
Setengah tahun sudah Hana tinggal di Busan, ia hidup dengan bibinya yang tak lain adik kembar ibunya sendiri.
Iya. Hana ternyata masih punya bibi. Ia mengetahuinya saat sebelum pergi dari kota Seoul, ia pergi ke rumahnya sendiri, rumah ayahnya. Niatnya di sana Hana hanya ingin mencari foto keluarganya untuk ia bawa kemanapun, tapi yang ia temukan justru foto bayi kembar dan di belakang tertulis sebuah alamat.
Ia datang ke alamat yang ada di Busan itu. Sampai sana Hana sangat terkejut ketika melihat sosok yang luar biasa mirip dengan ibunya. Itu adalah adik kembar ibunya yang baru ia tau. Sesaat Hana punya alasan untuk mensyukuri keputusannya, setidaknya ia punya bibi yang memiliki wajah mirip dengan ibunya membuat ia seolah melihat ibunya sendiri yang selalu ia rindukan.
"Kau siapa?" Tanya bibinya ketika pertama kali melihat Hana.
Hana pun menjelaskan semuanya. Lalu dari sana ia tau kalau orangtua ibunya bercerai lalu membawa anak kembar mereka satu-satu. Tapi kenapa ibunya tidak pernah bercerita dengannya? Atau bahkan ayahnya, apa ayah juga tidak diberi tau oleh ibu? Pikir Hana.
Hana pikir bibinya sama seperti ibunya yang memiliki sifat lemah lembut, ternyata perkiraannya salah, Hana mendapat respon kurang baik dari bibinya sendiri.
"Aku tidak menerima siapapun untuk aku tampung, bahkan itu kau meski kau adalah keponakanku. Aku memilih untuk tidak menikah karena orangtuaku saja bercerai, aku juga tidak mau punya anak karena hanya merepotkan, apalagi aku harus mengurusmu? Tidak! Aku tidak mau! Silakan pergi!"
Hana bisa saja pergi, tapi wajah sang bibi sangat mirip dengan ibunya membuat ia enggan pergi meninggalkannya.
"Bi, aku akan berusaha mencari uang dan membantumu."
"Aku mohon..."
"Aku tidak punya siapa-siapa lagi. Aku tidak mau kembali dengan suamiku."
Sang bibi menertawakan Hana, "Kau ini aneh punya suami kaya, dan malah pergi meninggalkannya?!"
"Nasibmu itu tidak jauh beda dengan ibumu ya, mendapat pria yang berhasil tapi tetap saja menderita, ibumu bahkan terbunuh oleh perampok, dan kau? Diperkosa temanmu sendiri? Wah sebenarnya ibumu itu salah apa ya?"
Hati Hana sakit tentu saja ketika mendapat semua perkataan itu dari bibinya. Tapi Hana masih berusaha membujuk sang bibi agar mau menerimanya.
Sampai akhirnya sang bibi pun luluh, "Oke, bantu aku mencari uang dan jangan merepotkan," itu yang diperintahkan sang bibi 6 bulan lalu ketika Hana pertama kali datang ke sini.
Tapi sampai sekarang, sampai setengah tahun kemudian, Hana tidak juga mendapat pekerjaan. Sekalinya dapatpun selalu ada kesalahan yang Hana lakukan hingga akhirnya dipecat.
"Kau ini Hana tidak pernah becus mengerjakan apapun."
"Bagaimana kau bisa menghasilkan uang dengan banyak?"
"Kalau tau hanya merepotkanku, lebih baik aku tidak pernah menerimamu!" Hana hanya menunduk saat ia diomeli lagi dengan bibinya.
"Setengah tahun kau melamar kerja di sini dan tidak ada yang mau menerimamu?" Lanjut bibinya lagi.
"Maaf bi, aku juga tidak ingin seperti ini."
__ADS_1
"Kembali saja dengan suamimu sana!"
"Tidak aku tidak mau!"
Bibinya menghela napas, "Apa harus aku yang mencarikanmu kerja?"
"Boleh Bi."
"Kau bilang pergi dari suamimu karena diperkosa orang kan? Kau berkerja jadi wanita penghibur saja bagaimana? Toh sudah kotor juga kan tubuhmu?"
Hana menatap bibinya tidak percaya, "A-apa tidak ada yang lain?"
"Banyak, tapi tidak ada yang mau menerimamu kan?"
"Siapa tau dengan menjadi wanita malam kau laku?"
"Tubuhmu juga lumayan."
"Dan yang pasti bayarannya banyak."
Hana diam...
"Baiklah... aku akan melakukannya."
***
Ini hari pertama Hana datang ke klub malam untuk bekerja sebagai wanita penghibur. Hana sudah memakai pakaian sexy yang memperlihatkan lekuk tubuhnya, beserta dengan riasan hasil tangan bibinya. Hana terlihat sangat cantik, tapi aura kepolosan itu masih ada pada Hana.
"Hana, ada yang mau memesanmu," kata bosnya.
"Ini orangnya." Hana melihat seorang pria yang Hana kira seusia suaminya.
"A-aku?"
"Iya, dia bilang ingin anak baru."
"Dia suka yang polos-polos."
"Dan kau akan belajar banyak darinya."
Hana diam...
__ADS_1
"Tidak ada penolakan Hana, ini hari pertamamu, kau harus bersedia melayani siapapun yang mau denganmu."
"Kau harusnya beruntung mendapatkan lelaki tampan dan masih terbilang muda untuk pelanggan pertamamu."
Dengan gagap Hana menjawab, "B-baik..."
"Kalau begitu ayo kita check-in sayang," tubuh Hana mulai gemetar saat tangan pria itu membelai pipinya. Setelah itu Ia tidak punya pilihan selain mengikuti si pria yang membawanya ke ruangan khusus yang tesedia di club malam di sini.
Sampai di sana Hana langsung di suruh duduk di atas kasur. Ia belum disuruh melepas baju karena katanya pria itu yang akan melakukannya untuk Hana.
Jantung Hana berdegup kencang, saat pria itu mulai mendekatinya naik ke atas kasur, dan meraih pinggangnya, Hana menepisnya. Lalu kemudian menangis.
"Kau kenapa menangis?" Tanya pria itu.
"Ma-maaf, aku hanya belum biasa."
"Mau dicoba lagi?" Entah masih bisa disebut beruntung atau tidak karena pria ini masih ramah dengannya.
Hana mengangguk lemah. Tapi tepat saat bibirnya baru bersentuhan samar dengan bibir si pria Hana langsung segera mendorong pria tersebut.
Bugh.....
"Maaf aku tidak bisa."
Pria itu jadi kesal, "Ya! Aku membayarmu!"
"Kau bisa mencari yang lain, aku permisi." Hana langsung membenarkan pakaiannya lalu pergi dari sana. Untungnya ia menyimpan kunci ruangan di sini, jadi ia bisa kabur.
Pria itu pun dibuat tidak habis pikir dengan Hana, apa dia baru saja ditolak?
Lalu ponselny berdering setelah memaki Hana yang baru saja keluar, "Iya halo?"
"Kau sudah datang?"
"Wah untung aku tidak jadi bergelut dengan wanita jadi aku bisa segera menemuimu."
"Nanti aku ceritakan."
"Naik saja ke unitku lantai 3 unit nomor 201."
"Oh iya! Kim Jongin kau membawa beer yang aku pesan kan?"
__ADS_1