Back To Me (Byun Baekhyun)

Back To Me (Byun Baekhyun)
41


__ADS_3

Rasanya Hana ingin menampar wajah pria di depannya yang terus memperhatikannya makan. Kalau ini terjadi dulu, Hana pasti akan senyum-senyum salah tingkah, tapi sekarang ia harus menahan dirinya.


"Lama-lama aku colok matamu, Baekhyun!" Ucap Hana melirik malas.


Baekhyun tertawa, "Hahaha... lucu sekali sih?"


"Aku tidak sedang melawak."


"Memang iya. Tapi untukku kau kan selalu lucu."


"Berhenti bersikap sok manis! Dulu kau tidak seperti ini! Cringe, kau tau?"


Baekhyun kembali tertawa, "Itu kesalahanku. Aku tebiasa dikejar, lalu bertahan. Dan sekarang aku sedang mengejarmu, meraihmu agar mau melihatku lagi."


"Kau ada di sini bersamaku, tapi aku ingin Hana yang dulu."


Hana diam sambil menunduk, ia kaget ketika tangan Baekhyun bergerak menyeka rambutnya yang hampir terkena makanan.


"Kalau kau berpikir melepaskanku adalah keputusan yang terbaik untukku. Tidak sama sekali. Wanita yang aku mau itu hanya kau. Ibunya anak-anakku."


Hana mendengakan kepala, "Anak-anak? Puteri kita hanya 1!"


"Oh? Iyaya? Tapi di masa depan mana ada yang tau kan?"


"Aku tidak sempurna," jawab Hana lagi.


"You deserve better, Baek!"


"Percuma! Untuk apa aku dapat yang sempurna atau yang terbaik kalau bahagiaku hanya bersamamu?"


"Menyuruhku pergi darimu dengan alasan agar aku bahagia, itu sama sekali tidak masuk akal."


"Selama ini kau selalu bilang aku sok tau. Kau! Kaulah yang sok tau Hana!"


Hana terdiam sampai Baekhyun kembali meneruskan ucapannya.


"Kau sangat sok tau atas bahagiaku! Kau berpikir dengan wanita lain aku akan bahagia, itu sangat sok tau! Kenyataannya tidak seperti itu!"


"Hana, coba dengar dan tatap aku!"


Baekhyun meraih dagu Hana untuk membuatnya membalas tatapannya, "Mungkin sangat sulit untukmu. Tapi coba maafkan dirimu sendiri. Berdamai dengan dirimu sendiri. Aku tau luka itu sangat sakit luar biasa kan? Pria brengsek itu menorehkan luka yang tidak bisa kau lupakan, aku tau! Tapi itu bukan kesalahanmu, sama sekali!" Ucap Baekhyun yang sekarang menggenggam tangan kedua tangan Hana erat.


"Awalnya aku berniat mengikuti keinginanmu untuk mencari wanita lain, jujur karena aku terlalu sakit hati dicampakkan seperti ini olehmu. Tapi aku sadar, semua juga tidak mudah kan untukmu?"


Hana mengangguk lemah bersamaan air matanya yang luruh.


"Berhenti menyakiti dirimu sendiri. Sumpah demi apapun, aku menyayangimu dengan apa adanya dirimu, Hana. Lagipula, kejadian itu tidak merusakmu kok, kau tidak cacat, otak pria itu yang cacat!"


"Kau boleh membenci dia sebesar apapun, sampai mati sekalipun, tapi jangan membenci dirimu sendiri."


Mendengar kalimat terakhir Hana terisak begitu saja. Iya. Hana memang sangat membenci dirinya sendiri. Saking bencinya sampai ia tidak rela kalau pria yang ia cintai masih bersamanya.


Baekhyun yang ada di hadapannya langsung pindah tempat duduk jadi di samping Hana untuk segera meraih wanita itu ke dalam dekapannya.


"Maafkan aku..."


"Aku bilang kau tidak salah, sayang."


"Aku yang membenci diriku sendiri membuat aku menyakitimu juga secara tidak langsung. Maaf Baekhyun."


"Iya, aku akan maafkan kalau kau sudah memaafkan dirimu sendiri."


Hana tidak menjawab, yang ia lakukan hanyalah mempererat pelukannya terhadap sang suami.


***


"Ayah... ibu... aku mau pulang!!!" Hyuna merengek pada sang ayah dan ibu yang akhirnya bisa datang menemuinya secara bersamaan.


"Sebentar lagi, makanya kau harus sembuh!" Kata Hana.


"Aku sudah sembuh, melihat ayah dan ibu datang bersama aku senang."


"Rasa sakitku hilang," ucapan Hyuna lantas membuat Baekhyun dan Hana bertemu tatap. Hati keduanya dibuat mencelos dengan ucapan puteri mereka.


"Benar begitu?" Tanya Baekhyun.


Hyuna mengangguk yakin.


"Kalau begitu ibu dan ayah harus terus sama-sama agar Hyuna sembuh?"


Hyuna mengangguk lagi. Lalu Baekhyun menatap Hana yang sedang menghapus air matanya.

__ADS_1


"Hyuna janji akan sembuh kan?" Tanya Hana dengan suara serak.


"Ibu dan ayah akan melakukan apapun asal Hyuna sembuh."


"Apapun sayang."


Hana berucap setelah mencium kening sang puteri. Baekhyun yang melihat pemandangan itu berusaha untuk tidak mengeluarkan air matanya.


Tuhan, aku menyayangi mereka berdua. Sangat menyayanginya. Dan aku tidak sanggup kalau harus kehilangan mereka bahkan meski hanya salah satunya. Baekhyun memohon dengan tulus pada Tuhan di dalam hatinya.


***


Malam ini, Baekhyun dan Hana masih setia menemani sang puteri. Keadaannya semakin membaik, bahkan kalau makin membaik, lusa Hyuna sudah boleh pulang setelah 3 bulan lamanya di rumah sakit.


Setelah tadi banyak mengobrol dengan Hyuna, mengajak main puteri mereka itu keluar untuk sebentar, bertemu kakek neneknya, Hyuna pun kelelahan dan akhirnya tertidur.


Sedangkan orangtua mereka sibuk dengan pikiran masing-masing hingga belum ada yang mau membuka suara meski mereka duduk berdampingan di atas sofa.


"Baek...," Hana akhirnya jadi yang pertama untuk membuka suaranya.


"Iya?" Ditanya oleh Baekhyun, Hana malah terdiam.


"Aku akan ke toilet sebentar," ucap Hana.


Baekhyun mengangguk, "Hati-hati."


"Aku tidak pergi jauh."


"Tetap saja harus hati-hati."


"Ck! Berlebihan!"


Baekhyun terkekeh, iya, Hana tentu harus hati-hati, Baekhyun tidak mau ia terpeleset dan membahayakan sang calon buah hati di dalam perut Hana.


Tak lama Hana pun kembali dari toilet, "Boleh minggir sedikit? Aku mau tidur."


"Sebentar," Baekhyun yang duduk menahan Hana yang masih berdiri.


"Apa?"


"Duduk di sini sebentar," pinta Baekhyun menepuk pahanya.


"Hah? Untuk apa? Jangan macam-macam!"


"Baek!!!"


"Sudah bisa mengatakan apa yang ingin aku dengar?" Tanya Baekhyun.


"Apa?"


"Tentang perasaanmu yang masih mencintaiku!"


"Astaga! Masih tentang itu?"


"Iya." Baekhyun menatap Hana, menyeka rambutnya agar tidak menghalangi wajah cantiknya itu.


"Beri tahu dulu, apa yang kau tau?"


Baekhyun menggeleng, "Tidak mau."


"Harusnya kau tau apa yang disembunyikan dariku."


"Kau juga sudah tau."


"Tentang apa?"


"Perasaanku!"


Baekhyun terdiam sejenak, lalu tersenyum perlahan.


"Jadi perasaanmu benar-benar seperti yang aku yakinkan?"


"Hm..."


Baekhyun langsung tersenyum lebar, ia tidak bisa menahan rasa senang luar biasa karena Hana sudah mau jujur dengan perasaannya sendiri meski masih sedikit ketus.


"Kau.. masih mencintaiku kan?" Tanya Baekhyun memastikan sambil menatap Hana sangat dalam.


Hana lemah oleh tatapan suaminya, sampai ia merasa tidak punya pilihan lain selain mengangguk.


"Boleh aku mendengarnya langsung?" Pinta Baekhyun.

__ADS_1


"Iya Baekhyun, aku masih mencintaimu, aku---,"


Hana tidak bisa melanjutkan ucapannya karena bibirnya lebih dulu di bungkan oleh Baekhyun. Tangan pria itu melingkar erat di pinggang Hana, sedangnkan Hana yang menerima ciuman ini secara tiba-tiba dan langsung dibuat runtuh pertananannya oleh Baekhyun ketika pria itu memanggut mesra bibirnya, membuat ia secara naluri mengalungkan tangannya di leher Baekhyun.


Tangan Baekhyun yang tadi ada di pinggang Hana, kini sebelahnya terangkat untuk mendarat di kepala belakang Hana, mendorongnya pelan agar memperdalam ciuman mereka.


Hana mendorong pelan Baekhyun ketika ia merasa sudah kehabisan napas, lalu ia menunduk merasa malu sendiri.


Baekhyun tersenyum, ia menyeka rambut Hana untuk ia selipkan di belakang telinga si wanita.


"I miss these sweet lips," ucap Baekhyun dengan ibu jari yang mengusap bibir Hana yang masih basah.


"A-aku mau tidur, Baek..." ucap Hana langsung berdiri dari pangkuan suaminya.


Baekhyun terkekeh melihat wajah Hana yang memerah salah tingkah. Pria itu langsung membaringkan diri, lalu merentangkan tangannya di sofa.


"Kemari! Kita tidur berpelukan!"


"Kau mirip seperti orang kasmaran!" Balas Hana.


"Memang itu kenyataannya, ayo kemari!"


Hana akhirnya ikut membaringkan diri tapi ia masih membelakangi Baekhyun karena masih malu.


Baekhyun tidak protes, ia kembali memeluk Hana dari belakang.


"Jadi apa yang kau tau Baekhyun?"


"Menurutmu?"


Hana diam.


"Aku mau kau yang mengatakannya dulu."


Hana menghela napasnya, ia pun meraih tangan Baekhyun untuk ia masukan ke balik bajunya  untuk menyentuh perutnya.


"Dia ada di sana," ucap Hana.


"Usianya 3 bulan."


"Hyuna akan punya adik."


Baekhyun langsung mengelus perut Hana dari belakang lalu meraih bahu Hana, menariknya pelan agar Hana mau membalikan badannya menjadi menghadapnya.


Mata mereka bertemu setelah mereka saling berhadapan, lalu tangan Baekhyun kembali turun untuk mengusap perut Hana lagi.


"Tolong jaga dia baik-baik," ucap Baekhyun. Hana pun mengangguk.


"Terimakasih, karena masih selalu bersedia jadi ibu untuk anakku."


"Baek..."


"Kau tau pekerjaanku sebelumnya, kenapa yakin kalau anak ini anakmu? Bagaimana kalau--,"


Cup


Baekhyun mencium bibir Hana singkat.


"Aku kan tau kau tidak pernah melakukan pekerjaanmu dengan benar."


"Hanya aku klien yang berhasil kau buat puas!" Jawab Baekhyun sedikit bergurau.


"Baekhyun!!!" Hana memukul bahu Baekhyun karena ucapan pria itu.


"Itu anakku, aku tau sayang."


"Setiap bayi yang keluar dari rahimmu akan selalu menjadi anakku, tidak peduli apapun, mereka akan tetap jadi anakku."


Hana langsung melesak masuk ke dalam pelukan suaminya.


"Terimakasih Baekhyun."


"Terimakasih karena masih mau menerimaku, mencintaiku, dan menyayangiku."


"No needs sweety."


"Aku melakukannya karena memang aku ingin, dan karena aku bahagia."


"Maafkan aku."


"It's okay. Aku bahagia karena bisa memelukmu seperti ini."

__ADS_1


Baekhyun mencium kening Hana sangat lama, lalu beralih ke pipi sang wanita sebelum akhirnya ia menarik Hana untuk semakin masuk ke dalam dekapannya.


"Jangan pergi lagi, terlalu sakit rasanya kalau tidak ada kau, Hana."


__ADS_2