
Sekarang Hana dan Baekhyun sudah kembali ke rumah, hanya mereka berdua karena Hyuna belum mereka jemput. Banyak yang ingin Baekhyun tanyakan pada Hana, terutama soal Hera. Dari mana Hana tau Hera itu sepupunya Sin Ho? Apa Hana bertemu Hera? Apa Hera sudah bebas? Atau bagaimana? Tapi Baekhyun rasa belum tepat waktunya, ia ingin Hananya tenang dulu.
"Mau aku buatkan apa? Teh hangat? Atau...."
"Kau!"
"Hm?"
"Aku mau kau!"
Baekhyun sempat bingung, tapi kemudian Hana memperjelasnya, "Tetap di sini Baekhyun," ucap Hana sambil menarik sedikit ujung baju suaminya persis seperti anak kecil ketika merajuk.
Senyumpun terukir dibibir Baekhyun, ia yang tadi hendak meninggalkan Hana ke dapur, jadi kembali duduk di sofa, di samping sang isteri.
"Jangan pernah lupa perkataanku, aku akan tetap di sini kecuali kau menginginkanku pergi."
Hana menggeleng, "Apa kau benar-benar akan melakukannya jika aku ingin?"
Baekhyun menelan salivanya sendiri. Dia ketakutan sekarang. Ia takut kalau Hana benar-benar menginginkannya pergi. Perkataannya hanya sebagai alat agar Hana tetap di sini, sebenarnya ia juga tidak akan sanggup untuk betulan pergi dari Hana. Gila saja. Ditinggal Hana saja sudah sangat berantakan, bagaimana meninggalkan? Iya pasti jauh lebih sulit, Baekhyun tidak sanggup sendirian tanpa Hana, dan ia juga tidak sanggup membiarkan Hana hanya berdiri sendiri tanpanya.
"I-iya...," biarlah ini dulu yang Baekhyun jawab. Meski harus terbata. Tapi Baekhyun harap Hana juga merasakan ketakutan yang sama untuk berpisah dengannya.
"Apa kau akan bisa tanpaku?"
Baekhyun menggeleng, "Tidak akan pernah bisa. Tapi terpaksa harus bisa kalau kau ingin. Aku hancur kalau tanpamu, tapi aku tidak mau juga kau hancur kalau bersamaku," ucapan kali ini benar-benar muncul dari hatinya tanpa menghilangkan rasa takut itu.
"Bersamamu sekarang masih membuatku berantakan Baekhyun."
Tanpa Hana ketahui tangan Baekhyun sudah gemetar, keringan dingin mulai terasa di tubuhnya ketika Hana mengucapkan kalimat tadi seolah kalimat itu adalah pembuka ucapan yang sangat tidak ingin Baekhyun dengar.
"Tapi berantakan masih bisa dirapikan," sampai ketika Hana melanjutkan ucapannya, Baekhyun menatap Hana.
"Aku sama sepertimu. Tidak bersamamu aku hancur. Dan itu jauh lebih buruk daripada berantakan kan? Rumah yang berantakan bisa dirapikan, tapi rumah yang hancur, yang runtuh sulit untuk diperbaiki."
Baekhyun masih diam, dan tetap diam bahkan ketika Hana meraih tanganny yang sudah berkeringat dingin.
"Bantu rapikan hidupku Baekhyun. Hidupku diberantaki oleh orang yang tidak bertanggung jawab, kau mau merapikannya?" Tanya Hana lalu diangguki dengan cepat oleh Baekhyun.
"Mungkin ini terdengar tidak adil. Tapi apa boleh aku minta?"
__ADS_1
"Apa?" Baekhyun akhirnya bersuara dengan suara seraknya karena menahan gemuruh dalam dadanya yang rasanya sudah campur aduk.
"Jangan lelah dulu. Jangan menyerah denganku. Aku mau jadi layak untukmu Baekhyun, tapi rasanya tidak mungkin setelah semuanya terjadi, jadi beri aku waktu untuk berdamai dengan semuanya, menerima kenyataan kalau aku memang ya seperi ini. Aku juga mau sayang dengan diriku sendiri, jadi bantu aku Baekhyun."
Tangan Baekhyun menyentuh pipi Hana, "Definisi layak untukmu itu apa?"
"Ketika aku bisa jadi yang terbaik untukmu sama seperti kau yang jadi terbaik untukku. Tapi kan tidak, aku bukan yang terbaik Baekhyun. Kau terlalu sempurna untukku."
"Kenapa aku yang terbaik? Kenapa menurutmu aku sempurna?"
"Bercerminlah Byun Baekhyun! Kau tampan, cerdas, berpendidikan tinggi, punya banyak uang, dari keluarga terpandang, kau juga bukan orang yang suka menyentuh wanita sembarangan, kau punya hati yang luar biasa besar, sedangkan aku?"
"Apa? Sedangkan kau apa?"
"Aku wanita yatim piatu, pendidikannya selalu terputus, dan disentuh oleh pria lain seperti tidak punya harga diri."
"Aku bingung harus mengatakan kalau kau ini berpikiran sempit atau malah berlebihan?"
"Tapi yang pasti pernyataanmu terhadap diriku yang kau anggap sempurna itu membuatku agak kecewa."
"Kenapa?"
"Dan, mendengar pernyataanmu tentang dirimu sendiri juga semakin membuatku kecewa, karena lagi-lagi kau tidak menyertakan sesuatu yang besar di antara kita, kau melupakannya? Punyamu tidak sebesar punyaku ya? Apa kau memang tidak punya?"
"Apa Baekhyun? Maksudmu apa?"
"Cinta."
"Kau lupa menyertakannya."
"Dari sekian hal yang aku punya yang tadi kau sebutkan, kau melupakan kalau aku juga punya cinta yang besar untukmu. Kau juga tidak menyertakan cinta dalam pernyataanmu tentang dirimu sendiri, apa memang kau tidak punya itu Hana?"
Hana menggeleng, "Aku mencintaimu Baekhyun."
"Aku juga. Aku juga mencintaimu."
"Dan sudah. Cukup. Kita layak satu sama lain karena kita punya cinta yang sama. Tidak perlu membahas yang lain. Cukup itu. Aku mencintaimu. Aku menyayangimu, dan kau juga kan?"
Hana mengangguk.
__ADS_1
"Itulah definisi layak untukku Hana."
Hana menggigit bibirnya sendiri karena merasa tertampar oleh ucapan Baekhyun.
"Don't bite your own lips!" Ucap Baekhyun.
Hana pun langsung berhenti menggigit bibir bawahnya sendiri dan menatap Baekhyun. Baru saja ia ingin bicara tapi bibirnya lebih dulu disambar oleh bibir suaminya. Bibir bawah Hana yang tadi digigit oleh dirinya sendiri kini berganti jadi diapit oleh bibir milik Baekhyun.
Baekhyun melakukannya lagi. Mencium Hana dengan lembut, tapi masih melibatkan nafsu yang membuat ciuman mereka lebih agresif.
Entah sampai berapa lama mereka disibukan oleh bibir satu sama lain, tapi akhirnya Baekhyun melepaskannya lalu napas mereka pun beradu.
Baekhyun menyeka rambut Hana, menatap Hana dalam sekali.
"You are worthy, sayang."
"You are loved."
"Aku mencintaimu karena kau Park Hana."
"Wanita sesempurna apapun kalau dia bukan Park Hana aku tidak mau."
"Sudah mengerti semua maksudku?"
Hana mengangguk sambil tersenyum haru.
"Good girl. Tidak apa-apa, pelan-pelan ya. Aku tidak akan lelah untuk mengingatkan semuanya. Tentang kau yang harus menyayangi dirimu sendiri, tentang aku yang selalu menyayangimu dan tentang kau yang pantas menerimanya."
"Terimakasih banyak Baekhyun."
"Jangan hanya bertertimakasih, tapi lakukan juga!"
"Iya."
"Sekarang istirahat, aku mau menjemput Hyuna. Kalau suasana hatimu sudah baik, aku mau bicara."
"Tentang apa?"
"Kim Hera."
__ADS_1