
Setelah hampir 2 hari, Hana tidak bisa melakukan apapun karena kakinya yang sakit, sekarang ia merasa sudah lebih baik, ia sudah bisa berjalan meski sesekali masih harus diseret. Bahkan Hyuna juga sudah kembali diantar oleh kakek dan neneknya. Ayah Baekhyun dan Ibu tiri Baekhyun tentu saja.
"Hana," ibu tiri Baekhyun memanggil Hana. Kini mereka sedang berkumpul bersama di ruang tamu rumah Baekhyun.
"Boleh ibu bicara berdua denganmu?" Jujur saja Hana terkejut, dan sedikit takut. Tapi ia mencoba tenang dan mengiyakan permintaan sosok yang kini sudah jadi ibu mertua-nya juga.
"Biar aku dan ayah yang pergi."
"Kalian bicara di sini," ucap Baekhyun diangguki oleh ayahnya.
Sebelum Baekhyun pergi, Hana sempat bertemu tatap dengan Baekhyun yang sedang menggendong Hyuna, pria itu memberikan senyum dan anggukan kepala seolah memberitahu bahwa tidak ada yang perlu dikhawatirkan.
"Ada apa ya Bu?" Tanya Hana langsung.
"Jangan tegang. Ibu tidak berniat memarahimu kok."
Hana tersenyum kaku, "Hehe... aku takut buat kesalahan bu."
"Tidak, cantik. Hanya saja ibu ingin memberikan pendapat."
"Boleh?"
Hana mengangguk cepat, "Tentu saja ibu. Aku akan dengan senang hati menerima pendapatnya."
"Baiklah."
"Hana..."
"Kau masih ada niat untuk meneruskan kuliahmu kan?"
Oh soal ini. Sejujurnya, Hana memang niat tidak niat melanjutkan studinya. Mengingat ia berada dijurusan yang sangat tidak ia minati. Tapi ia juga masih selalu ingat kata Sehun yang mengatakan kalau ia harus menyelesaikan apa yang sudah ia mulai. Jadi keinginan itu tentu saja ada, hanya saja niat untuk bersungguh-sungguh itulah yang belum menghampiri Hana.
"Ada bu."
"Kapan?"
"Hm, saat Hyuna menginjak umur 2 tahun, saat dia sudah berhenti menyusu."
"Jadi masih 6 bulan lagi?"
"Apakah hanya soal Hyuna yang membuatmu masih menunda studi-mu?"
"Iya." Biarlah kali ini Hana berbohong sedikit karena ia benar-benar sungkan dengan ibu tiri suaminya ini. Memang baik. Baik sekali bahkan. Tapi bagi Hana auranya itu seperti ibu-ibu pejabat yang... orang-orang high class.
"Kalau soal itu, serahkan pada ibu. Ibu bisa menjaganya. Kau bisa memompa asi-mu dan menyetoknya di kulkas untuk satu hari."
Hana masih belum menjawab.
__ADS_1
"Bukan apa-apa Hana, maaf sekali. Ibu tidak bermaksud apapun. Tapi menurut ibu, pendidikan itu penting. Memang bukan faktor utama, tapi pendidikan juga salah satu hal yang pentinh untuk menilai harga diri seseorang. Suamimu itu luar biasa hebat Hana, kau tau kan? Akan lebih baik kalau kau juga mencoba untuk mengimbanginya."
"Ibu tidak memandang rendah pendidikanmu yang sekarang. Tapi tidak dengan orang lain. Ibu tidak mau anak-anak ibu direndahkan oleh orang-orang. Baekhyun semakin maju, rekan bisnisnya semakin banyak. Dan tidak menutup kemungkinan kalau yang ia temui bukanlah orang baik."
Hana menyetujui semua ucapan ibu mertuanya. Benar. Bagaimanapun Byun Baekhyun dan keluarganya bukan kalangan sembarangan. Apa kata orang kalau tau Byun Baekhyun memiliki isteri yang tidak lulus kuliah? Ah, kenapa Hana tidak terpikir ke sana ya?
"Ibu. Terimakasih sudah mengingatkanku. Selain masalah Hyuna, aku juga masih belum siap untuk kembali belajar. Bisnis bukan hal yang aku minati. Aku terpaksa memulainya. Jadi untuk kembali rasanya agak berat. Tapi dari ucapan ibu aku sadar. Bagaimanapun aku harus menjaga nama baik suamiku kan? Menyelesaikan kuliah juga pasti akan membanggakan ayah dan ibu di surga sana, terutama ayah, satu-satunya cara untuk aku menebus kesalahanku karena meninggalkannya yaitu aku harus membanggakannya kan Bu?"
Tangan ibu bergerak untuk mengelus rambut Hana, "Iya, walaupun tanpa itu pun ayah dan ibumu sudah bangga. Lihat, puterinya bisa melahirkan dan merawat puteri lain yang sama cantiknnya. Lakukan kuliah ini untuk dirimu sendiri Hana, agar tidak ada beban."
Hana menggangguk, "Terimakasih Bu nasihatnya."
"Sama-sama sayang. Tapi ibu tidak memaksa. Ibu hanya berpendapat kalau lebih cepat lebih baik. Menjadi ibu yang pintar juga pasti akan membanggakan Hyuna, bukan?"
"Iya. Ibu benar."
"Semangat terus ya Hana. Ibu selalu mendoakan yang terbaik untuk kalian."
"Iya ibu terimakasih."
***
Baekhyun kini sedang sibuk menuntun Hana untuk naik ke tangga sambil menggendong Hyuna. Kedua orangtuanya sudah kembali barusan, jadi karena ini sudah malam kedua manusia beserta anak mereka itu memutuskan untuk pergi ke kamar.
"Ibu bicara apa?" Tanya Baekhyun pada Hana ketika mereka sudah sampai di kamar.
"Kau tidak tau?" Baekhyun menggeleng ketika pertanyaannya dibalas oleh pertanyaan lagi.
Baekhyun menyatukan alisnya, "Benarkah? Aku pikir ibu ingin membicarakan soal Hyuna."
Hana menggeleng.
"Hana..."
"Hm?"
"Apapun ucapan ibu jangan dibuat beban ya. Aku membebaskanmu memilih apapun."
Hana tersenyum, "Iya Baek, tapi aku betulan jadi ingin kembali kuliah."
"Kau melakukannya atas dasar keinginanmu atau hanya disuruh ibu?"
"Keinginanku yang dibujuk oleh ibu."
"Aku serius Hana. Aku tidak mau kalau kau melakukan sesuatu hanya demi oranglain."
"Tidak. Menyelesaikan pendidikan tentu saja untuk aku sendiri. Agar aku bisa lebih dihargai oleh orang lain, dan menjadi ibu yang pintar untuk anakku."
__ADS_1
Baekhyun menghela napas, "Kau yakin?"
Hana mengangguk, "Aku hanya perlu butuh izinmu."
"Aku akan mengizinkan apapun untuk kau lakukan selama itu membuatmu nyaman dan kau senang."
Hana tersenyum lagi, ia segera merapatkan jaraknya dengan suaminya lalu menghambur ke pelukannya, "Terimakasih Baekhyun."
"Anything for you, honey."
"Katakan saja ya mau mulai kembali kuliah kapan. Aku akan mengantar-jemputmu."
Hana melepas pelukannya lalu menatap Baekhyun dengan tatapan seolah ingin melayangkan protes.
"Aku bisa sendiri."
"Jangan buang waktumu."
"Justru aku sedang mejaga waktuku."
"Heh! Waktu itu adalah uang."
"Tidak untukku. Waktuku itu dirimu."
"Halah!" Pipi Hana sebenarnya sudah bersemu merah, makanya kini ia memalingkan wajah, tidak mau Baekhyun melihatnya salah tingkah.
"Haha... lucu sekali sih?" Baekhyun menarik pipi Hana pelan dari samping.
"Aku mau tidur," alih Hana dan langsung membaringkan tubuhnya di atas kasur lalu memeluk Hyuna yang sudah lebih dulu tertidur di atas kasur.
"Aku serius Hana. Aku tidak mau memgambil resiko kalau kau berangkat sendiri."
"Jadi biar aku yang mengantar-jemputmu."
"Lalu bagaimana dengan pekerjaanmu, tuan? Aku cukup tau diri untuk tidak terus mengganggu pekerjaanmu."
"Kau meremehkanku! Bahkan ketika aku tidur memejamkan mata, uang masih mengalir ke ATM-ku."
"Tidak perlu sombong begitu."
Baekhyun terkekeh, "Harus begitu biar kau mau diantar-jemput olehku."
"Kau sangat bersemangat untuk jadi seorang supir rupanya?"
"Tentu saja. Kalau penumpangnya adalah isteriku. Aku selalu senang dan bersedia menyupirinya kemanapun."
"Sudah cukup menggombalnya, aku kenyang."
__ADS_1
"Kalau begitu, tidurlah."
Dengan begitu saja Hana pun tertidur yang sebelumnya tentu saja ditinggalkan oleh kecupan manis di dahinya oleh sang suami.