BAD : Michael Dan Sherlyna

BAD : Michael Dan Sherlyna
Part 34. Untuk Mario


__ADS_3

Sherlyna menatap pintu ruang IGD, perasaannya campur aduk. Antara kesal, karena Mario tidak pernah mengatakan tentang penyakitnya, dan sedih karena, bagaimana mungkin dia tidak tau jika kekasihnya itu selama ini telah menyembunyikan penyakitan mematikan seperti itu.


Sherlyna merasa tidak berguna menjadi seorang kekasih, tidak mempedulikan Michael yang duduk di kursi, menatapnya nanar, Sherlyna sibuk memikirkan keadaan Mario.


Kedua orang tua Mario dan juga kedua orang tua Michael pun ada di sana, dan mereka pun sama seperti Sherlyna, menghawatirkan keadaan Mario.


"Sherlyna, duduklah." ucap Michael, ia kasian dengan janin yang ada di dalam perut Sherlyna, yang pasti sudah pusing karena sang ibu dari tadi mondar mandir tidak jelas.


Sherlyna melotot kearah Michael. "Gimana gue bisa duduk, sementara gue nggak tau di dalam sana Mario gimana keadaannya."


"Dokter lagi nanganin Mario, dia kuat, semua pasti akan baik baik aja." ucap Michael ia mencoba menenangkan Sherlyna, dengan memeluk wanita itu.


Sherlyna membiarkan Michael yang memeluknya dan membawanya untuk duduk.


"Gue jahat ya Michael?" tanya Sherlyna lirih, air matanya luruh, ia pun menyembunyikan wajahnya di dada Michael.


Michael mengusap punggung Sherlyna. "Nggak."


"Gue jahat, gue udah nikah sama lo, tapi gue masih cinta sama Mario." ucap Sherlyna.


"Lo nggak jahat, gue yang jahat karena membuat lo nikah sama gue. Padahal gue tau kalau lo itu milik orang lain." ucap Michael tak kalah pelan.


"Sherlyna."


Sherlyna mendongak saat mendengar suara Beni. Sontak Sherlyna pun langsung berdiri dan memeluk Beni dengan erat.


Sherlyna tadi memang mengabari Beni, namun ia tidak tau jika Beni akan datang. Padahal setau Sherlyna, Beni tidak menyukai Mario. Bukan hanya Beni yang datang, tapi juga ayah dan adik Sherlyna.


"Ferry, Ayah."

__ADS_1


Sherlyna memeluk Ayah dan Ferry secara bergantian, dia sangat merindukan Ayah dan adiknya itu, sudah lama Sherlyna tidak bertemu mereka.


Kening Sherlyna berkerut saat tidak mendapati Ramma. "Di mana Ramma?" tanya Sherlyna.


Ayah dan Ferry mendadak langsung menegang, mereka belum mengatakan pada Sherlyna tentang apa yang terjadi pada Sherlyna, karena mereka pikir, hidup Sherlyna sudah rumit, jadi tidak mau mengatakan semuanya, agar Sherlyna tidak memikirkannya.


"Ada di rumah."


Ucapan Beni membuat Sherlyna menatap Ayah dan Ferry secara bergantian. Oh ayolah, Sherlyna tidak bodoh. Anak itu selalu ikut kemana pun Ferry pergi, jadi tidak mungkin saat ini Ramma mau di tinggal oleh Ferry.


"Ayah."


Sherlyna menatap Ayahnya cukup lama, dan dia bisa melihat kesedihan di sana.


"Ada apa?" tanya Sherlyna lagi.


"Ramma ikut Bunda." ucap Ferry, bada suaranya terdengar kesal.


Sherlyna masih tidak mengerti, adiknya itu kan tidak menyukai Bundanya.


"Ceritanya panjang, nanti Ayah akan ceritakan semua padamu." ucap Ayah.


"Lalu sekarang kalian berdua tinggal di mana?" tanya Sherlyna


"Mereka tinggal di rumah gue." ucap Beni.


Sebelum Sherlyna menanyakan lebih lanjut, suara seorang dokter yang keluar dari ruang IGD membuat Sherlyna langsung menghampiri sang dokter.


"Bagaimana keadaan Mario dok?"

__ADS_1


Bukan hanya Sherlyna yang bertanya, tapi juga orang tua Michael dan juga orang tua Mario.


Dokter itu terlihat menghela nafas panjang. "Buruk.... Keadaannya masih kritis, kita butuh donor hati secepatnya."


Michael menangkap tubuh Sherlyna yang tiba tiba saja linglung. Michael memeluk erat tubuh istrinya, Ibu dan Neneknya pun kembali menangis di pelukan Papa dan Kakeknya.


Michael tidak suka melihat orang orang yang di sayanginya menangis seperti ini. Tapi dia bisa apa, apa dia harus memberikan hatinya untuk Mario?


Apa jika Michael memberikan hatinya untuk Mario maka semua orang yang di sayanginya tidak akan menangis dan bersedih lagi?


"Mau kemana lo?" tanya Beni pada Michael saat Michael menyerahkan Sherlyna padanya.


"Gue pergi bentar." balas Michael.


"Jangan macem macem." ucap Beni.


A


Michael tertawa hambar. "Nggak kok, paling cuma satu macem aja."


"Jangan bercanda, gue nggak suka sama apa yang mau lo lakuin itu." ucap Beni, ia mempunyau firasat buruk.


"Emang lo tau gue mau ngapain?" tanya Michael bingung sendiri.


"Nggak! Tapi apapun itu, jangan mengambil keputusan yang bodoh. Sherlyna mencintai lo." ucap Beni, ia menatap Sherlyna dalam kedapannya.


Michael hanya tersenyum dan berjalan meninggalkan mereka, dia sudah yakin dengan jalan yang akan ia ambil. Dia mau semua orang tidak bersedih lagi, dan sebentar lagi mereka tidak akan menangis lagi.


Mario akan selamat, ini ia lakukan demi Sherlyna, demi kedua orang tuanya, demi nenek dan kakeknya.

__ADS_1


singkatnya, demi orang orang yang dia sayangi.


__ADS_2