
Baekhyun meraih tangan Hana di sampingnya, wanita itu tampak gelisah karena hari ini ia akan bertemu dengan penjahat kelamin yang dulu sempat ia anggap sebagai teman. Iya Sin Ho tentu saja. Mereka pergi hanya berdua, Hyuna mereka titipkan ke rumah ayahnya Baekhyun.
"Kalau kau tidak siap, jangan dipaksakan, kita bisa putar balik untuk pulang," ucap Baekhyun sambil menggenggam tangan Hana erat.
"Aku tidak mau membuat dirimu merasa terancam atau ketakutan dengan mempertemukanmu dengannya, aku hanya ingin dia minta maaf dan berlutut di hadapanmu. Kau juga bisa memakinya sepuas hati, kau bisa memukulnya sekeras apapun, keluarkan semua kebencianmu terhadapnya Hana, agar kau lega dan setidaknya bisa mengurangin bebanmu dengan begitu kau bisa lebih mudah berdamai dengan diri sendiri," jelas Baekhyun lagi.
Hana mengangguk, "Asal kau ada di sampingku, aku bisa menghadapinya."
"Tentu saja, aku selalu disisimu, jangan takut."
"Terimakasih Baekhyun."
"Anything, sweetheart."
Sampailah mereka ke rumah tahanan dimana ada Sin Ho yang ditahan disana. Baekhyun tidak pernah melepas tangan Hana, bahkan ketika mereka sudah duduk menunggu kehadiran Sin Ho.
Beberapa saat kemudian, datanglah pria yang ingin mereka temui. Sin Ho tampak kaget ketika melihat Hana ada di sini bersama sang suami.
Ketika tatapannya bertemu dengan Sin Ho, napas Hana memburu, dadanya jadi lebih sesak dari pada tadi. Melihat wajah Sin Ho membuat memori buruk itu kembali terekam di kepalanya.
"Ha-Hana?" Sin Ho sudah duduk di hadapan Hana, benar-benar di hadapan Hana tanpa penghalang apapun, sengaja diminta oleh Baekhyun agar Hana bisa leluasa kalau mau memukul Sin Ho. Baekhyun minta izin pada pihak kepolisian untuk membiarkan Hana yang mungkin ingin memukul Sin Ho, polisi akhirnya menyetujui dengan syarat tetap didampingi takut Hana melakukannya di luar batas.
Hana belum bicara, tangannya terkepal kuat di genggaman Baekhyun.
"Apa kabar?" Tanya Hana setelah mengatur napasnya, Baekhyun terkejut ketika Hana bertanya dengan tenang.
"A-aku...," Sin Ho tergagap.
"Kenapa kau masih hidup setelah membuat hidupku hancur, setelah nyaris membunuhku, kenapa kau masih terlihat sangat baik-baik saja?" Tanya Hana lagi, kini dengan suara yang lebih meninggi.
"Aku minta maaf, aku khilaf Hana, aku tidak berniat melakukan itu, Hana maafkan aku," Sin Ho menunduk sambil memohon.
Hana berdiri, "Tidak! Kau sengaja melakukannya! Kau tidak mabuk Sin Ho! Kau melakukannya atas perintah kakak sepupumu kan? Kim Hera, KAU MELAKUKANNYA ATAS PERINTAH DIA KAN?"
Sin Ho terkejut, Baekhyun apalagi. Suami Hana itu tidak tau perihak yang satu ini, tentang Sin Ho yang bersaudara dengan Hera, dan apa katanya tadi? Sin Ho melakukannya atas perintah Hera? Hana mengetahuinya dan tidak mengatakan apapun padanya?
"BRENGSEK!"
"KAU JAHAT SIN HO!"
"AKU MEMBENCIMU SAMPAI MATI!"
"Aku minta maaf, Hana. Sungguh dari lubuh hatiku yang paling dalam, aku minta maaf. Aku benar-benar tulis meminta maaf sebesar-besarnya padamu, pada suamimu, pada anakmu juga. Aku minta maaf."
__ADS_1
"Maaf? Semudah itu kau meminta maaf? Kau tau brengsek? Bahkan untuk memaafkn diriku yang sudah kau kotori saja sulit untukku, lalu memaafkanmu? Jangan mimpi! Sampai mati pun aku tidak pernah memaafkanmu!"
"Aku mohon Hana, aku...."
"Kau menyesal?"
Sin Ho mengangguk.
"Beg, then..."
Sin Ho mendengakan kepalanya menatap Hana yang menatapnya sangat tajam seolah ingin membunuhnya.
"Beg on your knees!"
"Berlutut dan minta maaf padaku, kalau perlu sambil menangis, tunjukan kalau kau memang menyesal!"
Sin Ho langsung melakukannya, ia berlutut di depan Hana dan Baekhyun, "Aku minta maaf, minta maaf sebesar-besarnya, Hana."
Hana tidak menjawab, ia menjenggut rambut Sin Ho kencang. Kencang sekali sampai tangan Hana sendiri terlihat urat-uratnya karena saking kencang mencengkram rambut Sin Ho.
"Arrghh, sakit Hana, tolong lepaskan," ringis Sin Ho.
"Sakit? Tapi ini tidak lebih sakit dari pada saat kau mempekaosku dengan kasar dan memperlakukanku seperti binatang! Kau lupa? Hah?!" Hana semakin menjenggut rambut Sin Ho semakin kencang.
"Ini berlebihan, kau juga menikmatinya kan?" Hana langsung melepaskan jenggutannya dan mendorong tubuh Sin Ho kencang ke belakang. Hana menindih tubuh Sin Ho, tangannya ada dileher Sin Ho mencengkram kuat di sana seperti orang kesetanan. Iya. Hana sudah hilang akal. Ia terbawa emosi sampai entah sadar atau tidsk ia sekarang mencekik Sin Ho.
"Brengsek!"
"Kenapa aku harus menikmati sentuhan menjijikan itu!"
"Aku bahkan membenci diriku sendiri yang sudah kau sentuh secara kurang ajar!"
"Dan kau bilang aku menikmati? Tarik ucapanmu atau aku akan mengantarmu ke neraka? Para iblis dan sejenisnya sudah menunggumu di sana!"
"Am-pun, a-ku min-ta ma-af," Sin Ho masih terbata-bata.
Para polisi dan Baekhyun sendiri sudah berusaha untuk menarik tubuh Hana, tapi entah kenapa terlalu keras. Hana dibutakan oleh rasa bencinya.
"Hana, sayang, aku membolehkanmu memukulnya, tapi tidak membunuh?"
"Kau tidak boleh jadi pembunuh sayang."
"Dia sudah lebih dulu membunuhku!" Balas Hana.
__ADS_1
"Tidak, kau hidup. Kau ada di sini, bersamaku, dan Hyuna dan selamanya akan begitu."
"Lepaskan ya? Dia bisa mati, Hana."
"Itu yang aku inginkan!"
"Hey, sayang, aku Byun Baekhyun, suamimu, tolonh dengarkan aku ya?" Baekhyun mendekatkan mulutnya pada telinga Hana untuk membisikan sesuatu.
"Sayang, kau tidak boleh membunuhnya."
"Itu terlalu bagus kalau dia mati begitu saja tanoa tersiksa dulu di dunia."
"Kau tidak boleh jadi penjahat sepertinya."
"Sayangnya Baekhyun, dan sayangnya Hyuna tidak boleh membunuh, ya?"
Dengan begitu saja cengkraman Hana di leher Sin Ho akhirnya melemah, dan Baekhyun segera menarik tubub isterinya untuk ia peluk erat.
"Aku tidak menikmatinya."
"Aku sakit. Dia menyakitiku. Dia nyaris membunuhku," ucap Hana dengan lemah.
"Iya Hana, gwechana, ada aku yang akan menyembuhkanmu, hm?" Baekhyun tidak berhenti untuk mengusap kepala Hana dan membisikan kata sayang agar Hana tenang. Sedangkan Sin Ho sudah di bawa masuk oleh para polisi.
Hana yang dari awal melihat Sin Ho tidai mengeluarkan air mata sedikitpun akhirnya menangis sekarang. Ia menangis histeris dipelukan suaminya.
"Aku membencinya Baekhyun."
"Iya, tidak apa-apa benci terus sepuasmu, asal berhenti membenci dirimu sendiri, ya?"
"Aku menyayangimu, Hyuna menyayangimu, semua orang menyayangimu, dirimu sendiri juga harus menyayangimu."
Dada Hana kembali sesak, seolah pasokan oksigen di ruangan ini tidak diterima dengan baik oleh paru-parunya, sampai ia harus melepas pelukan Baekhyun untuk memukul dadanya sendiri agar organ di dalam sana bisa bekerja seperti seharusnya dan membuatnya bernapas lega.
Tapi Baekhyun segera menahan tangan Hana yang memukul dadanya sendiri, pria itu justru meraih tekuk Hana untuk langsung menyatukan bibirnya dan bibir Hana. Baekhyun menekannya secara lembut meski masih terasa tergesa-gesa. Untung hanya tersisa mereka berdua di sini.
Baekhyun bukannya tidak tau sikon. Tapi mencium Hana seperti ini membuat Hana jadi teralihkan fokusnya dan membantunya dari serangan panik yang sedang ia alami tadi.
Hana mendorong pelan bahu Baekhyun, ia bernapas terengah-engah pasca ciuman mendadak tadi.
"Sedikit lega?" Tanya Baekhyun mengusap dada atas Hana.
Hana mengangguk, "Terimakasih banyak Baekhyun."
__ADS_1
Baekhyun tersenyum dan mengangguk, "Jangan lupa untuk berterima kasih pada dirimu sendiri."
"Dirimu yang masih bertahan sejauh ini."