
"Hana."
"Iya ayah?"
"Kau dan Baekhyun, terjadi sesuatu kan? Kau murung bukan hanya karena masalah skincare seperti yang dibilang suamimu kan?"
Hana menundukan kepalanya. Sekarang ia sudah berhadapan dengan sang ayah mertua. Mereka memisahkan diri ke gazebo belakang rumah.
"Maaf ayah," Pada akhirnya Hana tidak bisa menyembunyikan apapun dari ayah mertuanya yang sudah ia anggap sebagai ayahnya sendiri.
"Baekhyun menyakitimu?"
Hana menggeleng, "Tidak. Aku ayah, aku yang menyakitinya."
"Aku membohonginya, ayah."
Alis ayahnya Baekhyun menyatu, "Maksudmu? Jelaskan padaku, Hana!"
Hana pun menceritakannya dari awal, semuanya dan tidak ada yang ditutupi sama sekali.
"Maaf aku sudah mengecewakan putera ayah."
"Tapi aku tidak bermaksud begitu. Aku hanya terlena dengan indahnya masa muda yang tidak pernah aku rasakan. Harusnya aku juga bisa jujur pada Baekhyun. Aku hanya... tidak sampai hati untuk jujur dengannya. Baekhyun akan selalu mengatakan iya walaupun dalam hatinya tidak demikian, yang penting untuknya aku senang. Dia selalu memprioritaskan apa yang membuat aku bahagia."
"Sekarang aku merasa sangat bodoh. Memiliki suami yang bisa mencintaiku dengan luar biasa hebat, tapi aku malah mengecewakannya. Aku salah langkah, ayah. Sekarang Baekhyun sepertinya sulit untuk percaya lagi denganku. Aku membuatnya takut lagi akan pengkhianatan."
"Tolong, maafkan aku ayah."
Ayah Baekhyun hanya menghela napas, tangannya terulur untuk mengusap punggung Hana.
"Sudah. Ayah mengerti. Tapi tolong Hana, jangan melakukannya lagi. Kau tau kan, tidak mudah untuk Baekhyun akhirnya bisa percaya dengan seseorang dan bisa mencintai seseorang itu. Untuk oranglain mungkin dibohongi seperti itu bukan masalah yang terlalu besar, tapi berbeda untuk Baekhyun. Ia punya masa lalu yang buruk yang juga di awali dari kebohongan yang kecil."
Hana kembali terisak, ia tau, dan menjadi sebab Baekhyun mengingat traumanya dan tidak dipercayai lagi oleh suaminya membuat hati Hana sakit, sakit sekali, seolah itu semua adalah hukuman yang harus Hana terima.
"Aku tidak akan melakukan apa yang pernah ibu kandungnya lakukan. Aku sangat mencintainya, Yah. Aku sudah menggantungkan hidupku padanya."
Ayah mertua Hana mengangguk, "Ayah masih percaya denganmu."
"Hana, kalau memang Baekhyun sudah tidak mempercayaimu--"
"Kau bisa untuk membangun kepercayaan itu dari awal lagi, memang sedikit sulit. Tapi kalau kau pernah bisa melakukannya, sekarang juga pasti bisa."
"Cukup dengan tidak pernah melakukan kesalahan ini lagi, sekecil apapun kebohongannya."
__ADS_1
Hana mengangguk yakin, "Terimakasih ayah. Maaf aku belum bisa jadi menantu yang baik untukmu."
"Kau bahkan sudah tidak aku anggap sebagai mantuku lagi."
Hana mendongakan kepalanya khawatir, "Kau ini sudah seperti puteriku sendiri, Hana."
Hana tersenyum, ia kira ayah Baekhyun marah betulan dan tidak mau menganggapnya mantu lagi.
"Sekecewa apapun Baekhyun padamu, dia tidak pernah mau kau menangis, dilihat dari bagaimana ia memperhatikanmu dengan khawatir di sini dari kejauhan."
"Eh?"
"Jangan menoleh, nanti dia langsung memalingkan wajahnya."
Hana mengangguk.
"Sudah. Manusia itu tempatnya berbuat salah. Baekhyun pasti memaafkanmu, dan kembali percaya denganmu asal tadi, kau tidak melakukannya lagi."
"Iya ayah, terimakasih."
"Ayo kita kembali kepada yang lain."
***
Setelah siang tadi mereka belaga tidak terjadi apa-apa di depan semua tamu mereka, lalu setelah kepulangan mereka semua, Hana malah memilih menyendiri, bahkan ia belum menengok Hyuna di kamarnya yang sudah tidur sejak satu jam yang lalu.
Melihat Hana yang murung dan memiliki tatapan kosong seperti itu, Baekhyun jadi ikut merasa bersalah. Mungkin isterinya itu seperti ini karena masih memikirkan tentang ucapannya yang mengatakan bahwa ia kembali takut dan khawatir. Well, itu memang benar. Tapi Baekhyun juga sedang berusaha untuk tidak berpikir sejauh itu. Ia berusaha untuk kembali meyakinkan diri kalau itu hanya kekhawatirannya yang berlebihan.
Lihat, bahkan sampai ketika Baekhyun duduk di tepi kasur. Hana masih tak bergeming. Sampai akhrinya pria itu naik ke atas kasur, duduk di samping Hana dan menggenggam tangan Hana.
Hana langsung tersentak kaget, "Baekhyun? Sejak kapan masuk?"
"Memikirkan apa?"
"Tidak, aku hanya---,"
"Jangan seperti ini Hana. Sudah sekian kali kau menangis 2 hari ini, dan sekarang kau melamun, tatapanmu kosong. Kalau itu masih tentang rasa bersalahmu, aku sudah memaafkanmu sungguh."
Hana menatap mata khawatir Baekhyun, tidak ada lagi nada suara datar suaminya, suara lembut Baekhyun itu kembali.
"Soal rasa takutku, itu hanya aku yang berpikir berlebihan. Aku sedang berusaha untuk menghilangkan pikiran itu. Jadi Hana, tolong bantu aku."
Tangan Hana kini menangkup wajah suaminya, menatap dalam mata Baekhyun dan tanpa sadar Hana sedang mengikis jarak antara wajah mereka lalu berakhir dengan bibir Hana yang menyentuh lebih bibir suaminya.
__ADS_1
Baekhyun tenggelam dengan apa yang dilakukan Hana padanya, tangannya meraih pinggang Hana untuk ia buat semakin dekat dengannya.
Mereka sama-sama memiringkan wajah mereka untuk menemukan posisi ternyaman atas bibir satu sama lain.
Hana melepasnya duluan, tapi ia belum mau menjauhkan wajahnya dari Baekhyun membuat sekarang dahi mereka menyatu. Tangan Hana masih di pipi Baekhyun, mengusap lembut di saja dengan ibu jarinya.
"Aku akan melalukan apapun untuk membuatmu percaya padaku."
"Aku tidak sedang mengumbar janji padamu, tapi pada diriku sendiri."
Baekhyun hanya tersenyum tipis, "Aku merindukanmu."
Hana mengangguk, "Aku menginginkanmu malam ini, boleh?"
Tidak biasanya Hana mengajak duluan, pasti selalu Baekhyun. Hana juga tidak tau kenapa ia bisa mengatakannya. Ia hanya tidak bisa menahan dirinya lagi kalau ia merindukan dan menginginkan pria itu malam ini.
Tidak kunjung mendapat jawaban, Hana meringis malu, "Tapi kalau kau tidak mau, tidak apa-apa."
Hana menjauhkan tubuhnya dari Baekhyun tapi segera ditahan oleh pria itu, "Kapan aku mengatakan tidak?"
"Kau cuma diam."
"Aku hanya sedang mengagumimu. Wanita ini sudah berani mengajak duluan. Aku sedikit... bangga?"
"Jangan membuat aku malu begitu!" Kini Hana merajuk membuat Baekhyun terkekeh.
"Silakan Hana," ucap Baekhyun membuat Hana menoleh.
"Miliki aku malam ini kalau kau memang menginginkannya."
"Karena aku... menginginkanmu juga."
Pipi Hana bersemu merah, tapi ia tetap bergerak untuk kembali mempertemukan bibinya dengan milik suaminya lagi.
Dengan cepat Baekhyun meraih tubuh Hana untuk ia baringkan di atas kasur dan ia berada di atasnya dengan topangan tangannya.
"Jangan pikirkan apapun Baekhyun. Lupakan semuanya sejenak. Setidaknya untuk malam ini."
"Cukup pikirkan aku yang jadi milikmu. Bukan siapa-siapa. Hanya dirimu. Milikmu seutuhnya."
Baekhyun tersenyum, "Yes, you are mine, Hana."
"And always be."
__ADS_1