BAD : Michael Dan Sherlyna

BAD : Michael Dan Sherlyna
Part 26. Michael menangis...


__ADS_3

[Annastasia Sherlyna Veronica]


        Jujur gue nggak tau harus bersikap atau ber-ekpresi bagaimana setelah tau bahwa gue ke guguran. Keguguran ya, bahkan gue nggak nyadar kalau gue hamil.


Damn! Ibu macam apa gue ini?


Nggak tau dirinya hamil dan tau tau sudah keguguran. Kemarin saat gue pendarahan, gue pikir itu ya biasalah perempuan pasti tamu bulanan. Memang sih rasanya agak berbeda, walau di awal datang bulan memang gue bakalan merasakan sakit. Tapi itu sudah hari ke dua dan gue masih aja merasa sakit, bahkan sakitnya melebihi biasanya dan berakhir gue pingsan di kamar mandi.


Gue nggak tau kapan Michael pulang dan mungkin kalau nggak ada Michael gue nggak tau udah jadi apa gue sekarang. Mungkin sekarat karena kehabisan darah.


Tau nggak sih, sebenarnya gue ngerasa sedih banget karena kehilangan bahkan sebelum melihatnya. Tapi gue berusaha untuk nggak nunjukin rasa sedih gue di hadapan Michael dan semua orang. Gue nggak tau kenapa, tapi gue cuma nggak mau di katain lemah atau cengeng sama Michael.


Dan saat pulang ke rumah, gue mendapatkan kejutan. Ya kejutan dengan entah bagaimana bisa Mario berada di rumah Michael dan bersikap seenaknya di hadapan Michael.


Gue bahkan nggak tau harus senang atau bagaimana karena pada akhirnya gue bisa ketemu Mario setelah satu bulan lebih kami nggak ketemu.


Tapi seharusnya gue merasa senang, bukan malah bingung. Tapi entah kenapa gue ngerasa ada yang salah, tapi apa gue nggak tau apa itu.


"Sherlyna kenapa cuma di pandangin? Apa makanannya nggak enak?" tanya Mama Siska. Ya beliau menyuruh Gue memanggilnya dengan sebutan Mama Siska.


Gue menggeleng lalu mengangguk. "Eh enak kok." ucap Gue.


Jujur ya lagi lagi gue di buat bingung dengan keadaan di rumah ini. Bagaimana nggak bingung? Selain Mario yang tiba tiba ada di rumah ini.


Mama dan Papa mertua gue juga tiba tiba aja udah ada di rumah. Bukan hanya itu, kedua orang tua Mario juga ada dan sekarang kami sedang makan malam bersama dua keluarga sekaligus.


Bagus.


Keluarga pacar dan keluarga suami.


Dan hal itu membuat gue tegang, gue ngerasa udah menjadi perempuan yang benar benar nggak bener sekarang. Punya pacar di saat udah punya suami!


"Kamu nggak suka sama makanannya?"


Gue melihat kearah kiri gue dan tersenyum kearah Mario. "Aku suka kok."


"Terus kenapa nggak dimakan?" tanyanya lagi.


"Sherlyna sebaiknya kamu makan ini aja, yang ini pedes... Kamu nggak boleh makan yang pedes pedes dulu untuk sementara waktu." ucap Michael mengambil piring di hadapan gue dan menggantinya dengan piringnya.

__ADS_1


Dan gue ngerasa aneh saat Michael berbicara aku dan kamu.


"Sherlyna nggak suka sama sop atau makanan yang banyak kuahnya, kecuali bakso." ucap Mario lalu menggantikan piring yang Michael taruh di hadapan gue.


"Ck! Lo nggak tau apa-apa jadi nggak usah sok tau deh." Cetus Michael tidak suka.


"Lo yang nggak tau apa-apa... Gue tau semua kesuakaan Sherlyna." ucap Mario tidak kalas ketus dari ucapan Michael.


Gue tersenyum kikuk pada para orang tua yang melihat anak-anaknya berdebat. Tapi sayangnya mereka tidak berbuat apa-apa dan hanya menggelengkan kepalanya.


"Ini bukan tentang Sherlyna suka atau enggak tapi Sherlyna memang lagi nggak boleh makan pedas." ucap Michael.


Gue mengangkat tangan gue ke udara saat Mario akan berbicara lagi. "Stop... Iya iya gue akan makan semua."


Dan pada akhirnya gue harus memakan dua porsi makan malam. Karena gue nggak mungkin cuma makan salah satunya saja. Gue harap setelah ini gue akan baik-baik saja.


"Tapi Sherlyna---


"Udah lanjutan makannya, Michael."


Setelah makan malam selesai gue pun memutuskan untuk masuk ke dalam kamar dan membaringkan diri gue di kasur.


"Gue mau tau kenapa Mario bisa ada di sini dan juga mereka." Ucap gue.


Michael yang baru saja masuk kedalam kamar itu berjalan kearah ranjang dan duduk disisi kasur sebelah gue tiduran. Gue menatap Michael yang juga lagi menatap gue dengan tatapan yang gue nggak tau artinya apa.


"Mario itu Om gue dan mereka berdua adalah nenek kakek Gue."


"Eh."


Gue bangkit dari tiduran gue dan menatap Michael bingung.


"Mario adiknya Papa."


Gue menelan ludah, jadi gue menikah dengan keponakan pacar gue. Astaga!


Tapi apa Mario belum tau semuanya, kenapa dia bersikap biasa saja?


"Dan aku nggak bisa kalau harus melepas lo buat dia... Gue mencintai lo, tapi gue juga sayang sama dia." ucap Michael dengan tiba-tiba langsung memeluk gue.

__ADS_1


"Maksud lo?" tanya gue bingung.


"Apa lo masih sangat mencintai Mario?" tanya Michael dan mengabaikan pertanyaan gue dalam posisi masih memeluk gue.


Dan entah kenapa gue nggak bisa menjawab ucapan Michael.


"Michael."


"Gue tau kalau Lo cinta banget sama Om Mario dan nggak sama Gue." ucapnya.


Dan gue ngerasa ada yang salah sama ucapan Michael. Tapi bukanya itu benar ya?


"Michael gue---


"Please, Gue nggak mau dengar itu... Gue cukup tau dan nggak akan memaksa Lo buat cinta sama Gue. Tapi apa pun yang terjadi Gue mohon sama Lo buat jangan lupain Gue... Gue tau dan Gue sadar kalau Gue udah jahat sama Lo, Gue udah maksa Lo buat nikah sama Gue padahal Lo nggak cinta sama Lo."


Gue cuma bisa diam mendengarkan semua ucapan Michael.


"Michael lo---


"Ya, Gue cengeng banget ya." ucap Michael terkekeh di akhir kalimatnya, ia juga melepaskan pelukannya.


"Maaf."


Hanya itu yang keluar dari bibir gue, rasanya tenggorokan gue tecekat melihat Michael menangis.


Michael menggelengkan kepalanya. "Nggak, yang seharusnya minta maaf itu Gue, bukan Lo."


"Lo nggak salah sama sekali." lanjutnya.


Entah dapat keberanian dari mana dan apa yang telah merasuki gue. Gue tiba-tiba aja mencium Michael, tepat di bibir.


Gue mencium Michael duluan, astaga!


Gue bisa merasakan Michael yang tersenyum dan melumat bibir gue yang memang cuma diam menempel pada bibirnya.


Ciuman yang dalam namun lembut, tidak ada hasrat ataupun nafsu.


__ADS_1


__ADS_2