
"Michael bilang dia mencintai gue."
"Terus lo percaya dengan ucapannya?"
"Nggak tau." bisik Sherlyna pelan.
Saat ini Sherlyna sedang bersama Mario, di apartemen. Tapi bukan apartemen yang kemaren di datengin Michael. Mereka berdua tengah duduk di sofa menonton tv dengan Sherlyna yang memeluk pinggang Mario.
"Jangan percaya! Dia itu cinta sama semua wanita." ucap Mario santai.
"Tapi--
"Kita akan membesarkan anak ini sama sama... Jangan takut kalau gue bakalan nggak sayang sama dia karena dia bukan anak gue." ucap Mario seraya mengusap perut Sherlyna yang masih datar.
"Kemaren gue bilang kalau gue nggak tau anak yang gue kandung ini anak Michael atau lo." ucap Sherlyna dengan suara yang amat pelan.
"Ya kali anak gue, pernah ena-ena sama lo aja nggak... Ya kalau ciuman bisa buat lo hamil, mungkin udah banyak anak gue," ucap Mario lalu tertawa sarkas.
"Tapi bagus sih." lanjut Mario lebih pada dirinya sendiri.
"Gue murahan banget ya." ucap Sherlyna.
"Nggak!"
"Tapi--
"Lo bukan cewek murahan. Kalau lo cewek murahan, bukan cuma sama Michael aja lo mau ena-ena."
"Ish bahasnya kok ena-ena mulu sih." ucap Sherlyna mencubit pinggang Mario.
"Awhh Sherlyna sakit tau."
"Lebay."
"Beneran sakit."
Sherlyna melepaskan pelukannya pada pinggang Mario dan mendongak untuk menatap wajah Mario yang lagi fokus nonton tv.
"Lo mimisan?" tanya Sherlyna.
Mario buru buru mengambil tisu untuk membersihkan darah yang mengalir dari hidungnya.
"Sebenarnya, lo itu sakit apa sih? Akhir akhir ini lo sering banget mimisan?" tanya Sherlyna curiga jika Mario menyembunyikan penyakit di belakangnya. Bukan hanya satu kali ia melihat Mario mimisan, tapi sudah sering. Namum saat Sherlyna bertanya, Mario hanya membalas jika itu hanya efek dari kelelahan.
"Cuma mimisan doang..." ucap Mario dengan senyuman lebarnya.
"Lo nggak lagi nyembunyiin sesuatu dari gue kan?" tanya Sherlyna.
__ADS_1
Mario tertawa geli. "Ya nggak lah."
"Tapi lo sering banget mimisan." ucap Sherlyna.
"Jangan khawatir, ini hanya efek kecapean aja kok." ucap Mario meyakinkan Sherlyna yang mulai curiga.
"Jangan bohong, gue takut kehilangan lo." ucap Sherlyna lirih lalu kembali memeluk pinggang Mario.
"Kenapa takut, kan ada suami lo?" tanya Mario iseng.
Sherlyna mendengus, dia mencintai Mario, dia tidak mau kehilangan Mario, namun ia juga mulai mempunyai rasa untuk Michael. Michael dan Mario sama sama memiliki tempat di hatinya.
"Mario"
"Hmm."
"Gue laper."
"Mau beli makan apa?" tanya Mario lirih karena kepalanya berdenyut nyeri. Mimisannya memang sudah berhenti, tapi sakit di kepalanya tidak mau berhenti.
"Maunya Mario yang masak." ucap Sherlyna dengan suara manja.
Mario tertawa, dia suka mendengar Sherlyna berbicara dengan suara manja padanya. Dulu Sherlyna sering bermanja manja padanya, tapi setelah ada Michael, Sherlyna sedikit berubah.
"Memangnya mau makan apa?" tanya Mario, walau pun kepalanya berdenyut satkit. Tapi dia tidak mau membuat Sherlyna kecewa karena dia tidak mau masak untuk Sherlyna.
"Hmm ya apa ajalah." ucap Sherlyna.
"Entahlah, yang penting bisa di makan."
"Oke, tunggu disini ya." ucap Mario.
Sherlyna tersenyum lebar dan mengangguk semangat saat Mario mulai melangkah meningalkannya di ruang tv.
Sherlyna mengerutkan dahiya heran saat melihat Mario berjalan dengan semboyongan. Mario kan nggak lagi mabuk? Kenapa jalannya kayak orang mabuk? Batinnya bingung.
Sherlyna mendelik kaget saat melihat tiba tiba saja tubuh Mario tumbang sebelum mencapai dapur.
"Mario!"
Sherlyna berseru kaget lalu bangkit dari sofa untuk menghampiri Mario.
"Mario lo kenapa?" tanya Sherlyna panik karena melihat banyak sekali darah yang keluar dari hidung Mario.
"Gue nggak apa-apa, jangan nangis." ucap Mario pelan, tangannya menggapai pipi Sherlyna untuk menghapus air mata Sherlyna.
"Nggak papa lo bilang! Jelas jelas lo kenapa napa, darahnya banyak banget Mario!" ucap Sherlyna semakin panik.
"Jangan panik, oke." ucap Mario menenangkan Sherlyna dengan suaranya yang lemah.
"Gimana nggak panik, lo--
__ADS_1
"Gue baik baik aja." ucap Mario mencoba tersenyum.
"Nggak usah senyum senyum gitu, ini gimana? Lo masih bisa jalan ngak, kita ke rumah sakit." ucap Sherlyna kesal karena Mario malah tersenyum lebar, padahal kondisi Mario sedang tidak baik baik saja.
Mario menggelengkan kepalanya. "Gue nggak mau kerumah sakit."
"Gila! lo mau mati konyol di sini dan gue yang jadi tersangka pembunuhan?!" seru Sherlyna kesal.
Mario mendengus saat melihat Sherlyna bangkit dari jongkoknya dan berlari cepat keluar apartemen. Kepalanya sungguh luar biasa sakitnya, namun Mario malah tertawa.
Mario pov.
Gue tertawa garing melihat Sherlyna yang panik berlari meninggalkan gue sendiri di apartemen ini, mungkin dia mau mencari pertolongan. Padahal Sherlyna sebenarnya bisa menggunakan ponsel untuk minta bantuan, mungkin karena terlalu panik, Sherlyna jadi lupa segalanya.
Dengan susah payah gue mengambil ponsel gue yang ada di saku celana, tanpa sadar gue udah nelfon Michael.
"Apa?!" seru Michael kesal di sebrang sana.
"Gue nyerah." ucap Gue lemah.
"Apaan sih, gue nggak ngerti! Lo di mana?" tanya Michael masih dengan suara kesal.
"Gue nyerah buat segala hal." ucap gue.
"Lo dimana bego!"
"Apartemen."
"Apartemen mana? Gue ada di apartemen ini."
"Nggak penting gue ada di apartemen mana." balas gue.
"Anj*ng bego! Lo dimana?!"
Gue tau kalau Michael khawatir sama gue. Terdengar jelas dari suaranya walau dia marah marah.
"Gue baik baik aja kok" balas gue.
"Gue nggak nanya lo baik atau nggak! Gue cuma nanya lo ada di mana?!" Michael kembali berseru kesal dan mengumpat tidak jelas.
Gue seneng sih karena Michael ternyata masih aja sayang sama gue, walau udah tau gue selalu jahat sama dia.
"Lo tau kok gue ada di mana." balas gue lalu mematikan sambungan telfon.
Gue menatap langit langit ruang apartemen gue yang terasa berputar, mungkinkah ini akhir dari segalanya. Seperti kata gue ke Michael tadi, kalau gue menyerah. Nyerah untuk memisahkan Michael dan Sherlyna, nyerah untuk terus berjuang bertahan hidup.
Sebenarnya yang merusak hubungan gue dan Sherlyna itu Michael, tapi kenapa kesannya gue adalah orang ketiga di hubungan Sherlyna dan Michael.
Sebelum kesadaran gue hilang sepenuhnya, gue masih bisa mendengar suara suara berisik mulai memasuki apartemen. Entah itu siapa gue nggak tau, yang gue tau setelah itu tubuh gue terasa melayang.
Apakah gue akan terbang ke surga?
__ADS_1
Ah mana mungkin, neraka lebih cocok untuk orang jahat seperti lo Mario!