
1 minggu
2 minggu
1 bulan
Dan masih belum ada perubahan atas kondisi Baekhyun. Hana yang awalnya selalu mengajak berbicara Baekhyun kini mulai lelah. Harus sampai kapan ia menggantungkan harapnya untuk Baekhyun.
"Baek, tolong. Aku mohon sekali lagi. Jangan pergi seperti ini. Kau tidak berniat membuatku bersalah seumur hidupku kan?" Hana kembali berbicara pada suaminya setelah terdiam lama menatap suaminya. Tidak ada lagi senyum atau tangisan saat berbicara pada suaminya itu, hanya ada hembusan napas berat dan tatapan datar yang terpancar dari wanita ini. Hana hanya sudah lelah menunggu Baekhyun sadar.
"Kau bertemu ibumu ya? Kau bahagia dimimpi sana? Kau melupakanku sepertinya."
"Aku lelah, Baek... aku lelah."
"Rasanya lelah sekali sampai aku ingin menyerah."
"Aku sudah libur semester, kau janji akan mengajakku liburan. Tapi mana? Kau masih terbaring di sini. Kau membohongiku, Byun Baekhyun."
"Boleh aku kecewa? Kecewa karena menggantungkan harapan seperti ini itu selalu membuat dadaku sakit."
Hana kembali menatap suaminya, lalu memejamkan matanya berharap ketika ia membuka matanya, pria itu ikut juga membuka matanya. Tapi nihil. Pria itu masih terlihat sama.
"Maafkan aku. Untuk beberapa hari aku tidak ke sini dulu nanti. Aku membutuhkan waktu untuk mempersiapkan diri atas kemungkinan buruk yang akan terjadi."
Hanya itu yang Hana ucapkan sebelum berlalu meninggalkan suaminya, dan tidak kembali hingga seminggu lamanya.
***
Ooh Sehun berjalan gontai ke Hana yang sedang tertawa bersama kedua orang lainnya. Sehun sebenarnya heran, dua orang itu bukan dua teman Hana, yang biasa ia lihat, ini wanita dua-duanya, dan Sehun lumayan tau kalau kedua wanita itu seangkatan dengannya. Maksudnya adalah teman Hana yang dulu, saat sebelum Hana cuti. Dulu mereka tidak pernah dekat, tapi kenapa mereka jadi akrab begitu. Dilihat-lihat makin ke sini Hana jadi lebih sibuk bersosialisasi ketimbang mengurus suaminya sendiri ya?
"Hana!"
Hana menoleh dan mendapati Sehun berdiri di depannya dengan tatapan tajam, "Kenapa?" Tanya Hana seperti tidak berminat pada Sehun.
"Ikut aku!" Sehun langsung menarik tangan Hana, membuat si wanita itu kesal dan langsung menghempaskan tangan Sehun.
"Apaan sih?"
"Ikut aku ke rumah sakit?"
"Untuk apa? Dia sudah sadarkan diri? Ada perubahan yang baik?" Tanya Hana dengan alis terangkat sebelah tanda bahwa ia sendiri tidak yakin dengan pertanyaannya.
Sehun terdiam.
"Tidak kan? Jadi untuk apa?"
"Kau sudah 1 minggu lebih tidak mengunjungi rumah sakit, kau tau Hana kata dokter menemani dan mengajar bicara hyung bisa membantu."
"Bohong! Mau aku bicara dengannya sampai berbusa pun dia tidak sadar-sadar!"
Sehun membelalakan matanya tidak percaya Hana bersikap demikian. "Kau-- sudah tidak peduli dengan suamimu?"
"Aku lelah Sehun! Berbicara di depannya yang hanya terus memejamkan mata, itu membuatku sakit!"
"Kau menyerah semudah ini Hana?"
"Kau tidak mengerti!"
"Jelas tidak! Kau yang seperti ini memang tidak membuatku mengerti, seperti Hana yang lain, seperti Hana yang tidak memedulikan suaminya."
"Harapanku sudah diambang habis, Sehun! Aku hanya sedang menyiapkan diri untuk semua kemungkinan buruk yang terjadi."
Sehun menggeleng, "Justru kau sedang mendoakan sesuatu yang buruk terjadi pada suamimu secara tidak langsung."
Hana terdiam. Mereka masih berhadapan sebelum Sehun berbalik badan karena ada yang menelpon.
"Baik, hyung! Aku akan kesana!"
Sehun kembali berbalik ketika sudah menyelesaikan telpon singkatnya itu, ia menatap Hana yang juga menatapnya.
"Ada apa?" Tanya Hana.
__ADS_1
"Kenapa ingin tahu? Kau tidak peduli lagi dengannya bukan?"
"Sehun! Katakan dengan benar!"
"Doa-mu itu sepertinya terkabul."
"Doa yang mana?"
"Memang kau mendoakan apalagi untuk suamimu?" Ucap Sehun sebelum pergi begitu saja dari hadapan Hana yang mematung.
Kemungkinan terburuk itu...
Tidak mungkin benar-benar terjadi kan?
Hana mematung. Jantungnya terpompa dengan kencang. Tubuhnya kaku. Tangannya terkepal. Telinganya berdengung. Tubuhnya kini sangat lemas sampai terduduk di tanah karena tidak bisa menopangnya lagi dengan kedua kakinya.
"Byun Baekhyun aku mohon bertahanlah."
"Tuhan aku mohon selamatkan suamiku."
"Aku taruhkan hidupku sendiri untuk itu, Tuhan."
"Tolong jangan bawa pergi Baekhyun ke hadapanmu."
***
Malam ini Hana di sini. Di klub malam. Hana tidak tau apa yang merasukinya hingga kakinya melangkahkan ia ke tempat ini. Tempat yang menjadi tempat pertemuan pertama Hana dengan Baekhyun. Sama hal seperti yang ia lakukan dulu. Sekarang, tempat ini juga dijadikan sebagai tempatnya melarikan diri.
"Tolong, berikan aku apapun yang bisa melegakan hati," ucap Hana pada bartender di sana. Tak lama Hana diberikan sebuah minuman yang Hana tidak peduli apa namanya, ia hanya langsung menenggak minuman itu sampai habis.
"Hana?" Hana menoleh lalu mendapati seseorang yang sangat ia kenal. Sin Ho.
"Sin Ho?"
"Kau di sini? Aku tidak tau kalau ternyata kau wanita yang bisa memilih klub malam sebagai tempat pelarianmu," ucap Sin Ho.
Hana menunduk. Sepertinya Sin Ho ini selalu mengerti dirinya.
"Kau selalu tau pikiran dan hatiku."
"Iya. Aku... cocok sekali denganmu bukan?"
Hana mendengak ke arah Sin Ho, menatapnya bingung, "Cocok jadi temanmu."
Hana tersenyum, "Iya."
"Kalau mau minum, jangan di sini. Terlalu bahaya untuk wanita sepertimu."
"Ayo Hana, biar aku antar pulang."
"Tapi Sin Ho--,"
"Mata pria di sini banyak yang kelaparan Hana, kau tidak mau jadi salah satu makanannya kan?"
Hana menggeleng.
"Jadi ayo, lebih baik ikut aku."
Wanita itu pun menurut. Sin Ho benar. Sesuatu bisa terjadi kalau Hana terus di tempat ini. Jangan lupakan bagaimana cara Hana bertemu Baekhyun.
***
"Hana, mau aku temani minum?"
Hana terdiam sejenak. Ia memang butuh pelampiasan. Ia butuh minum. Dan tentu saja ia butuh teman.
"Minum di tempatku," ucap Sin Ho lagi.
"Hah?"
"Aku hanya ingin menemanimu. Kau terlihat berantakan Hana, barang kali kau bisa sedikit berbagi denganku."
__ADS_1
"Aku tidak tinggal sendiri kok, ada kakak perempuanku, jadi aku tidak berani macam-macam padamu."
Hana berpikir untuk beberapa saat, "Tidak merepotkan?"
"Tidak sama sekali."
"Kalau begitu ayo!"
Sin Ho pun tersenyum, ia segera membawa Hana ke tempatnya, yang tak lain adalah apartement-nya.
Sampai di sana Hana belum menemukan kakak Sin Ho yang tadi dimaksud, ia justru langsung disugukan beberapa botol Soju oleh Sin Ho.
"Ini berlebihan, aku tidak minum sebanyak itu."
Sin Ho hanya tersenyum tipis, "Biar saja di situ, aku terlanjur mengambilnya."
"Baiklah."
"Kakakmu mana?"
"Mungkin sedang keluar sebentar," jawab Sin Ho dan Hana hanya ber-oh ria.
Pada akhirnya mereka minum bersama. Baru 1 teguk Hana minum, tiba-tiba perasaannya menjadi luar biasa sedih. Belum. Ia belum mabuk. Hana hanya sedih. Dadanya sesak tiba-tiba dan ingin menangis.
Sin Ho menangkap raut kesedihan Hana, sorot mata wanita itu pun tampak kosong.
"Kau seberantakan ini, apa suamimu akan benar-benar pergi?"
Hana langsung mendengakan kepalanya, menatap nyalang pada Sin Ho.
"Apa maksudmu?"
"Aku bertanya, apa suamimu itu sedang diambang kematiannya sampai kau terlihat seberantakan ini? Lalu kenapa kau di sini? Tidak mau menemani suami tercintamu pulang ke rumah Tuhan?" Dengan enteng Sin Ho bertanya itu. Iya. Pada akhirnya laki-laki ini membuka topengnya di depan Hana.
"SIN HO!!!"
"Hana, mau mencoba bermain denganku?"
"Maksudmu apa?!"
"Kau pasti kesepian karena keadaan suamimu sekarang kan? Ayo! Ayo kita main sedikit."
Hana mulai mengerti, ia tidak sebodoh itu untuk tidak menangkap maksud Sin Ho.
"Kau mabuk!"
"Tidak, aku baru minum sedikit. Masih sangat sadar."
"Eh iya sih aku mabuk! Aku dimabuk cinta olehmu!"
"Sin Ho--," Hana menatap Sin Ho tak percaya.
"Bermain dengan wanita yang sedang kesepian sepertinya bukan ide buruk."
"Sudah berapa lama kau tidak dipuaskan suamimu?"
"Biar malam ini aku yang mengambil tugasnya."
"Iya memuaskanmu tentu saja, sayang."
Hana memaki dirinya sendiri ketika ia tidak bisa melakukan apapun, bahkan sampai ketika bibirnya disentuh tanpa izin oleh temannya sendiri yang bernama Sin Ho.
Sin Ho mencium Hana dengan agresif seolah bibir Hana adalah sesuatu yang sangat ia inginkan dan sekarang akhirnya bisa ia dapatkan
"Wah, akhirnya aku bisa mencicipi manisnya bibir yang pernah berwarna merah menggoda ini."
"Ayo kita mulai Hana."
"Tenang saja, tidak akan ada yang tau. Aku akan merahasiakannya."
"Kau hanya perlu diam dan nikmati permainanku, oke sayang?"
__ADS_1
Dan dengan begitu saja akhirnya Hana berbaring di sofa dengan Sin Ho berada di atasnya dengan senyum kemenangan.