
Bagian 44.
Mario menghembuskan nafas malas, dia belum lama sembuh dan sudah di sibukkan dengan pekerjaan di kantor, apalagi hari ini Michael tidak masuk kantor karena Sherlyna tidak enak badan.
Mario pun merasa khawatir saat Michael mengabarinya jika dia tidak ke kantor hari ini karena Sherlyna yang tidak enak badan, di tambah lagi harus merawat anak mereka.
Mario masih tidak mengerti dengan asal usul anak itu, karena sepertinya ada yang Michael coba sembunyikan dari semua orang. Tapi entah apa itu Mario pun tidak tau, ia bahkan belum pernah melihat anak itu secara langsung.
Jika saja pekerjaannya tidak banyak, mungkin ia sudah meninggalkan kantor untuk melihat kondisi Sherlyna.
Walau pun Sherlyna memutuskan untuk mengakhiri hubungan dengannya dan memilih hidup bersama Michael, tapi bukan berarti Mario akan membenci keputusan Sherlyna dan melupakan Sherlyna begitu saja. Sherlyna adalah cinta pertamanya, tentu tidak mudah melupakan orang yang sudah bersamanya selama tiga tahun ini.
Dengan semangat, Mario pun mulai membaca kertas kertas di hadapannya agar cepat selesai. Setelah itu dia ingin lihat kondisi Sherlyna, tidak peduli apa tanggapan Michael nanti. Lagi pula menjenguk istri keponakan sendiri tidak ada yang salah bukan?
Saat sedang serius membaca kertas kertas itu, tiba tiba pintu ruangannya terbuka dengan kasar dari luar. Membuat Mario sedikit terkejut, siapa yang berani membuka pintu ruangan atasan dengan begitu tidak sopan?!
"Michael!"
Mario memutar bola matanya malas saat di lihatnya Anggun dengan pakaian khasnya masuk ke dalam ruangannya yang juga ruangan Michael.
"Dimana Michael?" tanya Anggun.
Mario mengendikkan bahunya acuh. "Mana gue tau." ucapnya.
Anggun mendelik. "Mario-,
"Gue banyak pekerjaan jangan ganggu gue." ucap Mario acuh tanpa menatap Anggun.
"Ck! Lo apaan dah, gue kan cuma jalanan rencana kita." ucap Anggun, ia duduk di meja Mario.
"Rencana apaan! Awas aja lo kalau berani buat Sherlyna nangis." ucap Mario.
"Dih dasar bucin." Dengus Anggun.
__ADS_1
Mario menatap Anggun tajam. "Sebaiknya lo batalin rencana lo itu atau gue--
"Gue apa?" Anggun memotong ucapan Mario dan ikut menatap tajam Mario.
"Gue nggak segan segan buat hancurin hidup lo kalau lo sampe berani buat Sherlyna nangis." ancam Mario.
Namun Anggun malah tertawa. "Hidup gue udah hancur karena lo dan gue bakal lakuin apapun buat dapetin Michael." ucap Anggun lalu keluar ruangan Mario dan menutup pintu dengan kasar.
"Dasar ular betina." Cibir Mario kesal.
Sungguh dia menyesal pernah bekerja sama dengan Anggun dan juga menyesal karena diri nya telah membuat Sherlyna menangis.
Di rumah Michael dan Sherlyna.
Setelah dari rumah sakit, Michael langsung menyuruh Sherlyna istirahat. Michael pun memutuskan untuk tidak ke kantor karena tidak mau meninggalkan Sherlyna
Michael khawatir jika kondisi Sherlyna akan buruk saat dia tinggal ke kantor, jadi Michael pun menyerahkan semua pekerjaannya pada Mario.
"Gimana udah nggak mual kan?" tanya Michael lembut.
Michael tersenyum lembut, di saat kondisinya seperti ini saja Sherlyna masih berpikir untuk minta maaf karena Michael tidak bisa ke kantor karena harus merawat Baby Devandra.
"Kamu nggak perlu minta maaf, aku nggak mau terjadi sesuatu hal buruk sama kamu. Lagi pula di kantor juga sudah ada Mario." ucap Michael, ia mengusap pipi Sherlyna dengan lembut.
"Tidurlah." ucap Michael.
"Tapi ini waktunya Baby Devandra minum susu." ucap Sherlyna, ia hendak bangkit dari kasur untuk membuatkan Baby Devandra susu.
Namum Michael menahannya. "Biar aku saja yang membuatkan baby Devandra susu, kamu istirahat aja." ucap Michael.
Michael pun mencium kening Sherlyna lalu menghampiri Baby Devandra yang dia letakkan di box bayi.
Baby Devandra tidak tidur, tapi bayi itu tidak menangis sama sekali. Mungkin bayi itu tau jika Sherlyna tengah tidak enak badan makanya tidak rewel.
__ADS_1
Michael pun membuatkan susu untuk Baby Devandra. Saat membuat susu, tidak sengaja tangannya terkena air panas, membuat punggung tangannya memerah.
Michael kembali ke kamar dan mendapati Sherlyna sudah tidur dengan nafas yang teratur. Michael pun tersenyum dan mengangkat baby Devandra dari box, Michael duduk di kasur dan memang baby Devandra untuk di beri susu.
Sembari menatap Sherlyna yang tertidur, Michael memberikan susu pada baby Devandra yang dia pangku.
"Anak pintar." ucap Michael setelah baby Devandra menghabiskan satu botol susu hingga tidak tersisa.
Mich pun menggendong baby Devandra di pundaknya agar bersendawa, setelah itu Michael membaringkan baby Devandra di kasur untuk mengganti pampers baby Devandra karena Michael ingat jika pempers baby Devandra belum di ganti sejak di rumah sakit.
Dengan hati hati Michael mengganti pempers baby Devandra, bayi itu hanya menatap Michael dengan polos karena memang masih polos :v
Setelah selesai mengganti pampers baby Devandra dengan yang baru, Michael di kejutkan dengan deringan ponselnya yang berbunyi sangat nyaring.
"Hallo."
"....."
"Apaan dah?"
"....."
"Terus gue harus bukan wow gitu."
"...."
"Bodo amat."
Tut tut..
Michael memutuskan sambungan telfon, dia mengghela nafas kasar.
"Gila." gumamnya sembari menatap Sherlyna.
__ADS_1
Dia baru saja merasa bahagia karena Sherlyna mau meninggalkan Mario dan memilih dirinya, tapi sepertinya takdir tidak mengizinkan Michael bahagia.