BAD : Michael Dan Sherlyna

BAD : Michael Dan Sherlyna
Part 28. Mario dan Sherlyna.


__ADS_3

Sherlyna membuka matanya dan menyesuaikan penglihatannya. Keningnya berkerut saat melihat kearah seseorang yang kini sedang tersenyum padanya.


"Selamat pagi." ucapnya.


"Kok lo bisa ada di sini?" tanya Sherlyna bingung.


"Kan gue jagain lo." balasnya.


Sherlyna mengedarkan pandangannya kesekitar ruangannya, membuat Mario menatap Sherlyna bingung.


"Lo lagi nyariin siapa?" tanya Mario.


Sherlyna menggelengkan kepalanya pelan. "Lo udah lama di sini?"


Mario mengangguk, "dari dua jam yang lalu."


"Oh. Terima kasih ya udah nemenin gue." balas Sherlyna.


Mario meraih tangan Sherlyna dan menggenggamnya. "Maafin gue ya, gara-gara gue, lo jadi kayak gini." ucapnya sedih.


Sherlyna tersenyum kikuk. "Lo ngak perlu minta maaf, lo nggak salah kok."


"Sekarang lo makan dulu ya." Ucap Mario melepaskan genggaman tangannya pada Sherlyna lalu mengambil mangkuk bubur yang ada di meja.


Sherlyna menggelengkan kepalanya. "Gue nggak lapar."


"Tapi lo harus makan, dokter bilang lo harus minum obat." ucap Mario.


"Gue nggak suka bubur dari rumah sakit, nggak ada rasanya sama sekali." ucap Sherlyna melihat kearah mangkuk bubur yang ada di tangan Mario.


"Yaudah gue beliin lo bubur di kantin rumah sakit dulu ya, lo nggak apa-apa kan kalau gue tinggal sendirian?" tanya Mario.


Sherlyna mengangguk. "Iya."


Lalu Mario pun melangkah keluar dari ruangan Sherlyna dan menuju kantin rumah sakit untuk membelikan bubur.


"Michael kemana ya." gumam Sherlyna pelan.


Entah kenapa hatinya merasa kecewa saat tadi bangun yang di lihat nya bukan Michael melainkan Mario. Sherlyna berharap bahwa Michael lah yang menemaninya saat ini bukan Mario.


"Tapi kenapa gue harus merasa kecewa? Gue kan nggak cinta sama Michael, gue cintanya sama Mario." ucap Sherlyna bingung sendiri.

__ADS_1


"Sherlyna lo itu kenapa sih harus mikirin Michael terus, ada Mario di sini."


"Tapi harusnya Michael bilang kalau nggak mau memani gue."


Sherlyna mendecakkan lidahnya kesal sendiri dengan pemikirannya.


Tidak lama kemudian Mario datang dengan membawa nampan yang tentu saja berisi bubur Ayam yang di belinya di kantin tadi.


Sherlyna tersenyum saat Mario meletakkan nampan itu di meja lalu mengambil mangkoknya dan kemudian duduk di bangku dekat ranjang Sherlyna.


"Nah sekarang lo harus makan."


"Lo udah makan?" tanya Sherlyna berbalik tanya dan mencoba menghilangkan pikirannya yang di penuhi oleh Michael.


Mario mengangguk. "Udah tadi sebelum ke sini." balas Mario.


Tidak ada percakapan saat Mario menyuapi Sherlyna hingga bubur yang di mangkuk itu habis. Mario menaruh mangkuk kosong itu kembali kenampan dan mengambil beberapa butir obat yang telah tersiapkan di meja kepada Sherlyna.


Sherlyna menerimanya dan langsung memasukkannya kedalam mulut tanpa protes, menerima segelas air yang Mario sodorkan lalu meminumnya hingga habis.


"Terima kasih." ucap Sherlyna.


Mario tersenyum. "Lo nggak perlu berterima kasih sama gue, bukankah memang seharusnya gue melalukan ini,


Sherlyna hanya mengangguk karena tidak tau harus berbicara apa. "Lo kemana aja selama ini?" tanya Sherlyna saat ingat Mario yang tiba-tiba hilang tanpa kabar.


Senyuman di bibir Mario sedikit memudar. "Maaf bukan bermaksud meninggalkan lo tanpa kabar, tapi gue cuma lagi ada masalah yang harus gue selesaiin." ucap Mario.


"Masalah? Kenapa lo nggak ngasih tau gue, siapa tau gur bisa bantu lo." ucap Sherlyna.


Mario menggelengkan kepalanya pelan, tidak mungkin ia memberitahu Sherlyna semuanya. Mario belum siap dan mungkin tidak akan siap untuk mengatakan semuanya pada Sherlyna.


"Kenapa, gue ini pacarmu kan?"


Mario menghela nafas panjang. "Lo bahkan nggak ngasih tau gue soal pernikahan lo dengan Michael." ucap Mario.


Sherlyna memutar bola matanya karena Mario malah mengalihkan pembicaraan. Tapi ia juga merasa bersalah karena tidak jujur dengan Mario.


"Maaf."


"Gue percaya kalau lo cuma cinta sama gue, pernikahan itu nggak sungguhan kan?"

__ADS_1


Sherlyna menggeleng namun juga menganggukkan kepalanya bingung. Sherlyna memang menganggap pernikahan itu bukan pernikahan sungguhan, tapi Michael pernah bilang padanya bahwa pernikahan mereka adalah pernikahan sungguhan.


Mario tersenyum. "Gue udah bilang sama Michael buat ceraiin lo, dan setelah itu kita bisa menikah."


Sherlyna melotot tidak percaya dengan ucapan Mario. "Tapi---


"Kenapa, lo nggak mau menikah sama gue?" tanya Mario memotong ucapan Sherlyna.


"Bukan seperti itu, tentu saja gue mau menikah sama lo. Tapi apa Michael menyetujui untuk bercerai sama gue?" tanya Sherlyna hati-hati dan Sherlyna sangat berharap bahwa Mario akan menjawab tidak.


Mario menggelengkan kepalanya. "Tapi lo jangan khawatir, cepat atau lambat lo pasti akan bercerai dengan Michael." ucap Mario.


"Semoga." balas Sherlyna.


"Mario, lo sakit?" lanjut Sherlyna bertanya saat memperhatikan wajah Mario yang sedikit pucat.


Mario menggelengkan kepalanya masih dengan senyuman manisnya. "Gue baik-baik aja, kan lo yang sakit."


"Tapi lo mimisan." ucap Sherlyna menunjuk hidung Mario yang mengeluarkan darah.


Mario mengusap bawah hidungnya dengan punggung tangannya. "Cuma kecapean aja kok."


"Lo serius."


Mario menggangguk yakin. "Gue ke kamar mandi dulu ya, buat bersihin ini." ucap Mario lalu berjalan keluar ruangan Sherlyna.


Mario menutup pintu kamar Sherlyna lalu bersandar pada tembok dekat pintu kamar Sherlyna. Mario mendengus saat merasakan darah itu tidak berhenti mengalir dari hidungnya.


"Gue nggak boleh lemah hanya karena ini." ucapnya merogoh saku celananya dan mengambil obat yang seharusnya sudah ia minum sejak tadi.


"Gue pengen hidup normal tanpa ini." gumam Mario lalu menelan obat itu.


"Gue kan udah bilang, seharusnya lo itu di rawat." ucap seseorang berdecak kesal melihat Mario yang berlumuran darah.


Mario menatap sinis kearah orang yang baru saja berbicara. "Ini semua juga karena lo, jadi lo nggak usah sok peduli!"


"Gue peduli sama lo, tapi gue nggak bisa kalau harus memenuhi permintaan lo."


"Kenapa?"


"Karena gue juga mencintai dia."

__ADS_1


Mario hanya tertawa hambar saat mendengarnya.


__ADS_2