek jadwal yang ia tulis di ponsel, ia hidupkan ponselnya yang selama rapat tadi ia matikan. Setelah ponselnya terbuka, Chanyeol yang saat itu sedang minum tiba-tiba tersedak.
"Ada apa?" Tanya Baekhyun bingung.
"Istrimu itu ada-ada saja!"
Baekhyun mengerutkan keningnya, "Kenapa Hana? Katakan dengan benar!"
"Bisa-bisanya dia terpleset di tangga sampai kakinya terkilir," ucap Chanyeol sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
Baekhyun membulatkan mata, "Kenapa bisa?"
"Ya mana aku tau."
"Kau kata siapa?"
"Kata istrinya Chen, dia bilang tidak mau mengabarimu karena takut menganggu."
"Heish!" Baekhyun langsung meraih ponselnya juga lalu segera menelfon Hana, tapi tidak ada jawaban. Sampai ketiga kali ia mencoba, masih tidak ada jawaban juga.
Baekhyun frustasi, ia mengkhawatirkan isterinya.
"Tenang, Baek. Minhye bilang dia baik-baik saja hanya kakinya sakit."
"Aku akan pulang."
Chanyeol menghela napas, "Baiklah, silakan presdir."
Tanpa mengatakan apapun lagi Baekhyun pun pergi dari sana dan segera pergi ke parkirsn mengambil mobil untuk pulang bersamanya ke rumah.
Sampai di rumah, Baekhyun langsung mendapati Minhye yang sedang mencuci pirinh sedangkan istrinya tertidur di sofa.
"Kau pulang?" Tanya Minhye terkejut dengan kehadiran Baekhyun.
"Apa dia baik-baik saja?" Tanya Baekhyun tanpa basa basi.
"Ia hanya bilang kakiknya sakit sampai sulit berjalan."
"Astaga!"
"Baek, aku akan pulang, aku harus menjemput anak-anakku."
"Baik, terimakasih sudah menemani Hana."
Minhye mengangguk lalu pergi dari sana.
Baekhyun pun berjalan menghampiri Hana setelah kepergian Minhye. Ia melihat ke arah kaki Hana, ia mendapati memar biru dan sedikit bengkak. Apa terkilirnya cukup parah?
"Sayang, bangun," Baekhyun berjongkok didepan sofa dan segera membangunkan Hana dengan lembut,
"Hm?"
"Eh? Baekhyun?" Hana mengerjapkan matanya sampai terbuka lebar saat mendapati sosok suaminya.
"Eonnie mana?" Tanya Hana.
"Minhye sudah pulang, dia harus menjemput anak-anaknya."
"Ah begitu, kau sudah pulang?" Tanya Hana.
"Apa itu sakit?" Baekhyun mengiraukan pertanyaan Hana dan malah melirik kaki Hana.
Hana mengerti maksudnya, "Ah ini, eonnie pasti mengatakannya padamu ya? Aku hanya terkilir."
"Tapi itu bengkak."
"Iya sih sedikit tapi nanti juga sembuh."
"Ke dokter ya?"
"Tidak mau."
Hana menggeleng, ia hanya benci rumah sakit.
Baekhyun menghela napas, "Sudah makan?"
"Sudah tadi sama Minhye Eonnie."
"Ya sudah sekarang lanjutkan tidurmu di kamar ya?" Baekhyun berdiri hendak menggendong Hana.
__ADS_1
"Kau akan kembali ke kantor?" Tanya Hana sebelum Baekhyun meraih tubuhnya.
"Tidak, aku tidak akan meninggalkanmu dengan keadaan seperti ini."
"Apa aku mengganggu?"
"Tidak cantik, aku sudah selesai rapat. Sisanya Chanyeol bisa mengurus."
Hana nyaris tersipu dipanggil cantik, perasaannya memang selalu lebay, padahal ini bukan sesuatu yang baru yang dilakukan Baekhyun tapi masih selalu membuatnya salah tingkah.
Baekhyun pun langsung membopong Hana, "Maaf selalu merepotkanmu," ucap Hana yang sudah dalam gendongan suaminya.
"Tidak ada yang merasa direpotkan." Ucap Baekhyun sambil tersenyum menatap Hana.
Hana pun langsung melingkarkan tangannya di leher Baekhyun lalu menenggelamkan wajahnya pada bahu suaminya. Sedangkan Baekhyun pun segera membawa Hana ke kamar mereka yang ada di lantai atas.
Baekhyun mendaratkan tubuh Hana di atas kasur, lalu ia pun duduk di sisi kasur.
"Lain kali hati-hati, kurangi cerobohmu, ya?" Baekhyun memperingati.
Hana mengangguk.
"Bukan apa-apa, kau sendiri yang kesakitan kan?"
"Maaf Baekhyun." Hana menundukan kepalanya.
"Gwenchana," Baekhyun mengusap kepala Hana, ia seperti menasehati anak kecil.
"Kakinya sudah dikompres?"
"Tadi sudah dengan Minhye eonnie."
"Ya sudah nanti malam kompres lagi."
Hana mengangguk.
"Aku ke bawah dulu mengambil ponsel."
"Eum... Baek---,"
Baekhyun menghentikan langkahnya saat dipanggil oleh Hana.
"Iya?"
"Eum.. aku..."
"Ada apa?"
"Aku katakan nanti setelah kau ambil ponselmu."
"Apa bedanya dengan sekarang."
Baekhyun melihat Hana menggigit bibir bawahnya, "Ada yang sakit?"
Hana menggeleng.
"Lalu apa?"
"Aku...."
"Kebelet pipis."
"Astaga!" Baekhyun terkekeh melihat tingkah isterinya yang masih saja menggemaskan padahal sudah beranak 1.
"Ayo aku antar."
"Ah benar-benar memalukan," sungut Hana pada dirinya sendiri.
Baekhyun terkekeh, tangannya jahil menarik hidung Hana pelan, "Kenapa malu? Aku suamimu kalau kau lupa."
"Iya tapi--,"
Baekhyun langsung membopong kembali tubuh Hana, "Kau bisa memapahku saja Baek, aku berat kalau terus digendong."
"Diamlah, atau kau akan mengompol."
"Baekhyun!" Hana memukul bahu Baekhyun pelan membuat suaminya terkekeh.
Pria itu pun membawa Hana pada kamar mandi yang ada di kamarnya, ia dudukan Hana di atas kloset.
"Kau bisa menunggu di luar," ucap Hana.
"Aku di sini juga tidak apa-apa."
"Di luar Baek!"
"Apa sih indahnya menonton aku yang sedang pipis?"
__ADS_1
Baekhyun tertawa, "Baiklah, aku menunggumu di luar."
Baekhyun pun menunggu di luar, selang beberapa saat, Hana pun keluar dari kamar mandi loncat-loncat dengan sebelah kakinya.
"Hana!" Baekhyun memekik.
"Kau bisa memanggil aku."
"Ini kamar mandi, kalau kau seperti itu terus terpleset bagaimana?"
Baekhyun hampir kelepasan.
"Habis akan merepotkanmu kalau aku terus-terusan digendong."
"Bukankah akan lebih merepotkan kalau kau terpleset untuk kedua kalinya?" Baekhyun menekan perkataannya membuat Hana menunduk.
"Maaf."
Baekhyun menghela napas, ia langsung membopong kembali tubuh Hana, "Aku tidak merasa direpotkan, tapi aku tidak mau kau lebih sakit dari ini, Hana," ucap Baekhyun melembut.
"Iya aku tau."
"Menurut padaku, hm?"
Hana mengangguk.
Pria itu kembali membawa Hana ke atas kasur, "Aku ambil ponselku dulu."
"Sekalian menelpon ayah agar Hyuna menginap di sana beberapa hari, isteri ayah bisa mengurusnya, agar kau bisa fokus untuk sembuh dulu," ucap Baekhyun. Ayahnya memang sudah menikah lagi dengan rekan kerjannya 1 tahun yang lalu, Baekhyun senang karena pada akhirnya ayahnya tidak merasa sendirian lagi, beruntung isteri ayahnya yang baru juga sangat baik.
Setelah mengambil ponselnya dan selesai menghubungi ayahnya, Baekhyun kembali ke kamarnya dan langsung mendapati Hana yang sedang menyeka air matanya.
"Kau menangis?" Tanya Baekhyun.
Hana menggeleng.
"Bohong, kau menangis."
"Kenapa?"
"Ada apa?"
"Katakan padaku." Baekhyun kini sudah duduk di tepi ranjang menghadap Hana sambil menggenggam tangan Hana.
"Hey, kenapa?" Hana masih belum menjawab tapi air matanya kembali luruh, Baekhyun pun menyeka air mata itu.
"Maaf selalu mencari perkara, Baekhyun."
"Aku memang selalu seperti anak kecil."
"Aku--- aku selalu menyusahkanmu."
"Kau----"
"Ssssshhhhh...." Baekhyun mengintrupsi Hana untuk berhenti lalu langsung memeluk istrinya.
"Jangan pikirkan apapun."
"Kau istirahat saja," ucap Baekhyun.
"Aku pasti tidak bisa melakukan apa-apa untuk melayanimu dengan kaki seperti ini."
"Siapa yang menyiapkanmu sarapan, yang menyiapkan kemeja kantormu, yang---"
Baekhyun melepas pelukannya lalu langsung membungkam Hana dengan bibirnya sendiri.
Hana terkejut saat bibirnya disapa hangat oleh bibir suaminya, tapi itu hanya sebentar, selanjut Baekhyun menyeka rambutnya yang menghalangi wajah cantiknya.
"Jangan pikirkan aku."
"Aku bisa melakukannya sendiri."
"Kau isteriku bukan pesuruh."
"Sekarang, ayo tidur." Baekhyun ikut berbaring di samping Hana, menarik Hana ke dalam dekapannya.
"Ini masih siang Baek..."
"Tidak apa, tidur siang, kau harus istirahat."
"Kalau 2 hari kakimu tidak membaik, aku memaksamu ke dokter."
"Jadi kau harus cepat sembuh."
Hana mengangguk.
"Aku merasa seperti punya, suami, kakak sekaligus ayah."
__ADS_1
Baekhyun terkekeh, "Aku akan jadi apapun untukmu," ucapnya dengan mencium kening Hana.