
Pagi ini Hana bangun lebil dulu, dan yang pertama kali jadi pemandangan di paginya ini adalah sisi wajah tampan suaminya yang masih tertidur. Posisi Baekhyun telentang, satu tangan pria itu melingkar di tubuh Hyuna agar Hyuna memeluknya, sedangkan tangan sebelahnya lagi terparkir di bahu Hana. Jadi posisi Baekhyun sekarang ada di tengah-tengah Hyuna dan Hana yang memeluknya dari samping.
Tangan Hana bergerak untuk mengusap rambut suaminya. Hana tersenyum haru, ia bisa merasakan ini lagi, bagaimana ia tidur di samping Baekhyun, dan di dekap erat.
Tiba-tiba Hana ingin memangis lagi. Hana bukan wanita yang kuat. Hana lemah. Seberusaha apapun ia memaafkan dirinya sendiri, ini masih sulit untuk Hana. Menatap Baekhyun masih membuatnya sesak karena perasaan bersalah ini.
Sekarang Hana memang tau, Hana sadar dan Hana percaya kalau Baekhyun menerimanya apa adanya, Baekhyun mencintainya sebesar itu. Tapi Hana tidak mau diterima apa adanya, Hana tetap mau jadi lebih, Hana ingin menjadi layak untuk Baekhyun.
Berapa kali ia bertekad untuk terus mencoba melupakan semuanya, Hana tidak bisa. Semuanya masih terlalu melekat dalam benaknya. Bagaimanapun awal dari semua kejadian itu adalah dari keegoisannya terhadap Baekhyun kan?
"Andai saja aku tidak pergi ke club malam dan lebih memilih menunggu suaminya, semuanya tidak akan terjadi bukan?" Lirih Hana.
"Bodoh! Kau bodoh Hana! Dan Byun Baekhyun, kau lebih bodoh karena masih mau menerima isteri yang bodoh sepertiku," gumam Hana memaki dirinya sendiri.
Tapi nyatanya, tanpa ia sanga, gumamannya itu membangunkan suaminya.
"Hm? Siapa yang bodoh?" Tanya Baekhyun.
"Aniya....," jawab Hana cepat lalu berusaha untuk menampilkan senyum terbaiknnya pada Baekhyun.
"Selamat pagi Baekhyun."
Baekhyun tidak menjawab, ia justru membelakangi Hana sebentat untuk melepas tangannya dari Hyuna agar bisa fokus pada Hana.
"Hana...,"
"Hm?"
"Apa kau tidak lelah dengan terus menyalahkan dirimu sendiri?"
"...." Hana diam, apa tadi Baekhyun sebenarnya sudah bangun? Kenapa ia bicara begitu?
"Kalau aku, jujur saja, aku bisa lelah suatu hari nanti Hana."
Deg.
Mendengar itu Hana jadi ketakutan.
Hana takut Baekhyun menyerah dengannya.
"Tolong tegas dengan perasaanmu. Kalau memang ingin aku pergi, katakan! Aku akan benar-benar pergi dan tidak akan kembali."
"Itu yang kau mau?"
Hana menggeleng lemah.
"Aku bisa lelah menghadapimu yang seperti ini, Hana. Bisakah kau kasihan sedikit padaku?" Tambah Baekhyun lagi.
"Aku juga lelah menghadapi diriku sendiri, kau tau Byun Baekhyun?"
"Kau pikir aku mau menjadi seperti ini?"
"Tidak! Sekuat apapun usahaku untuk kembali seperti Hana yang dulu, aku tidak bisa."
"Melihat wajahmu selalu membuatku sakit karena perasaan bersalah ini, apa itu kemauanku? Bukan sama sekali Byun Baekhyun!"
Baekhyun hanya diam, lalu bangkit dari kasur.
"Kita bicara lagi nanti. Bangunkan Hyuna, kita sarapan dulu, dan jangan bicarakan ini di sekitar Hyuna, ia tidak mengerti apa-apa dan jangan sampai mengerti apapun tentang kita," ucap Baekhyun lalu berlalu dari kamar.
Akhirnya bersama Hyuna yang sudah dibangunkan, Hana keluar dari kamar lalu mendapati suaminya yang sedang bergelut di dapur.
"Pagi ayah," sapa Hyuna, Baekhyun menoleh lalu tersenyum lebar melihat Hyuna.
"Pagi juga sayang, Hyuna mau tidak sarapan pancake?"
"Mau ayah!"
__ADS_1
"Oke, tunggu ya, cuci muka dulu sana!"
"Sudah ayah!"
Iya Hana dan Hyuna sudah cuci muka di kamar mandi yang ada di kamar tadi.
"Oh begitu? Baiklah, ayah akan membuatnya dengan cepat," ucap Baekhyun.
Hana pun membawa Hyuna ke meja makan.
"Apa ibu tidak mau membantu ayah?"
Hana terdiam.
"Bukankah satu pekerjaan akan lebih cepat kalau dikerjakan bersama? Aku sudah lapar soalnya, hehe," tambah Hana lagi.
Hana menatap Baekhyun yang tidak menoleh ke arahnya, "Okay, ibu akan membantu ayah. Hyuna tunggu di sini ya?"
Hyuna mengangguk semangat, "Oke ibu."
Hana pun menghampiri suaminya, lalu mengambil buah yang sedang Baekhyun potong-potong, "Fokus saja dengan adonan pancake-nya, jangan sampai gosong, biar buah aku yang memotongnya."
Baekhyun tidak menjawab apapun dan menuruti perintah Hana.
"Awh...." Baekhyun langsung menoleh ke samping setelah mendengar Hana yang meringis kesakitan, dan dengan itu ia mendapati jari telunjuk Hana mengeluarkan darah karena hampir teriris pisau.
Baekhyun langsung meraih tangan Hana, membawa jari Hana ke arah mulutnya untuk segera ia hisap untuk membuat darah tidak banyaj keluar.
Hana sendiri hanya diam menatap Baekhyun melalukan pertolongan pertama untuknya, setelah mengisap jari Hana, Baekhyun membawa Hana ke wastafel untuk membersihkan lukanya.
"Ayah, ibu kenapa?" Tanya Hyuna.
"Tangan ibu terluka, ayah boleh minta tolong Hyuna?"
"Apa ayah?"
"Tolong ambilkan kotak p3k di laci itu," Baekhyun menunjuk sebuah laci yang ada ruang tengah.
"Terimakasih sayang," ucap Baekhyun.
"Ibu hati-hati ya lain kali," ucap Hyuna membuat Baekhyun dan Hana tersenyum.
"Iya sayang, terimakasih ya?"
"Biar ayah obati ibu dulu ya, Hyuna bisa kan menunggu sebentar?"
Hyuna mengangguk, "Iya ayah, obati ibu yang benar ya ayah."
"Siap sayang!"
Hyuna pun kembali ke meja makan sedangkan Baekhyun membuka kotak itu untuk mengambil obat merah dan plester di sana, ia menuangkan sedikit obat merah di luka Hana, lalu membalutnya dengan plester.
"Selesai," ucap Baekhyun.
"Terimakasih," jawab Hana.
"Heum..., tunggu bersama Hyuna saja," balas Baekhyun lagi.
"Oke, maaf merepotkanmu."
"Aniya."
Baekhyun pun kembali fokus dengan pancake-nya sedangkan Hana kembali ke meja makan bersama Hyuna.
Setelah pancake jadi, mereka bertiga pun makan bersama, interaksi mereka hanya fokus pada Hyuna sedangkan Baekhyun dan Hana masih sama-sama menghindari interaksi.
Selesai makan, Hana pun mendapati Baekhyun yang duduk di kursi depan halaman rumah.
__ADS_1
Hana menghela napas, ia menyadari ini memang salahnya. Mungkin Baekhyun merasa tidak dihargai, bagaimanapun tidak mudah juga untuk menerima seseorang yang banyak kurangnya seperti Hana kan? Tapi Hana malah tidak bersyukur untuk itu.
Ia pun memilih untuk menghampiri Baekhyun, dan pria itu dengan cepat menyadarinya lalu mengangkat tangannya memberi gesture agar Hana stop melangkah mendekat.
"Jangan ke sini dulu," ucap Baekhyun.
Baekhyun pun langsung mematikan rokoknya lalu membuka pintu agar Hana bisa masuk.
"Ada apa?" Tanya Baekhyun.
"Aku mengganggu ya?
"Aniya, ada apa?"
"Mau bicara, boleh?"
Baekhyun mengangguk, lalu menarik Hana untuk duduk di sampingnya.
"Kau tidak bekerja?" Tanya Hana setelah duduk di samping Baekhyun.
"Nanti agak siangan," jawab Baekhyun sebelum dilanjut dengan pertanyaan,
"Apa? Mau bicara apa?"
"Aku minta maaf."
"Jangan menyerah denganku Baekhyun."
"Aku tidak mau ditinggal ataupun meninggalkanmu."
"Tapi... tolong beri aku waktu untuk memaafkan diriku sendiri. Semuanya butuh proses, aku yakin seiring berjalannya waktu, aku pasti bisa sembuh, aku pasti bisa move on dari luka ini."
Baekhyun belum menjawab, ia sibuk menatap isterinya, tangannya bergerak untuk mengusap rambut Hana lembut.
"Kau harus bertemu dengan pria itu."
Hana menyatukan alisnya, "Siapa?"
"Sin Ho."
Mata Hana membulat, "Tidak mau. Aku tidak sudi melihat wajahnya lagi."
"Kau harus bicara dengannya. Kau harus menuntut maaf darinya, dia harus berlutut padamu, dengan begitu kau bisa memaafkan dirimu sendiri, Hana."
"Aku juga akan membawamu ke psikologi atau kalau perlu psikiater, kau mau ya mendapat perawatan dari mereka?"
"Apa menurutmu aku sesakit itu?" Tanya Hana sambil menunduk.
Baekhyun meraih wajah Hana, mengusap pipi Hana lembut, "Tidak sayang. Dengarkan aku, ini untukmu juga. Rasa traumamu, rasa bersalahmu itu harus ditangani. Kau yang bilang tidak mau merasakan perasaan semacam itu juga kan? Aku ingin mentalmu sehat, aku tidak mau berada disisiku terus membuatmu sakit karena rasa bersalah itu, aku ingin kau senang, Hana."
Hana menatap Baekhyun lalu tersenyum tipis, "Kalau memang untuk itu, aku mau."
"Tapi, jangan pernah pergi dariku, Baekhyun," ucap Hana lagi.
Baekhyun menggeleng, "Ingat ya, aku tidak akan pergi kecuali kau yang menginginkanku pergi. Jadi sekali lagi kau memintaku pergi, aku akan benar-benar pergi."
Hana takut, tanpa sadar tangannya mencengkram tangan Baekhyun yang menggenggamnya. Ia takut benar-benar kehilangan Baekhyun-nya.
"Kau mengancam?"
Baekhyun terkekeh samar, "Apapun itu sebutannya yang penting itu agar kau tetap disisiku."
"Aku tidak akan jadi orang yang terlalu baik lagi, aku ingin lebih egois kalau itu bisa membuatmu tetap bersamaku."
"Jadi, jangan minta aku pergi, karena aku akan betulan mengabulkannya, ya?"
Hana menganggukan kepalanya, Baekhyun pun segera menarik Hana ke dalam dekapannya, "Tetap di sini, tetap bersamaku, Hana," bisik Baekhyun.
__ADS_1
Hana mengangguk lagi, lalu mengeratkan pelukannya pada sang suami.
"Ayah, ibu kenapa asik berpelukan? Kenapa aku tidak diajak?" Hana dan Baekhyun kompak menoleh pada anak kecil yang berdiri di ambang pintu, Ya memang begini kalau sudah asik berdua, baik Baekhyun ataupun Hana seringkali lupa kalau mereka memiliki puteri yang sepertinya semakin besar semakin bawel.