
[ Author ]
'Kulihat rasa sakit, kulihat kesenangan.'
'Tak ada yang lain kecuali dirimu,
'tak ada tubuh lain kecuali tubuhku. tubuh kita.'
'Tubuh kita berdua.'
'Ku ingin mendekapmu, malam ini dan selamanya.'
[By,ZZM-P]
Bunyi suara nyanyian dari rington hp menggelegar di telinga Michael, hal itu membuat nya mau tak mau harus terbangun dari tidurnya. Padahal, ia masih sangat malas untuk bangun. Selain ini masih terlalu pagi, ia juga sudah mengambil cuti kerja. kemarin kan hari pernikahannya, masa ia hari ini ia sudah harus kembali bekerja.
Lagi pula Michael bekerja pada perusahaan orangtuanya sendiri, jadi tidak akan ada yang melarangnya walau Michael tidak masuk kerja. Michael hanya akan masuk kantor pada tanggal satu sampai lima saja, mengambil uang gajian dan memberikan kepada mereka yang bekerja dan juga untuknya sendiri.
Kembali ke topik awal.
"Siapa sih pagi pagi buta begini telfon, gangu orang tidur aja." gerutu Michael kesal. Di lihatnya Sherlyna yang masih tertidur pulas di sisi ranjang.
Michael tersenyum, lalu bangkit dari ranjang untuk mengambil ponselnya yang entah ia taruh dimana. Dalan hati Michael berharap jika setiap hari ia bangun, Michael akan mendapati Sherlyna yang tertidur di sisi ranjangnya.
"Astaga! Dimana ponsel gue?" tanya Michael pada dirinya sendiri karena tidak menemukan keberadaan ponselnya.
Michael celingukan mencari benda pipih itu, "ada bunyinya tapi kok nggak ada wujudnya sih?" tanya Michael lagi pada dirinya sendiri sambil menggaruk belakang telinganya karena merasa ambigu dengan ucapannya barusan.
Michael mendekati ranjang, membuka bantal. Senyumnya mengembang saat menemukan benda yang sangat berisik itu.
"Kenapa hp gue bisa ada di bawah bantal." gumam Michael lirih memegang benda pipih itu seperti orang idiot 😂.
"Michael berisik!" teriak Sherlyna karena merasa terganggu dengan deringan ponsel Michael, ia pun menutup kepalanya menggunakan bantal.
Michael mengeryit, lalu ia pun mengangkat ponselnya tinggi tinggi dengan tangan kanannya. "Kok gue ngerasa ada yang salah ya." gumam Michael menatap ponsel yang ada di tangan kanannya.
"Astaga!."
Michael menepuk keningnya sendiri karena merasa bodoh dengan apa yang dia lakukan barusan. "Kok gue jadi bego begini sih!"
"Halo." ucap Michael menempelkan ponselnya ke telinga setelah sebelumnya menggeser layar ponsel kearah kanan.
__ADS_1
"ASTAGA MICHAEL KAMU KAMANA AJA SIH!!. MAMA UDAH TELFON KAMU LEBIH DARI SERATUS KALI TAPI KAMU BARU ANGKAT SEKARANG!"
Teriakan seseorang dari seorang telfon membuat Michael harus menjauhkan ponselnya dari telinga, karena telinganya terasa sakit mendengar suara yang begitu menggelegar itu.
"Ma, ini masih pagi pagi buta loh..." ucap Michael santai seraya duduk di tepi ranjang.
Dari sebrang sana, terdengar suara dengusan sang Ibu. "Apa kamu bilang?! Pagi buta? Yang benar saja Michael, ini sudah jam sepuluh lebih lima puluh lima menit."
"Hah, perasaan disini masih gelap."
"Hah." terdengar helaan nafas dari ujung sana.
"Oke, terserah kamu saja. Dasar pengenten baru."
"Udah tau pengantin baru, masih aja di ganggu. Untung Michael menginap di hotel." balas Michael kesal.
"Michael."
"Iya, Mama Siska sayang."
"Michael, Mama cuma mau ngasih tau kalau sekarang Mama dan Papa ada di bandara, kami akan pergi ke Singapura. Jam sebelas dua puluh lima menit kami take off."
"Hah Mama sama Papa mau ngapain ke Singapura? Kok nggak bilang sama Michael sih? Kan Michael bisa anterin kalian ke bandara tadi." tanya Michael beruntun.
Michael mengangguk-anggukkan kepalanya, pertanda 'ya' padahal sang Mama tidak bisa melihatnya.
"Michael, kamu masih disana kan?"
"Hmm iya, Ma. Yaudah kalau gitu, hati hati ya Mama sama Papa-nya.... Jangan lupa kalau pulang bawa berita bahagia."
"Iya, Mama juga berharap nanti pas Mama pulang dapet berita bahagia juga dari kamu dan Sherlyna ya?"
"Sip, Ma."
"Oke."
Tut! Tut!
Setelah panggilan terputus, Michael meletakkan ponselnya di meja dekat ranjang. Melihat Sherlyna yang masih tertidur pulas, Michael pun bangkit dari ranjang menunju kamar mandi untuk membersihkan diri.
"Semoga lo nggak kenapa-napa." gumam Michael sembari mengguyur dirinya dengan air shower.
__ADS_1
Michael dan Mario dulu saat kecil sangat dekat, bahkan mereka selalu bermain bersama. Berbagi mainan dan juga makanan yang mereka punya. Umur mereka pun tidak berpaut jauh, hanya berbeda 2 tahun. Walau Mario dan Michael masih tua Michael jika di lihat dari umur, tapi Mario adalah anak oma-nya.
Dulu, Michael menganggap Mario adalah adiknya. Tapi seiring berjalanannya waktu, ia sadar jika Mario adalah om-nya, adik dari Ayahnya.
Seiring berjalannya waktu juga hubungan Michael dan Mario mulai renggang, tidak seperti saat kanak kanak dulu. Mereka menjadi saling mengejek satu sama lain, walau itu mereka lakukan tidak sepenuhnya dari dalam hatinya. Karena Mario dan Michael tetap saling menyayangi walau dengan cara mereka sendiri.
Kembali ke topik.
Michael keluar dari kamar mandi hanya menggunakan boxer saja, ya karena hanya itu yang ada. Berjalan kearah ranjang, bibirnya tersenyum memperhatikan Sherlyna yang masih saja tertidur.
"Sherlyna, bangun." ucap Michael seraya mengusap pipi Sherlyna dengan lembut.
"Sherlyna, bangun. Udah siang, lo nggak laper apa?"
Namun Sherlyna tetap tidak membuka matanya, "ck! Kebo."
Michael mendekatkan wajahnya kearah Sherlyna, lalu berbisik di telinga Sherlyna. Namun ajaibnya, suara bisikan Michael itu bisa membangunkan Sherlyna.
"Anna, bangun."
Sherlyna membuka matanya, mengerjapkan matanya berkali-kali. Di lihatnya Michael yang hanya menggunakan boxer di samping ranjang dengan rambut yang masih basah, sepertinya habis mandi.
"Lo ngapain ada di sini? Nggak pake baju lagi?" tanya Sherlyna langsung, otaknya masih memikirkan siapa yang berbisik padanya tadi. Tidak mungkin kan jika itu Michael? Karena setau Sherlyna, Michael belum tau nama lengkapnya. Di buku pernikahan mereka pun nama depan Sherlyna tidak ada.
"Bercanda? Sudah sana mandi, gue udah siapin air hangat." ucap Michael.
Sherlyna mengeryitkan dahinya, menatap Michael dengan bingung. Pipinya langsung merona merah saat dirinya mengingat apa yang sudah mereka lalukan semalam, hal itu membuat Michael tersenyum lebar.
Sherlyna menarik selimut yang ia gunakan sebatas leher. "Kenapa di tutup, gue udah liat semua kan?" tanya Michael.
Sherlyna mendengus, tapi rona merah di kedua pipinya bertambah merah. Rasanya dia ingin sekali mengubur dirinya saat ini juga agar tidak bisa melihat Michael yang saat ini sedang tersenyum miring kepadanya.
"Apa yang lo lakuin?" tanya Sherlyna saat tiba tiba Michael menyingkap selimut Sherlyna ke lantai dan mengangkat tubuh Sherlyna.
"Gue tau, lo pasti susah buat jalan. Jadi gue cuma mau bantu lo sampe kamar mandi, tapi kalau lo mau gue mandiin juga gue nggak keberatan." ucap Michael menurunkan Sherlyna di dalam bathup (ngak tau tulisannya gimana?😢) yang sudah berisi dengan air hangat.
"Apaan?! Udah sana keluar." ucap Sherlyna.
Michael mengangguk. "Nanti kalau mau keluar tapi nggak bisa jalan, panggil aja gue."
Sherlyna melotot kearah Michael yang hanya tersenyum lebar, menunjukkan gigi-giginya yang rapi itu.
__ADS_1