Back To Me (Byun Baekhyun)

Back To Me (Byun Baekhyun)
26


__ADS_3

Untuk kali ini Baekhyun akan mengikuti ego-nya, ia tidak pergi ke kantor, ia menunggu Hana sampai wanita keluar dan berniat mengikutinya. Tidak peduli dengan hatinya yang menyuruhnya untuk percaya dengan Hana, karena logikanya pun mencurigai Hana bukan dengan alasan yang tidak berdasar. Baginya alasan ini cukup kuat. Hana yang berubah sejak pertama kali kesadarannya, kemerahan di tekuk Hana yang jelas-jelas Baekhyun lihat kalau itu persis kemerahan kiss-mark, rumor yang beredar di kantor yang mengatakan Hana bersama seorang pria lain di klub malam, sampai pesan dari Sin Ho yang mengajaknya bertemu.


Tepat jam 9, Hana keluar dari rumah, wanita itu pergi dengan taksi menuju suatu tempat. Sebisa mungkin Baekhyun menjaga jarak dari taksi yang Hana tumpangi agar Hana tidak melihat mobilnya yang mengikuti di belakang.


Taksi Hana berhenti di suatu tempat, itu adalah sebuah taman dekat sungai Han. Hati Baekhyun semakin tidak karuan, dari tempat saja terlihat seperti mereka akan bekencan bukan?  Dan tidak ia lihat Hyo Ri di sana, hanya ada Sin Ho.


Baekhyun mengintip di balik pohon yang agak jauh dari titik tempat Hana dan Sin Ho bertemu, tapi pria itu tidak bisa mendengar apa yang dibicarakan mereka berdua. Yang Baekhyun lihat hanyalah bagaimana Sin Ho menarik Hana ke dalam pelukannya. Dan sudah, itu sudah cukup jelas untuk Baekhyun.


Tidak mau semakin menyiksa hatinya yang sudah luar biasa  perih, Baekhyun pun membalikan tubuhnya untuk segera pergi dari sana.


Sampai di dalam mobil, Baekhyun mengepalkan tangannya. Harusnya ia tidak pernah percaya wanita. Harusnya ia tidak pernah menggantungkan hatinya seperti ini pada Hana. Harusnya ia tidak pernah jatuh sedalam ini pada wanita itu.


"Apa kau benar-benar sejahat ini Hana?"


"Bicaramu sangat manis, dan harusnya aku tau sesuatu yang sangat manis terkadang bisa membunuh."


"Dan kau sudah melakukannya."


Iya. Sebagaimana makanan manis yang bisa menyebabkan penyakit mematikan, bagi Baekhyun begitulan semua ucapan Hana selama ini padanya.


Tidak akan pergi katanya? 


Baekhyun menertawai dirinya sendiri.


Mungkin maksudnya bukan tidak akan tapi belum.


Tidak akan melakukan apa yang dilakukan ibunya?


Mungkin bukan tidak akan, tapi belum ketahuan.


Baekhyun tidak bisa mendeskripsikan bagaimana hatinya sekarang. Sangat hancur luar biasa. Bagaimana tidak? Rasanya ia seperti dikhianati oleh dua orang. Hana dan dirinya sendiri. Dirinya sendiri yang pernah berprinsip tidak akan menikah tapi pada akhirnya menghancurkan prinsip itu lalu inilah hasilnya.


"Tuhan, sebenarnya salahku apa?"


Tidak. Baekhyun tidak mau menangis. Tapi air mata  itu tetap membasahi pipinya.


Ia tertawa lagi saat menyadari bahwa ia tidak bisa menahan air matanya.


"Air mata sialan!"


"Kau menangis karena mangasihani dirimu sendiri Byun Baekhyun?"


"Memang iya."


"Kau kasihan sekali."


***


Chanyeol mendapati Baekhyun yang sedang merokok di ruang kerjannya. Tidak biasanya. Pria itu jarang sekali merokok. Chanyeol sangat tau bahwa pria itu merokok hanya ketika ia ada masalah.


"Kau kenapa?" Tanya Chanyeol.


Baekhyun melirik pada Chanyeol, "Tidak apa-apa."


"Kau merokok di ruang kerjamu. Itu bukan kau sekali."


"Memang kenapa? Pergilah! Aku hanya pusing karena masalah pekerjaan."


"Kau yakin?"


Baekhyun bergumam, "Hm..."


"Boleh aku izin keluar sebentar?"


"Kemana?"


"Sebentar saja, ada urusan."


"Sana!"


Chanyeol tersenyum, "Oke bos, terimakasih banyak."


Baekhyun menatap kepergian Chanyeol. Ia tidak tau apakah Chanyeol ikut menyembunyikan pengkhianatan Hana atau tidak. Tapi sialnya, Baekhyun sulit untuk membayangkan Chanyeol sejahat itu padanya. Mereka berteman bertahun-tahun. Jauh sebelum Baekhyun mengenal Hana. Apa pria itu juga bisa dengan tega mengkhianatinya?


Mungkin bisa saja. Tapi Baekhyun memilih untuk tidak tau. Karena itu hanya semakin membuat hatinya sakit bukan? Maka dari itu ia tidak membahas soal Hana pada Chanyeol.


Baekhyun mengacak-acak rambutnya frustasi, ia bangkit dari kursi kerjanya dan memilih untuk pulang. Mungkin bertemu Hyuna akan membuat hatinya jauh lebih tenang.


***

__ADS_1


Di sinilah Baekhyun. Di rumahnya hanya bersama Hyuna. Bibi Miran sudah Baekhyun suruh pulang karena ia akan menjaga Hyuna hari ini, dan isterinya? Tidak tau. Belum pulang dan tidak mengabari.


Baekhyun menangkap Hyuna yang tadi berjalan menghampirinya setelah mengambil mainannya.


"Hati-hati sayang," ucap Baekhyun.


Hyuna hanya mengangguk, "Iya ayah," puterinya itu sudah semakin pintar menjawab ucapannya.


"Hyuna," panggil Baekhyun.


"Ayah menyayangimu," ucapnya lagi.


"Ayah juga menyayangi ibumu."


"Tapi hati ayah sakit, Hyuna."


"Ayah sedih."


Hyuna menatap ayahnya dengan tatapan polosnya, balita itu langsung memeluk ayahnya.


"Ayah jangan sedih," ucap Hyuna yang mengalungkan tangannya pada leher ayahnya yang terduduk di lantai.


"Hyuna sayang ayah?" Tanya Baekhyun.


"Iya," jawab Hyuna lucu.


Baekhyun langsung tersenyum, ia menggendong puterinya untuk akhira ia cium pipi dan kening sang anak.


"Hyuna jadi anak yang baik ya sayang?"


"Kalau semuanya membohongi ayah, ayah harap hanya Hyuna yang tidak akan pernah melakukannya," lirih Baekhyun.


Hyuna hanya mengangguk-angguk saja karena anak kecil itu belum mengerti sepenuhnya apa yang diucapkan sang ayah.


"Ayah..." panggil Hyuna.


"Iya sayang?"


"Saranghae."


Baekhyun kembali tersenyum, "Nado."


Bersamaan dengan itu ponselnya yang ada di meja bergetar tanda ada pesan masuk.


"Sebentar, ayah ambil ponsel dulu," ucap Baekhyun kini menurunkan puterinya untuk mengambil ponsel di meja.


Ternyata pesan dari nomor yang tidak di kenal. Saat ia bukan pesan itu, ternyata isinya adalah sebuah foto yang menunjukan sepasang pria dan wanita yang sedang bercumbu, dan meski foto di ambil dari samping, Baekhyun mengenali mereka.


Iya.


Hana dan Sin Ho.


Baekhyun meremas ponselnya, "Setelah ini apalagi Hana?"


"Kau terlalu banyak mengejutkanku hari ini."


***


Hana memasuki rumahnya, tapi sepi di ruang tamu. Biasanya akan ada bibi Miran yang menemani Hyuna main kalau ia pergi. Lalu ia pun naik ke atas pergi ke kamar Hyuna.


Ternyata balita itu tertidur, tapi Hana tidak mendapati bibi Miran. Tidak mungkin kan bibi Miran meninggalkan Hyuna sendirian di rumah.


Lalu ia pun pergi ke kamarnya sendiri untuk menaruh tas yang ia bawa, dan ia dibuat terkejut saat mendapati suaminya ada di sana.


"Baek, kau tidak bekerja?" Tanya Hana.


"Pulang," jawab Baekhyun pendek. Hana bisa menangkap perbedaan nada bicara dan sorot mata dari suaminya.


"K-kenapa?"


"Kalau kau bosan denganku atau mulai berhenti mencintaiku, kau bisa mengatakannya!"


Hana bingung, "Kenapa bicara begitu?"


"Kau sudah menemukan yang lain kan?"


"Kau menuduhku selingkuh?"


"Memangnya kau tidak?"

__ADS_1


"Lalu ini apa?" Baekhyun menyodorkan ponselnya yang menunjukan sebuah foto.


Hana melihat foto itu, matanya membulat. Itu foto malam itu. Hana tidak tau kalau Sin Ho diam-diam memotretnya dan apa ini niatnya? Memberikannya pada Baekhyun?


"Bisa jelaskan?" Tanya Baekhyun dengan alis terangkat.


"Baekhyun..."


"Tadi juga kau tidak bertemu Hyo Ri, kau hanya bertemu Sin Ho."


"Jelaskan juga tentang itu."


"Aku mau mendengarnya."


Dada Hana bergemuruh hebat. Apa ini saatnya ia jujur pada Baekhyun tentang semuanya?


"Menurutmu sendiri bagaimana?" Hana malah bertanya pada suaminya.


"Kau benar-benar berselingkuh dengan pria itu?"


Hana diam sejenak, sebelum kembali menatap suaminya.


"Iya."


"Aku selingkuh dengannya."


"Kenapa?" Tanya Baekhyun tanpa intonasi. Hana terdiam dengan kepala menunduk.


"Sudah tidak mencintaiku?"


"Kenapa tidak bilang? Kenapa harus memilih berselingkuh?" Baekhyun nyaris berteriak di depan Hana tapi beruntung masih bisa ia tahan sedikit.


"Kau bisa mengatakannya padaku Hana, dan aku akan suka rela melepasmu untuk mencari laki-laki lain."


"Maafkan aku, tapi aku sudah terlanjur selingkuh duluan."


Baekhyun memejamkan matanya, menikmati rasa sakit hati yang sangat menyiksanya ini. Hana-nya sudah membuat hatinya hancur tanpa sisa. Satu-satunya wanita yang sudah ia percaya justru mengkhianatinya seperti ini.


"Harusnya kau bisa lebih pintar menyembunyikannya, biar aku tidak tau sekalian, biar aku tidak merasakan sesakit ini."


Baekhyun sama sekali tidak membentaknya, pria itu hanya melirih dengan tangan terkepal.


"Marah padaku Baekhyun!"


"Aku sudah menyakitimu kan?"


"Tubuhku.... sudah disentuh orang lain, kau harusny marah denganku!!!"


"Pelankan suaramu, kau akan membangunkan Hyuna."


"Dan untuk apa aku marah?"


"Itu pilihanmu."


"Jangan merasa bersalah, aku tidak mau kau berakhir seperti ibu."


"Salahku Hana. Salahku yang tidak bisa membuatmu cukup hanya dengan memilikiku."


Setelah mengungkapkan itu semua, Baekhyun menghela napasnya berat.


"Jadi setelah ini apa? Mau bercerai?"


"Aku akan pergi," jawab Hana.


"Aku akan pergi dari sini."


"Jangan."


"Tetap di sini bersama Hyuna."


"Biar aku yang pergi."


"Dari awal aku memang tidak pernah mau memiliki rumah."


"Aku tidak pantas memiliki tempat untuk pulang," ucap Baekhyun sebelum akhirnya pergi meninggalkan Hana yang sudah menangis histeris sambil memeluk lututnya sendiri.


"Maafkan aku Baekhyun."


"Maaf...."

__ADS_1


__ADS_2