
Baekhyun tidak berhenti menggerutu klien-nya yang sangat tidak tepat waktu. Janji pertemuannya itu jam 4 dan akan selesai jam 5, tapi tamunya baru datang setengah jam kemudian lalu berakhir selesai setengah 6.
Dan sekarang sudah jam 6, tapi Baekhyun belum juga sampai di tujuan menjemput isterinya karena lalu lintas yang entah kenapa tumben sekali macet. Hana juga mendadak tidak bisa dihubungi sejak setengah 6 lalu. Membuat pria itu kini mengerang frustasi.
Setelah hampir 40 menit di perjalanan, akhirnya Baekhyun pun sampai di Kafe tempat yang Hana maksud, tapi apa yang membuat sial lagi? Kafe itu sudah tutup, dan tidak ada siapapun di depan Kafe ini. Hana pergi. Wanita itu tidak di sini.
"Kau mencari seseorang?" Baekhyun menoleh pada sosok yang datang dari dalam Kafe.
"Iya. Tadi dia ada di sini. Wanita, cantik, rambutnya sebahu dan--,"
"Namanya Park Hana?"
"Iya benar! Kau tau dia pergi kemana? Dia isteriku!"
"Dia belum lama pergi, dia di sini sampai Kafe ini tutup beberapa menit yang lalu, dan dia meninggalkan ini."
Baekhyun menerima sebuah kartu yang ternyata adalah kartu mahasiswa milik Hana.
"Kau lihat dia pergi ke arah mana?"
"Sepertinya ke sana," orang Kafe itu menunjuk sebuah arah pada Baekhyun. Membuat pria itu langsung menancap gas setelah mengucapkan terimakasih.
Baekhyun terus berjalan dengan mobilnya secara perlahan ke arah yang ditunjukan tadi, barangkali Hana mampir ke toko lain atau ke minimarket. Tapi nihil, sebelum ia berhenti di depan sebuah gang sempit dan mendengar sebuah suara.
"Jangan. Jangan kalung itu ku mohon."
"Ambil ponselku, dan semua isi dompetku, tapi tolong jangan kalung itu."
"Itu pemberian dari suamiku."
Baekhyun sangat mengenali suaranya. Membuat ia turun dari mobil dan mendekat ke gang itu.
"Kalau gantinya kalung ini adalah tubuhmu bagaimana?"
Dan benar saja. Itu Hana. Hana yang dikelilingi oleh 3 pria urakan dengan pisau berada di salah satu tangan pria tersebut.
"Tidak akan sudi!"
"Maka berikan kalung ini."
__ADS_1
"Tidak!"
"Kau!!" Baekhyun dengan cepat melangkah ketika salah satu dari mereka melayangkan sebuah pisau pada Hana.
"BRENGSEK HENTIKAN!" Baekhyun berteriak di belakang mereka semua, membuat ketiga pria berbada kekar tadi menoleh ke arahnya.
"Siapa kau?"
"Aku suaminya!"
"Oh? Begitu?"
"Kau ingin isterimu?"
"Lepaskan dia!"
"Ambil kaluangnya kalau kalian mau dan lepaskan dia!"
Hana menggeleng, ia sudah sangat menyayangi kalungnya ini. Kalung pernah Baekhyun kasih saat ulangtahun waktu itu. Dan Hana tau, semahal apa kalung ini.
"Tidak seru! Mau melawan kita dulu?"
"Kau!!!"
Bugh!!!
Hana membulatkan mata ketika perut Baekhyun ditinjuk begitu kerasa sampai mengeluarkan suara.
"Kenapa? Yang aku ucapkan itu benar. Orang-orang sampah seperti kalian itu tidak tau bekerja tapi ingin uang banyak," Baekhyun yang sudah tersungkur kini kembali berbicara membuat ketiga pria itu semakin murka. Lalu kembali meninjuk Baekhyun kini bagian wajah.
"Jangan! Jangan pukuli dia! Aku-- aku akan memberikan kalung ini, jadi tolong lepaskan kami."
"Tidak lagi! Akan ku beri pelajaran untuknya."
Baekhyun yang berusaha bangkit tapi kembali dipukul, berusaha melawan tapi ia kewalahan. Bagaimana tidak, tubuhnya jauh lebih kecil dari tiga pria itu. Dan satu lagi, Baekhyun sendiri, sedangkan lawannya 3.
"Hana pergi! Cari bantuan!" Pekik Baekhyun sebelum ia kembali tersungkur karena terus diserang.
Tubuh Hana sudah gemetar, ia tidak bisa melihat Baekhyun diserang seperti ini. Tapi ia juga tidak bisa meninggalkan suaminya begitu saja.
__ADS_1
"Tunggu aku Baekhyun!" Hana akhirnya memutuskan untuk melangkahkan kakinya, meski harus terjatuh karena salah satu pria itu sengaja mendorong Hana.
Baekhyun langsung menarik pria itu agar kembali teralih pada dirinya sehingga Hana bisa melangkahkan kakiknya untuk pergi meski harus sedikit pincang karena kakinya terkilir saat jatuh tadi.
Hana bingung harus minta tolong pada siapa, tidak banyak orang di sekitar sini hanya ada kendaraan yang berlalu lalang. Hana sudah mencoba memberhentikan salah satunya tapi ia diabaikan.
Sampai datanglah mobil polisi. Hana akhirnya menemukan harapan. Ia langsung memberhentikan mobil polisi itu.
"Pak, suamiku dikeroyok di gang sana, tolong aku!"
"Apa namanya Byun Baekhyun?"
Hana mengangguk.
"Dia tadi sudah melapor lebih dulu. Kalau begitu ayo kita ke sana!"
Hana mengangguk dengan cepat. Beruntung suaminya itu pintar, sebelum menghampirinya Baekhyun ternyata sudah menelpon polisi terlebih dahulu.
Hana kembali bersama beberapa polisi ke tempat kejadian tanpa bunyi sirine polisi agar para pelaku tidak kabur.
Sampai di sana tubuh Hana dibuat semakin lemas ketika mendapati suaminya sedang dipukuli dengan membabi buta oleh salah satu pria itu, sedangkan dua pria lainnya merogoh kantong celana Baekhyun, mengambil dompet, ponsel bahkan tidak lupa jam tangan yang melingkar di pergelangan tangan suaminya.
"Angkat tangan!"
Ketiga pria itu langsung mengangkat tangan ketika menyadari kedatangan para polisi. Sedangkan Hana langsung menghampiri suaminya, dan langsung memangku kepala suaminya itu di atas pahanya.
"Baekhyun, maafkan aku, jangan tutup matamu ya?" Hana tidak kuasa menahan air matanya ketika melihat wajah babak belur suaminya dan juga perutnya yang ternyata ditusuk juga dengan pisau. Hana semakin histeris ketika melihat darah yang membasahi kemeja suaminya.
"Kalian BIADAB!" Hana memekik pada tiga pria yang sudah diborgol polisi.
"Baek, tolong bertahan ya? Jangan tutup matamu."
"Lihat aku! Lihat aku Baekhyun!"
Baekhyun ingin menatap Hana, tapi tatapannya semakin buram, wajah Hana tidak terlihat dengan jelas di matanya, ia sudah menahan sakit di sekujur tubuhnya terlebih bagian perut yang tadi sepat ditusuk. Yang bisa Baekhyun lakukan hanyalah menyentuh wajah Hana sebentar, sebelum semuanya menjadi gelap.
"BAEKHYUN!!!!"
"TIDAK! JANGAN PEJAMKAN MATAMU!"
__ADS_1